business-forum

coaches

Senin, 28 Desember 2015

“GAK PAKE RESOLUSI-RESOLUSIAN!” - By: Coach Suwito Sumargo*

Bila Anda gagal membuat rencana bisnis, maka berarti Anda sudah berencana untuk gagal. Itu kata-kata senior saya. Ketika kata-kata itu tergiang, saya bertemu teman lama.
Setelah berbasa-basi, saya pun bertanya: “Eh...udah punya resolusi buat tahun depan?”
“Nggak pake resolusi-resolusian, males! Bolak-balik bikin resolusi selalu gagal, nggak pernah tercapai. Sekarang, ngalir aja...apa adanya,” Demikian kata teman saya.
Pasti banyak yang seperti ini, enggan bikin resolusi karena selalu gagal mencapainya. Pengusaha juga sama saja, emoh bikin rencana bisnis.
Di kalangan pengusaha, banyaknya faktor X yang diluar kendali, seperti kurs rupiah yang melemah, harga komoditi merosot, perubahan cuaca yang mendadak, (bahkan) munculnya pesaing kuat, sering dijadikan 'kambing hitam' atas gagalnya rencana bisnis.
Benarkah gagalnya rencana bisnis (dan resolusi) adalah gara-gara faktor X?
Saya pikir tidak demikian. Bagi saya, faktor X itu hanya menunjukkan kekurangan kita, kurang cermat atau kurang pengalaman. Dan 'kambing hitam' itu cuma excuse belaka, emoh disalahkan.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya?
Bila Anda termasuk yang pernah gagal, saya sarankan untuk menemukan keberhasilan. Temukan keberhasilan di tahun 2015 ini dan cari tahu: faktor apa saja yang membuat kita berhasil. Dan karena Anda pernah berhasil, maka Anda pasti akan lebih bersemangat untuk memastikan keberhasilan yang sama terulang lagi. Atau, Anda mungkin lebih bergairah untuk melipat gandakannya. Pernah berhasil 1x, kini pastikan agar berhasil 2x.
Setelah menetapkan sasaran keberhasilan, carilah sesuatu sebagai tanda yang akan mengingatkan kita agar sungguh-sungguh berniat untuk mewujudkannya.
Teman saya punya kebiasaan, mengucapkan nadzar di penghujung tahun. Setiap akhir tahun, dia menyepi di Villa dan mengucapkan nadzar di bawah kerlip bulan-bintang.
Teman yang lain punya gaya yang berbeda, mengucapkan nadzar di depan rekan kerja.
Mereka ini akan selalu mengingat momen-momen saat mengucapkan nadzar. Itu menjadi ritual yang sakral...yang memaksa si pengucap nadzar untuk mewujudkannya.
Temukan dan rayakan keberhasilan Anda di tahun 2015. Ulang kembali keberhasilan itu di tahun 2016. Bulatkan tekad dan berjanjilah untuk sungguh-sungguh mewujudkan resolusi Anda. Mari kita tinggalkan tahun 2015 dengan bangga dan songsong tahun 2016 dengan penuh optimisme.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Kamis, 24 Desember 2015

5 HAL YANG MEMBUNUH KARIR PEMIMPIN BISNIS

By: Coach Humphrey Rusli *

Berprofesi  menjadi seorang Business Coach sungguh merupakan hal yang menakjubkan. Bukan saja saya menjadi pribadi yang lebih baik karena proses menjadi seorang coach yang panjang dan tempaan yang berat, namun saya juga ternyata bisa tetap belajar dari proses coaching yang saya deliver kepada ratusan pemilik bisnis dan CEO yang mengikuti program coaching dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini.

Nah, ternyata dari hasil saya berinteraksi dengan segitu banyak pengusaha, ada hasil pengamatan yang saya rasa cukup penting untuk dibagikan kepada anda. Ada 5 kesamaan antara klien-klien kami yang cenderung lamban berkembangnya, dan anehnya tidak ditemui di klien-klien kami yang lebih cepat berkembang dan sukses dalam bisnisnya.

