business-forum

coaches

Kamis, 23 Oktober 2014

BRAND, APAKAH PENTING? - By: Coach Ruaniwati


Beberapa waktu lalu, ketika bertemu dengan seorang pemilik bisnis, beliau menyebutkan bahwa brand adalah sesuatu yang tidak terlalu penting. “Jika saya dapat memberikan harga paling murah dengan brand apapun, maka pelanggan akan datang dengan sendirinya”, demikian beliau menambahkan.
Apa yang disampaikan oleh beliau ini, sering saya dengar juga dari beberapa pemilik bisnis yang lain. Apakah pernyataan ini benar? Apakah kita mau terus menerus terjebak dalam permainan ini?
Apakah “brand” itu?  Brand adalah simbol, nama atau gambar tertentu yang membedakan suatu produk/ jasa dengan produk / jasa yang lain. Jadi kalau begitu, apakah “brand” penting?
Bagi para orang tua, apakah kita dengan sembarang saja memberi nama kepada anak kita? Tentu tidak kan? Malah mungkin, jauh-jauh hari sebelum anak kita lahir kita sudah mempersiapkan, mencari-cari apa arti nama yang akan diberikan kepada anak kita. Bahkan sampai dipikirkan dan diteliti aspek-aspek nama tersebut. Mengapa kita sampai berusaha begitu rupa hanya untuk mencari nama? Karena kita tahu, bahwa itu bukan sekedar penamaan, tapi juga adalah harapan akan jadi seperti apa anak kita. Setuju?
Lalu apa hubungannya antara nama anak dengan brand? Apa relevansinya? Sama seperti itu, pada waktu kita menentukan nama atau brand pada usaha yang kita bangun, kita mengharapkan ada identifikasi yang jelas, antara lain seperti apa sifat-sifatnya?
Jika brand anda dianalogikan sebagai orang, apakah laki-laki atau perempuan? Berapa umurnya? Seperti apa karakter dan sifat-sifatnya? Apa yang kita perlu lakukan supaya kepribadiannya dan ciri-ciri khususnya diketahui atau bahkan bisa segera dikenali oleh pelanggan kita?  Jika bukan kita yang menentukan kepribadian brand kita sendiri, pasti orang lain yang menentukannya untuk kita, sesuai dengan persepsi pelanggan tentang kita yang belum tentu sama dengan yang kita inginkan.
Lebih jauh, brand bukan sekedar nama, logo atau simbol tampilan, namun juga menunjukkan kekonsistenan kita. Tidak hanya produk, namun juga layanan, produksi, proses pengiriman, orang-orang yang ada di perusahaan itu semuanya mewakili kepribadian suatu brand.
Kalau kita menentukan brand (baca: kepribadian) tertentu untuk usaha kita, kira-kira siapa target market yang sesuai? Dengan cara apa kita memasarkannya? Orang-orang seperti apa yang harus kita rekrut untuk menunjukkan kepribadian itu? Training seperti apa yang perlu kita adakan? Proses internal seperti apa yang perlu kita buat supaya cocok? 
Apa yang dilakukan oleh merek-merek terkenal untuk memperkuat “brand” mereka? Hal yang paling menonjol yang saya tangkap dan pelajari adalah mereka terus menerus memperkuat “kepribadian” mereka, menemukan cara-cara tertentu untuk memastikan ciri-ciri mereka yang yang menonjol dapat terus dipertahankan, terhadap para karyawan, suplier maupun pelanggan.
Jadi, apakah brand (baca:kepribadian) Anda? Apakah sudah menentukan brand Anda? Apa saja usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk memperkuatnya?
Have FUN!!!

