business-forum

coaches

Kamis, 21 Januari 2016

LANDING PAGE - By: Coach Ruaniwati*

Masuk hari ke-21 tahun 2016, bagaimana rencana-rencana Anda, apakah sudah berjalan seperti yang Anda inginkan? Tahun 2016 terasa sangat cepat, tahu-tahu kita sudah hampir melewati bulan Januari, seakan-akan hawa tahun baru habis tak bersisa. 
Kami di ActionCOACH BARACoaching Surabaya, baru saja menyelesaikan workshop pertama kami tahun ini, selama 2 hari pebisnis yang mengikuti workshop ini menyerap materi "Lo-Budget Hi-Impact Marketing".
Barangkali ada beberapa hal yang sudah pernah didapatkan atau dipelajari oleh peserta sebelumnya, tetapi dengan mengikuti workshop seperti ini memicu kita sebagai pebisnis untuk selalu mampu melihat bisnis kita sendiri dari sudut pandang yang berbeda. 
Sudut pandang ini kemudian memunculkan ide-ide baru, mendorong kita lebih fokus, melatih untuk menggali apakah yang kita kerjakan sekarang membangun usaha atau malah menggerogotinya.
Apakah mengikuti pelatihan atau workshop seperti ini penting? Ya, tentu saja! Seringkali kita begitu fokus mengerjakan "usaha" kita tanpa memperhatikan asupan gizi yang seimbang, yang kita perlukan untuk cadangan energi mengerjakan usaha jangka panjang.
Yang sebetulnya lebih krusial adalah setelah mengikuti workshop atau pelatihan, apakah kita mampu menterjemahkan apa yang didapatkan menjadi "action plan" yang terukur dan "do-able"
Karena mendapat pengetahuan dan tahu sesuatu tidak sama dengan melakukan. Tahu dan melakukan yang diketahui adalah 2 hal yang sangat berbeda. Mengikuti pelatihan/ workshop/ seminar letak keuntungan utamanya bukanlah pada waktu berlangsungnya acara dan mendapat "sesuatu" saja tetapi jika sesuatu itu dapat dicerna dan menghasilkan "action" yang terencana, terukur, dan mampu menghasilkan "outcome" yang jelas.
Jika dalam bahasa keren sekarang yang serba digital disebut sebagai "landing page". Dimana landingnya? Apakah Anda mampu melihat landasan tujuan landingnya? 
Selamat menikmati perjalanan Anda! Jika bisnis Anda lebih baik tahun ini, Anda turut berperan untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
Salam The NEXT Level!

* Coach Ruaniwati:
-     Pelatih bisnis yang telah makan banyak asam-garam di dunia Marketing, Branding dan Advertising selama lebih dari 15 tahun.

-          Aktif membantu para womanpreneur dan start-up entrepreneur melalui siaran radio di She 99.6 FM, Mercury 96.0 FM dan aktifitas belajar-mengajar di berbagai kampus terkemuka Surabaya. 

