business-forum

coaches

Kamis, 28 Januari 2016

BACK TO BASIC - By: Coach Ruaniwati*

Kami di ActionCOACH melakukan workshop refreshing dengan beberapa klien di awal tahun ini untuk review bisnis masing-masing. Beberapa hal yang sudah dipelajari di tahun lalu ternyata setelah diulang kembali memberikan inspirasi dan semangat (lagi!) untuk bisa mengerjakan dan mempertajam rencana-rencana yang telah disusun untuk tahun ini.
Kapan sebaiknya kita melakukan refreshing (baca: back to basic) seperti ini? Setidaknya setahun sekali, kita perlu me-review kembali apakah yang kita kerjakan sudah selaras dengan yang kita inginkan.
"Back to basic", artinya juga kita wajib melihat dari sudut pandang yang berbeda bukan hanya dengan cara yang sama. Apa yang biasanya kita temukan jika melihat ke basic ini?
1. Menerima kenyataan bahwa bisnis kita mungkin perlu ditata ulang.
2. Kita terlalu fokus pada hal-hal yang kita sukai daripada apa yang perlu dan penting.
3. Kebalikannya, kita mungkin kehilangan fokus atau fokusnya telah berubah.
4. Kita (ternyata) mempunyai orang yang kita tidak diperlukan pada tahap bisnis sekarang atau kita tidak mempunyai orang yang kita perlukan. 
5. Kita tidak disiplin mengukur pembelanjaan uang di usaha kita.
6. Dan seterusnya. Silahkan isi sendiri :) 
Kita hampir saja melewati bulan pertama di tahun ini. Masih ada kesempatan untuk berbenah. Jika Anda sudah melakukan sebagian dari rencana yang telah disusun, baik sekali!
Tetapi selalu ada celah yang bisa diperbaiki dalam bisnis, salah satu cara dengan "back to basic" lagi. Tugas Anda sebagai pebisnis adalah mampu melihat celah-celah ini dan memakai hal tersebut sebagai kesempatan untuk maju. Semangat!
Salam The NEXT Level!

* Coach Ruaniwati:
-     Pelatih bisnis yang telah makan banyak asam-garam di dunia Marketing, Branding dan Advertising selama lebih dari 15 tahun.

-          Aktif membantu para womanpreneur dan start-up entrepreneur melalui siaran radio di She 99.6 FM, Mercury 96.0 FM dan aktifitas belajar-mengajar di berbagai kampus terkemuka Surabaya. 

Senin, 25 Januari 2016

KAPAN SAAT YANG TEPAT? - By: Coach Suwito Sumargo*

Cukup banyak business owner yang bertanya kepada saya: kapan saat yang tepat, saya bisa mengalihkan pucuk pimpinan perusahaan ke anak saya? Ehm...Ini pertanyaan klasik yang tidak mudah dijawab. 
Apakah bisnis Anda sehat? 
Ini pertanyaan yang (sebetulnya) tidak sulit menjawabnya, karena sehat tidaknya sebuah bisnis sudah ada parameternya. Lihat saja di laporan keuangannya. Apakah asset-nya tumbuh atau tumbuh dengan sangat cepat? Apakah asset-nya ini masih terbebani dengan hutang? Apakah asset-nya ini termasuk asset berkualitas? Misalnya, asset yang berupa stok barang, apakah itu barang-barang yang termasuk fast moving atau yang punya nilai tambah tinggi?
Sehat tidaknya sebuah bisnis juga bisa dilihat dari market-nya. Misalnya, apakah pembelinya merupakan pelanggan loyal? Kita juga bisa melihat dari sisi karyawan. Misalnya, apakah proses rekruitmen berjalan dengan lancar dan menghasilkan karyawan jempolan? Dan apakah mereka ini bekerja secara antusias?
Mengapa saya mengungkapkan masalah kesehatan bisnis? Karena siapapun penerus bisnis kita, hampir pasti dia tak mau melanjutkan bisnis yang tidak sehat, tidak punya prospek dan apalagi yang sedang bermasalah.
Baru kemudian saya akan menanyakan hal-hal lain, misalnya : siapa calon penerusnya? Bagaimana kompetensi dan minatnya? Solusi atas masalah sukses memang tidak mudah, bukan? Anda punya solusi cerdas? Atau Anda justru sedang butuh solusi? 
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Kamis, 21 Januari 2016

