business-forum

coaches

Senin, 03 Oktober 2016

INTERVIEW MARATHON - By: Coach Suwito Sumargo*

Sabtu lalu saya meng-interview 19 orang kandidat. Mulai pukul 08.00 tepat sampai pukul 16.45. Setiap jam saya meng-interview 2-5 orang kandidat. Wow...sebuah pengalaman luar biasa. Apalagi saya menjalani sendirian, tanpa support siapapun.
Saya tahu, meng-interview banyak orang bakal sangat melelahkan. Oleh karena itu saya pun menyiapkan diri, baik fisik, mental, maupun ‘pernik-pernik’nya.
Pertama, saya membuat daftar nama-nama kandidat, lengkap dengan jam hadirnya. Daftar tersebut saya tempelkan di pintu kaca depan, dengan sebuah catatan : "Pelamar yang belum saatnya diwawancara, harap menunggu dengan tertib, tenang dan sopan".
Kedua, saya menyiapkan sejumlah pertanyaan (bernomor) sebagai panduan. Form untuk mencatat jawaban pun saya siapkan, agar mudah mengompilasikannya nanti.
Dengan pertanyaan yang sama ke setiap kandidat, maka saya akan bisa mengelompokkan jawaban-jawabannya. 
Saya juga berlatih, agar pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar sebagai pertanyaan spontan. Pertanyaan spontan dan relaks akan membuat kandidat tak segan membuka diri, sehingga saya bisa mengenali karakter dan behaviour aslinya.
Dua persiapan tersebut diatas, membuat saya lebih tenang. Ini sebenarnya hanya taktik saya saja dalam menyiapkan diri (mental) sebagai interviewer marathon.
Apa sih yang saya 'takuti' dalam interview seperti ini?
Capek. Meskipun secara fisik sebetulnya tidak banyak tenaga yang saya keluarkan. Tapi, yang menguras tenaga justru adalah rasa bosan karena banyaknya kandidat dan durasi interview yang panjang. Saya juga akan capek karena ulah kandidat yang kadang-kadang menjengkelkan.
Selain capek, juga rasa bosan karena harus menyimak jawaban-jawaban yang sama. Rasa bosan akan muncul, bila banyak kandidat yang kebetulan punya karakter serupa.
Lega rasanya, ketika saya sampai di akhir interview dengan fisik, pikiran dan hati yang tetap segar. Hari Senin ini, saya akan mulai memilih, kandidat mana yang terbaik atau paling sesuai. Semoga.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Kamis, 22 September 2016

PROCUREMENT - By: ActionCOACH BARACoaching

Benarkah procurement itu tempat yang “basah”? Jawabannya benar, dan itu bisa berbahaya sekali karena banyak perusahaan yang akan terpeleset disini, apalagi bila tidak punya sistem yang tepat dan berdaya guna tinggi.
Seberapa bahayanya procurement itu?  Mungkin kita perlu sedikit berbalik dalam berpikir dan arahkan pandangan kita sebentar pada tim sales kita. Banyak jawaban sales kita apabila ditanya bagaimana dengan leads yang akan dituju, jawabannya selalu ke arah Procurement Departemennya customer.
Sudah ketemu dengan procurement-nya, Pak”...
”Nanti dibantu dari procurement-nya Pak”...dan lain sebagainya.
Kalau hal di atas terjadi di sisi procurement customer, maka hal yang sama dapat terjadi di procurement kita .
Kita lihat berapa banyak kerugian yang bisa kita derita karena kesalahan di departemen ini. Misalkan saja procurement membeli peralatan senilai 1 M, karena ini merupakan harga termurah “katanya”.
Kalau ini salah dan ternyata harga wajarnya adalah 750 juta maka kita rugi 250 juta. Belum lagi kemudian karena beli di supplier yang tidak bonafid maka barang datang terlambat, berapa kerugian anda karena keterlambatan ini? Kualitas barang yang tidak baik sehingga harus dikembalikan untuk ditukar, ini akan butuh waktu lagi. Kalau proses produksi anda seharusnya jalan dan ini harus berhenti, berapa kerugian anda karena tidak dapat berproduksi?
Kemudian apabila pembelian ini ternyata setelah barang datang tidak dapat dipakai karena membutuhkan supporting systems yang lain , dan harganya cukup mahal yang ternyata plafon bank anda sudah habis……. wahhh…. benar-benar bikin masalah.
Melihat hal-hal tersebut di atas, maka anda harus segera membuat sistem yang dapat mencegah dan memastikan bahwa semua proses ada dalam kontrol. Jangan sampai masih timbul masalah yang dikarenakan oleh  conflict of interest, pertemanan atau malah keluarga. Karena departemen ini adalah pintu pengeluaran uang.