Senin, 11 Januari 2016

RECRUITMENT - By: Coach Suwito Sumargo*

Rekrutmen, sering menjadi momok bagi banyak pengusaha. Sulit mendapatkan karyawan yang sesuai harapan, demikian keluh mereka. Yes, rekrutmen memang sulit. Apa yang membuat rekrutmen itu sulit?
Pertama, apakah organisasi di perusahaan kita sudah cukup 'jelas'? Dalam banyak kasus, ternyata kita sendiri tidak bisa menjelaskan: apa pekerjaan orang yang bakal kita rekrut? Kalau ini yang terjadi, maka si karyawan baru itu nantinya bakal bekerja serabutan.
Atau kita memang ingin memberikan sebuah pekerjaan. Hanya saja, pekerjaan tersebut tidak butuh waktu sepanjang hari. Sehingga akhirnya kelihatan orang tersebut 'nganggur'. Jadi, adalah penting untuk menentukan apa saja pekerjaan yang harus dilakukan oleh si karyawan baru.
Job Desc dan struktur organisasi merupakan acuan dasar. Dari sini, akan terungkap jenjang karir seseorang. Mulai dari Operator atau Staf, kemudian meningkat menjadi Supervisor atau Asisten Manager dan Manager. Ini akan memudahkan rekrutmen.
Kedua, setelah jelas apa yang harus dikerjakan, maka kita perlu tahu kompetensi apa saja yang harus dimilikinya? Selain kompetensi (atau keahlian), kita juga perlu memastikan attitude-nya. Berbeda dengan kompetensi, attitude lebih sulit dikenali. Ini akan menjadi makin sulit, bila kita tak tahu persis seperti apa pekerjaannya.
Karyawan yang bekerja sebagai staf di bagian Customer Relation punya karakter dan attitude yang berbeda dengan karyawan di bagian PPIC (Production-Planning-Inventory-Control). Berbagai tes dan pertanyaan kita gunakan dalam menyeleksi calon karyawan.
Cobalah buka tautan berikut ini:
Bila Anda gagal membuka tautan tersebut, Anda bisa minta kami mengirimkannya via e.mail.
Ketiga, apakah perusahaan kita cukup menarik bagi para pelamar? 10 tahun terakhir ini, saya mengamati bahwa para pelamar lebih punya 'hak pilih'. Yaa, merekalah yang memilih perusahaan, sesuai dengan kriteria mereka. Selain hal-hal yang tangible, seperti sosok gedung atau kantor, juga lokasi menjadi pertimbangan.
Brand image juga menentukan, apakah sebuah perusahaan layak mereka pilih atau tidak.
Bahkan tampilan (dan pilihan kata-kata) di iklan lowongan, juga dicermati. Pendek kata, pelamar lebih teliti dalam memilih posisi dan pekerjaan. Sekarang Anda lebih siap melakukan rekrutmen bukan? Semoga Anda berhasil menjaring kandidat terbaik.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 28 Desember 2015

“GAK PAKE RESOLUSI-RESOLUSIAN!” - By: Coach Suwito Sumargo*

Bila Anda gagal membuat rencana bisnis, maka berarti Anda sudah berencana untuk gagal. Itu kata-kata senior saya. Ketika kata-kata itu tergiang, saya bertemu teman lama.
Setelah berbasa-basi, saya pun bertanya: “Eh...udah punya resolusi buat tahun depan?”
“Nggak pake resolusi-resolusian, males! Bolak-balik bikin resolusi selalu gagal, nggak pernah tercapai. Sekarang, ngalir aja...apa adanya,” Demikian kata teman saya.
Pasti banyak yang seperti ini, enggan bikin resolusi karena selalu gagal mencapainya. Pengusaha juga sama saja, emoh bikin rencana bisnis.
Di kalangan pengusaha, banyaknya faktor X yang diluar kendali, seperti kurs rupiah yang melemah, harga komoditi merosot, perubahan cuaca yang mendadak, (bahkan) munculnya pesaing kuat, sering dijadikan 'kambing hitam' atas gagalnya rencana bisnis.
Benarkah gagalnya rencana bisnis (dan resolusi) adalah gara-gara faktor X?
Saya pikir tidak demikian. Bagi saya, faktor X itu hanya menunjukkan kekurangan kita, kurang cermat atau kurang pengalaman. Dan 'kambing hitam' itu cuma excuse belaka, emoh disalahkan.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya?
Bila Anda termasuk yang pernah gagal, saya sarankan untuk menemukan keberhasilan. Temukan keberhasilan di tahun 2015 ini dan cari tahu: faktor apa saja yang membuat kita berhasil. Dan karena Anda pernah berhasil, maka Anda pasti akan lebih bersemangat untuk memastikan keberhasilan yang sama terulang lagi. Atau, Anda mungkin lebih bergairah untuk melipat gandakannya. Pernah berhasil 1x, kini pastikan agar berhasil 2x.
Setelah menetapkan sasaran keberhasilan, carilah sesuatu sebagai tanda yang akan mengingatkan kita agar sungguh-sungguh berniat untuk mewujudkannya.
Teman saya punya kebiasaan, mengucapkan nadzar di penghujung tahun. Setiap akhir tahun, dia menyepi di Villa dan mengucapkan nadzar di bawah kerlip bulan-bintang.
Teman yang lain punya gaya yang berbeda, mengucapkan nadzar di depan rekan kerja.
Mereka ini akan selalu mengingat momen-momen saat mengucapkan nadzar. Itu menjadi ritual yang sakral...yang memaksa si pengucap nadzar untuk mewujudkannya.
Temukan dan rayakan keberhasilan Anda di tahun 2015. Ulang kembali keberhasilan itu di tahun 2016. Bulatkan tekad dan berjanjilah untuk sungguh-sungguh mewujudkan resolusi Anda. Mari kita tinggalkan tahun 2015 dengan bangga dan songsong tahun 2016 dengan penuh optimisme.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Kamis, 24 Desember 2015

