business-forum

coaches

Senin, 29 Desember 2014

PENGGEMAR FANATIK - By: Coach Suwito

Suatu hari saya mendapat undangan untuk hadir di sebuah pagelaran jazz. Saya bukan penggemar musik jazz, tapi kalau saya tidak datang maka saya mungkin mengecewakan si pemberi undangan. Akhirnya, untuk pertama kalinya, saya pun memutuskan untuk menghadiri sebuah pagelaran musik jazz.
Menurut katalog, ada 3 venue berbeda dengan beberapa grup band yang silih berganti menunjukkan kebolehannya. Karena saya tidak tahu grup mana yang bagus, maka saya mendatangi satu persatu venue. Ternyata setiap venue dipadati orang, muda dan tua, berpasangan atau berkelompok.
Ketika salah satu venue jeda, maka penonton pun berduyun-duyun pindah ke venue lain yang sedang menampilkan grup band berbeda sejak setengah jam yang lalu.
Di kerumunan penonton itu, saya bisa membedakan, mana yang ngefans dan mana yang bukan. Yang benar-benar ngefans berdiri atau bergerombol di dekat panggung. Mereka ikut menyanyi bersama penyanyi. Kepala dan tubuhnya bergoyang seirama dengan lagu. Sementara, yang bukan fans berdiri di bagian belakang, asyik ngobrol sambil mengunyah camilan.
Perilaku konsumen bisa diamati dengan mudah. Penggemar berat (fans) bersedia meluangkan waktu, bela-belain, agar bisa mendapatkan produk kegemarannya. Mereka rela antri, berdesak-desakan, demi bertemu dengan idolanya. Mereka ikut bernyanyi, mereka sengaja larut secara emosi.
Grup band yang punya banyak penggemar berat tentu bangga. Didunia usaha juga berlaku fenomena yang sama. Bayangkan, bila Anda punya penggemar atau fans yang fanatik. Betapa bangganya Anda. Pingin punya penggemar fanatik? Cobalah meniru apa yang dilakukan grup band terkenal.

Share pengalaman dan pendapat Anda by email: suwito@baracoaching.com
Salam The NEXT Level!

Senin, 22 Desember 2014

Bincang Bisnis MPdSP - MANA LEBIH PENTING, MENYERANG ATAU MEMPERTAHANKAN?

Survey membuktikan 80% bisnis tidak bisa bertahan sebelum tahun ke-5. Problem yang sering dikeluhkan adalah tidak menemukan strategi tepat dalam bersaing, sehingga banyak pelanggan yang hilang dan berpindah ke ‘lain hati’.
Hal itu yang jadi pokok bahasan bincang bisnis “Mempertahankan Pelanggan dari Serbuan Pesaing”, Sabtu (13/12/14) lalu. Acara yang diadakan oleh BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) ini merupakan acara diskusi yang khusus ditujukan untuk pemilik bisnis.
Coach Humphrey Rusli, selaku Chief Operating Officer (COO) BARACoaching, mengawali acara dengan diskusi pendek dengan para peserta terkait mengapa materi ini dianggap menarik, dan bagaimana mereka (pemilik bisnis) selama ini menjaga konsumen mereka?
Lebih jauh, pelatih bisnis ini juga memaparkan tentang alasan apa saja yang membuat pengusaha gagal mempertahankan pelanggan mereka.
Yang pertama, tidak sadar jika pelanggan mulai tidak loyal. Pelanggan loyal biasanya ditandai dengan repeat order. Selain memastikan pelanggan melakukan repeat order atau tidak, tentu saja sebagai pemilik bisnis, kita juga harus berupaya bagaimana agar mereka ‘balik’ lagi sama kita.
 “Alasan kedua pengusaha sering gagal mem’protect’ pelanggan mereka adalah tidak informatif terhadap konsumen. Konsumen tidak paham produk atau jasa apa saja yang kita miliki. Biasanya kegagalan ini banyak ditemui pada pengusaha retail yang menjual banyak produk, mulai dari baju sampai aksesoris yang bervariasi,” papar Coach Humphrey.
Ketiga, tidak fokus. Jika diumpamakan pemilik bisnis adalah magnet, maka konsumen adalah biji besinya. Semakin jauh biji besi, semakin sulit anda menariknya. Jadi fokuslah terlebih dulu ke pelanggan yang dekat dengan kita. Ada baiknya petakan pelanggan menjadi ring 0, ring 1, dan ring 2.
“Ring 0 adalah orang-orang yang harus anda bidik terlebih dulu. Seperti saudara, teman, atau kerabat dekat yang secara emosional dekat dengan kita. Sedangkan ring 1, secara geografis letaknya berdekatan, misal tetangga sekitar rumah atau tempat usaha kita. Baru kemudian ring 2 dimana terdiri dari calon pelanggan yang benar-benar ingin atau butuh produk atau jasa kita,” lanjut pelatih bisnis Internasional ini.
Nah, sebelum fokus membidik calon pelanggan ring 1 dan 2, lihatlah kembali, sudahkah ada ‘merangkul’ orang-orang di ring 0?
Problem keempat dalam menjaga pelanggan adalah tidak kreatif. Pemilik bisnis dituntut untuk terus kreatif dan inovatif agar pelanggan tidak bosan. Selain itu, agar dia bisa terus berkembang, menghadirkan sesuatu yang baru dan lain daripada yang lain.
Dari keempat poin di atas, benang merah yang bisa disimpulkan, bahwa great offense strategy is the best defense.
“Selama ini, pebisnis hanya sibuk memikirkan cara menyerang atau mengimbangi serangan kompetitor saja, untuk menjaga pelanggan mereka. Tanpa mereka sadari, cara terbaik bukan hanya dengan terus-menerus melakukan itu, namun juga membentuk pertahanan diri. Bisa dimulai dengan memperbaiki sistem intern bisnis kita, terus belajar dan mengembangkan diri agar jadi kreatif dan peka terhadap keinginan dan atau kebutuhan pelanggan kita,” tegas Coach Humphrey di akhir forum.
 Selain materi dan studi kasus, para peserta juga diajak berdiskusi aktif dan bertanya seputar problem bisnis mereka. Salah seorang pemilik bisnis yang hadir, Caswan, mengaku puas mengikuti bincang bisnis ini.
“Forum ini banyak memberikan contoh dan aplikasi daripada hanya teori semata, sehingga mudah dipahami. 80% harapan dan problem bisnis saya terkait tema, terjawab sudah,” ujar pemilik rentcar yang sudah berjalan lebih dari 5 tahun ini.

