business-forum

coaches

Senin, 25 Agustus 2014

CEO Business Gathering - KUPAS GAYA ‘ROCKSTAR’ ALA PEMILIK BISNIS


Apa reaksi Anda ketika mendengar kata rockstar? Mungkin ada yang beranggapan negatif tentang penyanyi rock. Mereka sering dipersepsi buruk, dengan gaya tampilan yang sering keluar dari aturan atau ‘pakem’ yang ada. BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mendobrak pemikiran tersebut dalam forum CEO Business Gathering, bertajuk “Think Like A Rock Star”.
Forum yang diadakan pada Senin (18/08/14) ini merupakan gathering ex klien BARACoaching Surabaya. Coach Han Budiyono selaku pembicara bertutur, ada nilai-nilai dari seorang rockstar yang bisa diteladani oleh pelaku bisnis dewasa ini. Salah satunya, berani tampil beda dan tidak khawatir meskipun orang lain tidak bisa menerima penampilan atau bahkan pemikiran mereka.
Mereka sering bertingkah laku di luar kebiasaan pada umumnya. Contohnya, grup Slank yang lebih memilih bergaya ‘natural’ waktu konser. Buat mereka, kostum panggung yang glamour, malah tidak cocok, karena tidak bisa dipakai dalam aktivitas keseharian.
“Para bintang rock benar-benar yakin dengan apa yang diyakininya, meskipun orang lain tidak. Satu nilai yang bisa dikorelasikan dalam bisnis sekarang, adalah being true to yourself. Sekarang ini masih banyak, calon pebisnis yang memulai bisnis dengan usaha yang sedang ngetrend. Pandangan ini keliru. Only do or sell something that you truly believe. Juallah produk atau jasa yang sesuai hati nurani Anda,” papar CEO sekaligus pendiri BARACoaching Surabaya ini.
Teladan lain yang bisa diambil dari seorang rockstar adalah selain lagu, mereka paham bahwa publikasi wajib hukumnya. Seorang pebisnis juga dituntut untuk paham, bagaimana agar produk atau jasanya dikenal orang.
Business owner harus jago dalam sales dan marketing. Meskipun bisa saja tim kita yang mengerjakan tugas-tugas marketing, branding, dan promotion, namun secara konsep tidak bisa didelegasikan. Tugas sebagai pemilik bisnis, adalah mengetahui bagaimana konsepnya sehingga apa yang tim lakukan bisa tepat sasaran.”

Popstar Punya Penonton, Rockstar Punya Pengikut
Ada yang mengatakan “popstar punya penonton, rockstar punya pengikut”. Fans rockstar tidak merasa hanya melihat konser atau pertunjukan, mereka benar-benar menjadi penonton yang fanatik.
Nilai positif lain yang bisa dipelajari oleh pebisnis dari seorang rockstar adalah mencari loyalis, bukan sekedar customer. Yang harus dilakukan adalah mengubah mindset, hanya mencari short term customers. Pemilik bisnis hendaknya bukan hanya menjual produknya, namun mengetahui bagaimana langkahnya agar customer yang didapat, menjadi loyalist (raving fans) produk dan jasanya.
Selanjutnya, old style vs new style. Jika dulu usaha Anda berada di ‘atas angin’, maka belum tentu berlaku juga untuk sekarang atau ke depannya. Untuk itu, seorang pemilik bisnis harus selalu menemukan cara untuk mengupdate bisnisnya sesuai perkembangan jaman.
Ibarat kolam ikan, yang akan habis jika diambil ikannya secara terus-menerus. Maka harus dipikirkan bagaimana caranya agar ikan menjadi produktif dan menghasilkan, sehingga tidak akan habis, meskipun dipancing terus-menerus.
Kita sering melihat gaya hidup seorang rockstar yang suka berpetualang dan bersenang-senang. Nilai ini juga bisa diambil oleh para pemilik bisnis.
“Teladan pentingnya adalah be above normal sometimes to learn and develop. Jadi, bukan hanya bersenang-senang, namun travel to style and learn. Bagaimana dalam perjalanan, kita bisa mengambil nilai-nilai pembelajaran yang akan mengubah cara pikir terhadap sesuatu, khususnya terkait bisnis. Ya, misal merencanakan travel untuk mempelajari budaya sekaligus bagaimana cara berbisnis baru yang belum kita lihat sebelumnya,” papar coach Han, pelatih bisnis yang punya predikat Platinum Mentor Coach dari ActionCOACH Internasional ini.

Senin, 18 Agustus 2014

LIMA PILAR WAJIB DALAM BISNIS


Dalam menjalankan usahanya, pebisnis wajib memiliki 5 pilar utama, sebagai penyanggah agar bisnisnya bisa terus berkesinambungan. Kelima pilar itu adalah sales (penjualan), cashflow (aliran dana kontan), marketing (promosi), Human Resources (Sumber Daya Manusia), dan Research and Development (Penelitian dan Pengembangan).

