business-forum

coaches

Kamis, 26 Februari 2015

BERSAING..SIAPA TAKUT? - By: Coach Ruaniwati

Siapakah sih sebenarnya yang disebut pesaing? Apakah yang produk atau layanannya sama seperti usaha kita? Apakah mereka yang menggerogoti pasar atau pelanggan kita? Apakah mereka yang menembak ide-ide kita?
Anda mungkin setuju dengan satu atau lebih jawaban diatas. Kenyataannya, tidak ada usaha yang tidak punya pesaing. Di semua level usaha dari level bawah sampai level tertinggi, dari produk apapun yang kita tahu, pasti ada kompetisi. Faktanya, jika suatu usaha tidak ada pesaingnya, kemungkinan besar karena usaha tersebut tidak prospek sehingga tidak ada pengusaha lain yang mau berusaha di bidang atau jenis usaha yang sama.
Selama ada kompetisi, itu berarti usaha kita ada prospeknya dan menghasilkan keuntungan.
Mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Persaingan dapat kita pakai sebagai tolak ukur kita terhadap kinerja usaha kita. Manfaat lainnya dari persaingan adalah latihan sparring partner. Tidak ada juara PERTAMA tanpa juara kedua, ketiga dan seterusnya.
Jadi, bagaimana kita bisa berlatih dengan memanfaatkan persaingan sebagai pendorong supaya kita jadi lebih baik? Ada 6 cara untuk menaikkan level usaha Anda:
1. Bersikaplah positif terhadap persaingan, menyadari jika semua usaha pasti ada pesaingnya.
2. Buatlah ranking, di nomor berapa kita saat ini, pikirkan bagaimana caranya untuk naik di level berikutnya. Jika Anda memerlukan bantuan ahli, silahkan cari dari sumber-sumber yang dapat dipercaya.
3. Terimalah kenyataan. Jika ranking Anda di urutan terbawah tidak perlu berkecil hati. Yang penting adalah tindakan yang direncanakan untuk bisa naik level.
4. Temukan hal utama apa yang membuat Anda berbeda dengan pesaing.
5 Jika seandainya kita di nomor satu, berhati-hatilah, tetap waspada. Cara yang paling baik adalah bertanding dengan diri sendiri, terus menerus mengusahakan untuk mengalahkan record kita sendiri.
6. Temukan cara untuk bekerjasama dengan pesaing jika memungkinkan, sehingga mendapatkan benefit (misalkan: membeli material dari sumber yang sama, sehingga mendapatkan harga yang lebih rendah karena kuantitas pembelian bersama yang lebih besar dibanding sendiri-sendiri).
Menarik bukan? Bersaing...Siapa takut?
Emailkan pendapat Anda untuk memperkaya bahasan ini ke ruaniwati@baracoaching.com

Salam The Next Level!

Senin, 23 Februari 2015

KAPAN ANDA MEREKRUT KARYAWAN? - By: Coach Suwito

“Ada berapa kandidat?”
“Dua orang.”
“Ya sudah, rekrut aja dua-duanya.”
“Bapak tidak menginterview dulu?”
“Ndak usah. Besok mereka langsung suruh kerja aja.”
Itu cuplikan pembicaraan sang Boss dengan Staf-nya. Kita tentu bisa menduga-duga situasi yang terjadi, yaitu sang Boss sedang kepepet dan amat butuh pegawai. Dan saking kepepetnya, sang Boss sampai-sampai mengabaikan interview.
Padahal interview merupakan salah satu tahapan penting dalam proses rekrutmen. Melalui interview kita bisa mengungkap karakter seseorang, termasuk kebiasaan-kebiasaan buruk yang seringkali ditutupi oleh kandidat.
Selain interview, kita juga perlu melakukan serangkaian tes untuk membuktikan karakter dan bakat-minat sesungguhnya. Ini akan berguna untuk merencanakan tahapan pelatihan yang dibutuhkan untuk pengembangan si kandidat.
Tahapan lain yang juga perlu dilakukan ialah pemeriksaan rekomendasi. Bila kita menyempatkan diri untuk menghubungi pemberi rekomendasi, maka akan lebih banyak fakta yang bisa terungkap. Siapa tahu ada fakta-fakta positif yang bisa membuat si kandidat menghasilkan top performance?
Ah, andai sang Boss tidak kepepet waktu, maka proses rekrutmen bisa dijalani dengan lebih baik. Jadi, sebaiknya lakukan saja rekrutmen terus-menerus, tidak perlu menunggu kepepet. Siapa tahu, kita justru menemukan kandidat-kandidat yang lebih baik dibandingkan karyawan yang ada saat ini.
Bagaimana pendapat Anda? Semoga tulisan di atas bisa membuka wacana dan inspirasi dalam bisnis Anda.
Have a Nice Monday...and... Salam The NEXT Level!

