business-forum

coaches

Kamis, 09 Oktober 2014

Tantangan Terbesar di Marketing dan Selling Adalah Terlalu Fokus Memecahkan Masalah (Coach Humphrey Rusli)


Hampir semua teman, kolega, maupun klien yang mendengar kalimat itu (judul di atas), mengernyitkan dahi dan bertanya apa maksudnya. Saya sadar, ini bukan kalimat yang bisa menjelaskan maksud saya dengan lugas dan jelas. Melalui artikel ini, saya akan menjelaskan maksudnya secara runtut.
Sebelum menjadi seorang coach (pendamping/pelatih bisnis), saya adalah seorang eksekutif di perusahaan multinasional, dengan tanggung jawab di bagian penjualan dan pemasaran, baik itu di dalam Indonesia maupun di luar Indonesia (Asia Tenggara). Sejak saat itu hingga 9 tahun kemudian ketika saya berpindah haluan menjadi Business Coach, kecintaan saya yang terutama tetap berada di dunia sales dan marketing.
Nah, pengalaman dan ilmu ini pula yang sekarang sedang saya 'tularkan' kepada para pengusaha yang ingin mengembangkan penjualan (omzet) dan laba perusahaannya maupun para pembaca yang sedang menyimak artikel ini.
Ada (terlalu) banyak sebenarnya buku-buku sales dan marketing yang sangat baik menuliskan dan mengajarkan proses penjualan, proses pemasaran, proses negosiasi, dan proses lainnya. Namun, justru karena begitu banyaknya buku yang membahas tentang sales dan marketing ini pula, banyak pelaku bisnis menjadi tidak clear lagi, apa sebenarnya yang perlu jadi titik perhatian di setiap prosesnya.
Tantangan utama dalam sales dan marketing, sebenarnya BUKAN pada kemampuan kita membuat solusi, melainkan membuat strategi.
Jika saya bertanya: masalah apa paling umum dikeluhkan oleh pelaku bisnis yang berhubungan dengan penjualan? 9 dari 10 akan mengatakan: "OMZET". Berarti kalau disederhanakan, masalah dari divisi penjualan adalah omzet.
Ini jebakan yang berbahaya. Bagaimana cara kerja otak manusia jika dihadapkan pada sebuah masalah? Pasti mencari SOLUSI bukan?
Padahal omzet tidak mungkin dicarikan solusi, karena omzet adalah efek dari sebuah strategi. Jika strateginya kurang tepat maka omzetnya buruk. Demikian juga sebaliknya, jika strategi-nya tepat dengan sikon marketnya, maka hasilnya akan baik.



STRATEGI Tidak Sama Dengan SOLUSI
Kesalahpahaman ke-2: Banyak pelaku bisnis menyamakan strategi dengan solusi untuk mencapai omzet yang diinginkan. Padahal kedua hal ini TIDAK SAMA.
Contoh: Apa strategi Anda untuk travelling dari Surabaya ke Jakarta?
Jawab: Saya akan memilih jalan darat, lewat pantura, dengan mengendarai kendaraan MPV pribadi saya, tanpa sopir. Kemudian rencana pitstop saya di kota a, b, c, dsb.
Ini adalah jawaban untuk strategi travelling dari Surabaya menuju Jakarta. Lalu kemudian jika saya ubah pertanyaan tersebut: Apa solusi Anda untuk travelling dari Surabaya ke Jakarta?
Secara semantik (ilmu makna), ini berarti sebelumnya sudah ada permasalahan dan perlu dicarikan solusinya. Logikanya kalau tidak ada masalah riil, maka pertanyaan kedua tidak bisa dijawab, karena kita belum tahu, masalah apa yang bisa muncul di tengah perjalanan Surabaya-Jakarta. Dan apabila kita memilih strategi melalui jalur pantai selatan maka masalah-masalah yang timbul akan berbeda dari masalah-masalah dengan strategi melalui Jalur Utara, bukan?
Mari kita gunakan logika ini untuk dunia Sales dan Marketing.
"Apa solusi anda untuk meningkatkan omzet 200% dari bulan lalu?" Pertanyaan ini tidak tepat, karena:
1. Kita jadi sibuk menebak masalah apa yang bisa muncul. Hal ini bisa menghabiskan waktu, karena belum tentu masalah itu riil.
2. Kita jadi berasumsi jika bisa memecahkan permasalahan yang kita bayangkan, maka omzet akan naik 200% secara otomatis. Asumsi yang berbahaya!
3. Kemungkinan besar kita akan melakukan langkah dan strategi yang sama dengan dibumbui cara-cara untuk memecahkan masalah. Ini tidak akan berguna.
Omzet adalah efek dari STRATEGI yang tepat dengan kemampuan memecahkan masalah yang timbul dari penerapan strategi tersebut.
Lalu, bagaimana kita seharusnya bertanya? "Apakah ada jalan/cara lain untuk meningkatkan omzet 200% dari bulan lalu?" Atau "Bila anda saya minta melupakan cara yang selama ini dipakai, apa cara anda untuk mencapai omzet 200%?"
Pertanyaan-pertanyaan itu akan membuat otak kita "scanning" kemungkinan-kemungkinan lain mencapai sebuah tujuan. Inilah yang disebut STRATEGI.
Lalu, kapan waktu kita untuk menggunakan kemampuan memecahkan masalah atau menerapkan Problem Solving Skill yang kita miliki? Baca dalam “Masalah Terbesar di Marketing dan Selling Adalah Terlalu Fokus Memecahkan Masalah” part 2 Minggu depan (16/10/14).