**Business coach paling bontot di BARACoaching ini akrab dipanggil dengan coach Ruani. Dengan pengalaman selama 16 tahun di bidang sales, marketing, brand dan advertising, beliau memiliki spesialisasi di bidang promotion, brand, advertising, dan marketing strategic

Rabu, 22 Oktober 2014

Forum HTCBP - GOOD ENVIRONMENT, OBAT AMPUH UNTUK BAD PEOPLE


Bisnis bisa diibaratkan dengan tubuh manusia. Bila 70% komponen tubuh adalah air, maka 70% komponen bisnis adalah people atau sumber daya manusia (SDM). Lalu apa yang terjadi pada bisnis, jika manusianya ‘tidak sehat’? Bagaimana cara mengatasinya?
Menjawab itu, BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan sebuah forum bertajuk “How To Change Bad People”. Karena banyaknya permintaan, forum ini sampai diadakan 4 kali dengan tema sama.
Han Tiger Budiyono atau akrab dipanggil Coach Han memaparkan, bahwa masalah dalam bisnis, 40%nya adalah mengerjakan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, 30% waktu dihabiskan untuk pekerjaan ulang dan perbaikan (rework and repair). Dan yang terbesar adalah 90% disebabkan oleh orang-orang yang tidak efektif dan efisien. Nah, orang-orang ini disebut dengan bad people.
“Ada pepatah yang mengatakan, satu apel busuk dalam keranjang, maka satu keranjang akan busuk semua. Efek bad people, bukan hanya pemilik bisnis pusing, tapi lebih jauh, dia akan mengkontaminasi yang lain,” ujar CEO BARACoaching ini dalam acara yang berlangsung di Hotel Shangri-La Surabaya, 04 Okt ’14 lalu.
Tipe karyawan yang tergolong bermasalah adalah mereka yang benar-benar punya karakter buruk atau jelek (bad people) dan mereka dengan kebiasaan buruk (bad habit) dan tidak punya keahlian (bad skills).
Jika memang orang tersebut punya karakter jahat, misal tukang mencuri, tukang fitnah, dll, maka kita tidak perlu repot-repot untuk merekrutnya. Masih lebih baik, orang-orang dengan bad skills dan bad habit yang masih bisa diatasi. Bagaimana caranya?
People dengan bad skills masih bisa diatasi dengan memberikan pelatihan (training) dan pengembangan sesuai dengan kebutuhan skillnya. Selain kemampuan secara teknis, maka training juga harus mencakup cara pandang atau kedewasaan berpikir, serta kemampuan intelektual yang berkaitan dengan perusahaan,”tutur pelatih bisnis dunia ini.
Dalam mengubah karyawan yang punya bad skills dan bad habit, yang paling penting adalah fokuslah pada 2 hal. Membenahi skill mereka, dan menciptakan lingkungan (environment) yang lebih baik.
“Cara paling cepat mengubah belief seseorang adalah mengubah environmentnya dengan supporting good culture. Culture merupakan serangkaian dari kebiasaan atau habit. Jadi intinya, how to change bad people, yaitu dengan menciptakan good culture. And how to create good culture? Dengan create good habits,” tegas Coach Han.
Untuk melengkapi pemaparan tentang ‘bad people’, Coach Han juga memberikan 8 tipe orang-orang dengan kecenderungan bad habits, dan bagaimana mengatasinya.
Dalam forum berdurasi 5 jam ini, para peserta juga berdiskusi aktif seputar problem dan sharing tentang pengalaman nyata di bisnis mereka. Salah seorang CEO, Daniel Ponda Tengker berbagi pengalamannya menghandle karyawan yang punya habit buruk di bisnisnya. Daniel menceritakan, sebelumnya dia pernah mengikuti forum BARACoaching dengan tema sama 2 tahun lalu, dan mencoba menerapkan apa yang didapatnya dalam bisnis.
“2 tahun lalu, saya mengikuti forum ActionCOACH tentang bad people juga. Saya terapkan ilmunya dalam bisnis, dimana waktu itu karyawan saya memang memberikan omzet besar bagi perusahaan, namun mereka tidak mau dikontrol. Syukurlah, dengan menciptakan culture yang baik dan dijalankan secara konsisten tiap hari, sekarang saya sudah tidak punya lagi problem lagi dengan ‘bad people’. Apa yang saya omongkan ini bukan hanya teori, namun sudah saya lakukan sendiri. Culture itu bisa terbentuk jika kita percaya dan dijalankan setiap hari” papar pemilik House of David Salon ini.