Salam the NEXT Level!

Senin, 19 September 2016

PENDAMPINGAN SALES - By: Coach Suwito Sumargo*

“Sales saya ndak bisa jualan nih. Gimana ya caranya agar mereka pinter jualan?” Begitu keluh seorang pengusaha.
“Apakah mereka direkrut dengan cara yang benar? Apakah mereka benar-benar ingin jadi Sales? Dan apakah mereka benar-benar ingin jadi (Sales) sukses?”
Itu topik awal pertemuan saya dengan seorang pengusaha. Saya pun mem’berondong’ dengan rentetan pertanyaan lain.
Apakah Salesnya diberi pelatihan dan pendampingan? Apakah mereka disemangati? Seberapa intens mereka didampingi, setiap hari atau seminggu sekali?
Dalam banyak kasus, kebanyakan para Sales 'dibiarkan' bekerja sendiri. Pantas saja kebanyakan Sales gugur ditahap awal. Bukan saja tidak mencapai target, tapi (bahkan) tidak bisa jual sama sekali.
Sales yang tidak punya background sebagai tenaga penjualan, tentu harus belajar banyak dan harus ngotot. Dan mereka butuh pendampingan.
Sudahkah kita mendampingi para Sales ini? 
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Kamis, 15 September 2016

MENGHINDARI PERANG HARGA. MUNGKINKAH? - By: BARACoaching - ActionCOACH Surabaya

Banyak pertanyaan dari para pemilik bisnis: bagaimana caranya menghindari perang harga? Sepertinya tidak mungkin kita bisa menghindari perang harga. Harga kita haruslah lebih murah daripada orang lain. Tidak mungkin dalam situasi perekonomian seperti ini kita menawarkan harga yang lebih tinggi daripada orang lain.
Begitulah pernyataan-pernyataan yang sering kita dengar dari kalangan pebisnis.
Bagaimana dengan pernyataan bahwa segmentasi dan customer yang sudah ditargetkan? Apakah ini masih berlaku, ataukah hanya sekadar teori?
Ada salah satu perusahaan pelatihan olahraga yang bisa dibilang masih baru, mungkin kurang lebih 8 bulan. Perusahaan ini melengkapi fasilitas olahraganya jauh lebih baik daripada yang lain. Seperti lapangan berlantai kayu, ada mini gym, shower dan locker serta beberapa fasilitas lain. Demikian juga dengan para pelatihnya yang berkualitas dan kurikulum pengajaran yang jelas. 
Dengan segala kelebihannya, dia mematok harga sebesar Rp.500.000 per bulan per orang, dibandingkan dengan tempat lain yang harganya bervariasi antara Rp.150.000 – Rp.300.000. Dari sini kita melihat bahwa mereka sudah mempunyai level tersendiri.
Saat ini mereka mempunyai anggota sekitar 200 orang. Minggu ini para anggota mendapat kabar bahwa akan ada kenaikan harga. Dan coba tebak berapa kenaikan harganya ??
Naik 100% dari 500 ribu per bulan per anggota menjadi 1 juta per bulan per anggota. WOW!!!
Apakah ini bisa dilakukan? Ternyata bisa! Inilah yang menjadi strategi dan dasar perhitungan mereka.
Dengan 200 orang dan terkendala waktu operasional yang hanya bisa menampung 2 sesi perhari maka penambahan anggota yang significant tidak akan tertampung. Satu-satunya cara adalah menaikkan iuran bulanan. Perusahaan ini memprediksikan dengan kenaikan ini akan menyebabkan mereka kehilangan anggota sebanyak 50%... Wuih customer kita hilang 50%!!
Nanti dulu, mari kita lihat dengan pendapatannya, pendapatan dari 200 orang dikalikan 500 ribu = 100 juta dan itu sama saja dengan perusahaan kehilangan 50% anggota tetapi 50% anggota yang lain mau bayar 1 juta, sama-sama 100 juta rupiah.
Tim marketing mereka sudah jalan dulu untuk menjual keanggotaan dengan harga baru yaitu 1 juta per bulan per orang. Dan mereka telah berhasil mengumpulkan kurang lebih 50 orang. Dari perhitungan itu maka perusahaan akan makin diuntungkan karena mereka mendapat 100 juta dari 50% anggota lama plus 50 juta dari anggota baru.

Pelajaran apakah yang dapat kita petik dari cerita di atas?