           1. Sales (Penjualan)
Sales adalah pilar pertama yang menentukan jatuh bangunnya sebuah bisnis. Tanpa penjualan, sebuah bisnis tidak akan bisa bertahan. Bisnis butuh pembeli dan kita harus pandai menjual. Tentu saja penjualan yang menghasilkan cukup keuntungan.
Bisa dikatakan sales adalah jantung bisnis. Apapun jenis bisnisnya, wajib punya aktifitas sales. Sebab itu, pelaku bisnis harus menciptakan penjualan yang sehat. Sebuah penjualan yang tidak hanya menjadi sumber aliran dana, namun juga menghasilkan keuntungan yang memadai.

2. Cashflow (Aliran Dana Kontan)
Cashflow adalah pilar kedua yang memastikan apakah sebuah bisnis akan mampu bertahan. Tanpa aliran dana kontan yang lancar, maka pemilik usaha harus siap-siap merogoh kantong dan itu berarti hanya bisnis yang bermodal kuat saja yang bisa bertahan lama.
Bisnis yang sehat harus mampu mengelola aliran dana, agar bisa mencukupi kebutuhan pembelian bahan, membayar gaji, dan biaya-biaya operasional lainnya.
(Dari kelima pilar yang ada, sales dan cashflow mutlak dimiliki, karena ketiga pilar lain tidak akan bisa berjalan tanpa kedua hal tersebut).

                  3. Marketing (Promosi)
Marketing adalah pilar ketiga yang membantu proses penjualan. Aktifitas marketing biasanya dipergunakan untuk peningkatan penjualan atau seringkali juga untuk memperkuat persepsi dan positioning merk.
Itulah alasannya, promosi yang dilakukan sebaiknya bisa menggerakkan orang lain untuk melakukan pembelian. Hal-hal yang perlu diperhatikan seringkali disebut dengan AIDA. A (Attractive), I (Interest), D (Desire), A (Action).
Attractive, promosi yang kita tampilkan haruslah bersifat ‘eye catching’. Bagaimana target market langsung tertarik dengan iklan yang diberikan, tanpa harus membaca atau melihatnya lebih seksama.
Interest, sebuah iklan harus menimbulkan keinginan untuk mengetahui lebih lanjut, tentang apa yang disampaikan dalam promosi.
Desire, merangsang target market untuk melakukan action.
Action, langkah-langkah apa saja yang dilakukan untuk merealisasikan pembelian.

4. Human Resources (Sumber Daya Manusia)
Human Resources adalah pilar keempat yang dapat memperkokoh kesinambungan usaha. Proses memilih, memilah dan melatih karyawan wajib dijalankan secara konsisten. Selain itu, remunerasi yang sehat dan wajar juga akan memantapkan bisnis.
Manajemen sumber daya manusia merupakan hal krusial dalam pelaksanaan bisnis. SDM merupakan aset penting bagi perusahaan. SDM yang ‘mumpuni’ bisa menjadi kendaraan untuk mencapai tujuan dan kesuksesan dalam bisnis Anda.

5. Research and Development (Penelitian dan Pengembangan)
Research and Development adalah pilar kelima yang akan membuat bisnis semakin sustainable. Penemuan produk baru dan memasuki segmen pasar yang berbeda selalu diawali dengan inovasi dan keberanian untuk berkreasi dan membuat terobosan.
Selain itu, penelitian dan pengembangan juga dilakukan agar kita bisa mengetahui apa kebtuhan pasar saat itu, apakah produk yang kita keluarkan sudah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar atau tidak.
Bisa dikatakan, riset adalah peta untuk menentukan arah bisnis kita. Data-data yang tercantum dalam hasil riset akan sangat membantu dalam pengembangan bisnis.

Lima pilar yang dijelaskan di atas, mungkin bukan hal baru bagi Anda. Meskipun begitu, Anda belum tentu punya cukup kesabaran dan ketekunan untuk menjalankannya secara konsisten. Pebisnis perlu berlatih terus menerus hingga terbentuk pola pikir yang mantap dan memastikan bahwa bisnisnya tetap berjalan di koridor yang benar.


Ada 100 pertanyaan yang bisa Anda pakai untuk melatih pola pikir. Dan bagi yang berminat, silahkan mengirimkan e.mail atau memberikan tanggapan pada kolom yang telah tersedia.