Jumat, 03 Oktober 2014

PELANGGAN MAKIN LENGKET DENGAN MAGNET ‘CINTA’


Dalam hidup berbisnis, manajemen cinta bukan hanya berlaku buat pasangan saja. Namun juga untuk konsumen, agar mereka ‘lengket’ bahkan ‘manut’ dengan kita. Bagaimana caranya?
Coach Humphrey Rusli, dalam acara yang dihelat SHE Radio : SHE & Friends Festival bertajuk “Me and Family”, memaparkan 5 jurus marketing CINTA agar konsumen menjadi loyal. CINTA, menurut pelatih bisnis kelas dunia ini merupakan akronim dari Ceritakanlah (C), Investasi (I), Niat (N), Tanya (T), dan Asik (A).
“C, Ceritakanlah aturan maen perusahaan. Aturan perusahaan itu seperti cara pembayaran, bagaimana aturan deliverynya, kalau umpama pakai sistem hutang, aturannya seperti apa, dan banyak lagi. Tujuannya agar konsumen tidak kaget dengan aturan yang ada,” tutur coach Humphrey di acara yang berlangsung pada Sabtu (27/09/14) ini.
Sedangkan I adalah singkatan dari Investasi, artinya pemilik bisnis harus selalu berusaha meningkatkan pelayanan, yang bisa dilihat dan dirasakan konsumen. Misal, seseorang punya bisnis kos-kosan, maka untuk menarik kecintaan konsumen, terus melakukan peningkatan dan pemeliharaan fasilitas, serta pelayanan yang bagus.
Jurus berikutnya adalah Niat (N). Bangunlah bisnis dengan niat yang bagus. Dalam artian peraturan yang dibuat tidak menunjukkan kita menang sendiri.  Seorang laki-laki pernah mampir ke sebuah gerai martabak dan memesan secangkir kopi. Ketika akan membayar, sang pemilik gerai berkata laki-laki itu tidak perlu membayarnya, karena gerainya memang menjual martabak saja, tidak kopi.
 Dalam menjalankan bisnis, janganlah kita menyalahi aturan yang telah kita buat sendiri. Berjalanlah ‘lurus’ sehingga konsumen akan lebih percaya dengan kita.
“Jurus keempat, T atau Tanya bisa diartikan dengan selalu melakukan survey kepada pelanggan. Ada 3 manfaat yang bisa diambil. Selain bisa tahu apa yang menjadi keinginan konsumen, pengusaha bisa menjalin silaturahmi dengan konsumen, dan konsumen bisa merasa bahwa peraturan yang ada (setelah survey dilakukan) berasal dari dan untuk mereka,” tutur Coach of The Year Indonesia 2014 ini.
Yang terakhir adalah Asik (A). Punya bisnis itu harus eksis dan care dengan konsumen. Kita bisa mengadakan semacam event atau acara, untuk menunjukkan keeksisan usaha kita. Selain acara, bisa juga dengan membentuk sebuah komunitas atau perkumpulan yang menunjukkan identitas usaha.
Edukasi bisnis yang diberikan coach Humphrey lebih pada bentuk dialog aktif. Para peserta, yang sebagian besar juga merupakan pendengar setia SHE Radio, mengaku puas dengan penjelasan Coach Humphrey yang ringan dan mudah dicerna.
Satu diantaranya, Ibu Suci yang awalnya tidak tahu tentang cara menarik konsumen. Perempuan asal Sidoarjo ini mengaku jadi mantap untuk memulai sebuah usaha bisnis. 