5 HAL YANG MEMBUNUH KARIR PEMIMPIN BISNIS

By: Coach Humphrey Rusli *

Berprofesi  menjadi seorang Business Coach sungguh merupakan hal yang menakjubkan. Bukan saja saya menjadi pribadi yang lebih baik karena proses menjadi seorang coach yang panjang dan tempaan yang berat, namun saya juga ternyata bisa tetap belajar dari proses coaching yang saya deliver kepada ratusan pemilik bisnis dan CEO yang mengikuti program coaching dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini.

Nah, ternyata dari hasil saya berinteraksi dengan segitu banyak pengusaha, ada hasil pengamatan yang saya rasa cukup penting untuk dibagikan kepada anda. Ada 5 kesamaan antara klien-klien kami yang cenderung lamban berkembangnya, dan anehnya tidak ditemui di klien-klien kami yang lebih cepat berkembang dan sukses dalam bisnisnya.

Jika anda memiliki 5 hal yang saya jabarkan di bawah ini, HATI-HATI!
Apa saja 5 hal tersebut yang bisa menghambat, dan dalam beberapa kasus yang saya temui, malah bisa berakibat fatal bagi karir atau usaha seseorang?

1. Arogansi
Ini bukan kesombongan standard yang bisa dilihat kasat mata, namun arogansi yang halus.
Contoh: seorang pengusaha ketika saya bantu untuk menemukan sumber masalah yang sedang dihadapinya selalu berkeluh kesah dan merasa anak buah atau timnya yang perlu berubah, bukan dirinya dulu.
Jika anda sering merasakan bahwa anak buah saya yang salah, kurang disiplin, kurang cekatan, kurang loyal (dan sebagainya), serta jarang atau tidak pernah berpikir: "Mungkin saya sebagai pemimpin yang kurang baik”. Hati hati!, anda sedang terkena point no.1 ini.
Saya sering menemui seorang pebisnis yang ketika hendak memakai jasa kami, me-wanti - wanti saya agar anak buahnya bisa lebih baik dan naik kelas. Namun ketika saya tanya: Bagaimana dengan bapak sendiri? apakah perlu dicoaching?, kebanyakan menjawab: "Ah.... saya ndak perlu, anak buah saya yang butuh!"

2. Fear atau Takut
Takut apa? ada 2 takut yang berbahaya untuk bisnis:
a. Takut mengambil keputusan yang keliru. Ketakutan ini membuat pemimpin bisnis lebih sering menganalisa dan berargumen di balik meja dibandingkan memutuskan dengan cepat dan menganalisa hasilnya di lapangan. Istilah kerennya adalah Analysis Paralysis, atau lumpuh tidak mengambil tindakan apa-apa karena terlalu banyak analisa.
b. Takut kelihatan kalau salah, sehingga selalu menghindar untuk dievaluasi dan enggan untuk diberi feedback terhadap tindakan yang telah dilakukan. Ketakutan ini membuat para pengusaha dan pemimpin bisnis sulit meningkatkan kualitas pengambilan keputusannya, yang sering kali menjadi bencana di kemudian hari.

3. Terlalu kompeten secara teknis
Sebagai pemilik bisnis sebenarnya sah-sah saja untuk terampil di bidang yang anda geluti. Contoh kalau anda buka toko roti, sebaiknya anda paham seluk beluk roti, mesin-mesin pembuatan roti, berikut merek dan kualitasnya, sampai bahan-bahan pembuat roti yang anda gunakan. Namun jikalau anda menjadi "terlalu" kompeten, ini menjadi berbahaya. Kenapa demikian?
Bisnis membutuhkan keahlian yang sangat beragam, dari mulai sales, team building, system building, branding strategy, dan sebagainya. Jika seseorang menjadi sangat kompeten di satu sisi, biasanya sulit untuk diajak belajar hal-hal di luar bidang yang dikuasainya.
Mari kita gunakan contoh yang sama: Toko Roti. Jika anda pemilik toko roti tersebut dan lebih sering berkutat di dapur dibandingkan briefing dan membangun tim anda, atau lebih sering otak atik resep roti dibandingkan menciptakan sistem untuk meningkatkan pelayanan konsumen, kemungkinan besar anda terkena point ke-3 ini.