Sabtu, 21 Februari 2015

INI DIA SALAH KAPRAH YANG BISA HANCURKAN BISNIS KELUARGA

Sebuah penelitian mengungkap, dari keseluruhan perusahaan yang dimiliki keluarga, sebesar 95% gagal melewati tiga generasi. Itu kenapa sampai muncul idiom: “generasi pertama yang mendirikan, generasi kedua yang membangun, dan generasi ketiga yang merusak”.
Pernyataan ini seolah bilang, generasi penerus dalam bisnis keluarga sangat sulit untuk mengulang kejayaan atau kesuksesan generasi sebelumnya. Benarkah seperti itu? Lalu apa saja suka duka meneruskan bisnis keluarga? Kesalahan apa yang sering dibuat, sehingga bisnis keluarga sulit bertahan sampai beberapa generasi?
BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengulas semua problem ini dalam seminar bertajuk “Salah Kaprah dalam Pengelolaan Bisnis Keluarga”, Sabtu (07/02/15) dan “Suka Duka Meneruskan Bisnis Keluarga”, Kamis (12/02/15) lalu.
Seminar yang ditujukan khusus para pemilik bisnis ini salah satunya membicarakan tentang problem utama yang sering terjadi dalam menjalankan bisnis keluarga. Tidak jarang kemudian bisnis keluarga sulit berkembang, bahkan menjadi pemicu keretakan dalam rumah tangga.
Coach Humphrey Rusli, selaku pembicara seminar bertutur, selama ini banyak pengusaha dalam bisnis keluarga yang banyak melakukan kesalahan, yang mereka anggap benar atau memang sudah seharusnya begitu. Istilahnya salah kaprah. Salah kaprah yang umumnya terjadi, pertama berhubungan dengan status.
“Semua anggota keluarga apakah paham bahwa mereka dilibatkan bukan untuk membangun karir, tapi untuk membangun aset, sesuatu yang bisa diwariskan,” tutur Coach Humphrey.
Banyak pebisnis keluarga beranggapan, terlepas dari mumpuni atau tidak, anak atau anggota keluarga memang harus diberi jabatan tinggi, harus diberi kekuasaan lebih. Padahal, yang seharusnya diwariskan bukan jabatannya, namun aset perusahaan. Jadi tidak masalah meskipun mereka memulai dari jabatan rendah sekalipun.
Salah kaprah kedua adalah berhubungan dengan fungsi. Sebagian besar perusahaan keluarga masih belum bisa membedakan fungsi antara seorang manager dan leader.
“Selama ini, kebanyakan perusahaan keluarga masih mencampur adukkan fungsi manager dan leader. Padahal, tugas keduanya benar-benar berbeda. Seorang leader diantaranya bertugas menetapkan visi-misi perusahaan, memotivasi dan menginspirasi bawahannya. Sedangkan manager bertugas untuk memimpin organisasi, serta mengontrol dan memecahkan masalah yang terjadi pada perusahaan,” papar COO BARACoaching Surabaya ini.
 Lebih lanjut, pelatih bisnis dunia yang berkali-kali memenangkan ajang ‘coach’ bergengsi ini menambahkan, calon penerus sebaiknya dipersiapkan dengan jadi seorang manager terlebih dulu sebelum diarahkan jadi leader.
Salah kaprah lain yang ditengarai sebagai penghambat bisnis keluarga adalah poin competency or descendant. Reward seharusnya diberikan berdasarkan kompetensi dalam menjalankan pekerjaan. Namun, yang terjadi sebaliknya. Kompetensi tidak lagi dianggap sebagai parameter. Pemberian reward dalam family business seringkali diberikan karena pertimbangan ‘dia’ sebagai keturunan kita.
Seminar yang diadakan di Office BARACoaching ini, selain teori, juga lebih banyak diisi dengan diskusi aktif coach Humphrey dan peserta.
“Kami berharap, setelah pulang dari acara ini, para peserta mengerti bahasan mana yang krusial untuk dibicarakan dengan anggota keluarga terkait permasalahan bisnis keluarga. Selain itu juga paham perbedaan dari masing-masing pokok pikiran, mana yang benar membangun aset, atau hanya membangun karir,” jelas coach Humphrey di akhir acara.