Jumat, 15 Agustus 2014

Training “ADAPTATION SKILL TO SUCCESS” : MENGENAL SENI PERBEDAAN UNTUK KESUKSESAN



Adaptasi merupakan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Adaptasi juga ditengarai sebagai salah satu faktor yang bisa mendukung kesuksesan. Lalu apa saja kendala dalam menyesuaikan dengan lingkungan yang berbeda? apa saja yang mesti dilakukan agar cepat beradaptasi?
Beberapa masalah ini dikupas oleh Erfina Hakim, pembicara dalam kepada tim Toeng Market, Selasa (12/08/14) lalu. Acara yang bertempat di Ballroom Las Vegas, Office BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) ini merupakan satu dari rangkaian training untuk tim Toeng Market.
Di acara tersebut Erfina bertutur, bahwa masalah dalam melakukan adaptasi, bukan pada orangnya yang enggan atau tidak mau melakukan penyesuaian, namun lebih karena setiap orang terlahir dengan pribadi berbeda.
“Persoalan adaptasi yang utama bukan pada mencari di lingkungan sama. Tapi bicara tentang bagaimana kita bisa menghasilkan dan berkembang optimal justru di tengah perbedaan. Karena dalam kehidupan, kita akan bertemu dengan orang-orang yang berbeda, di lingkungan yang berbeda pula,” papar wanita yang suka bergaya sporty ini.
Lebih jauh, Bu Fina juga menjelaskan beberapa keahlian yang nantinya akan bersaing di abad-21. Pertama, Interpersonal Skills, dimana seseorang mampu membangun, menjaga atau menyelesaikan konflik dalam hubungan.
Kedua, Customer Service Strategy, merupakan kemampuan seseorang dalam menyatukan dan menjalankan strategi pelayanan. Ditandai dengan pemahaman bahwa melayani orang lain merupakan kunci keberhasilan atau kesuksesan.
Berikutnya, Kreatif. Kemampuan seseorang dalam berpikir dan bertindak secara innovatif. Dia bisa menciptakan ide baru yang kreatif dan solutif. Intinya sesuatu yang baru, berbeda, dan bermanfaat.
Keempat, Thinking System (keahlian berpikir), kemampuan seseorang untuk menguraikan dan memahami masalah secara lebih terperinci. Dengan perincian itu, seseorang diharapkan bisa membuat prioritas tugas, berdasarkan tingkat kepentingannya.
Kelima, keahlian Pengembangan Diri. Yaitu, kemampuan dalam menyadari kelemahan dan kekuatan sebagai proses pembelajaran bagi dirinya. Di poin ini, seseorang punya rasa tanggung jawab untuk mengembangkan diri, dan punya inisiatif untuk melakukan proses pembelajaran secara berkelanjutan.
Terakhir, Keahlian Teknis. Dimana seseorang mampu menggunakan pengalamannya dan mengaplikasikan pengetahuan atau keahlian tertentu. Salah satunya ditandai dengan mampu mendemonstrasikan skill yang relevan dengan pekerjaan.
“Dari keenam keahlian di atas, yang lebih fight dan siap bersaing di era dewasa ini, adalah mereka yang punya bekal keahlian beradaptasi.”
Lalu apa saja yang dibutuhkan agar seseorang sanggup bertahan di tengah perbedaan? Diantaranya, sanggup menjalin hubungan dengan siapapun, dapat memberikan respon yang tepat terhadap situasi baru, dan dapat menangani tugas secara bersama-sama tanpa mengurangi kualitas.
Salah satu peserta training, Handoko, bertanya sesuatu yang berbeda itu implementasinya seperti apa.
Implementasinya yaitu keterbukaan menerima perbedaan dan melakukan hal positif yang mungkin belum pernah kita coba sebelumnya.
“Segala apapun di dunia pasti berubah, terbukalah dan jangan pernah takut melakukan sesuatu yang berbeda, karena dalam perbedaan kita belajar seni berhubungan dengan orang lain,” tegas Bu Fina.
Di akhir acara, wanita kelahiran Malang ini membagikan tips untuk mudah beradaptasi. Selain menyadari bahwa hidup tidak bisa sendiri, juga harus sadar bahwa banyak karakter berbeda, yang menuntut kita wajib ‘keluar’ dari zona nyaman. Dalam artian bukan hanya bergaul dengan seseorang di lingkungan yang sama dan sesuai kepribadian kita. Namun lebih jauh, bergaul dengan orang-orang berbeda, untuk belajar melihat dari banyak sudut pandang, yang nantinya bisa membuat diri kita berkembang.
Terakhir yaitu cermat mendengarkan dan mengenali sosok ‘pemegang kunci’. Yang dimaksud dengan pemegang kunci di sini adalah mereka yang paling dominan dalam satu kelompok atau komunitas.
“Semua hal itu harus didukung dengan sikap seperti senantiasa tersenyum dan bergairah, tampil secara natural atau apa adanya, serta memiliki inisiatif untuk membuka percakapan.”
Tantangannya adalah ada orang yang cepat dalam beradaptasi, dan ada pula yang lambat. Lalu termasuk manakah Anda?