Kamis, 08 September 2016

WORK ON CLOSING DEALS SUBMIT - By: ActionCOACH BARACoaching

Sebagai partner dari para pebisnis, sepertinya saya mempunyai kebiasaan baru yang bisa dibilang baik tapi juga bisa dibilang waste my time, yaitu mengamati tingkah laku para pembeli dan penjual atau pemilik bisnis.
Tadi malam, seperti biasa sebagai ayah yang baik, saya mengantar ketiga anak saya untuk les musik. Kebetulan les musiknya berlokasi di salah satu Mall dan di depannya ada sebuah toko elektronik yang cukup besar dan terkenal.
Untuk menghabiskan waktu, saya mulai berjalan melihat produk yang ditawarkan dan ada pasangan yang menarik perhatian saya. Timbullah perasaan ingin tahu. Saya mendekati pasangan (bapak dan Ibu) yang lagi asyik melihat-lihat di bagian TV. Dari diskusi yang seru antara pasangan ini, saya mendapatkan kesan bahwa mereka sudah pada level siap membeli hanya tinggal memilih.
Wah, makanan empuk nih buat para salesnya…,” pikir saya.
Seperti dugaan saya, mereka langsung didatangi oleh sales toko.
Saya ikuti sajalah …nggak ada ruginya saya pikir….
Sales ini masih muda dan sangat bersemangat. Dia mempromosikan segala TV yang tersedia beserta segala kelebihan dan kekurangannya. Karena tempatnya yang luas, dia lalu mengajak pasangan ini berkeliling ke seluruh display TV yang ada. Dijelaskan juga masalah UHD, SUHD, Ultra UHD, Curved TV, Smart TV, audio systems dan lainnya.
Silahkan dipikir dulu, Pak yang mana supaya tidak salah pilih.” Dengan sedikit bersikap seakan-akan bijaksana, sales itu berkata demikian. Pasangan  ini kemudian menanyakan beberapa hal dan meminta beberapa hal, seperti kabel HDMI, pengantaran gratis, diskon yang lebih banyak…dan surprisenya hampir semua permintaan itu diiyakan oleh sang sales.
Di sisi lain, karena saya mengikuti mereka dan pasti terlihat tertarik juga untuk membeli maka saya juga didatangi oleh sales lain. Saya bilang saya belum tertarik membeli dan hanya mengagumi teknologi TV yang ada. Tetapi sales itu sepertinya tidak menerima penolakan saya, jadi dia tetap ikut kemanapun saya pergi.
Setelah beberapa lama kemudian apakah yang terjadi. Apakah pasangan itu bahagia dengan pilihannya? Apakah kemudian saya berubah untuk membeli?
Ternyata yang terjadi adalah pasangan tersebut membatalkan rencana pembeliannya dan memilih pulang. Dan saya ya tetap tidak beli…
Dari cerita di atas, pelajaran apa yang dapat kita ambil? Atau kesalahan apakah yang dibuat oleh para sales tersebut?
1. Jangan lupa untuk mengkualifikasikan customer anda. Jangan buang waktu anda untuk customer yang tidak akan beli.
2.  Jangan memberikan terlalu banyak informasi. Banyak customer yang tidak terlalu suka dengan banyaknya informasi yang sales berikan, yang malah tidak membantu mereka menemukan atau membeli yang terbaik tetapi hanya malah bikin bingung
3. Jangan push mereka sampai melebihi limit. Jangan terlalu push calon customer untuk segera memilih padahal yang bikin mereka bingung adalah anda sendiri
4.   Tetap fokus dan jangan kehilangan arah. Tujuan anda adalah membuat mereka membeli pusatkan diskusi hanya pada arah itu. Jangan terlalu banyak berbasa-basi dan membahas masalah yang tidak berhubungan dengan niat pembelian ini.
5. Jangan terlalu sering bilang “ya” atau menjanjikan sesuatu. Seringkali karena kita begitu excited untuk mendapatkan pembeli kita punya tendensi untuk bilang ”ya” pada setiap permintaan customer. Padahal kita belum check atau meminta konfirmasi.
Sales yang baik adalah sales yang dapat membaca situasi customernya, tidak melakukan hal-hal tersebut di atas dan mendapatkan pembeli sebanyak-banyaknya.

Salam the NEXT Level!