PRESTASI PUNCAK - By: Coach Suwito

Dulu, ketika saya memimpin sendiri di bengkel, saya pernah melayani 98 mobil, dalam sehari! Tapi, prestasi itu hanya tercapai 1 kali saja dan di tahun-tahun berikutnya sulit sekali mengulangnya. Prestasi puncak yang paling sering dicapai adalah 70-an mobil dalam sehari.
Sebagai seorang yang pernah mencapai puncak, saya berusaha memperbaiki rekor itu. Bahkan saya dengan senang hati mendorong orang lain agar bisa memecahkan rekor saya. Toh saya sendiri pun tak pernah berhasil mengulang prestasi 98 mobil dalam sehari.
Apa saja yang dibutuhkan seseorang, agar bisa mencapai prestasi puncak?
Bagi saya, prestasi puncak bisa saja dicapai secara tidak sengaja, seolah-olah terjadi begitu saja, alamiah. Tapi, sebenarnya mencapai sebuah prestasi itu juga bisa direncanakan.
Pertama, seseorang perlu tahu: berapa kemampuan atau prestasi puncaknya? Bagaimana cara kita tahu kemampuan puncak kita? Hanya ada satu cara untuk membuktikannya: coba dan lakukan saja. Lalu, lakukan lagi lebih baik dan lebih baik lagi.
Kedua, kita perlu tahu: apakah perlu alat-alat bantu untuk mencapai prestasi itu? Apakah ada alat-alat bantu lain yang lebih bagus? Dalam pekerjaan sehari-hari, alat-alat bantu ini bisa berupa mesin (atau peralatan kerja lainnya), teman-teman satu tim, atau sistem kerja yang memudahkan kita menyelesaikan pekerjaan dan … ujung-ujungnya adalah prestasi terbaik.
Yang pernah saya lakukan adalah, membantu teman-teman satu tim untuk bekerja lebih baik, lebih cepat dan lebih akurat. Hasilnya? Mereka berhasil menaikkan prestasi puncaknya, meski belum bisa menyamai rekor saya.
Kemudian, saya menanamkan semangat kompetisi, yaitu berusaha memecahkan rekor terbaik. Entah itu rekor terbaik diri sendiri atau teman se-tim-nya. Semangat berkompetisi, membuat orang menjadi bekerja dengan antusias dan tanpa kenal lelah.
Ini juga saya gunakan dalam beberapa kasus coaching: semangat berkompetisi, memperbaiki prestasi puncak.
Apakah Anda pernah melakukannya?

Share by email: suwito@baracoaching.com

Salam The NEXT Level!

Kamis, 18 Desember 2014

SALES DAN MARKETING - By: Coach Ruaniwati

Hari ini dalam dua kesempatan terpisah, saya berdiskusi dengan 2 pemilik bisnis, yang walaupun bidang usaha mereka berbeda, topik yang dibicarakan ada kesamaannya, yaitu seputar sales dan marketing.
Yang satu seorang Bapak, pengusaha penyedia jasa layanan, yang lainnya seorang Ibu,  pengusaha produk pakaian batik. Ketika saya tanyakan apa saja yang telah mereka rencanakan untuk menaikkan penjualan, dengan semangat mereka menceritakan rencana-rencananya mengerek penjualan.
Sayangnya, waktu saya tanyakan kembali apa langkah-langkah yang telah dilakukan dan tingkat keberhasilannya, si ibu memberikan tanggapan, “Iya, sejauh ini saya belum melakukannya karena saya tidak bisa fokus, ada saja pekerjaan harian yang harus saya bereskan, sehingga tahu-tahu bulan demi bulan berlalu begitu saja dan rencana saya hampir terlupakan”.
Hal lain yang dikemukakan oleh Bapak adalah, “Waktu akan mulai, saya terbentur beberapa halangan yang perlu usaha dan waktu untuk menjalaninya, sampai saya kehilangan semangat untuk melakukannya”.
Sounds familiar?
Bagaimana caranya supaya rencana-rencana yang telah kita buat dapat kita lakukan dan mendapatkan hasil?
Kuncinya adalah disiplin. Yang paling menantang bagi para pemilik bisnis adalah mendisiplinkan diri sendiri. Siapa? Ya, DIRI SENDIRI!
Bagi yang belum pernah merencanakan dengan sengaja membuat strategi dan perencanaan sales & marketing, mulailah dengan hal-hal kecil dan sederhana yang bisa segera dilakukan. Misalnya, produk atau jasa apa yang paling laku selama 6 bulan terakhir? Atau produk atau jasa layanan apa yang jika diberi nilai tambah akan jadi lebih moncer? Produk atau jasa apa yang paling tinggi marginnya? Dengan melakukan analisa sederhana ini, Anda dapat merencanakan hal-hal yang bisa dilakukan segera.
Jika rencana dan strategi telah ada, buatlah langkah-langkah untuk melakukannya. Membuat rencana waktu harian membantu Anda membuat pola bekerja yang baik. Patuhi rencana harian Anda, jika Anda sulit mematuhi rencana harian Anda, mintalah orang lain misalnya staf atau orang yang Anda percaya untuk mengingatkan hal ini.
Mendekati pergantian tahun 2015, ini adalah waktu yang baik untuk merencanakan sesuatu sehingga memasuki tahun baru nanti, Anda bisa menjalankannya. Nantikan hasil terbaik!!
Selamat mengakhiri tahun 2014 dengan gemilang dan memasuki tahun 2015 dengan harapan yang baru pula.