Kamis, 16 Oktober 2014

Tantangan Terbesar di Marketing dan Selling Adalah Terlalu Fokus Memecahkan Masalah (Part 2) - By: Coach Humphrey Rusli**


Pada artikel sebelumnya dijelaskan, OMZET adalah akibat dari strategi yang tepat dan kemampuan problem solving dalam menerapkan startegi itu. Kapan waktu menerapkan problem solving skill yang kita miliki?
Jawabannya adalah, ketika sebuah strategi itu sudah disepakati dan dapat diperkirakan permasalahan baru yang akan muncul dengan dijalankannya strategi itu, barulah kita persiapkan "counter attack" kita dan mempersiapkan solusi-solusi itu.
Jadi, di dalam mendapatkan omzet dan profit yang lebih tinggi, sebaiknya kita menganalisa melalui 3 level yang berbeda:
1. Strategi
Apakah jalan atau cara kita sudah tepat? Dan jika cara yang selama ini kita pakai tidak bisa membawa ke hasil yang kita inginkan, ada baiknya kita mengambil ‘rute’ alternatif. Buat strategi baru.
2. Tactical atau Taktis
Ketika strategi itu sudah dijalankan, apakah kita punya cara untuk menghadapi hambatan/ rintangan, yang bisa muncul ditengah-tengah eksekusi strategi tersebut? Jika belum, latih tim anda. Contoh beberapa pelatihan klasik di sales:
- Bagaimana membuka percakapan,
- Bagaimana menghadapi penolakan,
- Bagaimana menemui owner dan tidak dihambat oleh sekretaris atau satpam di depan?
- Bagaimana menyampaikan value sebuah produk atau jasa premium?
- Bagaimana mendapatkan referal?
- Bagaimana mengubah konsumen antipati menjadi simpati terhadap anda dan produk anda?
- Dan sebagainya.
3. Practical atau level praktis.
Di sini, rutinitas yang sudah terbukti mensupport realisasi sebuah strategi wajib dipertahankan. Disiplin dan ketahanan tim untuk mengulang hal-hal yang sama dan komitmen untuk menyimak dan mencantumkan angka, menjadi kunci utamanya. Apa contoh DISIPLIN yang diperlukan untuk level praktis ini?
Contoh:
- Disiplin mencatat jumlah kunjungan dan cold call,
- Disiplin membuat agenda kerja sehari sebelumnya,
- Disiplin membuat report harian,
- Disiplin waktu,
- Disiplin respons ke konsumen 1x24 jam,
- Disiplin menghubungi konsumen-konsumen lama anda,
- Dan sebagainya.
Mari kita telaah, dari 3 level ini, hanya satu yang membutuhkan problem solving skill yaitu di level taktis, dan itupun harus seirama dengan strategi yang kita inginkan dan disupport oleh DISIPLIN yang baik.
Masalah utama yang sering dihadapi oleh pelaku bisnis dan para klien ActionCOACH justru terletak di level strategi dan atau practical, jarang yang di tactical. Bahkan sering saya menemui, level tactical sales force sebuah perusahaan sudah jauh diatas rata-rata, namun strategi dan disiplinnya, jauh dibawah standar.
Karena itu saya memberanikan diri menyatakan: "Masalah terbesar di marketing dan selling adalah 'terlalu fokus memecahkan masalah'"
Saya mengajak para pelaku bisnis dan pembaca artikel ini untuk tidak terlalu cepat fokus ke masalah. Fokuslah dulu ke strategi, baru setelah ‘clear’, kita bisa memperkirakan potensi masalah apa saja yang harus kita siapkan solusinya.

(**Coach Humphrey Rusli adalah seorang pelatih bisnis Internasional dengan spesialisasi terutama di bidang sales dan marketing. Prestasi beliau diantaranya sebagai Coach of The Year 2014 (BEF Indonesia 2014), Sales Coach of The Year 2012 se-Asia dan Australia, serta Top Number #1 Business Coach yang mengalahkan lebih dari tiga ribu coaches seluruh dunia-Juli 2013)

Share your problem or (success) story with coach Humphrey! 