Selasa, 12 Agustus 2014

CEO PowerLunch - PARANOIA DIPERLUKAN DALAM KETIDAKPASTIAN BISNIS?


Menyesuaikan diri dan bertahan terhadap segala perubahan, merupakan keharusan agar bisa bertahan hidup. Tak terkecuali dalam dunia bisnis. Pemilik bisnis dituntut untuk bisa menghadapi perubahan, jika tidak ingin bisnisnya ‘tergilas’. Lalu apa yang harus dilakukan agar bisnis tetap bertahan menghadapi perubahan yang terjadi?
Menjawab kebutuhan tersebut, BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan forum para CEO yang terangkum dalam acara CEO PowerLunch. Acara bertajuk “Thriving in Uncertainty” itu bertempat di hotel Shangrila Surabaya, Rabu, 18 Juni 2014.
Coach Suwito Sumargo, selaku pembicara dalam acara ini mengungkap beberapa penelitian Jim Collins, penulis buku “Great by Choice” tentang persamaan yang dilakukan beberapa perusahaan untuk bisa bertahan lama melawan ketidakpastian.
“Ketidakpastian bisnis yang dimaksud bersifat tidak terduga dan secara tiba-tiba. Beberapa penyebab seperti business circle, government policy, dan masih banyak lagi,” tutur coach Suwito.
Sebelum memasuki materi inti, pelatih bisnis yang juga pemilik salah satu franchise otomotif terbesar di Surabaya ini, memutarkan video petualangan Robert Falcon Scott (Inggris) dan Roald Amundsen (Norwegia) yang mengarungi kutub utara.
Apa yang menjadi pembeda dalam perjalanan keduanya, sehingga hanya Amundsen yang berhasil menaklukan kesulitan yang dihadapi dalam perjalanannya. Sedangkan Scott, meskipun telah melakukan persiapan dan usaha keras sebelumnya, namun gagal dan akhirnya meninggal. Apa yang telah dilakukan Amundsen, yang bisa dijadikan pelajaran untuk para pebisnis dewasa ini, dalam menghadapi masa-masa sulit?
Bercermin pada petualangan Amundsen, menurut coach Suwito, ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh pemain bisnis, agar perusahaan bukan hanya mencapai puncak sukses, namun yang terpenting terus bertahan sampai jangka waktu yang tidak ditentukan.
Pertama, menciptakan ‘masalah’ untuk menguji perusahaan, mampu atau tidak dalam melewatinya.
Seorang pemimpin perusahaan besar, bertanya pada tim salesnya: “Apa yang Anda lakukan bila bulan ini tidak ada penjualan sama sekali yang masuk?”. Tim salesnya mencoba menjawab dengan memberikan teknik-teknik menjual untuk mendatangkan konsumen. Sang pemimpin pun memberikan kesempatan pada mereka untuk mencoba cara-cara yang diberikan.
Jadi, pada poin ini, diharapkan perusahaan menjadi lebih peka, melakukan persiapan dan bisa menyikapi saat situasi tidak terduga. Tepatnya, bisa menyelesaikan masalah, ketika berada di luar zona nyaman.
“Seperti ungkapan sedia payung sebelum hujan. Ungkapan ini menjadi tidak berarti ketika kita tidak pernah mencoba atau menguji payungnya, tahan atau tidak,” jelas coach Suwito
Kedua, bergaul dengan orang-orang yang punya passion sama.
Amundsen do this. Selain melatih fisik, Amundsen belajar dari orang-orang Eskimo. Dia bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan Eskimo, sehingga mampu bertahan dan berhasil mengarungi kutub utara.”
20 Miles March
Terakhir, ada sesuatu yang merangsang untuk menuju southpole. Menetapkan apa yang menjadi target kita, baru berlatih ke arah sana. Hal pertama untuk mencapai southpole, melakukan disiplin yang tinggi (Fanatic Discipline). Jadi benar-benar fanatik dalam disiplin, terarah, dan tetap konsisten dalam keadaan apapun.
Dari sekian banyak perusahaan yang diteliti oleh Jim Collins, yang sukses menaikkan nilainya, mempunyai ciri melakukan disiplin ’20 miles march’ seperti yang dilakukan Amundsen.
Diceritakan, Amundsen meletakkan tenda perbekalan setiap 20 mil. Kenapa 20 mil? Ini didasarkan pada penelitian dan survey yang dilakukannya sebelumnya. Untuk mencapai southpole atau tempat yang dituju, dia konsisten melakukan perjalanan setiap 20 mil sebelum kemudian beristirahat di tenda. Meski cuaca sedang bagus pun, dia tidak akan menambah panjang perjalanannya, tapi tetap 20 mil.