4. Control Freak
Ini kendala paling umum yang bisa dijumpai pada hampir semua pengusaha. Definisi Control Freak dalam bahasa Indonesia adalah: kecanduan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai dengan yang diinginkan, dan tidak boleh meleset sedikit pun.
Penekanannya terletak pada kata "kecanduan". Memastikan semua berjalan dengan benar adalah sifat yang baik di bisnis. Namun bila sudah kecanduan, maka seorang pemimpin akan sulit untuk percaya kepada anak buahnya sediri, bahkan sering tidak percaya sama sitem yang dibuatnya sendiri.
Seorang Control Freak hanya percaya pada satu orang, DIRI SENDIRI. Lambat laun pemimpin yang seperti ini akan ditinggal oleh best talents-nya dan akan berakhir mengerjakan semuanya sendiri. Alhasil, bisnis menjadi bantat dan tidak bisa berkembang. Bagaimana anda tahu jika anda seorang control freak? Ada indikator sederhana yang saya pakai selama ini: Jika bisnis anda ikut menurun performanya seiring dengan bertambahnya usia atau semakin turunnya daya juang/tenaga anda, maka kemungkinan besar anda seorang Control Freak.

5. Lack of Exposure
Yang terakhir adalah sikap atau sifat untuk bertahan terhadap sesuatu yang dulu benar namun sebenarnya di jaman sekarang sudah tidak relevan lagi. Ini biasanya terjadi pada bisnis-bisnis yang sudah berumur 30 tahun ke atas. Pemahaman-pemahaman itu seperti:
- Konsumen maunya yang murah saja, kalau mahal tidak mau beli.
- Anak buah itu pasti bekerja karena gaji, kalau gaji tempat lain lebih tinggi pasti resign.
- Hanya saudara yang bisa dipercaya, jadi walaupun saudara saya kurang kompeten tetap saya terima, yang penting bisa dipercaya. Daripada rekruit orang luar, pandai, tapi nanti malah 'maling'.
dan masih banyak lagi.

Pemahaman-pemahaman di atas sebenarnya tidak 100% salah. Ada benarnya juga dan di beberapa kasus malah bisa dibuktikan kebenarannya. Namun jaman sudah berubah, ada begitu banyak contoh bisnis di luar sana yang tidak lagi menggunakan prinsip-prinsip di atas, namun toh bisa sangat sukses. Nah, bagaimana supaya kita tidak terjebak di point no 5 ini? Sering-seringlah travelling dan expose diri anda terhadap kemajuan jaman, baik di industri anda maupun anda sendiri sebagai konsumen pada bisnis orang lain (industri lain).

Salam The NEXT Level!

* Coach Humphrey Rusli:
-    Pelatih bisnis dengan pengalaman International Marketing selama lebih dari 15 tahun.
-    Pemenang International Coach of The Year 2012 (Australia), 2013 (Beijing) dan 2014 (Jakarta).
-    Telah membantu kliennya meraih peningkatan profit dari 20% hingga 2000% melalui sesi-sesi coachingnya.