Senin, 13 Oktober 2014

ANAK SEBAGAI KARYAWAN? MENGAPA TIDAK? (Coach Suwito Sumargo**)

Suatu saat saya bertanya kepada pak Robert, seorang pengusaha: "Pak Robert, bolehkah saya tahu, mengapa Anda melibatkan istri dalam bisnis?" Dia menjawab: "Ini sudah komitmen kami. Sejak pacaran kami sudah sepakat untuk nantinya bersama-sama berkecimpung dalam bisnis. Saya tahu, istri saya, Listya, punya keunggulan dalam hal finance dan saya lebih mahir di bidang sales. Lagipula, usaha ini toh akan menjadi milik kami berdua."
Saya melanjutkan, "Oo...kalau begitu, apakah suatu saat nanti Anda berdua juga sepakat untuk melibatkan anak-anak dalam bisnis ini?" Saya pikir, pak Robert akan menjawab: "Ya."
Ternyata pak Robert menjawab dengan tegas, "Tidak. Anak-anak belum tentu kami libatkan dalam bisnis ini."
Saya pun mengangguk, tanda paham akan maksudnya.
Tiba-tiba, bu Listya yang duduk disampingnya berkata, "Nah, untuk urusan ini, sebetulnya kami belum sepakat. Saya lebih suka bila anak-anak dilibatkan sejak dini, supaya mereka ikut merasakan dan mulai belajar bisnis. Tapi suami saya lebih suka bila anak-anak sekolah dulu setinggi-tingginya."
Sore itu, kami bertiga terlibat dalam perbincangan hangat: Bisakah anak menjadi karyawan kita?
Bila ditanya seperti itu, kita (orang tua) mungkin akan menjawab dengan tegas: "Tidak!" Jawaban seperti ini mungkin didasari oleh pengalaman para orang tua yang merasakan pahit getirnya merintis usaha. Mereka tidak kepingin anak-anaknya terjerumus dalam kesulitan yang serupa. Maka orang tua pun mulai merevisi angan-angannya dan menanamkan paham yang baru: Jadi pegawai saja, karena lebih enak dan tidak pusing.
Sebaliknya, cukup banyak orang tua yang justru menjawab dengan antusias: "Ya, tentu saja mereka harus terlibat dalam bisnis." Inilah tipe orang tua yang berharap usahanya dilanjutkan oleh anak-anaknya. Orang tua seperti ini mungkin akan tetap memberi kesempatan anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Tapi, cepat atau lambat anak-anak ini akan dilibatkan dalam bisnis.
Pertanyaan selanjutnya: Apakah dalam merekrut anak-anak (atau anggota keluarga lain), mereka tetap harus mengikuti alur proses seleksi seperti karyawan lain pada umumnya?
Dan apakah anak-anak (atau anggota keluarga lain) yang bekerja di perusahaan milik keluarga, berhak mendapat privilege (perlakuan istimewa), karena statusnya itu?

Dari berbagai percakapan dengan teman-teman sesama pengusaha, saya menangkap beberapa jawaban:
·      Anak-anak tidak usah mengikuti proses seleksi, karena orang tua sudah tahu karakter dan keunggulan setiap anaknya. Mereka boleh melenggang, langsung masuk ke posisi atau jabatan tertentu.
·      Anak-anak harus mengikuti proses seleksi, sama seperti karyawan yang lain. Anak-anak ini harus tunduk dan patuh pada peraturan perusahaan. Tidak ada perlakuan istimewa, sebelum anak-anak ini menunjukkan kinerja terbaiknya, bahkan harus lebih baik dibandingkan dengan karyawan yang lebih senior sekalipun.
·      Anak-anak dipastikan mendapatkan privilege, karena perusahaan ini memang didirikan untuk mereka. Ngapain anak-anak harus mengalami yang sulit-sulit? Itu hanya akan menghambat perkembangan anak-anak ini. Padahal, merekalah penerus usaha kita.
·      Anak-anak harus ikut proses seleksi yang dilakukan oleh pihak luar (yang kompeten dan netral). Dan tidak perlu mendapatkan privilege, karena dalam perusahaan hanya ada satu sikap: be profesional.
·      Dan masih banyak jawaban lain.
Setiap jawaban, tentu punya konsekuensi sendiri. Perusahaan keluarga memang unik, terutama bila keterlibatan keluarga di perusahaan itu tinggi sekali.
Nah, yang manakah jawaban Anda dan mengapa? Jika Anda di dalam bisnis keluarga sekarang, apakah arah perusahaan menuju yang diangankan atau berubah?
Share your problem or (success) story with coach Suwito!