Kamis, 12 Februari 2015

4 HAL AGAR KARYAWAN ANDA BETAH DAN JADI ASET PERUSAHAAN - Coach Humphrey Rusli

Banyak pengusaha mengeluhkan, anak muda jaman sekarang tidak sama dengan jaman dahulu. Kalau dulu nggak perhitungan, sekarang sedikit-sedikit minta diberi kompensasi. Kalau dulu takut dan hormat sepenuhnya pada atasan, sekarang berani membantah dan sulit diatur, bahkan sering yang sok pintar tapi nggak bisa bekerja.
Belum lagi soal ketahanan mental, orang dulu sudah biasa ditekan dan menjalani semuanya dengan ulet. Anak jaman sekarang tidak tahan tekanan, dimarahin sedikit saja sudah sakit hati, dan tidak mau bekerja lagi.
Saya kira list perbedaannya akan sangat panjang kalau kita teruskan. Lalu bagaimana kita menyikapinya? Apakah generasi sekarang (Y) tidak bisa dijadikan aset yang bisa diandalkan untuk perusahaan anda? Jawabnya: Tentu bisa, hanya anda perlu paham 4 hal utama yang menjadi kebutuhan generasi ini.
1.  Surrounding
Generasi ini membutuhkan penerimaan kelompok atau "group acceptance". Buat dia, akan lebih betah bekerja, jika bukan hanya perusahaan itu yang menerimanya, tapi juga kelompok baru (teman-teman baru) di dalamnya, dimana dia akan bekerja bersama-sama.
Gunakan gruop interview untuk memperkuat hal ini. Pertemukan SDM yang akan anda rekrut dengan calon teman-teman sejawatnya, dan minta pendapat anak buah anda untuk menilai secara obyektif apakah SDM yang akan direkrut ini akan "fit in" ke dalam kelompok ini atau tidak.
2.  Acknowledgment
Generasi ini juga menghargai pengakuan yang bersifat pribadi atau perseorangan dari atasannya langsung. Sekedar memberikan applaus bila dia mencapai target atau memberikan email dengan maksud memuji performanya secara pribadi adalah sangat diharapkan dan akan memotivasinya untuk lebih berkarya lagi.
3. Information
Ini adalah ‘mata uang’ jaman generasi sekarang. Memberitahukan informasi secara terbuka tentang rencana perusahaan anda mau dibawa kemana, akan membuat mereka merasa ‘terlibat’.
Informasi ini juga bisa diperlakukan sebagai reward buat jenjang-jenjang tertentu. Misalkan untuk manager, maka ada informasi lebih detail tentang arah rencana perusahaan yang hanya manager yang boleh tahu, sedang staf biasa belum perlu tahu.
4. Security
Keamanan masa depan sangat dibutuhkan oleh mereka. Jenjang karir dan kesolidan finansial perusahaan membuat mereka merasa tenang dan dapat secara ‘rela’ dipacu keras oleh perusahaan tersebut. Sebaliknya, perusahaan yang tidak menyediakan jenjang karir yang jelas akan dianggap perusahaan kurang berkelas dan sering hanya akan dijadikan batu pijakan sementara saja sampai mereka menemukan perusahaan yang lebih menjanjikan.

Semoga artikel ini bisa membantu anda menciptakan tim yang super!

Salam the Next Level!