LANDING PAGE - By: Coach Ruaniwati*

Masuk hari ke-21 tahun 2016, bagaimana rencana-rencana Anda, apakah sudah berjalan seperti yang Anda inginkan? Tahun 2016 terasa sangat cepat, tahu-tahu kita sudah hampir melewati bulan Januari, seakan-akan hawa tahun baru habis tak bersisa. 
Kami di ActionCOACH BARACoaching Surabaya, baru saja menyelesaikan workshop pertama kami tahun ini, selama 2 hari pebisnis yang mengikuti workshop ini menyerap materi "Lo-Budget Hi-Impact Marketing".
Barangkali ada beberapa hal yang sudah pernah didapatkan atau dipelajari oleh peserta sebelumnya, tetapi dengan mengikuti workshop seperti ini memicu kita sebagai pebisnis untuk selalu mampu melihat bisnis kita sendiri dari sudut pandang yang berbeda. 
Sudut pandang ini kemudian memunculkan ide-ide baru, mendorong kita lebih fokus, melatih untuk menggali apakah yang kita kerjakan sekarang membangun usaha atau malah menggerogotinya.
Apakah mengikuti pelatihan atau workshop seperti ini penting? Ya, tentu saja! Seringkali kita begitu fokus mengerjakan "usaha" kita tanpa memperhatikan asupan gizi yang seimbang, yang kita perlukan untuk cadangan energi mengerjakan usaha jangka panjang.
Yang sebetulnya lebih krusial adalah setelah mengikuti workshop atau pelatihan, apakah kita mampu menterjemahkan apa yang didapatkan menjadi "action plan" yang terukur dan "do-able"
Karena mendapat pengetahuan dan tahu sesuatu tidak sama dengan melakukan. Tahu dan melakukan yang diketahui adalah 2 hal yang sangat berbeda. Mengikuti pelatihan/ workshop/ seminar letak keuntungan utamanya bukanlah pada waktu berlangsungnya acara dan mendapat "sesuatu" saja tetapi jika sesuatu itu dapat dicerna dan menghasilkan "action" yang terencana, terukur, dan mampu menghasilkan "outcome" yang jelas.
Jika dalam bahasa keren sekarang yang serba digital disebut sebagai "landing page". Dimana landingnya? Apakah Anda mampu melihat landasan tujuan landingnya? 
Selamat menikmati perjalanan Anda! Jika bisnis Anda lebih baik tahun ini, Anda turut berperan untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
Salam The NEXT Level!

* Coach Ruaniwati:
-     Pelatih bisnis yang telah makan banyak asam-garam di dunia Marketing, Branding dan Advertising selama lebih dari 15 tahun.

-          Aktif membantu para womanpreneur dan start-up entrepreneur melalui siaran radio di She 99.6 FM, Mercury 96.0 FM dan aktifitas belajar-mengajar di berbagai kampus terkemuka Surabaya. 

Senin, 11 Januari 2016

RECRUITMENT - By: Coach Suwito Sumargo*

Rekrutmen, sering menjadi momok bagi banyak pengusaha. Sulit mendapatkan karyawan yang sesuai harapan, demikian keluh mereka. Yes, rekrutmen memang sulit. Apa yang membuat rekrutmen itu sulit?
Pertama, apakah organisasi di perusahaan kita sudah cukup 'jelas'? Dalam banyak kasus, ternyata kita sendiri tidak bisa menjelaskan: apa pekerjaan orang yang bakal kita rekrut? Kalau ini yang terjadi, maka si karyawan baru itu nantinya bakal bekerja serabutan.
Atau kita memang ingin memberikan sebuah pekerjaan. Hanya saja, pekerjaan tersebut tidak butuh waktu sepanjang hari. Sehingga akhirnya kelihatan orang tersebut 'nganggur'. Jadi, adalah penting untuk menentukan apa saja pekerjaan yang harus dilakukan oleh si karyawan baru.
Job Desc dan struktur organisasi merupakan acuan dasar. Dari sini, akan terungkap jenjang karir seseorang. Mulai dari Operator atau Staf, kemudian meningkat menjadi Supervisor atau Asisten Manager dan Manager. Ini akan memudahkan rekrutmen.
Kedua, setelah jelas apa yang harus dikerjakan, maka kita perlu tahu kompetensi apa saja yang harus dimilikinya? Selain kompetensi (atau keahlian), kita juga perlu memastikan attitude-nya. Berbeda dengan kompetensi, attitude lebih sulit dikenali. Ini akan menjadi makin sulit, bila kita tak tahu persis seperti apa pekerjaannya.
Karyawan yang bekerja sebagai staf di bagian Customer Relation punya karakter dan attitude yang berbeda dengan karyawan di bagian PPIC (Production-Planning-Inventory-Control). Berbagai tes dan pertanyaan kita gunakan dalam menyeleksi calon karyawan.
Cobalah buka tautan berikut ini:
Bila Anda gagal membuka tautan tersebut, Anda bisa minta kami mengirimkannya via e.mail.
Ketiga, apakah perusahaan kita cukup menarik bagi para pelamar? 10 tahun terakhir ini, saya mengamati bahwa para pelamar lebih punya 'hak pilih'. Yaa, merekalah yang memilih perusahaan, sesuai dengan kriteria mereka. Selain hal-hal yang tangible, seperti sosok gedung atau kantor, juga lokasi menjadi pertimbangan.
Brand image juga menentukan, apakah sebuah perusahaan layak mereka pilih atau tidak.
Bahkan tampilan (dan pilihan kata-kata) di iklan lowongan, juga dicermati. Pendek kata, pelamar lebih teliti dalam memilih posisi dan pekerjaan. Sekarang Anda lebih siap melakukan rekrutmen bukan? Semoga Anda berhasil menjaring kandidat terbaik.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 28 Desember 2015