Kamis, 02 Oktober 2014

ADAKAH SI ‘OSTRICH’ DALAM BISNIS ANDA? (Coach Ruaniwati)


Tahukah Anda binatang OSTRICH? Sifat yang paling menonjol dari ostrich adalah kebiasaannya membenamkan kepala ke dalam tanah untuk melindungi diri dari musuh-musuhnya.
Lalu, apa korelasi antara sifat OSTRICH dengan karyawan kita? Ternyata sifat ostrich ini dapat ditemui juga pada karyawan kita. Masih bingung? Coba bayangkan sifat-sifat anak buah kita, apakah ada di antara mereka yang sangat tidak percaya diri walaupun sebenarnya mampu? 
Biasanya mereka akan cenderung untuk menghindar dari tugas-tugas tertentu yang belum pernah dikerjakan sebelumnya. Cenderung berada di zona nyaman, malas belajar hal baru karena berpikir kalau mereka tidak mampu. Sering berpikiran negatif jika ada kesalahan yang terjadi, selalu berpikiran yang paling buruk terjadi.
Bagaimana kita menolong orang-orang bertipe ostrich?
1.    Mulailah memberikan pujian untuk usaha-usaha baik yang dilakukan dan tidak terlalu mengkritik hasilnya. 
2.    Memberitahu anak buah kita pada saat dia berpikiran negatif, dan mengganti pikiran itu dengan sesuatu yang positif. Tidak terlalu peduli hasil akhirnya, yang penting fokusnya adalah berlatih berpikiran positif. Melakukan kesalahan adalah sesuatu yang normal, asal bisa mempelajari kesalahan itu sebagai sesuatu yang positif.
3.    Berlakulah lebih peka jika sedang berkomunikasi dengan orang bertipe ini, sering-seringlah memberikan motivasi & afirmasi positif.
4.    Jika Anda ingin memberikan tantangan baru kepada mereka, yakinkan bahwa Anda bisa dipercaya, artinya mereka tahu jika Anda tidak bermaksud mempermalukan mereka dengan tantangan ini.
Menarik ya? Dengan mengetahui beberapa tipe orang, kita dapat mendaya-gunakan mereka untuk bekerja dengan lebih baik. Apakah ada orang yang bertipe berbeda dengan tipe ostrich? Tentu saja! Temukan artikel-artikel selanjutnya tentang tipe-tipe orang di blog ini. 

Senin, 29 September 2014

TIPS MENGUBAH PERILAKU KARYAWAN (Coach Suwito Sumargo)