Senin, 14 Desember 2015

CARA SIMPLE MENCIPTAKAN KEUNIKAN BISNIS ANDA - By: Coach Suwito Sumargo*

Kali ini saya bermalam di sebuah 'Hotel'. Ya sebuah Hotel (dengan tanda petik). Saya mendapatkan info tentang 'Hotel' ini melalui internet, browsing. Letaknya di daerah Jakarta Selatan, tidak terlalu jauh dari Venue yang akan saya kunjungi : Pacific Place.
Ketika browsing, saya sengaja mengutamakan jarak tempuh. Di Jakarta, jarak tempuh sungguh berarti bagi saya, karena saya termasuk orang yang enggan berlama-lama di tengah kemacetan. Saya pun menemukan beberapa alternatif, yang hanya berjarak maksimum setengah jam jalan kaki.
Saya sengaja tidak memilih hotel-hotel berbintang yang sudah tersohor. Yang jadi sasaran saya justru hotel yang punya banyak 'REVIEW'. Ya, hotel yang mengundang banyak komentar positif dari pengunjungnya. Komentar positif yang jujur tentunya.
Akhirnya, perburuan saya berujung di sebuah 'Hotel', yang tampak luarnya seperti hunian rumah tangga biasa, semacam homestay. Dan menariknya, menurut info internet, disekitar 'Hotel' itu banyak tempat makan: Restoran Indonesia dan Asia, Noodle House, Steak House dan Cafe. Untuk memastikannya, sesaat setelah check in, saya pun bertanya ke staf dan security hotel. Dengan ramah, mereka pun membenarkan informasi tersebut. AHA...malam itu saya punya cukup pilihan untuk dinner.
Saya lakukan hal serupa ketika browsing 'Hotel' di Semarang atau di kota lain. Selain tempat bermalam yang nyaman, juga tidak jauh dari area kuliner atau tempat-tempat menarik lainnya.
Bagaimana dengan lokasi bisnis Anda? Apakah ada tempat-tempat menarik di sekitar lokasi bisnis kita? Apakah tempat-tempat itu juga cukup menarik bagi para pembeli kita?
Kita seringkali bingung mencari cara yang efektif untuk mem-promosi-kan perusahaan dan produk kita. Bagaimana kalau kita coba mem-promosi-kan keunikan di sekitar kita? Tentu saja keunikan yang menarik bagi para pembeli kita. Berikan Extended Service, agar pembeli kita makin lekat dengan kita dan menjadi pelanggan loyal di kemudian hari.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Kamis, 10 Desember 2015

BAGAIMANA BER‘KAMPANYE’ DALAM BISNIS? - By: Coach Ruaniwati*

Kita baru saja melakukan pilkada serentak kemarin di semua daerah di Indonesia. Saya tertarik mengamati bagaimana para calon melakukan kampanye (baca: promosi). 
Biasanya salah satunya dengan menyampaikan apa yang akan mereka kerjakan jika terpilih, seakan-akan dengan mengerjakannya, mereka sedang memenuhi kebutuhan dan keinginan kita bukan?
Bagi calon yang incumbent, yang telah mempunyai track record, ini akan jauh lebih mudah karena sudah ada buktinya dan biasanya lebih tahu apa yang diinginkan oleh pemilihnya. 
Sedang bagi calon yang baru, mereka perlu menyampaikan ide, gagasan dan rencana dengan lebih jelas, karena para pemilih mungkin tidak tahu siapa mereka dan "track record" dalam bidang mereka.
Mereka yang dianggap "related" dengan pemilih mempunyai kans lebih besar untuk dipilih.
Dalam marketing, salah satu hal yang penting, mirip dengan pemilihan calon kepala daerah adalah rasa "related" ini, karena setiap orang ingin dimengerti keinginan dan kebutuhannya.
Terjemahan bebas "related" adalah "nyambung". Bagaimana mendapatkan rasa nyambung ini? Sehingga produk/ layanan kita nyambung dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan, bahkan sebelum mereka benar-benar merasakannya.
Paling tidak ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menimbulkan hal ini:
1. Cobalah berpikir dan menempatkan diri Anda dari sisi pelanggan, apa yang dipikirkan atau diinginkan oleh "saya"?
2. Bertanyalah kepada pelanggan dan ceritakan hal-hal yang Anda telah kerjakan dan yang akan dikerjakan. 
Tanyakan apa pendapat mereka. Pikirkan motivasi yang mendasari jawaban-jawaban tersebut. Apakah pelanggan Anda ingin aman? Ingin kejelasan? Ingin dilibatkan? Ingin mendapat hal-hal yang spesifik?
3. Lakukan survei yang lebih serius dengan cakupan yang lebih luas.
Cara ini tentu saja memerlukan lebih banyak persiapan, usaha dan dana. Tetapi jika jelas tujuannya, hasil yang didapat akan menolong kita mengerti perilaku calon pelanggan/ pelanggan kita dan bisa digunakan untuk mengubah apa yang kita kerjakan supaya lebih "nyambung" dengan pelanggan.

Jika Anda ingin di-"coblos" oleh pelanggan lagi dan lagi, pastikan Anda "related" dengan mereka. Apakah Anda incumbent atau calon baru? Sudahkah Anda "nyambung"?
Salam The NEXT Level!

* Coach Ruaniwati:
-          Pelatih bisnis yang telah makan banyak asam-garam di dunia Marketing, Branding dan Advertising selama lebih dari 15 tahun.

-          Aktif membantu para womanpreneur dan start-up entrepreneur melalui siaran radio di She 99.6 FM, Mercury 96.0 FM dan aktifitas belajar-mengajar di berbagai kampus terkemuka Surabaya. 