Senin, 05 September 2016

MEASURE AND IMPROVE - By: Coach Suwito Sumargo*

"If you can't measure it, you can't improve it". Itu salah satu kata-kata bijak yang paling sering digunakan. Konon, Peter Drucker lah pencetus kata-kata bijak ini.
Saya juga sering 'memaksa' klien, agar menetapkan sebuah angka sebagai titik awal. Misalnya, berapa omzet Anda di bulan Januari 2016, Februari 2016 dan seterusnya. Adanya titik awal yang konkrit ini akan memudahkan kami, klien dan Coach, dalam menentukan sasaran.
Jadi, bila kita tahu omzet terendah dan tertinggi dalam 6 bulan terakhir, maka kita bisa menajamkan sasaran. Misalnya, mencapai omzet yang 10% lebih besar dari omzet tertinggi dari 6 bulan terakhir tadi.
Saya berikan sebuah contoh, bagaimana menerapkan 'measure and improve'. Seorang staf dibagian penjualan dalam 2 bulan terakhir tidak mampu mencapai target yang ditetapkan. Bila diperhatikan, dia sudah mematuhi semua petunjuk dan arahan. Dia sudah menelpon sedikitnya 20 customer lama.
Dia sudah menawarkan barang-barang, sesuai saran atasannya. Dia juga tergolong orang yang rajin dan tertib dalam bekerja. Laporan kerja harian selalu dibuat dan tidak pernah terlambat. Semuanya sudah terukur. Jadi, dimana 'salahnya'? Di bagian mana yang perlu kita perbaiki?
Sang atasan bersama dengan si staf, bersama-sama meneliti kembali semua prosedur dan aturan. Lalu, ditelitilah profile customer-customer yang jadi tanggung jawab si staf. Dan customer-customer itu mulai dipilah-pilah, dengan kriteria-kriteria baru. Setiap customer dipetakan kembali, menurut pola pembelian 6 bulan terakhir.
Nah, setelah selesai pemetaan ulang, si staf diminta untuk mulai menguji coba serangkaian script baru. Ternyata, dari 6 script yang diuji cobakan, 4 diantaranya menunjukkan hasil yang memuaskan. Meskipun dalam cerita singkat diatas, saya tidak memberikan angka-angka, Anda bisa menerka hasilnya, bukan? Yaa, staf tersebut membaik kinerjanya.
Sekarang Anda juga bisa mem-praktek-kannya. Atau, Anda ingin kami bantu? Silahkan ceritakan kesulitan Anda dan kirimkan melalui email ke suwito@baracoaching.com
Mari menggunakan kata-kata bijak Peter Drucker : "If you can't measure it, you can't improve it"
Sumber inspirasi artikel ini:
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Kamis, 01 September 2016

HORE, AKU NAIK KELAS! - By: ActionCOACH BARACoaching

Pernah mengalami hal ini? Mungkin waktu kita sekolah, kita berjuang supaya bisa naik kelas. Dan dari hasil perjuangan selama setahun pelajaran itu, dengan gembira kita merayakan kenaikan kelas.
Seingat saya, cara belajar yang selalu disarankan oleh guru saya (dulu) adalah dengan mengulang sedikit demi sedikit setiap hari. Tapi saya termasuk yang melakukan kebalikan dari nasihat itu, yaitu hanya belajar jika tahu kalau besok mau ada tes atau ulangan (karena ingin menikmati hidup alih-alih harus belajar setiap hari hahaha). Pantas saja waktu sekolah, nilai saya biasa-biasa saja :D.
Ada teman-teman lain di kelas yang melakukan apa yang disarankan, yaitu dengan belajar sedikit demi sedikit setiap hari, dan memang mereka nilainya jauh lebih baik dari saya.
Tentu dari cara belajar yang demikian dan dari nilai ulangan harian mereka, akibat logisnya adalah naik kelas! Saya, meski nilai-nilai saya baik walaupun kadang-kadang pas-pasan, untuk naik kelas kemungkinannya masih 50:50!
Apa hubungan cerita ini dengan bisnis? Kalau saja saran yang sama kita kerjakan di usaha kita, hari demi hari konsisten mengerjakan dengan jelas tujuannya, tentu naik kelas di bisnis adalah konsekuensi logis dari usaha yang kita kerjakan.
Sayangnya, ada juga dari kita yang tidak ingin naik kelas, biasanya alasan ini tidak disadari menghalangi usaha naik kelas. Alasannya bisa bermacam-macam, beberapa diantaranya adalah: "gini saja sudah cukup, ngapain harus lebih besar, lebih banyak cabang?" atau "kalau nanti lebih besar, ngurusinnya pasti lebih repot" atau "siapa yang akan mengerjakan, sekarang saja kalau tidak di-awasi, pegawai saya kerjanya belum benar, apalagi kalau lebih besar".
Padahal, suatu bisnis jika tidak bertumbuh atau stagnan, sebenarnya sedang menuju kematian!
Jika Anda memang ingin naik kelas, pikirkan hal-hal baik apa yang bisa didapatkan alih-alih hanya kerepotan yang akan muncul. 
Walaupun sederhana, untuk naik kelas diperlukan konsistensi, melakukan setiap hari terus menerus, sehingga naik kelas adalah konsekuensi logisnya. Ayo Naik Kelas!
Salam The NEXT Level!