Jumat, 12 Desember 2014

BRANDING, ANTARA JANJI DAN ‘OBAT’ BUAT KONSUMEN

Banyak pemilik bisnis yang selama ini hanya mengartikan branding sebagai promise. Janji kepada para konsumen untuk memberikan sesuatu yang indah atau menyenangkan. Itulah sebabnya, mereka jadi terlalu memusingkan ‘how good we are’ tanpa menemukan atau mengobati apa sebenarnya ‘sakit’ konsumen.
Hal ini disampaikan coach Humphrey Rusli, selaku pembicara dalam forum bisnis bertajuk “Cara Cerdas Branding”, Sabtu (06/12/14) lalu. Acara yang diadakan BARACoaching (actionCOACH East Java-Bali) ini bertempat di Ballroom Las Vegas, Office BARACoaching, PTC Surabaya.
Dalam forum reguler yang ditujukan khusus bagi para pemilik bisnis ini, coach Humphrey memaparkan apa tujuan utama branding serta apa saja alasan yang menyebabkan mengapa proses branding dianggap sulit.
Tujuan utama branding sebenarnya adalah untuk pencitraan. Bagaimana membentuk persepsi positif atau bagus pada konsumen, tanpa harus mengatakan “percayalah” atau “kita ini lho bagus”.
“Selama ini branding dianggap sulit. Selain karena tidak paham pasarnya, banyak pemilik bisnis sudah terbiasa mengartikan branding denganpromise’ untuk menciptakan sesuatu yang indah atau menyenangkan. Kebanyakan pengusaha hanya pusing menunjukkan ‘how good we are’, tanpa menemukan atau mengobati apa sakitnya konsumen. Padahal, branding jadi powerful ketika kita mengedepankan ‘sakit’nya di awal, sekaligus kita yang berikan solusinya,” tutur pelatih bisnis asli Surabaya ini.
Dalam sebuah sesi coaching, seorang pengusaha mobil second menanyakan, bagaimana cara menjual mobil second yang ada ‘cacat’nya kepada customer. Apa ditutupi atau justru diinfokan kepada pembeli?
“Jika ditutupi, takutnya konsumen jadi gak percaya lagi sama kita. Tapi apa gak tambah merugikan kalau diberitahukan jeleknya?” tanya pengusaha itu serba salah.
 Menanggapi masalah tersebut, the best coach Indonesia 2014 ini menimpali, bahwa menginformasikan kejelekan produk kita, bukan berarti itu akan membuat persepsi konsumen ikut jelek.
“Semua itu tergantung bagaimana kita menyampaikannya. Misal kita tunjukkan dulu 10 kejelekannya. Nah, sebagai kelanjutannya kita teruskan dengan 100 kelebihan produk itu misalnya, agar produk yang kita tawarkan punya nilai plus yang bisa juga dihandalkan selain sisi buruknya. Dengan begini, selain konsumen akan lebih percaya pada kita, mereka juga akan mempertimbangkan membeli atau memakainya setelah mengetahui sejumlah kelebihan yang anda berikan sebelumnya,” papar pelatih bisnis senior ini panjang lebar.
Selain itu, berikan emotional guarantee atau garansi emosional pada konsumen anda. Dalam artian, apa yang akan anda ceritakan atau sharekan sekarang, yang nantinya membuat konsumen tahu jika produk atau jasa anda bagus, bahkan sebelum mereka membeli atau menggunakannya.
Seperti yang sudah dilakukan oleh salah satu perusahaan air minum kemasan yang cukup terkenal di Indonesia. Perusahaan ini mempromosikan atau meng’gembor-gembor’kan produknya telah disaring sebanyak beberapa kali, sehingga persepsi yang muncul di pikiran konsumen adalah air minum merk perusahaan ini adalah air minum yang jernih dan bersih.
Nah, apa yang sudah anda lakukan pada bisnis anda, untuk menciptakan persepsi positif konsumen terhadap produk atau jasa yang anda keluarkan?