“GAK PAKE RESOLUSI-RESOLUSIAN!” - By: Coach Suwito Sumargo*

Bila Anda gagal membuat rencana bisnis, maka berarti Anda sudah berencana untuk gagal. Itu kata-kata senior saya. Ketika kata-kata itu tergiang, saya bertemu teman lama.
Setelah berbasa-basi, saya pun bertanya: “Eh...udah punya resolusi buat tahun depan?”
“Nggak pake resolusi-resolusian, males! Bolak-balik bikin resolusi selalu gagal, nggak pernah tercapai. Sekarang, ngalir aja...apa adanya,” Demikian kata teman saya.
Pasti banyak yang seperti ini, enggan bikin resolusi karena selalu gagal mencapainya. Pengusaha juga sama saja, emoh bikin rencana bisnis.
Di kalangan pengusaha, banyaknya faktor X yang diluar kendali, seperti kurs rupiah yang melemah, harga komoditi merosot, perubahan cuaca yang mendadak, (bahkan) munculnya pesaing kuat, sering dijadikan 'kambing hitam' atas gagalnya rencana bisnis.
Benarkah gagalnya rencana bisnis (dan resolusi) adalah gara-gara faktor X?
Saya pikir tidak demikian. Bagi saya, faktor X itu hanya menunjukkan kekurangan kita, kurang cermat atau kurang pengalaman. Dan 'kambing hitam' itu cuma excuse belaka, emoh disalahkan.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya?
Bila Anda termasuk yang pernah gagal, saya sarankan untuk menemukan keberhasilan. Temukan keberhasilan di tahun 2015 ini dan cari tahu: faktor apa saja yang membuat kita berhasil. Dan karena Anda pernah berhasil, maka Anda pasti akan lebih bersemangat untuk memastikan keberhasilan yang sama terulang lagi. Atau, Anda mungkin lebih bergairah untuk melipat gandakannya. Pernah berhasil 1x, kini pastikan agar berhasil 2x.
Setelah menetapkan sasaran keberhasilan, carilah sesuatu sebagai tanda yang akan mengingatkan kita agar sungguh-sungguh berniat untuk mewujudkannya.
Teman saya punya kebiasaan, mengucapkan nadzar di penghujung tahun. Setiap akhir tahun, dia menyepi di Villa dan mengucapkan nadzar di bawah kerlip bulan-bintang.
Teman yang lain punya gaya yang berbeda, mengucapkan nadzar di depan rekan kerja.
Mereka ini akan selalu mengingat momen-momen saat mengucapkan nadzar. Itu menjadi ritual yang sakral...yang memaksa si pengucap nadzar untuk mewujudkannya.
Temukan dan rayakan keberhasilan Anda di tahun 2015. Ulang kembali keberhasilan itu di tahun 2016. Bulatkan tekad dan berjanjilah untuk sungguh-sungguh mewujudkan resolusi Anda. Mari kita tinggalkan tahun 2015 dengan bangga dan songsong tahun 2016 dengan penuh optimisme.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Kamis, 24 Desember 2015

5 HAL YANG MEMBUNUH KARIR PEMIMPIN BISNIS

By: Coach Humphrey Rusli *

Berprofesi  menjadi seorang Business Coach sungguh merupakan hal yang menakjubkan. Bukan saja saya menjadi pribadi yang lebih baik karena proses menjadi seorang coach yang panjang dan tempaan yang berat, namun saya juga ternyata bisa tetap belajar dari proses coaching yang saya deliver kepada ratusan pemilik bisnis dan CEO yang mengikuti program coaching dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini.