(**Coach Suwito Sumargo adalah seorang pelatih bisnis Internasional yang sudah 30 tahun lebih membangun bisnis keluarga menjadi franchise yang sukses. Prestasi beliau diantaranya sebagai finalis Rookie Coach of the Year 2013, dan The Winner Supportive Coach & System Award Indonesia 2014)

Kamis, 09 Oktober 2014

Tantangan Terbesar di Marketing dan Selling Adalah Terlalu Fokus Memecahkan Masalah (Coach Humphrey Rusli)


Hampir semua teman, kolega, maupun klien yang mendengar kalimat itu (judul di atas), mengernyitkan dahi dan bertanya apa maksudnya. Saya sadar, ini bukan kalimat yang bisa menjelaskan maksud saya dengan lugas dan jelas. Melalui artikel ini, saya akan menjelaskan maksudnya secara runtut.
Sebelum menjadi seorang coach (pendamping/pelatih bisnis), saya adalah seorang eksekutif di perusahaan multinasional, dengan tanggung jawab di bagian penjualan dan pemasaran, baik itu di dalam Indonesia maupun di luar Indonesia (Asia Tenggara). Sejak saat itu hingga 9 tahun kemudian ketika saya berpindah haluan menjadi Business Coach, kecintaan saya yang terutama tetap berada di dunia sales dan marketing.
Nah, pengalaman dan ilmu ini pula yang sekarang sedang saya 'tularkan' kepada para pengusaha yang ingin mengembangkan penjualan (omzet) dan laba perusahaannya maupun para pembaca yang sedang menyimak artikel ini.
Ada (terlalu) banyak sebenarnya buku-buku sales dan marketing yang sangat baik menuliskan dan mengajarkan proses penjualan, proses pemasaran, proses negosiasi, dan proses lainnya. Namun, justru karena begitu banyaknya buku yang membahas tentang sales dan marketing ini pula, banyak pelaku bisnis menjadi tidak clear lagi, apa sebenarnya yang perlu jadi titik perhatian di setiap prosesnya.
Tantangan utama dalam sales dan marketing, sebenarnya BUKAN pada kemampuan kita membuat solusi, melainkan membuat strategi.
Jika saya bertanya: masalah apa paling umum dikeluhkan oleh pelaku bisnis yang berhubungan dengan penjualan? 9 dari 10 akan mengatakan: "OMZET". Berarti kalau disederhanakan, masalah dari divisi penjualan adalah omzet.
Ini jebakan yang berbahaya. Bagaimana cara kerja otak manusia jika dihadapkan pada sebuah masalah? Pasti mencari SOLUSI bukan?
Padahal omzet tidak mungkin dicarikan solusi, karena omzet adalah efek dari sebuah strategi. Jika strateginya kurang tepat maka omzetnya buruk. Demikian juga sebaliknya, jika strategi-nya tepat dengan sikon marketnya, maka hasilnya akan baik.