Selasa, 09 Desember 2014

BANYAK PEBISNIS HANYA IKUT-IKUTAN

Jum’at (28/11/14) lalu, BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan bincang bisnis bertajuk “Low Cost High Impact Marketing”. Sebuah forum yang membicarakan langkah-langkah meningkatkan penjualan dengan menekan biaya, seefisien mungkin.
Coach Humphrey Rusli, selaku pembicara memaparkan selama ini para pemilik bisnis sering salah kaprah mendefinisikan ungkapan ‘low cost’. Mereka cenderung mengartikan low cost dengan murah semata. Pemikiran seperti ini yang menyebabkan mereka tidak memahami taktik dan cara kreatif untuk meningkatkan penjualan.
“Selama ini para pemilik bisnis tidak paham marketing yang baik itu seperti apa. Kebanyakan, mereka hanya cenderung terpancing dengan kompetitor. Sudah tidak ada kejelasan market, hanya ikut-ikutan apa yang dilakukan kompetitornya. Itulah mengapa banyak strategi marketing berujung pada buang uang,” jelas coach Humphrey.
Lalu bagaimana caranya agar strategi marketing yang kita lakukan tidak sia-sia? Bagaimana agar kita bisa menekan biaya yang terbuang dan memperoleh hasil yang maksimal? Setidaknya, ada 5 hal yang mesti kita pahami dalam low cost high impact marketing.
Pertama adalah apapun yang akan kita jual, pahami dulu siapa pembeli kita. Seorang pengusaha kripik buah naga mengeluh, kenapa kripiknya tidak laku. Padahal diantara jajaran kripik yang lain, kripik ini tergolong lain daripada yang lain dan tentu saja menyehatkan.
“Namun, ketika didisplay di samping  buah naga (kebetulan waktu itu dia menitipkan kripiknya di salah satu swalayan besar), kripiknya jadi laku keras. Dari cerita ini, selain paham siapa target market, kita juga harus memperhatikan hal-hal termasuk tempat display,” lanjut senior coach BARACoaching Surabaya ini.
Poin ini didapat dengan membiasakan diri untuk terus disiplin berpikir dan mencari ide untuk tercapainya low budget high impact marketing. Lewat trial and error, lama kelamaan pemilik bisnis akan menemukan taktik atau strategi yang tepat dalam bisnisnya. Bukan hanya menemukan target pasar, namun juga bagaimana cara memasarkan produk atau jasanya dengan tepat.
Kedua, ‘memutar’ corong promosi ke dalam. Jika sebelumnya promosi lebih ditujukan untuk mendapat konsumen baru, maka sekarang terbalik, fokuslah pada pelanggan lama anda.
“Selama ini, pemilik bisnis tidak menyadari, merekrut konsumen baru, 6 sampai 10 kali lipat lebih sulit daripada mempertahankan konsumen lama. Biayanya juga lebih mahal dari maintenance pelanggan lama, atau bahkan yang sudah loyal.”
Jadi, ketika ada promosi atau informasi produk baru, maka usahakan untuk memberitahukan kepada pelanggan yang ada dalam lingkaran bisnis kita terlebih dulu.
Selanjutnya adalah be creative. Hampir sama dengan poin satu, berpikir kreatif bisa tercapai bila kita membiasakan diri untuk disiplin berpikir dan terus mencari cara atau strategi kreatif untuk mencapai tujuannya.
Keempat, networking. Memperkaya pengetahuan dan wawasan dengan bergaul dengan pemilik bisnis yang lain. Networking bisa memungkinkan kita untuk melihat sebuah masalah atau hal dari banyak sudut pandang. Jadi, sering-seringlah bergaul dan berdiskusi dengan pemilik bisnis yang lain, misal dalam sebuah komunitas atau forum bisnis.
Terakhir, memaksimalkan fungsi media promosi. Salah satunya brosur. Fungsi brosur sebenarnya adalah membuat ‘si pembaca’ atau konsumen jadi penasaran tentang apa yang kita informasikan.
“Sayangnya, sering saya lihat fungsi itu jadi hilang karena design tidak eye catching dan lay out atau tata letak yang ‘salah’. Kesalahan utama yang biasa dijumpai seperti penulisan nama usaha gede di atas, testimoni yang terlalu banyak, dan headline yang tidak menarik,” papar pelatih bisnis terbaik Indonesia ini. 

Senin, 08 Desember 2014

Sustainable Company, Perusahaan yang Berkelanjutan - By: Coach Suwito

Kata sustainable company sering dikaitkan dengan upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup. Tapi kali ini saya ingin menerjemahkannya sebagai sebuah perusahaan yang tahan lama, tahan banting dan tetap populer untuk waktu yang sangat lama, atau perusahaan yang berkelanjutan.
Bila batasan ‘lama’ itu adalah bilangan 5 atau 10 tahun, mungkin kurang relevan. Sebuah perusahaan yang (baru) bertahan selama 5 tahun, masih dianggap belum apa-apa, belum (terbukti) cukup tahan banting atau tahan lama. Padahal, banyak pemilik perusahaan yang sudah ngos-ngosan ketika mempertahankan keberadaan perusahaannya pada 5 tahun pertama.
Bila toh akhirnya si pemilik perusahaan ini berhasil melewati masa 5 tahunnya yang kedua…dengan baik tentunya, maka si pemilik perusahaan ini boleh sedikit lega, dan boleh mulai merasa optimis bahwa perusahaannya bakal bisa bertahan hingga dekade berikutnya.
Ehmm…siapa tahu?