“Aduuh…gitu aja kok lupa!”
Seorang wirausahawan mengeluhkan kelakuan Dani, salah satu stafnya, yang lupa membawa banner ke tempat pameran. Kejadian ini bukan cuma terjadi sekali saja, tapi sudah berulang kali. Saking jengkelnya, lama kelamaan sang wirausahawan ‘emoh’ marah lagi dan tak pernah mau menyuruh Dani. Dia langsung saja melakukannya sendiri. Permasalahannya beres? Kelihatannya begitu.
Anda pernah mengalami hal seperti ini?
Mengubah Sedikit Demi Sedikit
Dari cerita di atas, Dani mungkin memang pelupa dan ini masih bisa diubah. Misalnya, setiap kali ada even pameran, maka seluruh anggota tim yang terlibat dikumpulkan, kemudian bersama-sama menyusun daftar barang yang harus dibawa. Ini dilakukan (misal) H-7 (tujuh hari sebelum hari kegiatan). Setiap anggota tim punya daftar masing-masing, termasuk Dani.
Dani perlu diingatkan berulang kali, apakah dia sudah menyiapkan barang-barang yang menjadi tanggung jawabnya. Terutama H-1, diingatkan secara khusus. Kemudian, begitu tidak ada yang tertinggal, berikan pujian tulus atas upayanya untuk tidak lupa.
Bila hal ini dilakukan secara terus menerus (berulang-ulang), maka Dani akan punya kebiasaan baru, melakukan pencatatan dan persiapan di setiap kesempatan, agar tidak ada lagi hal yang terlupa. Apalagi bila Dani menjadi ‘ketagihan’ akan pujian, maka dia akan melakukan kebiasaan baru tersebut dengan senang hati.
Beberapa prinsip dasar yang bisa Anda lakukan untuk mengubah perilaku seseorang (karyawan) adalah dengan membiasakannya melakukan perubahan sedikit demi sedikit, diulang-ulang dengan interval yang sama, dan tanpa merasa terpaksa. Jangan pelit memberikan pujian atas setiap usahanya untuk jadi lebih baik.
Hal ini bisa Anda terapkan pada karyawan di divisi lain. Misal di bagian penjualan.
“Sudah berapa pembeli yang masuk?” Tanyakan kalimat ini setiap kali (misal setiap jam 2 siang) kepada staf penjualan (SPG) Anda, maka lama kelamaan si SPG akan siap dengan jawabannya. Dia akan terbiasa mengamati, mengingat atau mencatat berapa pembeli yang masuk.

Perubahan Perilaku Karena Pengaruh Lingkungan
Selain kebiasaan, perubahan seseorang bisa disebabkan karena lingkungan. Yang dimaksud adalah lingkungan yang bersifat dominan.
Anda bisa menempatkan karyawan yang kurang cermat di sekelompok orang yang cermat, maka lambat laun dia akan terpengaruh menjadi cermat. Hal ini karena secara tidak langsung setiap hari dia melihat, dilatih, dan juga melakukan kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian besar orang-orang di sekitarnya.
Nah, sudahkah Anda melakukan cara-cara di atas untuk mengubah kebiasaan buruk karyawan Anda?

(Coach Suwito Sumargo adalah seorang pelatih bisnis Internasional yang sudah 30 tahun lebih membangun bisnis keluarga menjadi franchise yang sukses. Prestasi beliau diantaranya sebagai finalis Rookie Coach of the Year 2013, dan The Winner Supportive Coach & System Award Indonesia 2014)

Share your problem or (success) story with our coach!
By email : suwito@baracoaching.com
Facebook : fb.me/actioncoachsby

Dapatkan solusinya, langsung dari para pelatih bisnis Internasional!

Kamis, 25 September 2014

REKRUTMEN SAMA PENTINGNYA DENGAN PENJUALAN (By: Coach Ruaniwati)


Dalam survei kecil yang dilakukan kepada para klien kami, ternyata 90% mengatakan, bidang yang menurut mereka paling meresahkan di usaha mereka adalah tantangan di SDM (Sumber Daya Manusia).
Tertarik dengan topik itu, saya menanyakan lebih lanjut apa maksudnya. Ada beberapa jawaban umum, misalnya: “Kok kayaknya sulit mencari pegawai yang baik, kalau pandai biasanya tidak bertahan lama karena pindah ke perusahaan yang lebih besar atau  buka usaha sendiri.”
“Jika sudah bergabung, ada aja masalahnya. Dari banyak alasan untuk tidak disiplin sampai tidak mencapai target yang diharapkan. Kok beda ya dengan 10 atau 15 tahun lalu? Kayaknya waktu itu lebih mudah me-manage pegawai”.
Mana yang benar sih? Apakah jamannya berubah sehingga angkatan kerjanya juga berubah, atau kita sebagai pengusaha me-manage dengan cara keliru?
Tentu saja jawaban atas pendapat-pendapat ini dijawab dengan jawaban yang berbeda-beda, karena antara perusahaan yang satu dengan yang lain kondisinya tidak sama. Namun yang bisa kita kerjakan dengan cara sama untuk semua perusahaan, adalah terlebih dulu memikirkan sumber daya manusia sejak proses perekrutannya.
Beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam proses perekrutan diantaranya, dengan mengetahui secara spesifik, bagian apa yang diperlukan, misalnya tenaga penjualan, telemarketing, purchasing, gudang, customer service, dan lain-lain.
Melakukan wawancara serta menggunakan sejumlah tes untuk mengetahui apakah kandidat kita mempunyai kapabilitas seperti yang kita inginkan. Dan paling penting, melakukan proses ini dengan disiplin, untuk memperbesar kemungkinan mendapatkan kandidat terbaik.
Yang jarang terpikirkan dalam proses rekrutmen adalah pencarian kandidat pegawai seyogyanya dilakukan seperti pada waktu kita melakukan proses pencarian pelanggan. Untuk proses penjualan kita rela membuat strategi, perencanaan dan menjabarkan pelaksanaannya secara rinci. Biasanya dengan konsisten kita lakukan, karena jika tidak, maka pendapatan perusahaan jadi taruhannya. Sebenarnya proses rekrutmen tidak jauh berbeda. Jika saja kita melakukan proses yang sama dengan penjualan maka mendapatkan karyawan yang cocok, tentu tidak lagi sulit.
Setelah kita merekrut karyawan yang baik dan cocok, maka selanjutnya adalah proses hubungan yang dibangun antar karyawan maupun dengan atasan. Bagaimana Anda melakukan hal ini di perusahaan Anda? Sistem seperti apa yang kita anut untuk manajemen sumber daya manusia kita?