STRATEGI Tidak Sama Dengan SOLUSI
Kesalahpahaman ke-2: Banyak pelaku bisnis menyamakan strategi dengan solusi untuk mencapai omzet yang diinginkan. Padahal kedua hal ini TIDAK SAMA.
Contoh: Apa strategi Anda untuk travelling dari Surabaya ke Jakarta?
Jawab: Saya akan memilih jalan darat, lewat pantura, dengan mengendarai kendaraan MPV pribadi saya, tanpa sopir. Kemudian rencana pitstop saya di kota a, b, c, dsb.
Ini adalah jawaban untuk strategi travelling dari Surabaya menuju Jakarta. Lalu kemudian jika saya ubah pertanyaan tersebut: Apa solusi Anda untuk travelling dari Surabaya ke Jakarta?
Secara semantik (ilmu makna), ini berarti sebelumnya sudah ada permasalahan dan perlu dicarikan solusinya. Logikanya kalau tidak ada masalah riil, maka pertanyaan kedua tidak bisa dijawab, karena kita belum tahu, masalah apa yang bisa muncul di tengah perjalanan Surabaya-Jakarta. Dan apabila kita memilih strategi melalui jalur pantai selatan maka masalah-masalah yang timbul akan berbeda dari masalah-masalah dengan strategi melalui Jalur Utara, bukan?
Mari kita gunakan logika ini untuk dunia Sales dan Marketing.
"Apa solusi anda untuk meningkatkan omzet 200% dari bulan lalu?" Pertanyaan ini tidak tepat, karena:
1. Kita jadi sibuk menebak masalah apa yang bisa muncul. Hal ini bisa menghabiskan waktu, karena belum tentu masalah itu riil.
2. Kita jadi berasumsi jika bisa memecahkan permasalahan yang kita bayangkan, maka omzet akan naik 200% secara otomatis. Asumsi yang berbahaya!
3. Kemungkinan besar kita akan melakukan langkah dan strategi yang sama dengan dibumbui cara-cara untuk memecahkan masalah. Ini tidak akan berguna.
Omzet adalah efek dari STRATEGI yang tepat dengan kemampuan memecahkan masalah yang timbul dari penerapan strategi tersebut.
Lalu, bagaimana kita seharusnya bertanya? "Apakah ada jalan/cara lain untuk meningkatkan omzet 200% dari bulan lalu?" Atau "Bila anda saya minta melupakan cara yang selama ini dipakai, apa cara anda untuk mencapai omzet 200%?"
Pertanyaan-pertanyaan itu akan membuat otak kita "scanning" kemungkinan-kemungkinan lain mencapai sebuah tujuan. Inilah yang disebut STRATEGI.
Lalu, kapan waktu kita untuk menggunakan kemampuan memecahkan masalah atau menerapkan Problem Solving Skill yang kita miliki? Baca dalam “Masalah Terbesar di Marketing dan Selling Adalah Terlalu Fokus Memecahkan Masalah” part 2 Minggu depan (16/10/14).

Jumat, 03 Oktober 2014

PELANGGAN MAKIN LENGKET DENGAN MAGNET ‘CINTA’