Inovasi Produk dan Merk yang Kuat
Sebuah perusahaan dianggap berkelanjutan, bila dalam kurun waktu dua atau tiga puluh tahun selalu mempunyai produk (atau produk-produk) yang digemari oleh konsumen. Yang produk-produknya senantiasa dicari dan diminati oleh para pelanggannya. Setiap kali melaunch produk baru, senantiasa laris.
Bukan hanya produknya yang dicari, tapi merknya pun sangat dikagumi dan terpercaya. Apple dan Samsung merupakan dua jawara, yang launching produknya hampir selalu booming, fantastis.
Apa sebenarnya yang membuat produk perusahaan-perusahaan ini begitu digandrungi? Tak lain karena mereka mampu menyajikan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen atau pelanggan. Bahkan, perusahaan-perusahaan semacam ini mampu menciptakan trend baru, dan konsumen menggandrunginya, ngefans terhadap merknya.
Perusahaan-perusahaan yang ingin sustainable memang harus rajin-rajin menciptakan produk-produk inovatif. Dan tidak cukup dengan inovatif saja, tapi setiap produk juga harus dikomunikasikan dengan benar, hingga konsumen mendapat persepsi yang pas tentang produk inovatif tersebut. Komunikasi yang tepat inilah yang membuat konsumen antri saat launching sebuah produk baru.
Dan bila sebuah perusahaan selalu mencetak rekor penjualan saat launching produk inovatifnya, maka boleh dibilang perusahaan tersebut berpeluang mendapat julukan sustainable company.


Value dan Vision
Bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut sedemikian konsisten dan menjadi jawara dari tahun ke tahun? Kunci pertama dilihat dari visi perusahaan. Di visi perusahaanlah terletak value apa saja yang ingin dipertahankan sebagai identitas perusahaan. Visi yang mengedepankan kesejahteraan umat manusia, akan lebih tahan lama (sustainable) ketimbang visi yang semata-mata mencari keuntungan pribadi saja.
Itulah sebabnya, ketika sebuah perusahaan menunjukkan kepeduliannya pada pelestarian lingkungan hidup, maka merk perusahaan tersebut menjadi terpercaya. Orang membeli dan menggunakan produknya sebagai penghargaan atas visi perusahaan. Dan…konsumen percaya bahwa produknya benar-benar bagus. Tentang kiprah perusahaan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup, Anda bisa membuka link berikut ini: http://www.coca-colacompany.com/plantbottle-technology/

Kualitas
Ada satu hal lagi yang mungkin dianggap ‘biasa’ pada perusahaan-perusahaan yang tahan lama ini, yaitu: kualitas yang senantiasa terjaga. Kualitas nomor 1 sudah menjadi keharusan, kebiasaan. Bila sebuah perusahaan ingin bertahan untuk waktu yang lama, maka setiap produknya (tanpa kecuali) harus berkualitas nomor 1. Sebuah perusahaan yang sustainable haruslah konsisten menghasilkan produk-produk berkualitas, tanpa kecuali.

Profit
Terakhir, perusahaan hanya akan mampu bertahan lama, bila operasional perusahaan tersebut mendatangkan cukup profit/keuntungan bagi para pemilik (share holders) dan karyawan. Kalau di bagian atas tadi lebih banyak diceritakan tentang benefit di pihak konsumen, maka profit terutama dinikmati oleh share holders.
Share holders tidak hanya menginginkan profit, tapi juga senantiasa bercita-cita memperoleh profit yang sebesar-besarnya melalui investasi seminimal mungkin. Share holders juga sangat gembira, bila investasi yang ditanamkannya mampu bertahan untuk waktu yang lama, dan tetap memberikan keuntungan.
Bagaimana share holders bisa ‘menghemat’ investasi? Salah satu caranya adalah melakukan perawatan terhadap fasilitas produksi. Dengan perawatan yang teratur, maka produktifitas mesin akan tetap terpelihara, masa pakainya menjadi semakin panjang dan tingkat kerusakan dapat diperkecil. Dengan demikian, penggantian mesin atau fasilitas produksi bisa ditunda, bukan?
Tentu saja, bukan hanya keuntungan yang bisa dinikmati oleh share holders, tapi juga kesejahteraan karyawan dan masyarakat sekitarnya. Perusahaan yang mampu meningkatkan kesejahteraan, tentu akan lebih ‘dicintai’ oleh karyawannya. Dengan demikian, turn over karyawan menjadi rendah dan produktifitasnya meningkat.

Menjadi perusahaan yang tahan lama, tahan banting dan tetap digemari oleh konsumen, karyawan dan masyarakat tidaklah mudah. Benar, bukan?