Jika anda memiliki 5 hal yang saya jabarkan di bawah ini, HATI-HATI!
Apa saja 5 hal tersebut yang bisa menghambat, dan dalam beberapa kasus yang saya temui, malah bisa berakibat fatal bagi karir atau usaha seseorang?

1. Arogansi
Ini bukan kesombongan standard yang bisa dilihat kasat mata, namun arogansi yang halus.
Contoh: seorang pengusaha ketika saya bantu untuk menemukan sumber masalah yang sedang dihadapinya selalu berkeluh kesah dan merasa anak buah atau timnya yang perlu berubah, bukan dirinya dulu.
Jika anda sering merasakan bahwa anak buah saya yang salah, kurang disiplin, kurang cekatan, kurang loyal (dan sebagainya), serta jarang atau tidak pernah berpikir: "Mungkin saya sebagai pemimpin yang kurang baik”. Hati hati!, anda sedang terkena point no.1 ini.
Saya sering menemui seorang pebisnis yang ketika hendak memakai jasa kami, me-wanti - wanti saya agar anak buahnya bisa lebih baik dan naik kelas. Namun ketika saya tanya: Bagaimana dengan bapak sendiri? apakah perlu dicoaching?, kebanyakan menjawab: "Ah.... saya ndak perlu, anak buah saya yang butuh!"

2. Fear atau Takut
Takut apa? ada 2 takut yang berbahaya untuk bisnis:
a. Takut mengambil keputusan yang keliru. Ketakutan ini membuat pemimpin bisnis lebih sering menganalisa dan berargumen di balik meja dibandingkan memutuskan dengan cepat dan menganalisa hasilnya di lapangan. Istilah kerennya adalah Analysis Paralysis, atau lumpuh tidak mengambil tindakan apa-apa karena terlalu banyak analisa.
b. Takut kelihatan kalau salah, sehingga selalu menghindar untuk dievaluasi dan enggan untuk diberi feedback terhadap tindakan yang telah dilakukan. Ketakutan ini membuat para pengusaha dan pemimpin bisnis sulit meningkatkan kualitas pengambilan keputusannya, yang sering kali menjadi bencana di kemudian hari.

3. Terlalu kompeten secara teknis
Sebagai pemilik bisnis sebenarnya sah-sah saja untuk terampil di bidang yang anda geluti. Contoh kalau anda buka toko roti, sebaiknya anda paham seluk beluk roti, mesin-mesin pembuatan roti, berikut merek dan kualitasnya, sampai bahan-bahan pembuat roti yang anda gunakan. Namun jikalau anda menjadi "terlalu" kompeten, ini menjadi berbahaya. Kenapa demikian?
Bisnis membutuhkan keahlian yang sangat beragam, dari mulai sales, team building, system building, branding strategy, dan sebagainya. Jika seseorang menjadi sangat kompeten di satu sisi, biasanya sulit untuk diajak belajar hal-hal di luar bidang yang dikuasainya.
Mari kita gunakan contoh yang sama: Toko Roti. Jika anda pemilik toko roti tersebut dan lebih sering berkutat di dapur dibandingkan briefing dan membangun tim anda, atau lebih sering otak atik resep roti dibandingkan menciptakan sistem untuk meningkatkan pelayanan konsumen, kemungkinan besar anda terkena point ke-3 ini.

4. Control Freak
Ini kendala paling umum yang bisa dijumpai pada hampir semua pengusaha. Definisi Control Freak dalam bahasa Indonesia adalah: kecanduan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai dengan yang diinginkan, dan tidak boleh meleset sedikit pun.
Penekanannya terletak pada kata "kecanduan". Memastikan semua berjalan dengan benar adalah sifat yang baik di bisnis. Namun bila sudah kecanduan, maka seorang pemimpin akan sulit untuk percaya kepada anak buahnya sediri, bahkan sering tidak percaya sama sitem yang dibuatnya sendiri.
Seorang Control Freak hanya percaya pada satu orang, DIRI SENDIRI. Lambat laun pemimpin yang seperti ini akan ditinggal oleh best talents-nya dan akan berakhir mengerjakan semuanya sendiri. Alhasil, bisnis menjadi bantat dan tidak bisa berkembang. Bagaimana anda tahu jika anda seorang control freak? Ada indikator sederhana yang saya pakai selama ini: Jika bisnis anda ikut menurun performanya seiring dengan bertambahnya usia atau semakin turunnya daya juang/tenaga anda, maka kemungkinan besar anda seorang Control Freak.