Silakan share problem Anda dengan kami, pada kolom komentar di bawah.

Rabu, 24 September 2014

BAGAIMANA BILA PARTNER BISNIS ANDA MENYEBALKAN? (Memilih Partner Bisnis yang Cocok)

Coach Suwito Sumargo - The Most Supportive & System Coach Award 2014 (BEF Indonesia 2014)
Tono mengajak Danny untuk menjadi partner di bisnis yang sedang dirintisnya. Danny sudah berteman dengan Tono selama lebih dari dua dekade. Suatu ketika mereka bertemu dan inilah (sekilas) percakapan mereka.
Danny   : “Gimana nanti pembagian sahamnya?”
Tono     : “Gampanglah bisa diatur, yang penting kita jalan dulu.”
Danny   : “Terus kapan kita mulai?”
Tono     : “Gampang kalau uang investornya udah cair.”
Bila Anda adalah Danny, apakah akan melanjutkan kerjasama ini?
Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam memilih partner bisnis.

Karakter
Beberapa orang/ pengusaha memang punya gaya seperti Tono, yang mudah mengatakan: “gampang”. Bagi Tono, tidak ada persoalan yang terlalu sulit untuk dipecahkan. Ada dua kemungkinan melihat seseorang dengan ciri seperti itu. Dia terbiasa menggampangkan atau menyepelekan masalah. Atau mungkin dia adalah seorang jenius dan selalu optimis bisa menyelesaikan masalah (apapun).
Dalam cerita di atas, Danny yang sudah lama mengenal Tono, mungkin sudah paham karakter atau ciri-cirinya. Namun, bagi Anda yang tidak memahami, Anda bisa terkaget-kaget.
Perubahan Tono bisa terjadi dengan cepat, sementara Anda masih mikir-mikir. Bila Anda tidak betul-betul memahami karakter orang seperti Tono, sebaiknya Anda tidak bekerjasama dengan orang seperti ini.

Komunikasi
Komunikasi adalah kunci keberhasilan berhubungan dengan orang lain. Itu kenapa, komunikasikan segala sesuatu dengan jernih dan mudah dipahami. Sediakan waktu setiap hari dengan partner Anda, untuk mengevaluasi pekerjaan atau sekedar sharing.

Keputusan yang Berbeda
Suatu saat, seorang karyawan membuat kesalahan fatal. Partner bisnis Anda menginginkan agar si karyawan di-PHK seketika. Sebaliknya, Anda cenderung memberi kesempatan si karyawan untuk memperbaiki kesalahannya dan tidak serta merta memecatnya.
Perbedaan seperti ini bisa menimbulkan rasa tidak enak. Apalagi bila Anda tidak bisa memutuskan sendiri dan harus senantiasa mempertimbangkan pendapat partner bisnis Anda. Perbedaan pendapat seperti ini tidak pernah Anda alami sebelumnya. Celakanya, bila hal seperti ini terjadi saat kerjasama sudah berjalan, maka akan sulit bagi Anda untuk melangkah mundur.
Cara seseorang bertindak atau memutuskan sesuatu, dipengaruhi oleh pandangan hidup dan keyakinannya. Sebelum Anda memilih seseorang sebagai partner bisnis, ada baiknya Anda kenali secara mendalam pandangan hidup dan keyakinannya, yang tercermin dari tindakan dan cara pengambilan keputusannya.