Kamis, 04 Desember 2014

PENYEBAB ‘GEGER’ DALAM BISNIS KELUARGA

Berbisnis dengan keluarga sendiri, rentan menimbulkan perpecahan. Kenapa bisa begitu? Apa saja yang harus dilakukan untuk mengatasinya? BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengupas hal ini dalam bincang bisnis bertajuk “Suksesi dan Regenerasi dalam Bisnis Keluarga”, Sabtu (22/11/14) lalu.
Dalam acara khusus untuk pemilik bisnis ini, Coach Suwito Sumargo sebagai pembicara menjelaskan, bisnis keluarga sebenarnya sudah ada sejak jaman Yunani. Ada juga pendapat yang mengatakan sudah ada sebelum revolusi industri. Seiring perkembangan jaman, bisnis keluarga merupakan bentuk bisnis yang paling banyak ada di Indonesia.
Permasalahan yang jamak terjadi dalam bisnis keluarga adalah rentan terjadi perselisihan antar anggota keluarga. Sehingga tidak heran, hanya sedikit yang bisa survive sampai generasi ke empat. Lainnya, gagal di 3 generasi sebelumnya.
“Kenapa sulit mengelola bisnis keluarga? Alasan pertama, banyak terjadi ‘geger’an, karena makin banyaknya yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Kedua, adanya nepotisme yang ngawur. Misal dalam hal penerimaan karyawan. Asal saudara atau kerabat, boleh masuk saja dan langsung menduduki jabatan atas,”papar coach Suwito.
Selain dua hal itu, pelatih bisnis yang sudah 30 tahun lebih berkecimpung dalam bisnis keluarga ini menambahkan, budaya bisnis keluarga biasanya berasal dari budaya atau tradisi yang ada dalam keluarga itu sendiri, itulah sebabnya sering terjadi kesenjangan antara generasi tua dan generasi muda. Generasi tua punya pendapat, para muda (atau calon penerus) belum punya cukup pengalaman, kurang disiplin, tidak punya passion dan kurang memahami budaya kerja keluarga.
“Sebaliknya, generasi muda berpikiran, generasi tua adalah orang-orang yang konservatif dan memaksakan kehendak. Beberapa pemimpin (generasi tua) dianggap enggan melepas kekuasaan dan memberi kesempatan pada yang muda untuk maju,” lanjutnya.
Untuk mengatasi perselisihan dalam bisnis keluarga, ada beberapa hal disimpulkan dari forum ini. Pertama, menyiapkan calon pemimpin (suksesor) dari awal. Seringkali keluarga kesulitan mencari pengganti yang benar-benar pas untuk melanjutkan. Selain pendidikan yang tinggi, bekali dia dengan bekal pengalaman kerja nyata. Contohnya dengan mengambil waktu untuk magang atau kerja di bisnis lain.
Kedua, bekerja bersama-sama. Selain membedakan hak dan kewajiban masing-masing, poin yang penting dilakukan adalah intens komunikasi.
“Meeting keluarga secara rutin penting dilakukan, komunikasi merupakan kunci dalam keharmonisan bisnis keluarga,’ tegas the Winner Supportive Coach and System Award 2014 ini.
Selain memberikan contoh dan pengalaman nyata problem bisnis keluarga sekaligus solusinya, dalam bincang bisnis ini coach Suwito juga berdiskusi aktif dengan para peserta terkait problem dalam bisnis keluarga mereka. 

JOSHUA BELL STORY - By: Coach Ruaniwati

Seorang pemain biola terkenal, Joshua Bell bersama dengan surat kabar Washington Post melakukan eksperimen untuk mengetahui persepsi orang dengan cara tampil di stasiun kereta bawah tanah di Washington. Waktu itu, dia memainkan 6 lagu gubahan karya Bach selama 45 menit pada jam tersibuk stasiun.
Hanya 6 orang saja yang berhenti dan mendengar permainannya sejenak dan total hari itu ada 20 orang yang memberi tips yang berjumlah 32 dolar. Padahal sehari sebelumnya, dia tampil di Boston dengan tiket ludes terjual dengan rata-rata tiket seharga 100 dolar.
Yang mengejutkan, tidak ada orang yang mengenali Joshua Bell di stasiun pagi itu. Joshua adalah salah satu pemusik terbaik di dunia dan pemenang Grammy Award, memainkan gubahan lagu Bach dengan biola senilai 3,5 juta dolar waktu itu.
Apa pelajaran yang bisa kita dapatkan dari cerita ini?
Andai saja, kejadian di pagi itu diberitakan atau dipromosikan, kejadiannya akan jauh berbeda, saya membayangkan para fans Joshua Bell bakal datang nonton. 
Apa yang salah disini?
Tidak ada orang yang tahu bahwa Joshua akan manggung pagi itu. Tidak ada orang lewat di situ yang mengenali siapa dia. Tidak ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa yang manggung itu pemusik biola paling top di dunia.
Relevan dengan cerita di atas, ternyata jika salah tempat,  seciamik apapun perusahaan/ produk/ layanan kita, tidak ada yang tertarik.
Kualitas ternyata jika ditaruh tidak pada tempatnya tidak akan menimbulkan dampak apa-apa. Jika salah tempat sekalipun kalau tidak di woro-woro juga tidak berdampak banyak.
Dari beberapa diskusi dengan pebisnis, saya jadi sadar bahwa terkadang kita tidak menentukan dulu dimana, kapan dan dengan cara apa kita mau bermain.
Masih mau main dengan cara ini? 