5. Lack of Exposure
Yang terakhir adalah sikap atau sifat untuk bertahan terhadap sesuatu yang dulu benar namun sebenarnya di jaman sekarang sudah tidak relevan lagi. Ini biasanya terjadi pada bisnis-bisnis yang sudah berumur 30 tahun ke atas. Pemahaman-pemahaman itu seperti:
- Konsumen maunya yang murah saja, kalau mahal tidak mau beli.
- Anak buah itu pasti bekerja karena gaji, kalau gaji tempat lain lebih tinggi pasti resign.
- Hanya saudara yang bisa dipercaya, jadi walaupun saudara saya kurang kompeten tetap saya terima, yang penting bisa dipercaya. Daripada rekruit orang luar, pandai, tapi nanti malah 'maling'.
dan masih banyak lagi.

Pemahaman-pemahaman di atas sebenarnya tidak 100% salah. Ada benarnya juga dan di beberapa kasus malah bisa dibuktikan kebenarannya. Namun jaman sudah berubah, ada begitu banyak contoh bisnis di luar sana yang tidak lagi menggunakan prinsip-prinsip di atas, namun toh bisa sangat sukses. Nah, bagaimana supaya kita tidak terjebak di point no 5 ini? Sering-seringlah travelling dan expose diri anda terhadap kemajuan jaman, baik di industri anda maupun anda sendiri sebagai konsumen pada bisnis orang lain (industri lain).

Salam The NEXT Level!

* Coach Humphrey Rusli:
-    Pelatih bisnis dengan pengalaman International Marketing selama lebih dari 15 tahun.
-    Pemenang International Coach of The Year 2012 (Australia), 2013 (Beijing) dan 2014 (Jakarta).
-    Telah membantu kliennya meraih peningkatan profit dari 20% hingga 2000% melalui sesi-sesi coachingnya.

Senin, 14 Desember 2015

CARA SIMPLE MENCIPTAKAN KEUNIKAN BISNIS ANDA - By: Coach Suwito Sumargo*

Kali ini saya bermalam di sebuah 'Hotel'. Ya sebuah Hotel (dengan tanda petik). Saya mendapatkan info tentang 'Hotel' ini melalui internet, browsing. Letaknya di daerah Jakarta Selatan, tidak terlalu jauh dari Venue yang akan saya kunjungi : Pacific Place.
Ketika browsing, saya sengaja mengutamakan jarak tempuh. Di Jakarta, jarak tempuh sungguh berarti bagi saya, karena saya termasuk orang yang enggan berlama-lama di tengah kemacetan. Saya pun menemukan beberapa alternatif, yang hanya berjarak maksimum setengah jam jalan kaki.
Saya sengaja tidak memilih hotel-hotel berbintang yang sudah tersohor. Yang jadi sasaran saya justru hotel yang punya banyak 'REVIEW'. Ya, hotel yang mengundang banyak komentar positif dari pengunjungnya. Komentar positif yang jujur tentunya.
Akhirnya, perburuan saya berujung di sebuah 'Hotel', yang tampak luarnya seperti hunian rumah tangga biasa, semacam homestay. Dan menariknya, menurut info internet, disekitar 'Hotel' itu banyak tempat makan: Restoran Indonesia dan Asia, Noodle House, Steak House dan Cafe. Untuk memastikannya, sesaat setelah check in, saya pun bertanya ke staf dan security hotel. Dengan ramah, mereka pun membenarkan informasi tersebut. AHA...malam itu saya punya cukup pilihan untuk dinner.
Saya lakukan hal serupa ketika browsing 'Hotel' di Semarang atau di kota lain. Selain tempat bermalam yang nyaman, juga tidak jauh dari area kuliner atau tempat-tempat menarik lainnya.
Bagaimana dengan lokasi bisnis Anda? Apakah ada tempat-tempat menarik di sekitar lokasi bisnis kita? Apakah tempat-tempat itu juga cukup menarik bagi para pembeli kita?
Kita seringkali bingung mencari cara yang efektif untuk mem-promosi-kan perusahaan dan produk kita. Bagaimana kalau kita coba mem-promosi-kan keunikan di sekitar kita? Tentu saja keunikan yang menarik bagi para pembeli kita. Berikan Extended Service, agar pembeli kita makin lekat dengan kita dan menjadi pelanggan loyal di kemudian hari.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Kamis, 10 Desember 2015