Kamis, 03 Desember 2015

SIAPA SUKA MEETING? - By: Coach Humphrey Rusli *

Siapa yang suka meeting?
Jika pertanyaan ini diajukan kepada 10 orang karyawan atau anak buah, saya kira hampir semuanya akan menjawab "bukan saya" alias hampir semua orang tidak suka meeting. Nah, fakta menariknya adalah, ketika anak buah tadi menjadi bos dan memiliki usaha sendiri. Mereka lebih menyukai meeting (karena mungkin ini sekarang bisnisnya, dan maju mundurnya usaha, tergantung oleh dia) dibandingkan dengan dulu ketika jadi karyawan. Bahkan ada bos yang hampir tiap hari selalu mengadakan meeting. This is what i call a meeting junky.
Sebenarnya apakah meeting ini sebuah pekerjaan, sebuah keharusan, ataukah hanya buang-buang waktu dan tenaga belaka?
Mengapa banyak meeting yang berujung menjadi sarana untuk cerita ngalor ngidul, terkesan tidak terarah dan diakhiri dengan tidak jelas? Apa yang salah? Bukankah seharusnya meeting itu sesuatu kegiatan yang produktif?
Berikut ini 2 panduan sederhana untuk menciptakan budaya meeting yang efektif secara hasil dan efisien secara waktu.
1. Meeting Harus Memiliki Topik Spesifik
Kesalahan yang sangat sering dilakukan pemimpin meeting adalah: masuk ke ruangan meeting tanpa memberitahu anggota meeting sebelumnya, apa atau topik apa yang hendak dibahas saat itu.
Inilah kesalahan klasik yang membuat meeting berlarut-larut, tanpa arah tujuan yang jelas dan sering malah menimbulkan masalah-masalah baru. Jika anda pernah meeting lebih dari satu jam, bahkan 2-4 jam, maka ini adalah indikator kuat kalau meeting anda tidak terarah dan kemungkinan besar anggota meeting tidak paham topiknya sebelum mereka masuk ke ruangan meeting. Meeting yang efektif dan efisien seharusnya tidak lebih dari 45 menit.
Jadi untuk melaksanakan sebuah meeting, pemimpin meeting wajib mengirimkan topik apa yang akan dibahas, data apa yang dibutuhkan, dan ekspektasi sumbangsih pikiran apa yang ingin diminta dari setiap anggota meeting yang diundang minimal 24 jam sebelumnya. Sehingga ketika meeting dimulai, semua anggota sudah siap dengan alternatif jawabannya.


2. Time Keeper
Tidak adanya time keeper atau pemandu waktu dalam meeting yang menyebabkan meeting molor di luar rencana awalnya. Time keeper ini tidak harus pemimpin meeting, tapi biasanya diserahkan ke pihak notulen yang mencatat hasil meeting tersebut.
Tugas dari time keeper ini adalah memberikan kode kepada pemimpin meeting bila waktunya sudah hampir habis. Jadi misal waktu yang dialokasikan adalah 45 menit, maka ketika waktu yang tersisa tinggal 10 menit, si notulen akan memberikan aba-aba dan kemudian pemimpin meeting akan mengarahkan anggota meeting untuk menyimpulkan tindakan apa yang disepakati, resiko apa yang siap ditanggung, siapa yang bertanggung jawab, apa support yang diberikan oleh manajemen, kapan mulai action-nya, dan sebagainya.
Lalu, bagaimana bila sampai akhir waktu meeting, kesimpulan belum dapat diambil?
Pemimpin meeting bisa memberikan jadwal untuk meeting lanjutan di hari dan waktu yang lain dengan catatan:
- Hari dan jadwal meeting lanjutannya telah disepakati di saat itu juga dan semua pihak paham data atau informasi apa yang harus disiapkan lebih lanjut, sehingga membuat meeting berikutnya dapat ditutup dengan kesimpulan Action yang jelas.

Nah, sudah siapkah anda memiliki budaya meeting yang produktif di perusahaan anda? Sukses untuk Anda!
Salam The NEXT Level!

* Coach Humphrey Rusli:
- Coach of the Year 2014 (BEF Award Indonesia 2014);                                          
- Sales Coach of the Year 2012 se-Asia dan Australia;

- Associate Coach of the Year 2013 tingkat Internasional (44 negara).