“Konsistensi atau keteraturan itu sangat penting. Tidak mudah dilakukan jika tidak dibiasakan. Namun perlu diperhatikan, untuk menjadi habit, harus punya pengamatan terlebih dulu. Inti dari 20 miles march itu adalah bersifat teratur dan tetap dengan melakukan test and measure sebelumnya,” papar coach Suwito.
Lalu tantangan apa saja yang biasanya dihadapi? Disinggung tentang hal ini, pria murah senyum ini menjawab, ada dua hal yang menjadi tantangan dalam 20 miles march.
“Pertama yaitu komitmen dalam menjalankan 20 miles march, seberat apapun keadaannya. Kedua, bagaimana ketika dalam kondisi bagus harus tetap berhenti di setiap ’20 mil’.”
Poin kedua yang harus dilakukan untuk mencapai southpole adalah Empirical Creativity. Kreatif yang dimaksud bukan hanya sekedar bersifat kreatif, atau lain daripada yang lain. Melainkan, harus dibarengi dengan melakukan penelitian data-data secara kontinyu.
Kebiasaan yang dilakukan antara lain dengan mengumpulkan data (pencatatan) sedari perusahaan masih kecil untuk menyusun statistik. Selain sebagai komparasi, hal ini memudahkan Anda menentukan bullet atau peluru yang akan dijadikan cannon ball.
Bullet merupakan wujud dari test and measure dalam skala kecil, yang ditembakkan sampai tepat sasaran. Misal, ada satu perusahaan konsultan bisnis yang ingin mengetahui, media apa yang paling efektif dan tepat untuk promosinya. Maka mulailah ia memasang iklan di berbagai media, sampai menemukan media apa yang diinginkan.
Setelah itu, barulah akan diberdayakan seluruh daya upaya ke satu tujuan tersebut. Itulah yang disebut cannon ball. Bullet sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan 3 pertimbangan, yaitu biaya yang rendah (low cost), resiko yang kecil (low risk), serta gangguan yang kecil (low distraction).
Terakhir, Productive Paranoia. Paranoia merupakan satu keadaan dimana seseorang menaruh curiga berlebihan terhadap sesuatu. Hal ini menjadikan seorang pelaku bisnis sulit mencapai mimpinya, karena tidak pernah punya keputusan final. Selalu berubah, karena kecurigaan atau ketakutannya.
Untuk menghadapi ketidakpastian dalam bisnis, paranoia memang diperlukan, bukan ketakutan yang menjadikan stagnan, namun paranoia yang masih produktif. Jadi bagaimana seorang CEO kemudian menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi ‘badai’ yang akan dihadapi.
Beberapa langkah yang bisa diterapkan dalam productive paranoia diantaranya menyediakan uang cash yang cukup dan cadangannya (build cash reserves and buffers). Berapa banyak? Tentunya harus ditakar dulu agar sesuai dengan kebutuhan.
Setelah itu Zoom Out To Zoom In. Artinya, melihat sesuatu secara keseluruhan atau lebih luas, sebelum akhirnya lebih detail dan spesifik dari jarak dekat. Contohnya, melihat kompetitor kita mana saja, baru kemudian kompetitor utama yang mana.
Di akhir acara, para peserta diminta untuk memberikan apa yang mereka dapat dalam CEO PowerLunch Club kali ini. Satu diantaranya, Erick Robertan dari CV. Era Prima Jaya.
“Saya senang mengikuti acara ini. Temanya mengingatkan saya dengan apa yang pernah dikatakan oleh salah seorang pengusaha top: kepastian adalah ketidakpastian. Selain itu, saya tertarik dengan 20 miles march. Membuat saya jadi berpikir lebih spesifik, dan menggali apa yang akan kita lakukan, salah satunya dengan membuat list,” papar pria berkacamata ini panjang lebar.
Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk Amundsen atau Scott? Apakah Anda lebih memilih menyelesaikan masalah ketika masalah itu terjadi? Atau meng’create’ masalah kecil untuk ‘latihan’ sebelum Anda melewatinya?