BAGAIMANA BER‘KAMPANYE’ DALAM BISNIS? - By: Coach Ruaniwati*

Kita baru saja melakukan pilkada serentak kemarin di semua daerah di Indonesia. Saya tertarik mengamati bagaimana para calon melakukan kampanye (baca: promosi). 
Biasanya salah satunya dengan menyampaikan apa yang akan mereka kerjakan jika terpilih, seakan-akan dengan mengerjakannya, mereka sedang memenuhi kebutuhan dan keinginan kita bukan?
Bagi calon yang incumbent, yang telah mempunyai track record, ini akan jauh lebih mudah karena sudah ada buktinya dan biasanya lebih tahu apa yang diinginkan oleh pemilihnya. 
Sedang bagi calon yang baru, mereka perlu menyampaikan ide, gagasan dan rencana dengan lebih jelas, karena para pemilih mungkin tidak tahu siapa mereka dan "track record" dalam bidang mereka.
Mereka yang dianggap "related" dengan pemilih mempunyai kans lebih besar untuk dipilih.
Dalam marketing, salah satu hal yang penting, mirip dengan pemilihan calon kepala daerah adalah rasa "related" ini, karena setiap orang ingin dimengerti keinginan dan kebutuhannya.
Terjemahan bebas "related" adalah "nyambung". Bagaimana mendapatkan rasa nyambung ini? Sehingga produk/ layanan kita nyambung dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan, bahkan sebelum mereka benar-benar merasakannya.
Paling tidak ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menimbulkan hal ini:
1. Cobalah berpikir dan menempatkan diri Anda dari sisi pelanggan, apa yang dipikirkan atau diinginkan oleh "saya"?
2. Bertanyalah kepada pelanggan dan ceritakan hal-hal yang Anda telah kerjakan dan yang akan dikerjakan. 
Tanyakan apa pendapat mereka. Pikirkan motivasi yang mendasari jawaban-jawaban tersebut. Apakah pelanggan Anda ingin aman? Ingin kejelasan? Ingin dilibatkan? Ingin mendapat hal-hal yang spesifik?
3. Lakukan survei yang lebih serius dengan cakupan yang lebih luas.
Cara ini tentu saja memerlukan lebih banyak persiapan, usaha dan dana. Tetapi jika jelas tujuannya, hasil yang didapat akan menolong kita mengerti perilaku calon pelanggan/ pelanggan kita dan bisa digunakan untuk mengubah apa yang kita kerjakan supaya lebih "nyambung" dengan pelanggan.

Jika Anda ingin di-"coblos" oleh pelanggan lagi dan lagi, pastikan Anda "related" dengan mereka. Apakah Anda incumbent atau calon baru? Sudahkah Anda "nyambung"?
Salam The NEXT Level!

* Coach Ruaniwati:
-          Pelatih bisnis yang telah makan banyak asam-garam di dunia Marketing, Branding dan Advertising selama lebih dari 15 tahun.