Kompetensi atau Keahlian
Bekerjasama dengan partner yang punya kompetensi/ keahlian. Selain kompetensi atau skill sesuai dengan bisnis yang dikelola, pilihlah partner yang punya skill yang bisa menutupi kelemahan atau kekurangan Anda. Misal Anda ingin membuka toko aksesoris, namun tidak tahu seperti apa barang yang mesti didisplay, atau dimana mendapatkan aksesorisnya, maka Anda bisa memilih partner bisnis yang menguasai hal itu.
Selain punya relasi dan klien usaha banyak, partner bisnis yang berkompeten memungkinkan Anda bisa berkreativitas secara maksimal untuk memajukan bisnis agar bisa diterima pasar.

Pembagian Tugas, Tanggung Jawab, Kewajiban dan Hak
Bisnis itu ibarat kapal. Bagaimana jika dalam 1 kapal ada 2 nahkoda? Untuk menghindari perpecahan, ketika Anda mulai membangun bisnis dengan partner, tuliskan rules of the game yang jelas. Seperti apa pembagian tugas, tanggung jawab, hak dan kewajiban masing-masing dalam kerja.

Pisahkan Harta Pribadi dari Harta Perusahaan

  • ·  Pisahkan rekening pribadi dan rekening bisnis. Jadi usahakan minimal punya 2 rekening yang berbeda. Pun dengan partner bisnis Anda.
  • ·         Pastikan Anda dan juga partner menerima gaji, layaknya karyawan. Pergunakan gaji tersebut untuk keperluan pribadi. Jangan sampai mencampur adukkan uang perusahaan untuk keperluan pribadi.
  • ·         Hindari sebisa mungkin penggunaan aset pribadi. Contohnya, perusahaan menggunakan kendaraan pribadi Anda atau partner untuk urusan perusahaan. Maka harus ada penghitungan secara profesional, misal dihitung sebagai sewa yang dibayar dengan uang perusahaan.

Jika Partner Bisnis Adalah Pasangan Hidup

  • ·        Sebisa mungkin, bersikaplah obyektif terhadap pasangan Anda. Jika terdapat perbedaan pendapat dalam urusan bisnis, jangan sampai mengganggu hubungan personal dalam keluarga. Begitupun sebaliknya. Jadi, ketika Anda memutuskan untuk menjadikan pasangan hidup sebagai partner bisnis, maka Anda juga harus siap untuk bersikap profesional, dengan memisahkan antara urusan bisnis dan keluarga (pribadi).
  • ·        Pemisahan aset bisnis dengan aset pribadi atau aset keluarga sejak awal. Usahakan memisahkan rekening pribadi dan bisnis. Selain itu, jangan pernah mencampur-adukkan keuangan perusahaan dengan urusan pribadi.

Apakah partner Anda adalah pasangan bisnis yang terbaik?
Lalu bagaimana jika masalah bisnis sudah sering (terlanjur) berujung pada masalah keluarga?

Share your problem or (success) story with our coach!
Facebook : fb.me/actioncoachsby

Dapatkan solusinya, langsung dari para pelatih bisnis Internasional!