Nah, ternyata dari hasil saya berinteraksi dengan segitu banyak pengusaha, ada hasil pengamatan yang saya rasa cukup penting untuk dibagikan kepada anda. Ada 5 kesamaan antara klien-klien kami yang cenderung lamban berkembangnya, dan anehnya tidak ditemui di klien-klien kami yang lebih cepat berkembang dan sukses dalam bisnisnya.

Jika anda memiliki 5 hal yang saya jabarkan di bawah ini, HATI-HATI!
Apa saja 5 hal tersebut yang bisa menghambat, dan dalam beberapa kasus yang saya temui, malah bisa berakibat fatal bagi karir atau usaha seseorang?

1. Arogansi
Ini bukan kesombongan standard yang bisa dilihat kasat mata, namun arogansi yang halus.
Contoh: seorang pengusaha ketika saya bantu untuk menemukan sumber masalah yang sedang dihadapinya selalu berkeluh kesah dan merasa anak buah atau timnya yang perlu berubah, bukan dirinya dulu.
Jika anda sering merasakan bahwa anak buah saya yang salah, kurang disiplin, kurang cekatan, kurang loyal (dan sebagainya), serta jarang atau tidak pernah berpikir: "Mungkin saya sebagai pemimpin yang kurang baik”. Hati hati!, anda sedang terkena point no.1 ini.
Saya sering menemui seorang pebisnis yang ketika hendak memakai jasa kami, me-wanti - wanti saya agar anak buahnya bisa lebih baik dan naik kelas. Namun ketika saya tanya: Bagaimana dengan bapak sendiri? apakah perlu dicoaching?, kebanyakan menjawab: "Ah.... saya ndak perlu, anak buah saya yang butuh!"

2. Fear atau Takut
Takut apa? ada 2 takut yang berbahaya untuk bisnis:
a. Takut mengambil keputusan yang keliru. Ketakutan ini membuat pemimpin bisnis lebih sering menganalisa dan berargumen di balik meja dibandingkan memutuskan dengan cepat dan menganalisa hasilnya di lapangan. Istilah kerennya adalah Analysis Paralysis, atau lumpuh tidak mengambil tindakan apa-apa karena terlalu banyak analisa.
b. Takut kelihatan kalau salah, sehingga selalu menghindar untuk dievaluasi dan enggan untuk diberi feedback terhadap tindakan yang telah dilakukan. Ketakutan ini membuat para pengusaha dan pemimpin bisnis sulit meningkatkan kualitas pengambilan keputusannya, yang sering kali menjadi bencana di kemudian hari.

3. Terlalu kompeten secara teknis
Sebagai pemilik bisnis sebenarnya sah-sah saja untuk terampil di bidang yang anda geluti. Contoh kalau anda buka toko roti, sebaiknya anda paham seluk beluk roti, mesin-mesin pembuatan roti, berikut merek dan kualitasnya, sampai bahan-bahan pembuat roti yang anda gunakan. Namun jikalau anda menjadi "terlalu" kompeten, ini menjadi berbahaya. Kenapa demikian?
Bisnis membutuhkan keahlian yang sangat beragam, dari mulai sales, team building, system building, branding strategy, dan sebagainya. Jika seseorang menjadi sangat kompeten di satu sisi, biasanya sulit untuk diajak belajar hal-hal di luar bidang yang dikuasainya.
Mari kita gunakan contoh yang sama: Toko Roti. Jika anda pemilik toko roti tersebut dan lebih sering berkutat di dapur dibandingkan briefing dan membangun tim anda, atau lebih sering otak atik resep roti dibandingkan menciptakan sistem untuk meningkatkan pelayanan konsumen, kemungkinan besar anda terkena point ke-3 ini.

4. Control Freak
Ini kendala paling umum yang bisa dijumpai pada hampir semua pengusaha. Definisi Control Freak dalam bahasa Indonesia adalah: kecanduan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai dengan yang diinginkan, dan tidak boleh meleset sedikit pun.
Penekanannya terletak pada kata "kecanduan". Memastikan semua berjalan dengan benar adalah sifat yang baik di bisnis. Namun bila sudah kecanduan, maka seorang pemimpin akan sulit untuk percaya kepada anak buahnya sediri, bahkan sering tidak percaya sama sitem yang dibuatnya sendiri.
Seorang Control Freak hanya percaya pada satu orang, DIRI SENDIRI. Lambat laun pemimpin yang seperti ini akan ditinggal oleh best talents-nya dan akan berakhir mengerjakan semuanya sendiri. Alhasil, bisnis menjadi bantat dan tidak bisa berkembang. Bagaimana anda tahu jika anda seorang control freak? Ada indikator sederhana yang saya pakai selama ini: Jika bisnis anda ikut menurun performanya seiring dengan bertambahnya usia atau semakin turunnya daya juang/tenaga anda, maka kemungkinan besar anda seorang Control Freak.