Senin, 09 Februari 2015

BAPAK SUKA LAGU APA? - By: Coach Suwito

Satu hari saya mampir ke sebuah toko CD untuk melengkapi koleksi disk musik saya.
“Bapak suka lagu apa? Tanya si pegawai toko.
“Ehm...yang rancak,” jawab saya datar.
“Mari, Pak, di sebelah sini. Dua deret ini iramanya rancak. Kalau Bapak suka yang instrumen, ada di rak yang itu. Kalau Bapak suka yang bahasa inggris, ada di sebelah sana,” demikian si pegawai toko ‘nyrocos’ dengan lancarnya.
Diam-diam saya mulai mengamati tempat ini. Tatanannya apik, teratur. Si pegawai juga aktif dan pintar menjual. Tapi sayangnya toko ini sepi pengunjung. Kenapa ya?
Yang pertama saya amati tentu saja LOKASI. Dan ternyata lokasi toko ini tidak jelek, karena bersebelahan dengan ATM centre dan cukup banyak orang yang lalu lalang mengunjungi ATM centre itu.
Lokasi sudah cukup oke. Lalu, perhatian saya tertarik ke interior-eksteriornya yang terkesan biasa-biasa saja. Saya jadi teringat dengan prinsip AIDA. AIDA merupakan prinsip pemasaran, dimana konsumen dibuat untuk tertarik lebih dulu (Attract), lalu membangkitkan keinginan atau minat mereka (Interest), menimbulkan keinginan untuk membeli atau memakai produk/ jasa kita (Desire), sebelum akhirnya benar-benar melakukan transaksi dengan Anda (Action). Tampaknya toko ini perlu sentuhan AIDA.
Mungkin interior-nya perlu sedikit diubah. Selain diisi dengan deretan rak dan CD, pemilik toko bisa menambahkan sofa atau tempat duduk yang didesain sedemikian rupa, agar pengunjung sedikit lebih lama berada di situ. Mendengarkan musik dengan lebih santai dan nyaman. Melihat film terbaru berikut sinopsisnya dari layar video yang anda sediakan di sekitar area duduk.
Bukan hanya itu, fasilitas seperti wifi juga perlu. Pengunjung bisa dengan mudah browsing tentang informasi film dan musik favorit juga terbaru. Sediakan juga satu unit komputer untuk informasi, CD apa saja yang disediakan.
Sekarang mari beralih pada eksterior toko. Saya belum melihat ada poster atau papan iklan di luar toko. Sayang sekali, bukankah desain poster atau iklan eksterior yang eye catching bisa jadi senjata Attrack dalam prinsip AIDA, untuk ‘memaksa’ calon pengunjung masuk?
Bicara konsep menarik, bukan hanya tentang desain tempat saja. Selain tempat, ada banyak poin bisa ditambahkan untuk menarik perhatian pengunjung atau konsumen. Salah satunya, dengan keanggotaan (membership). Secara tidak langsung, membership adalah sebuah bentuk pengakuan diri konsumen, bahwa mereka merupakan bagian dari sebuah komunitas (baca: bisnis anda).
Dengan bersedianya mereka menjadi anggota, bisa diartikan mereka mulai percaya dengan kita. So, berikan keuntungan dan manfaat lebih melalui membership, agar mereka bukan saja percaya, tapi kemudian loyal terhadap kita.
Nah, bagaimana dengan Anda? Setelah membaca cerita di atas, sudahkah terbersit prinsip AIDA yang bisa ‘disentuhkan’ dalam bisnis Anda?
Have a Nice Monday...and... Salam The NEXT Level!

Kamis, 05 Februari 2015

LAYANAN RAMAH, ANTUSIAS, DAN TULUS - By: Coach Suwito

Pernahkah Anda berbelanja di pedagang kaki lima? Saya pernah.
Ada 'kenikmatan' tersendiri ketika kita belanja di kaki lima, antara lain: pilihannya banyak dan bisa menawar sesuka hati. Kadang, kita beruntung karena mendapat layanan yang ramah, seperti pengalaman saya berikut ini.
Pagi itu, saya kebetulan punya waktu lowong dan di depan hotel ada beberapa pedagang yang menggelar dagangannya. Ehm...lumayan buat beli oleh-oleh. Nggak perlu jauh-jauh ke toko souvenir.
Saya memperhatikan istri saya yang sibuk memilih. Dengan ramahnya si penjual menuruti permintaan istri saya. Dia minta warna yang cerah dan ukuran lebih kecil (untuk cucu kami). Si penjual pun bergegas mengambil koleksi yang ada di temannya, sesama pedagang. Ini terjadi beberapa kali, dan si penjual mondar mandir memenuhi permintaan istri saya. Singkat kata, akhirnya istri saya membayar belajaannya.
Petangnya kami singgah di sebuah toko souvenir terkenal di kota itu. Dan barang-barang serupa juga ada disitu, tentu dengan harga yang lebih mahal. Tapi, yang mengecewakan adalah layanannya tidak ramah. Si penjual kaki lima jauh lebih ramah, mau melayani dengan antusias dan tulus.
Tentu saja, di toko seperti ini harga tak bisa ditawar dan lebih mahal. Karena toko ini berpendingin/AC, punya lahan parkir, punya tempat bermain untuk anak-anak dan juga ada sebuah cafe (buat nongkrong sejenak setelah penat berbelanja).
Sebelum meninggalkan toko, saya pun menyempatkan diri menuliskan pesan/feedback yang intinya: “Pemilik Toko yang terhormat, Anda berpeluang untuk lebih maju dan sukses, dengan cara meningkatkan keramahan, antusiasme dan ketulusan karyawan Anda”.
Anda, pembaca Biz-tips, juga berpeluang mendapat feedback tentang bisnis Anda dari para Coach Baracoaching.