Sabtu, 26 Juli 2014

FORUM RAMADHAN - BELAJAR PRINSIP RASULULLAH DARI KACAMATA BISNIS


Foto Bersama Para Coaches BARACoaching, Nara Sumber, dan Peserta Forum.
Ketotalan dan keprofesionalan Rasulullah dalam menjalankan pekerjaan merupakan salah satu teladan penting yang bisa diambil untuk dijadikan modal dalam bersaing di era bisnis sekarang ini. Hal ini disampaikan oleh coach Han Budiyono selaku salah satu pembicara dalam Forum Intelektual Bisnis bertajuk “Teladan Kepemimpinan Rasulullah bagi Pebisnis Abad-21, Kamis, 17 Juli 2014 lalu.
Acara yang diadakan untuk memperingati bulan suci Ramadhan ini, juga sebagai bentuk kegiatan ActionCOACH BARACoaching Surabaya sebagai salah satu lembaga yang mengedepankan pengembangan dan pembelajaran bisnis. Bertempat di Office BARACoaching, forum ini dihadiri oleh para pemilik bisnis, pegiat media, sampai para profesional dari berbagai bidang usaha.
Dalam salah satu diskusi, Adirifi, salah satu peserta dari SHE FM bertanya tentang seberapa penting sifat sabar dalam menunjang kesuksesan. Menanggapi hal tersebut, Kris Dwiantoro, sebagai salah satu nara sumber bertutur bahwa sabar merupakan kunci kehidupan. Sabar dibedakan menjadi beberapa tingkatan, diantaranya sabar dalam menerima ujian dan sabar dalam menjalankan perintahNya. Berbicara tentang sabar bukan hanya kemampuan untuk menahan diri, namun juga sabar yang tetap aktif.
“Sabar yang dimaksud disini adalah sabar yang tetap aktif. Aktif berusaha mencapai tujuan, namun hasilnya tetap hak Allah yang menentukan,” tegas pria yang juga pemilik PT. Nisrina Indonesia (Nisrina Hijab) ini.
Sependapat dengan itu, Yasir Salim, nara sumber kedua dalam forum menjelaskan, sabar adalah sikap menerima masalah yang terjadi, tapi tetap aktif mencari solusinya. Sebagai salah satu pengusaha kurma terlengkap di Indonesia timur, pemilik Lawang Agung ini juga pernah menghadapi masalah ketika menghadapi komplain dari pelanggan, bahkan disampaikan lewat media massa.
“Istri saya waktu itu sempat tanya kok masih bisa senyum. Justru kalau kita panik, kita malah tidak bisa mencari jalan keluarnya. Dengan sabar dan menahan diri kita memahami ada hikmah atau jalan keluarnya. Ini kita jadikan sebagai ajang untuk introspeksi diri, dan juga kesempatan untuk menghandling komplain pelanggan dengan baik, sehingga mencapai kepuasaan pelanggan,” papar pria yang mengaku memulai usaha dari nol ini panjang lebar.
Menyikapi tentang sikap sabar dalam bisnis, coach Han, sebagai salah satu pelatih bisnis Internasional lebih menjelaskan dari sisi bagaimana agar sabar itu bisa terbentuk.
“Sabar itu merupakan kemampuan untuk tetap tenang meskipun kondisi melawan kita. Ada dua hal yang perlu diketahui agar kita bisa sabar. Pertama, tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kedua, mengetahui kemana ujungnya dan bagaimana cara menuju ke sana atau mencapainya. Nah, permasalahan dari sabar itu, sudah tahu jatuh, ada masalah, tapi tidak tahu ujungnya. Itu kenapa orang itu jadi emosi dalam menghadapi masalah,” tutur pelatih bisnis yang juga pendiri BARACoaching (ActionCOACH East Java-Bali) ini.