5. Lack of Exposure
Yang terakhir adalah sikap atau sifat untuk bertahan terhadap sesuatu yang dulu benar namun sebenarnya di jaman sekarang sudah tidak relevan lagi. Ini biasanya terjadi pada bisnis-bisnis yang sudah berumur 30 tahun ke atas. Pemahaman-pemahaman itu seperti:
- Konsumen maunya yang murah saja, kalau mahal tidak mau beli.
- Anak buah itu pasti bekerja karena gaji, kalau gaji tempat lain lebih tinggi pasti resign.
- Hanya saudara yang bisa dipercaya, jadi walaupun saudara saya kurang kompeten tetap saya terima, yang penting bisa dipercaya. Daripada rekruit orang luar, pandai, tapi nanti malah 'maling'.
dan masih banyak lagi.

Pemahaman-pemahaman di atas sebenarnya tidak 100% salah. Ada benarnya juga dan di beberapa kasus malah bisa dibuktikan kebenarannya. Namun jaman sudah berubah, ada begitu banyak contoh bisnis di luar sana yang tidak lagi menggunakan prinsip-prinsip di atas, namun toh bisa sangat sukses. Nah, bagaimana supaya kita tidak terjebak di point no 5 ini? Sering-seringlah travelling dan expose diri anda terhadap kemajuan jaman, baik di industri anda maupun anda sendiri sebagai konsumen pada bisnis orang lain (industri lain).

Salam The NEXT Level!

* Coach Humphrey Rusli:
-    Pelatih bisnis dengan pengalaman International Marketing selama lebih dari 15 tahun.
-    Pemenang International Coach of The Year 2012 (Australia), 2013 (Beijing) dan 2014 (Jakarta).
-    Telah membantu kliennya meraih peningkatan profit dari 20% hingga 2000% melalui sesi-sesi coachingnya.

Senin, 14 Desember 2015

CARA SIMPLE MENCIPTAKAN KEUNIKAN BISNIS ANDA - By: Coach Suwito Sumargo*

Kali ini saya bermalam di sebuah 'Hotel'. Ya sebuah Hotel (dengan tanda petik). Saya mendapatkan info tentang 'Hotel' ini melalui internet, browsing. Letaknya di daerah Jakarta Selatan, tidak terlalu jauh dari Venue yang akan saya kunjungi : Pacific Place.
Ketika browsing, saya sengaja mengutamakan jarak tempuh. Di Jakarta, jarak tempuh sungguh berarti bagi saya, karena saya termasuk orang yang enggan berlama-lama di tengah kemacetan. Saya pun menemukan beberapa alternatif, yang hanya berjarak maksimum setengah jam jalan kaki.
Saya sengaja tidak memilih hotel-hotel berbintang yang sudah tersohor. Yang jadi sasaran saya justru hotel yang punya banyak 'REVIEW'. Ya, hotel yang mengundang banyak komentar positif dari pengunjungnya. Komentar positif yang jujur tentunya.
Akhirnya, perburuan saya berujung di sebuah 'Hotel', yang tampak luarnya seperti hunian rumah tangga biasa, semacam homestay. Dan menariknya, menurut info internet, disekitar 'Hotel' itu banyak tempat makan: Restoran Indonesia dan Asia, Noodle House, Steak House dan Cafe. Untuk memastikannya, sesaat setelah check in, saya pun bertanya ke staf dan security hotel. Dengan ramah, mereka pun membenarkan informasi tersebut. AHA...malam itu saya punya cukup pilihan untuk dinner.
Saya lakukan hal serupa ketika browsing 'Hotel' di Semarang atau di kota lain. Selain tempat bermalam yang nyaman, juga tidak jauh dari area kuliner atau tempat-tempat menarik lainnya.
Bagaimana dengan lokasi bisnis Anda? Apakah ada tempat-tempat menarik di sekitar lokasi bisnis kita? Apakah tempat-tempat itu juga cukup menarik bagi para pembeli kita?
Kita seringkali bingung mencari cara yang efektif untuk mem-promosi-kan perusahaan dan produk kita. Bagaimana kalau kita coba mem-promosi-kan keunikan di sekitar kita? Tentu saja keunikan yang menarik bagi para pembeli kita. Berikan Extended Service, agar pembeli kita makin lekat dengan kita dan menjadi pelanggan loyal di kemudian hari.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.