Senin, 15 September 2014

BISAKAH KITA MENGUBAH PERILAKU SESEORANG


Hampir mustahil, demikian selalu jawaban orang yang kita tanyai seperti diatas. Sebenarnya, mengubah perilaku seseorang itu bukan hal mustahil. Hanya saja, mengubah perilaku seseorang itu memang tidak mudah.
Tanpa bantuan weker atau alarm, saya selalu terbangun pada jam 5.30 pagi. Ini terjadi setiap hari, Senin hingga Minggu. Entah itu hari kerja maupun hari libur. Ini adalah kebiasaan saya. Apakah kebiasaan bangun pagi saya ini bisa dirubah?
Tentu saja bisa. Bagaimana caranya?
Agar saya bisa bangun lebih pagi atau lebih siang, saya butuh ‘sesuatu’ sebagai target atau pengingat. Misalnya, ketika saya tinggal di Jakarta untuk sementara waktu, maka saya tidak perlu bangun jam 5.30. Setelah memikirkan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk bangun jam 7.00, karena toh saya baru berangkat kerja jam 8.00.
Untuk mengubah kebiasaan bangun jam 5.30 menjadi jam 7.00, saya menggunakan weker atau alarm yang berbunyi pada jam 6.00 dan sebelum tidur saya menggumamkan kata-kata:”Besok bangun jam 6.00”, berulang kali. Ini saya lakukan selama 1 minggu atau hingga saya terbangun dengan sendirinya meskipun pada hari ke delapan weker sudah tidak saya fungsikan.
Kemudian saya mengubah setelan weker menjadi jam 6.30 dan sebelum tidur saya menggumamkan kata-kata: ”Besok bangun jam 6.30”, berulang kali. Setelah 1 minggu, saya pun berhasil mengubah kebiasaan saya, menjadi terbangun secara otomatis pada jam 6.30. Demikian saya lakukan (secara bertahap) hingga saya bisa terbangun dengan sendirinya pada jam 7.00.
Apa yang bisa kita pelajari dari cerita diatas?
Kebiasaan seseorang bisa dirubah, tapi perlu alat bantu (dalam cerita diatas: weker) dan perubahan ini sebaiknya dilakukan secara bertahap. Perubahan perilaku juga tidak bisa dilakukan secara mendadak atau besar-besaran. Orang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan. Dan, semakin besar atau mencolok perubahan yang dialami, maka penolakan pun akan semakin kuat. Perubahan secara gradual akan lebih bisa diterima.
Hal penting lainnya adalah: Komitmen dan Disiplin. Komitmen dimulai dengan kesungguhan kita untuk mau berubah. Dan disiplin akan terbentuk kemudian, bila kita memang sungguh ingin memiliki kebiasaan baru.
Perilaku seseorang hanya bisa berubah bila yang bersangkutan memang sungguh-sungguh mau berubah. Jadi harus punya komitmen atau niat yang kuat. Disinilah masalahnya! Orang enggan mengubah perilaku, terutama karena dia atau mereka sudah atau sedang berada di zona nyaman. Mereka hanya akan berubah, bila mereka menemukan (jaminan) adanya zona nyaman yang baru. Dengan kata lain, mereka menginginkan reward, sebagai iming-iming agar mereka mau berubah .
Perilaku yang buruk seringkali terjadi sebagai akibat perlakuan-perlakuan yang dialami sebelumnya. Sering terlambat masuk kerja, mungkin hanya akibat dari rangkaian kejadian sepanjang pagi hari.
Seorang perempuan mengaku sulit hadir tepat waktu di tempat kerja, karena ternyata dia tidak bisa mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan ke-rumahtangga-an yang harus dilakukannya sendiri, setiap pagi. Setelah digali lebih dalam, perempuan yang cenderung perfeksionis ini, selalu tidak puas bila pekerjaan-pekerjaan di rumah dilakukan oleh orang lain.
Agar dia bisa berubah, maka dilakukan pemilahan: pekerjaan mana saja yang dianggap paling kurang penting. Kemudian, dia memilih siapa-siapa yang dipercaya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Ada yang dikerjakan ibunya, ada yang dikerjakan anaknya dan ada pula yang dikerjakan suaminya. Semua berusaha ‘belajar’ sesuai dengan arahan si perempuan ini. Selang sebulan, si perempuan sudah bisa hadir selalu tepat waktu.
Perempuan ini mau berubah, setelah dia meyakini bahwa bila semua orang di rumah bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan ke-rumahtangga-an dengan baik, maka dia akan menjadi perempuan yang terpuji dan bijak.
Dalam dunia bisnis, Anda pun juga bisa melakukannya: mengubah perilaku buruk diri sendiri dan orang lain (misal: karyawan Anda). Lalu mana yang lebih penting menurut Anda, mengubah perilaku diri sendiri atau orang lain?