-          Aktif membantu para womanpreneur dan start-up entrepreneur melalui siaran radio di She 99.6 FM, Mercury 96.0 FM dan aktifitas belajar-mengajar di berbagai kampus terkemuka Surabaya. 

Kamis, 03 Desember 2015

SIAPA SUKA MEETING? - By: Coach Humphrey Rusli *

Siapa yang suka meeting?
Jika pertanyaan ini diajukan kepada 10 orang karyawan atau anak buah, saya kira hampir semuanya akan menjawab "bukan saya" alias hampir semua orang tidak suka meeting. Nah, fakta menariknya adalah, ketika anak buah tadi menjadi bos dan memiliki usaha sendiri. Mereka lebih menyukai meeting (karena mungkin ini sekarang bisnisnya, dan maju mundurnya usaha, tergantung oleh dia) dibandingkan dengan dulu ketika jadi karyawan. Bahkan ada bos yang hampir tiap hari selalu mengadakan meeting. This is what i call a meeting junky.
Sebenarnya apakah meeting ini sebuah pekerjaan, sebuah keharusan, ataukah hanya buang-buang waktu dan tenaga belaka?
Mengapa banyak meeting yang berujung menjadi sarana untuk cerita ngalor ngidul, terkesan tidak terarah dan diakhiri dengan tidak jelas? Apa yang salah? Bukankah seharusnya meeting itu sesuatu kegiatan yang produktif?
Berikut ini 2 panduan sederhana untuk menciptakan budaya meeting yang efektif secara hasil dan efisien secara waktu.
1. Meeting Harus Memiliki Topik Spesifik
Kesalahan yang sangat sering dilakukan pemimpin meeting adalah: masuk ke ruangan meeting tanpa memberitahu anggota meeting sebelumnya, apa atau topik apa yang hendak dibahas saat itu.
Inilah kesalahan klasik yang membuat meeting berlarut-larut, tanpa arah tujuan yang jelas dan sering malah menimbulkan masalah-masalah baru. Jika anda pernah meeting lebih dari satu jam, bahkan 2-4 jam, maka ini adalah indikator kuat kalau meeting anda tidak terarah dan kemungkinan besar anggota meeting tidak paham topiknya sebelum mereka masuk ke ruangan meeting. Meeting yang efektif dan efisien seharusnya tidak lebih dari 45 menit.
Jadi untuk melaksanakan sebuah meeting, pemimpin meeting wajib mengirimkan topik apa yang akan dibahas, data apa yang dibutuhkan, dan ekspektasi sumbangsih pikiran apa yang ingin diminta dari setiap anggota meeting yang diundang minimal 24 jam sebelumnya. Sehingga ketika meeting dimulai, semua anggota sudah siap dengan alternatif jawabannya.


2. Time Keeper
Tidak adanya time keeper atau pemandu waktu dalam meeting yang menyebabkan meeting molor di luar rencana awalnya. Time keeper ini tidak harus pemimpin meeting, tapi biasanya diserahkan ke pihak notulen yang mencatat hasil meeting tersebut.
Tugas dari time keeper ini adalah memberikan kode kepada pemimpin meeting bila waktunya sudah hampir habis. Jadi misal waktu yang dialokasikan adalah 45 menit, maka ketika waktu yang tersisa tinggal 10 menit, si notulen akan memberikan aba-aba dan kemudian pemimpin meeting akan mengarahkan anggota meeting untuk menyimpulkan tindakan apa yang disepakati, resiko apa yang siap ditanggung, siapa yang bertanggung jawab, apa support yang diberikan oleh manajemen, kapan mulai action-nya, dan sebagainya.
Lalu, bagaimana bila sampai akhir waktu meeting, kesimpulan belum dapat diambil?
Pemimpin meeting bisa memberikan jadwal untuk meeting lanjutan di hari dan waktu yang lain dengan catatan:
- Hari dan jadwal meeting lanjutannya telah disepakati di saat itu juga dan semua pihak paham data atau informasi apa yang harus disiapkan lebih lanjut, sehingga membuat meeting berikutnya dapat ditutup dengan kesimpulan Action yang jelas.