Dalam hidup berbisnis, manajemen cinta bukan hanya berlaku buat pasangan saja. Namun juga untuk konsumen, agar mereka ‘lengket’ bahkan ‘manut’ dengan kita. Bagaimana caranya?
Coach Humphrey Rusli, dalam acara yang dihelat SHE Radio : SHE & Friends Festival bertajuk “Me and Family”, memaparkan 5 jurus marketing CINTA agar konsumen menjadi loyal. CINTA, menurut pelatih bisnis kelas dunia ini merupakan akronim dari Ceritakanlah (C), Investasi (I), Niat (N), Tanya (T), dan Asik (A).
“C, Ceritakanlah aturan maen perusahaan. Aturan perusahaan itu seperti cara pembayaran, bagaimana aturan deliverynya, kalau umpama pakai sistem hutang, aturannya seperti apa, dan banyak lagi. Tujuannya agar konsumen tidak kaget dengan aturan yang ada,” tutur coach Humphrey di acara yang berlangsung pada Sabtu (27/09/14) ini.
Sedangkan I adalah singkatan dari Investasi, artinya pemilik bisnis harus selalu berusaha meningkatkan pelayanan, yang bisa dilihat dan dirasakan konsumen. Misal, seseorang punya bisnis kos-kosan, maka untuk menarik kecintaan konsumen, terus melakukan peningkatan dan pemeliharaan fasilitas, serta pelayanan yang bagus.
Jurus berikutnya adalah Niat (N). Bangunlah bisnis dengan niat yang bagus. Dalam artian peraturan yang dibuat tidak menunjukkan kita menang sendiri.  Seorang laki-laki pernah mampir ke sebuah gerai martabak dan memesan secangkir kopi. Ketika akan membayar, sang pemilik gerai berkata laki-laki itu tidak perlu membayarnya, karena gerainya memang menjual martabak saja, tidak kopi.
 Dalam menjalankan bisnis, janganlah kita menyalahi aturan yang telah kita buat sendiri. Berjalanlah ‘lurus’ sehingga konsumen akan lebih percaya dengan kita.
“Jurus keempat, T atau Tanya bisa diartikan dengan selalu melakukan survey kepada pelanggan. Ada 3 manfaat yang bisa diambil. Selain bisa tahu apa yang menjadi keinginan konsumen, pengusaha bisa menjalin silaturahmi dengan konsumen, dan konsumen bisa merasa bahwa peraturan yang ada (setelah survey dilakukan) berasal dari dan untuk mereka,” tutur Coach of The Year Indonesia 2014 ini.
Yang terakhir adalah Asik (A). Punya bisnis itu harus eksis dan care dengan konsumen. Kita bisa mengadakan semacam event atau acara, untuk menunjukkan keeksisan usaha kita. Selain acara, bisa juga dengan membentuk sebuah komunitas atau perkumpulan yang menunjukkan identitas usaha.
Edukasi bisnis yang diberikan coach Humphrey lebih pada bentuk dialog aktif. Para peserta, yang sebagian besar juga merupakan pendengar setia SHE Radio, mengaku puas dengan penjelasan Coach Humphrey yang ringan dan mudah dicerna.
Satu diantaranya, Ibu Suci yang awalnya tidak tahu tentang cara menarik konsumen. Perempuan asal Sidoarjo ini mengaku jadi mantap untuk memulai sebuah usaha bisnis. 

Kamis, 02 Oktober 2014

ADAKAH SI ‘OSTRICH’ DALAM BISNIS ANDA? (Coach Ruaniwati)


Tahukah Anda binatang OSTRICH? Sifat yang paling menonjol dari ostrich adalah kebiasaannya membenamkan kepala ke dalam tanah untuk melindungi diri dari musuh-musuhnya.
Lalu, apa korelasi antara sifat OSTRICH dengan karyawan kita? Ternyata sifat ostrich ini dapat ditemui juga pada karyawan kita. Masih bingung? Coba bayangkan sifat-sifat anak buah kita, apakah ada di antara mereka yang sangat tidak percaya diri walaupun sebenarnya mampu? 
Biasanya mereka akan cenderung untuk menghindar dari tugas-tugas tertentu yang belum pernah dikerjakan sebelumnya. Cenderung berada di zona nyaman, malas belajar hal baru karena berpikir kalau mereka tidak mampu. Sering berpikiran negatif jika ada kesalahan yang terjadi, selalu berpikiran yang paling buruk terjadi.
Bagaimana kita menolong orang-orang bertipe ostrich?
1.    Mulailah memberikan pujian untuk usaha-usaha baik yang dilakukan dan tidak terlalu mengkritik hasilnya. 
2.    Memberitahu anak buah kita pada saat dia berpikiran negatif, dan mengganti pikiran itu dengan sesuatu yang positif. Tidak terlalu peduli hasil akhirnya, yang penting fokusnya adalah berlatih berpikiran positif. Melakukan kesalahan adalah sesuatu yang normal, asal bisa mempelajari kesalahan itu sebagai sesuatu yang positif.
3.    Berlakulah lebih peka jika sedang berkomunikasi dengan orang bertipe ini, sering-seringlah memberikan motivasi & afirmasi positif.
4.    Jika Anda ingin memberikan tantangan baru kepada mereka, yakinkan bahwa Anda bisa dipercaya, artinya mereka tahu jika Anda tidak bermaksud mempermalukan mereka dengan tantangan ini.
Menarik ya? Dengan mengetahui beberapa tipe orang, kita dapat mendaya-gunakan mereka untuk bekerja dengan lebih baik. Apakah ada orang yang bertipe berbeda dengan tipe ostrich? Tentu saja! Temukan artikel-artikel selanjutnya tentang tipe-tipe orang di blog ini.