Silaturahmi dalam Bisnis
Selain sabar, salah satu kunci sukses bisnis dan dakwah Rasulullah adalah bersilahturahmi. Hal ini juga ditanyakan oleh Aries Syadzarwan dari Suara Surabaya sekaligus sebagai moderator acara.
Bila dihubungkan dengan praktek yang sudah dilakukan dalam bisnis, Pak Kris dari Nisrina mengungkapkan, selama ini pihak Nisrina banyak mendatangi perusahaan dan kantor-kantor untuk mengenalkan tentang hijab stylish. Jadi awalnya yang semula tdak tahu menjadi tahu. Dan keuntungannya, mereka juga mengenal lebh dekat tentang Nisrina.
“Dalam hadits disebutkan, bahwa shadaqah dan silahturahmi itu bisa memperbanyak rezki. Selama ini, selain mendatangi kantor-kantor, kita juga bekerja sama dengan sekolah-sekolah kejuruan, terutama yang punya jurusan tata busana untuk kita kenalkan hijab, sebagai salah satu ekstra kurikuler. Selain itu, kita juga selalu mengadakan gathering dengan agen dan distributor kita,” ungkap pria yang akrab disapa pak Kris ini.
Lalu kenapa dalam bisnis silahturahmi atau networking sering tidak berhasil?
“Satu elemen silahturahmi yang tidak boleh tertinggal adalah ikhlas, tidak dimulai dengan embel-embel. Kalau tidak begitu, maka keliatan sekali si pelaku lebih mengedepankan kepentingannya, tanpa peduli kepentingan calon partner,” jelas coach Han terkait hal ini.
Meneladani nilai-nilai Rasulullah dalam kehidupan, memang tidak akan pernah ada habisnya. Selama menjadi pedagang, Rasulullah dkenal dengan julukan Al Amin, artinya dapat dipercaya. Masalahnya, apakah kejujuran masih bisa diterapkan dalam bisnis dewasa ini?
“Dalam hal apapun, jujur adalah harga mati,” tegas Pak Kris. “Menurut saya Rasul adalah seorang yang jenius. Rasul melakukan hal berbeda dari pedagang lain. Dalam menawarkan barang, berbeda dengan pedagang lain, beliau memberi tahu dia membeli dengan harga berapa, terserah pembeli membeli dengan harga berapa” tambahnya.
Dalam berbisnis, pria berkaca mata yang senang tampil casual ini pun menerapkan sikap jujur dalam dunia bisnis. Salah satunya dengan membuka showroom barang produksi Nisrina yang ‘cacat’.
“Jadi bila ada cacat atau apa, bukan kita sembunyikan. Kita punya sendiri toko khusus untuk menjual barang-barang itu. Pengunjungnya pun tidak kalah ramai.”
Senada dengan itu, Pak Yasir juga berkata bahwa selama ini dia berusaha untuk menyampaikan informasi apa adanya kepada customer. Pria berdarah Arab ini juga mengungkap, banyak diajarkan tentang nilai kejujuran sedari kecil oleh sang Ayah.
“Kita menyampaikan informasi apa adanya kepada customer. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Dalam dunia usaha misalnya, kurma yang kita jual selalu ada contohnya. Jika ada kurma yang tidak sesuai dengan contohnya, kita sampaikan. Jujur sebenarnya adalah kunci sukses Rasul dalam berdagang. Beliau menyampaikan, syarat dalam jual-beli, penjual dan pembeli harus sama-sama ikhlas. Kalau pembelinya tidak ikhlas maka hukumnya tidak sah. Dan penjual makan hak milik orang lain.”
Di akhir acara, coach Han memberikan kesimpulan tentang teladan Rasulullah apa saja yang bisa diambil untuk dijadikan modal dalam bersaing di era bisnis dewasa ini.
Yang utama adalah ketotalan dan keprofesionalannya dalam mengelola.  Jarang ada tokoh yang dikenal sebagai tokoh agama, sekaligus tokoh sekuler yang baik. Karena Rasulullah, profesional saat menjalankan usaha dan profesional saat berdakwah.
“Dalam dunia bisnis sekarang profesional seperti apa? Profesional dalam marketing, HRD, tim building, operasonal, sampai financial. Nah, ketika kita membenahi ini semua, kita bisa bersaing, dalam artian, bisa bertahan terhadap pukulan. Baru setelah melewati itu, kita bisa berekspansi,” ungkap coach Han.
Lebih lanjut, coach Han bertutur, dalam dunia bisnis, lawan kita adalah diri kita sendiri. Mengutip seorang Anthony Robbins, tugas utama dalam kehidupan adalah “be the best we can be”. Menjadi versi terbaik dari diri kita. Bukan menjadi lebih baik dari orang lain.
“Jadi selain kejujuran, maka  prinsip Rasulullah yang bisa kita teladani adalah totalitas dan profesionalisme beliau dalam semua bidang kehidupan, sehingga menjadi sosok yang sempurna,” tutup coach Han.
Selain forum diskusi dengan pemilik bisnis, acara ini dilanjutkan dengan buka bersama peserta dan anak yatim dari Panti Asuhan Assakinah Surabaya.

Senin, 14 Juli 2014

3 PROBLEM UTAMA DALAM PERUSAHAAN KELUARGA


Perusahaan keluarga merupakan cikal bakal berbagai perusahaan multinasional, bahkan yang mampu menembus usia puluhan hingga ratusan tahun. Meskipun begitu, mengelola perusahaan keluarga ternyata punya tantangan yang berbeda dengan perusahaan modern pada umumnya.
Ada 3 problem utama yang harus diperhatikan, agar tidak tergerus ‘arus’ persaingan dunia bisnis. Mulai dari perencanaan suksesi yang matang, tata kelola yang profesional, sampai masalah kesejahteraan.