Nah, sudah siapkah anda memiliki budaya meeting yang produktif di perusahaan anda? Sukses untuk Anda!
Salam The NEXT Level!

* Coach Humphrey Rusli:
- Coach of the Year 2014 (BEF Award Indonesia 2014);                                          
- Sales Coach of the Year 2012 se-Asia dan Australia;

- Associate Coach of the Year 2013 tingkat Internasional (44 negara).

Senin, 30 November 2015

LOKASI STRATEGIS, MASIH PERLUKAH? - By: Coach Suwito Sumargo*

Hampir di semua kota, pebisnis sejenis terkumpul di suatu lokasi. Contohnya di Surabaya, pedagang spareparts mobil terkumpul di Kedungdoro. Pedagang peralatan teknik terkumpul di Raden Saleh. Pedagang ban terkumpul di daerah Undaan, dan sebagainya.
Di pusat perbelanjaan (Mall), pedagang emas dan perhiasan terkumpul di satu area. Penjual makanan terkumpul di satu area yang lain. Pedagang baju atau fashion terkumpul di area yang berbeda. Sehingga timbul anggapan, bahwa lokasi tersebut adalah strategis bagi jenis atau kelompok barang dagangan tertentu.
Dalam hal ini, arti strategis bagi pebisnis adalah karena tokonya lebih mudah ditemukan oleh konsumen atau calon pembeli. Dengan demikian, barang-barang di tokonya akan mudah ditemukan oleh konsumen yang butuh barang tersebut. Bisa juga si pebisnis berpikir, lokasi tersebut strategis karena gampang dijangkau dari rumahnya. Atau orang mungkin akan berpikir bahwa sebuah lokasi strategis karena jalanan menuju kesana tidak macet.
Tapi, apa kata konsumen? Bagi konsumen, strategis bisa berarti lokasinya mudah dijangkau. Strategis itu bisa berarti dari tempat itu, konsumen bisa dengan mudah kemana-mana. Strategis juga bisa berarti di satu lokasi tersedia berbagai keperluan (one stop shopping).
Berkumpulnya pedagang sejenis di suatu area tertentu memang memudahkan konsumen atau calon pembeli dalam mencari produk yang diinginkan. Sebaliknya, ini menjadi tantangan bagi para pedagang/penjual.
Karena dengan berada di satu lokasi atau area yang sama, maka calon pembeli jadi lebih mudah membanding-bandingkan keunggulan satu produk dengan yang lainnya. Sehingga, bila sebuah produk tidak punya deferensiasi yang kuat, maka akan lebih sulit terjual dan dianggap sebagai barang biasa/komoditi.
Bagi pebisnis yang masih membutuhkan tempat berjualan atau tempat men-display barang-barang dagangannya, maka lokasi strategis masih jadi pilihan utama. Meskipun demikian, terkadang terjadi anomali, yaitu meski lokasinya tidak strategis ada saja bisnis yang tetap sukses. Memang, lokasi strategis bukan satu-satunya penyebab sukses-gagalnya sebuah bisnis.
Ada banyak faktor yang bisa membuat sebuah bisnis sukses. Misalnya: kwalitas produk yang sangat bagus. Atau produk tersebut punya diferensiasi yang kuat. Atau strategi marketingnya yang jempolan. Atau punya brand/merk yang kuat, dan lain sebagainya. 
Belakangan, banyak pebisnis yang sukses melalui internet (bisnis online). Berjualan secara online, punya cara tersendiri. Dan mereka ini seringkali tidak butuh tempat atau lokasi yang strategis. Apakah Anda punya kisah tentang kiat sukses yang sudah teruji? Atau Anda mungkin tidak setuju dengan uraian diatas?
Salam The NEXT Level!


* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 16 November 2015

JURUS PAMUNGKAS - By: Coach Suwito Sumargo*

Di cerita silat yang saya baca saat remaja dulu, murid tak pernah bisa mengalahkan gurunya. Konon, sang guru senantiasa punya jurus terakhir, jurus pamungkas, jurus yang disembunyikan dan  tak pernah diajarkan ke murid-murid nya.
Diujung cerita, jurus pamungkas ini selalu jadi misteri, hingga sang guru wafat. Ceritanya memang disusun sedemikian rupa, sehingga membuat kita (pembaca) menjadi penasaran. Saking seringnya membaca cerita-cerita serupa, kita pun menyimpulkan bahwa agar tidak terkalahkan seorang guru harus tetap punya jurus pamungkas.
Di dalam bisnis, kita memang perlu punya jurus pamungkas. Bedanya, sekarang ini jurus pamungkas seringkali mudah ditebak oleh kompetitor kita. Bahkan, kompetitor pun bisa membuat jurus baru untuk mengimbangi atau bahkan mengalahkan jurus pamungkas andalan kita. Kalau sudah seperti ini, kompetisi pun menjadi sangat ketat.
Sebagai owner yang menjalani karir dari bawah, saya mem-praktekkan prinsip yang berbeda. Saya justru mengajarkan apa yang saya ketahui kepada anak didik dan bawahan saya. Mereka tidak hanya bisa menirukan cara kerja saya, tapi mereka mengerti kenapa saya melakukannya dan bahkan boleh tahu cara pintas atau terobosannya. Tujuannya adalah agar mereka bisa segera bekerja lebih cepat, mampu bekerja sebaik saya dan selalu menghasilkan yang terbaik bagi pelanggan.
Sebaliknya, banyak rekan bisnis (pesaing), berprinsip sebaliknya yaitu kita (owner) tidak boleh mengajarkan semuanya. Harus ada yang disimpan sendiri dan tidak boleh diajarkan begitu saja. Sebagai owner, kita harus 'merahasiakan' jurus pamungkas. Ehm...mirip cerita silat ya?
Prinsip di cerita silat, berbeda dengan kenyataan saat ini. Banyak anak muda yang lebih pintar dari gurunya. Informasi tidak lagi bisa disembunyikan. Murid lebih gampang mengungguli gurunya. Dan guru (orang yang lebih pintar), tidak bisa berlama-lama jadi guru.
Lain lagi dengan prinsip yang dianut perusahaan-perusahaan besar. Agar timnya sukses, maka seorang leader harus memberikan dan mengajarkan segalanya kepada tim. Leader tidak boleh menyembunyikan jurus pamungkas. Pamor dan martabat leader akan makin moncer, ketika tim merasa didukung dan dibesarkan oleh leader-nya. Dan tim akan menghasilkan yang terbaik.
Apakah Anda seorang guru yang merahasiakan jurus pamungkas sampai akhir hayat? Atau seorang leader yang mengutamakan dan membesarkan timnya? Salam The NEXT Level!


* Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)