Kamis, 27 November 2014

NIAT - By: Coach Humphrey

“Aduh, anak buah saya kok gak niat kerja, sih!”
Begitu keluhan beberapa pengusaha yang sering saya dengar. Sebenarnya apa niat itu, dan apa hubungannya dengan konteks SDM atau tim dalam sebuah bisnis?
Dari diskusi dengan para pemilik bisnis, saya simpulkan, niat merupakan itikad atau keseriusan seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam bisnis, tim merupakan aset bagi perusahaan. Jadi, kalau anak buah tidak punya niat, maka bisa dikatakan kita punya aset yang tidak baik.
Itulah sebabnya, jika ingin bisnis kita sukses, maka perlu untuk membina tim dengan baik. Perlu membangkitkan niat mereka untuk bekerja dengan optimal dan mendukung kemajuan perusahaan. Sering kita lihat, gara-gara nggak niat, orang pintar sekalipun jadi tidak berguna buat perusahaan.
Seorang anak buah dikatakan tidak niat jika dia memiliki waktu dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, tapi dia lebih memilih tidak melakukan. Tipe seperti ini adalah bad fruit atau buah buruk dalam perusahaan, yang mau tidak mau harus segera dibuang sebelum merugikan perusahaan.
Masalahnya, selama ini kasus yang saya jumpai justru bukan berasal dari anak buah yang nggak niat, tapi dari pengusahanya sendiri yang keliru menilai. Anak buah sering dicap nggak niat, padahal mereka hanya tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. Bisa berarti tidak mampu karena skillnya kurang. Atau dia mampu, namun tidak ada waktu cukup untuk menyelesaikannya. Hal itu yang kemudian membuat niat mereka jadi ‘surut’.
Lalu bagaimana caranya untuk membangkitkan niat pada anak buah?
Pertama, memastikan kecocokan skill atau pengalaman. Tujuannya agar perintah yang diberikan mudah diserap dan anak buah punya rasa PD mengerjakan karena punya skill dan background yang sama.
Contoh perintah yang diberikan bisa seperti, “Saya lihat anda pernah melakukan pekerjaan XYZ. Nah, saya minta anda melakukan lagi, namun dengan sedikit perubahan.”
Kedua adalah setting timing yang jelas. Kita harus tahu waktu atau kapan anak buah mengerjakan tugas yang kita berikan. Sebaiknya ditanyakan kapan mereka melakukan kerjaannya, kapan waktu selesainya. Jika mereka tidak mampu, maka kita hendaknya membantu yang bersangkutan.
Mungkin bisa dengan memberi penjelasan, tugas mana dulu yang diutamakan, kesulitannya apa saja, dan sebagainya. Intinya, pastikan dia memiliki alokasi waktu yang cukup untuk menjalankan perintah kita.

Gimana? Sebenarnya mudah bukan untuk membuat anak buah kita niat bekerja?

Senin, 24 November 2014

BISA DAN TERBIASA - By: Coach Suwito Sumargo

Seorang pebisnis resah, karena tak kunjung menemukan karyawan yang diinginkan. Ketika mendengar keluh kesahnya, saya bertanya: "Pekerjaan apa saja yang harus dilakukan si (calon) karyawan?".
Dia menjawab: "Menulis bon pesanan, faktur penjualan, mengatur-memeriksa-mencatat barang-barang yang masuk/keluar, stok opname...ehm, apalagi ya?".
Kami pun terdiam. Setelah beberapa saat, saya bertanya: "Masih ada lagikah yang harus dia kerjakan?". Dengan raut wajah ragu, dia bertanya: "Terlalu banyak ya, Coach?".
Saya tidak terlalu menanggapi tentang detil pekerjannya. Bagi saya, yang terpenting adalah seorang pimpinan harus tahu apa saja yang akan dikerjakan karyawannya, lalu menentukan karakter dan keahlian seperti apa yang seharusnya dimiliki mereka (karyawannya), agar tugas-tugas tersebut dapat dilaksanakan dengan baik.
Pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan administrasi, membutuhkan ketelitian/kecermatan, kerapian, kemampuan berpikir sistematis dan logis. Semua ini bisa dikenali lebih dulu melalui psikotes. Namun, tak ada salahnya bila hasil psikotes tersebut di periksa ulang atau dibandingkan dengan apa yang dilakukan sehari-hari. Misalnya: seberapa teliti/cermatnya, seberapa rapi dan sistematis/logis dalam melakukan tugas sehari-hari. Bisa saja, ada perbedaan antara hasil tes dengan kenyataan.
Hal lain yang tak kalah pentingnya ialah, apakah mereka bisa bertahan dengan pekerjaan yang itu-itu saja? Apakah mereka tidak bosan? Karena kita tidak butuh karyawan yang hanya bisa bekerja sebentar atau selama beberapa hari/minggu saja, tapi butuh karyawan yang bisa dan terbiasa melakukan pekerjaan yang sama, terus menerus tanpa bosan.

Terbiasa berarti bisa mengerjakan terus menerus, hingga menjadi kebiasaan. Agar bisa terbentuk kebiasaan kerja yang konsisten, butuh karakter yang stabil dan tidak neko-neko. Teliti kembali karakter karyawan Anda, siapa tahu mungkin butuh penataan ulang atau pelatihan lagi, agar bisa lebih optimal.