1.      Suksesi
Menentukan anggota keluarga yang akan menduduki pucuk pimpinan pada suatu perusahaan keluarga, seringkali merupakan masalah yang pelik. Hal ini terjadi karena adanya gap antara orang tua yang sekarang memimpin dengan anak atau calon penggantinya. Gap tersebut antara lain dalam hal kapasitas, kapabilitas, karakter, kepemimpinan (leadership) ataupun keterampilan manajerial.
Demi menghindari masalah diatas, banyak orang tua yang mempersiapkan anaknya dengan lebih sungguh-sungguh. Antara lain menyekolahkan mereka ke sekolah-sekolah terbaik, termasuk mengirim ke luar negeri.
Ada juga orang tua yang memberikan kesempatan kepada anaknya untuk bekerja di perusahaan sendiri sejak dini atau usia muda. Bahkan mengharuskan anaknya untuk memulai karir dari jenjang terbawah.
Selain masalah gap, hambatan lain dalam suksesi, yaitu karena adanya budaya timur yang mengutamakan anak laki-laki (dan anak sulung) saja yang berhak sebagai penerus (pimpinan) pada perusahaan keluarga.
Perlakuan istimewa terhadap calon penerus ini tak jarang menimbulkan gesekan dengan para professional yang kadang-kadang justru memiliki banyak kelebihan atau keunggulan.
Masalah lain yang sering dikeluhkan adalah perbedaan karakter antara orang tua dengan calon penerusnya. Bila sang orang tua punya daya juang yang hebat karena memang ditempa oleh kehidupan yang penuh tantangan, maka sebaliknya si calon penerus justru hidup berkelimpahan sehingga tidak memiliki ketangguhan mental.
Dibanding 2 poin sebelumnya, pembentukan karakter pada calon penerus merupakan hal pertama yang harus diperhatikan. Isu gender dan tradisi timur lain mungkin bukan merupakan masalah utama.
Sedangkan tentang pemilihan sekolah yang baik, tampaknya lebih karena alasan lingkungan ketimbang mutu pendidikannya. Karena lingkungan inilah yang membentuk karakter seseorang.
Lalu apa yang bisa dikerjakan orang tua dalam mempersiapkan anak yang akan menjadi penerus?
Pembentukan karakter harus dilakukan sejak usia dini dan bahkan (bila perlu) mengharuskan si anak untuk bekerja di perusahaan lain, demi membentuk karakter, terutama sikap disiplin dan berani bertanggungjawab. Menyerahkan pembentukan karakter ke tangan orang lain yang mampu lebih tegas ketimbang orang tua kandung yang cenderung memanjakan.

2.      Tata Kelola dan Keterlibatan Anggota Keluarga
Seringkali terjadi, anggota keluarga (saudara kandung, sepupu atau paman-bibi) terlibat sejak awal dalam perusahaan keluarga. Awalnya keterlibatan ini memang menguntungkan, karena ada rasa saling percaya satu sama lain.
Permasalahan baru muncul ketika para anggota keluarga ini memperoleh keistimewaan yang tidak berdasar atau secara tidak fair. Keterlibatan anggota keluarga ini juga bisa berdampak makin buruk, bila mereka lebih mengedepankan hak selaku pemilik perusahaan.
Perusahaan keluarga yang dikelola secara tradisional, seringkali tidak mempunyai batasan kepemilikan. Berbeda dengan perusahaan-perusahaan modern yang kepemilikannya berdasarkan atas saham dan mempunyai struktur organisasi yang lebih profesional.
Untuk menghindari masalah ini, maka perusahaan keluarga sudah selayaknya menerapkan tata kelola yang lebih profesional, memiliki struktur organisasi, job description, dll., yang harus dipatuhi siapapun, termasuk anggota keluarga.
Tata kelola yang baik juga akan memberikan imbalan (= gaji, insentif, bonus, dll.) yang wajar dan sesuai dengan kapasitas, kapabilitas, kompetensi dan kinerja siapapun, termasuk anggota keluarga.

3.      Kesejahteraan
Salah satu cita-cita pendiri perusahaan keluarga adalah menjaga agar anak (keturunan) tetap dapat hidup sejahtera. Keuntungan yang dihasilkan perusahaan menjadi sumber kesejahteraan anak-cucu.
Hal ini merupakan masalah pelik, karena seringkali generasi penerus cenderung menikmati dan tidak menjaga kesinambungan perusahaan. Statistik mengungkapkan bahwa amat sedikit perusahaan keluarga yang bisa berlanjut sampai generasi ke-tiga (12%), apalagi sampai generasi ke-empat (3%).
Persaingan yang semakin ketat, juga menggerus keunggulan perusahaan keluarga. Pertumbuhan perusahaan yang melambat, mengurangi kemampuan perusahaan dalam membagikan lebih banyak deviden.
Merosotnya kesejahteraan bagi anggota keluarga, semakin diperparah bila terjadi perebutan kekayaan diantara anggota keluarga.

Penulis: Coach Suwito Sumargo**
** The Winner Supprotive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award Indonesia 2014)