Rabu, 04 Februari 2015

Training TM OKE - 20 DETIK PERTAMA UNTUK 15 MENIT KE DEPAN

Dalam dunia bisnis, seorang telemarketer merupakan bagian dari ‘jantung’ yang ‘memompa’ kemajuan usaha. Itu sebabnya, diperlukan skill yang mumpuni untuk melakukan pemasaran lewat telepon. Beberapa yang harus dikuasai adalah teknik melakukan negosiasi dan bagaimana closing penjualan.
Hal itu dikupas dalam training bertajuk “Telemarketing OKE”, Sabtu (31/01/15) lalu. Training yang diadakan oleh ActionCOACH BARACoaching Surabaya ini diberikan pada tim sales pusat (Surabaya) dan cabang Malang PT. Arofah Mina. Di awal acara, Erfina Hakim, selaku pembicara bertutur tentang tujuan training itu.
“Kita berharap setelah mengikuti pelatihan ini, peserta bisa menguasai 4 hal penting dalam telemarketing. Empat poin itu adalah menutup closing penjualan by phone, lalu melakukan negosiasi lebih baik, mendapatkan appointment penting, dan terakhir memudahkan penagihan pembayaran,” ungkap Erfina.
Lebih jauh, wanita yang pernah meraih predikat ‘The Best Area Manager’ wilayah Indonesia Timur ini juga memaparkan apa saja bekal seorang telemarketer sebelum menelepon. Problem kebanyakan dari seorang telemarketer adalah ketakutan sebelum menelepon prospek.
Hal ini, menurut Erfina karena mereka terbawa imajinasi buruk yang mereka ciptakan sendiri sebelum telepon.
“Belum-belum sudah mikir bakal ditolaklah, prospeknya judes, dan hal-hal negatif lainnya. Bangunlah imajinasi menyenangkan dan selalu berpikir positif. Bayangkan hal-hal lucu, bisa dengan saling bercanda dengan teman kerja sebelum menelpon. Pokoknya hindari berpikir buruk, karena ini tidak akan membangun mental Anda. Malah akan menyusutkan semangat untuk menelpon prospek,” tegas wanita yang akrab dipanggil Fina ini.
Selain itu, posisi tubuh juga harus mendukung. Siapkan tujuan dan sesuaikan skrip. Tujuan harus jelas, atur gaya bahasa (intonasi, volume, tekanan suara, kecepatan bicara) sehingga mudah dipahami, dan bersikaplah tenang.
“Hal paling penting lain yang harus dipahami, kesempatan pertama telemarketing adalah menjual suara bukan produk,” tambah Fina.
Itu sebabnya, tidak masalah bila seorang telemarketer tidak paham semua product knowledge. Yang harus diperhatikan adalah penciptaan kesan pertama di 20 detik pertama, sebagai penentu 15 menit ke depan.
Selain mendapat teori tentang telemarketing, peserta juga berbagi pengalaman dan sharing problem terkait selling by phone. Mulai perbedaan hard selling dan soft selling, sampai ‘uneg-uneg’ yang berhubungan dengan penelepon (prospek). 
Heri Wibowo, selaku pemilik PT. Arofah Mina berujar, ”Ini adalah training kedua yang diikuti tim saya. Training sebelumnya sangat membawa kemajuan, khususnya pada tim pertama. Trainingnya applicable dan hasilnya luar biasa. Setelah menjalani pelatihan Telemarketing OKE mereka (tim Arofah Mina) bisa melampaui target semua.”