Kamis, 12 November 2015

PROFESSIONALISME DALAM BISNIS - By: Coach Humphrey Rusli *

Apa bedanya antara merekrut seorang professional dan anggota tim biasa? Mengapa gaji professional lebih mahal? Apa kriteria anak buah yang sudah boleh dimasukkan ke kategori professional?
Ini pertanyaan-pertanyaan yang beberapa minggu lalu ditanyakan oleh salah satu klien kami di ActionCOACH BaraCoaching. Sebuah pertanyaan menarik yang sebetulnya cukup sederhana namun bisa menjadi barometer seberapa dalam pemahaman seseorang akan bisnis yang digelutinya.
Berikut jawaban saya:
1.    Seseorang yang disebut professional memiliki keahlian khusus dan bekerja atau mendedikasikan hidupnya untuk berkarya di bidang tertentu itu. Sedangkan anak buah yang belum professional cenderung memiliki keahlian standard namun mencakup lebih dari satu bidang.
Contoh: Professional Marketer berarti seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk belajar dan berkarya melalui keahlian memasarkan produk atau jasa. Keahlian inilah yang dijual kepada perusahaan yang merekrutnya. Tidak semua marketer adalah seorang professional, karena bisa saja orang yang ada di divisi marketing Anda tidak spesifik ahli di marketing namun diperbantukan karena dianggap "lumayan" dalam menjual.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Sudahkah Anda merekrut tim berdasarkan skill yang telah terukur atau masih cenderung yang penting "jujur" dan "rajin" semata?
2.    Seseorang yang professional memiliki track record positif yang konsisten di bidang sama dalam kurun waktu yang cukup signifikan. Sedangkan yang non professional tidak atau belum memiliki rekam jejak yang konsisten.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Sudahkah Anda melakukan background check yang cukup detail dengan 'Previous Employer' sebelum Anda merekrut pelamar kerja?
3.    Professional direkrut karena memiliki skill atau kemampuan yang secara specific dibutuhkan perusahaan. Oleh karenanya yang merekrut logikanya harus "kalah pandai" dalam bidang tersebut dibandingkan yang direkrut. Jadi kalau yang merekrut masih lebih pandai dari yang direkrut dalam bidang tertentu, hampir pasti bukan professional yang direkrut.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Sudahkah Anda lebih banyak bertanya dan minta solusi ke anak buah Anda, dan legawa mengakui Anda kalah pandai dalam bidang tersebut? Ataukah Anda masih ketagihan memberikan pengarahan dan "ngajarin" anak buah Anda?
4.    Professional diberi wewenang penuh dalam memutuskan hal-hal yang sesuai bidang yang dikuasainya. Namun professional juga diberi resiko cukup tinggi jika gagal mengeksekusi dengan baik. Dalam kata lain, jika anak buah yang direkrut masih sedikit-sedikit tanya atau minta ijin atau minta approval ke Anda sebagai pemilik bisnis, ini belum masuk kategori professional.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Sudahkah Anda membiarkan tim Anda berkreasi dalam batasan kemampuan mereka, ataukah Anda masih sedikit-sedikit intervensi dengan dalih kuatir mereka buat salah dan merugikan Anda?
5. Seorang professional secara rutin dan berkala meng-up-grade skill atau ketrampilannya dengan usaha dan biaya sendiri. Namun jika anak buah Anda tidak melakukan pengkinian ilmu secara rutin, atau bahkan menunggu di"sponsori" dulu oleh Anda sebagai pemilik bisnis, orang tersebut belum masuk ke kategori professional.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Sudahkah Anda memberikan waktu buat tim Anda untuk mengasah ilmu mereka dari waktu ke waktu? Ataukah Anda masih berprinsip waktu mereka sebaiknya 100% digunakan hanya untuk mencari uang buat perusahaan Anda?
6. Seorang professional tahu kapan harus mengundurkan diri dari sebuah perusahaan ketika dirinya merasa keahliannya tidak lagi dibutuhkan oleh perusahaan tersebut. Sedangkan non professional akan berusaha mempertahankan posisinya walaupun keahlian dirinya sudah tidak dibutuhkan perusahaan tersebut.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Apakah Anda mempertahankan tim berdasarkan performa mereka  ataukah Anda mempertahankan berdasarkan pemikiran "sayang kalau lepas, anaknya baik dan mau berusaha, apalagi cari orang baik jaman sekarang susah!"

Nah, masih banyak perbedaan lainnya. Namun 6 poin di atas adalah yang paling dominan, yang seyogyanya dipahami oleh pemilik bisnis.
Pertanyaan bagi professional yang membaca artikel ini: Sudahkah Anda bersikap professional terhadap perusahaan yang merekrut Anda? Silahkan gunakan 6 paramater diatas untuk self-introspection!
Semoga bermanfaat. Salam The NEXT Level!

* Coach Humphrey Rusli:
- Coach of the Year 2014 (BEF Award Indonesia 2014);                                          
- Sales Coach of the Year 2012 se-Asia dan Australia;

- Associate Coach of the Year 2013 tingkat Internasional (44 negara).