Jumat, 21 November 2014

PEOPLE OR SYSTEM - ( Intisari Forum Discussion Group (FDG) II – 14 Nov ’14 )

Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?
Bagi pebisnis, menjawab hal ini seperti menjawab pertanyaan: mana yang lebih penting, membentuk sistem dulu baru merekrut SDM? atau sebaliknya?
Dalam sebuah riset yang diadakan oleh tim Research and Development kami, sebanyak 79% pebisnis memilih sistem lebih dulu. Dengan adanya sistem, semua akan teratur atau terencana, sehingga orang-orang yang ada akan bekerja sesuai dengan sistem yang sudah dibuat. Sedangkan sisanya, sebanyak 21% lebih memilih merekrut SDM dulu, dengan alasan jika orang-orangnya tidak ‘mumpuni’, maka sistem yang lahir nantinya juga akan buruk atau tidak berkualitas.
Sebenarnya apa itu sistem? Apa pentingnya sistem dalam bisnis kita? Dari forum diskusi yang kami adakan beberapa waktu lalu (Jum’at, 14 Nov ’14), sebagian besar pemilik usaha berpendapat, intinya sistem merupakan sesuatu yang terencana, di dalamnya terdapat orang-orang yang keseluruhannya mengacu pada visi-misi perusahaan.
Sistem bisa saja lahir pada saat kita pertama kali membangun usaha atau pada saat usaha mulai besar dimana proses pekerjaan kita sudah dapat didelegasikan ke bawahan. Sederhananya, sistem itu berangkat dari aturan main. Sebuah aturan main bisa kemudian disebut sistem jika ‘dia’ terbukti bagus, dalam artian bisa menghasilkan profit yang berkelanjutan.
Lebih jauh bicara tentang sistem, kita juga harus memiliki sistem default sebagai acuan. Jika sistem baru yang kita buat tidak sesuai dengan lapangan kita bisa kembali ke sistem default. Sistem default adalah sistem yang berlaku di lapangan, tidak didesain sebelumnya dan berjalan apa adanya.
Ada kasus menarik yang diberikan coach Humphrey Rusli (moderator FDG II) dalam forum ini. Contohnya fakta yang dialami oleh salah satu pengusaha kuliner, waktu usahanya berdiri di daerah kumuh, rumah makannya ramai dikunjungi pelanggan. Namun, ketika pindah ke tempat yang lebih besar dan bersih, pengunjung malah banyak yang ‘lari’ dan menurun drastis. Beberapa perusahaan seperti ini, sistemnya amburadul tetapi sukses, dan setelah sistemnya dirapikan justru mengalami kerugian. Kok aneh, ya? Menurut anda, kira-kira apakah ada yang salah dengan perubahan sistemnya dan bagaimana solusinya?


JANGAN JADI AKTOR UTAMA SAJA
Selama ini, sebagian besar pengusaha atau pemilik bisnis hanya menempatkan dirinya sebagai aktor utama. Apa yang saya rasakan, apa saja yang harus saya lakukan, menurut saya gimana. Mereka terlalu berkutat untuk perbaikan diri sendiri, tanpa menyadari bahwa melihat dari sisi konsumen (market) adalah hal yang tak kalah pentingnya.
Market itu tidak mengenal teori, diperlukan analisa dan penggalian informasi yang akurat jika kita ingin membuat sistem, terutama dalam menggali jenis dan kemauan konsumen kita. Selama ini konsumen membeli produk kita karena apa?
Secara garis besar, ada 3 faktor yang menyebabkan konsumen memakai produk atau jasa kita:
1.     Fungsionalitas. Poin ini seperti pelayanannya cepat, murah, komplit, dan tempatnya dekat/ mudah ditemukan dimana-mana.
2.     Emosional. Kesan apa yang ingin didapatkan ketika memakai sebuah produk atau jasa. Seperti kesan mewah, gengsi, pintar, dan masih banyak lagi.
3.     Familiaritas. Seperti kebiasaan yang sering dilakukan dan konsumen merasa nyaman dengan kebiasaan itu.
Pada kasus pengusaha kuliner (rumah makan) di atas, pelanggan ‘setia’ mungkin lebih memilih datang ke depot kumuhnya, karena sudah terbiasa dan nyaman disitu (faktor familiaritas). Bisa juga karena tempatnya yang mudah dijangkau (faktor fungsionalitas). Sebab itu, tidak mengherankan jika kemudian rumah makannya menjadi sepi ketika dia pindah tempat.
Alangkah baiknya, jika pengusaha itu ingin melebarkan ‘sayap’ bisnisnya, bisa dengan membuka cabang baru, tempat baru, jenis atau segmen konsumen baru, dan dengan pendekatan yang baru juga. Entah itu melalui pendekatan fungsionalitas, emosionalnya, maupun familiaritas. Itu jika kita bicara tentang konsumen bisnis sendiri, bagaimana dengan konsumen dari kompetitor? dalam dunia usaha, tentunya bukan hal baru jika setiap pengusaha saling berebut konsumen atau pasar.
Ada beberapa cara merebut konsumen yang sudah loyal dengan produk tertentu, diantaranya:
1.     Mengeluarkan produk yang berbeda/ unik. Bersifat lain daripada kompetitornya.
2.     Mengeluarkan produk yang sejenis dan menyamakan familiaritasnya dengan kompetitor. Misal mie merk XYZ, yang mengeluarkan jenis produk sama dengan kompetitornya seperti mie kuah rasa soto koya dan masih banyak lagi.
Sebenarnya sulit untuk merebut konsumen yang membeli suatu produk/ jasa karena familiaritasnya, untuk itu alangkah baiknya jika kita menciptakan konsumen dengan segmen sendiri. 

Kembali ke pertanyaan utama: mana yang lebih penting, membentuk sistem dulu baru merekrut SDM? atau sebaliknya? dari FDG II ini disimpulkan, sebaiknya sistem ditentukan atau dirancang terlebih dahulu oleh pemilik perusahaan, karena pemilik perusahaan paling berperan besar dan yang lebih banyak menanggung resiko jika sistem yang dijalankan ‘amburadul’.