business-forum

coaches

Jumat, 02 Mei 2014

Motivational Session - UNGKAP SENI MENCARI ‘JODOH’ DALAM KERJA


Mencari kecocokan dalam kerja, sama seperti ketika kita mencari jodoh dalam hidup. Jadi perlu proses penyesuaian tiada henti sebelum menuju kebahagiaan atau kepuasan dalam kerja.
Hal itu adalah inti dari sesi motivasi bertajuk “Happiness At Work”. Acara yang diselenggarakan sebagai bagian dari gathering karyawan PT. Aneka Isolasi ini menghadirkan Erfina Hakim, selaku pembicara sekaligus Head of Training Division BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali).
Bertempat di Rumah Makan Agis Ahmad Yani Surabaya, Kamis (24/04/14), acara ini diikuti oleh sekitar 70 peserta jajaran manajemen, terdiri dari CEO dan karyawan PT. Aneka Isolasi. Di awal acara, Erfina bertutur bahwa inti dari happiness at work adalah seni mengubah ketidakpuasan kerja menjadi sebuah happiness, dimana hal itu tidak hanya dilihat dari segi materi atau besar kecilnya gaji semata.
“Saat ini masih banyak pemikiran bahwa kebahagiaan dan kepuasan dalam kerja itu asalnya dari segi financial atau materi saja. Biasanya hal ini sering dikaitkan dengan besar kecilnya gaji yang diterima. Padahal itu bukan faktor terbesar penyebab ketidakpuasan dalam kerja,” tutur Erfina tentang tema acara.
Selanjutnya, wanita yang akrab disapa Fina ini memaparkan beberapa hal yang menjadi pemicu atau sumber ketidakbahagiaan dalam kerja. Diantaranya, komunikasi, perhatian, dan penghargaan yang jarang diberikan oleh atasan atau rekan kerja.
“Penghargaan di sini bukan hanya bersifat fisik saja, tapi juga memberikan pujian-pujian kecil. Misal, berikan tepukan di pundak mereka, sebagai apresiasi bangga dan puas atas hasil kerja mereka,” kata Fina.
Pemicu lain adalah konflik internal sesama rekan kerja. Biasanya, kondisi ini semakin membawa ketidaknyamanan karena kurang adanya inisiatif kedua belah pihak (yang terlibat konflik) untuk menyelesaikan masalah.
“Sikap terbuka sangat diperlukan dalam situasi seperti ini. Jangan dimulai dengan siapa yang benar atau siapa yang salah. Tapi mulailah dengan mindset “oh, mungkin saya tidak tahu, tapi dia yang tahu yang saya tidak tahu”. Dengan sikap terbuka diharapkan kita bisa punya sudut pandang berbeda, sekaligus bisa mencairkan dan meng’clear’kan masalah,” jelas wanita yang punya hobi travelling ini.
Lebih jauh, Fina menegaskan bahwa perusahaan harus hati-hati dengan maksud ‘happiness’ di sini. Happiness dalam kerja jangan diartikan dengan sekedar perasaan nyaman dengan culture dan lingkungan kerja yang sehat.
“Konsep happiness at work yang sebenarnya adalah bukan hanya bekerja, namun juga berkinerja. Bagaimana karyawan menemukan rasa memiliki sebuah perusahaan atau bisnis layaknya owner. Seperti, setiap tindak tanduknya memperhatikan efektivitas kerja. Selain itu, mengingatkan diri untuk budaya disiplin menggawangi proses, terus melakukan action (pencatatan-perbandingan-evaluasi dan penyesuaian) serta fokus pada target tujuan prioritas.”
Ada 5 poin happiness at work yang dipaparkan dalam forum ini. Tiga hal paling penting, diantaranya pertama berpikir dalam bertindak dengan tidak memperhatikan kemudahan bagi diri sendiri saja, namun juga bagaimana memudahkan pekerjaan rekan kerja yang lain.
Kedua, jadikan ketidakpuasaan dalam bekerja sebagai sebuah pemantik dan dorongan, untuk bangkit dan menemukan pembuktian serta hasil yang lebih baik.
Ketiga, miliki waktu refreshing sejenak bersama rekan-rekan kerja di luar jam kantor. Interaksi positif dari hubungan di luar jam kantor, bukan hanya me’lunturkan’ kepenatan kerja, tapi juga bisa menemukan ide baru, sekaligus menjadi pembentuk budaya kerja yang sehat.
Di akhir acara, Erfina kembali menegaskan bahwa mencari kecocokan kerja itu hampir sama dengan mencari jodoh dalam hidup.
“Setiap personal atau karyawan menyadari bahwa dalam bekerja, sebenarnya juga mencari jodoh atau dengan kata lain kecocokan. Karenanya tidak ada yang namanya karyawan maupun perusahaan ideal. Semuanya berproses dalam penyesuaian tiada henti.”

Senin, 07 April 2014

Forum MGDBGT : KARYAWAN BUKAN HANYA ASET, TAPI ‘PARTNER’ BISNIS


Pemilik bisnis bukan hanya wajib menguasai seluruh aspek bisnis secara seimbang. Namun dibutuhkan juga sinergi dari sebuah tim, yang idealnya terdiri dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang sudah sejalan dengan visi perusahaan. Dalam artian, mereka punya tanggung jawab dan menikmati pekerjaan layaknya pemilik perusahaan, untuk membuat perusahaan mampu bertahan di tengah atmosfer ‘hypercompetition’ demi tujuan keberhasilan yang berkelanjutan.
Hal itu dipaparkan Erfina Hakim, selaku pembicara dalam forum “Membentuk Garda Depan Berdaya Gedor Tinggi”, Kamis (03/04) kemarin di Master Office ActionCOACH BARACoaching PTC Surabaya.
“Dalam situasi yang sangat ekstrim saat ini, banyak pemilik bisnis yang hanya menerima dan memaklumi keadaan, ketika perusahaan sedang dalam keadaan ‘sulit’. Misal “Ah, sepi, maklum habis lebaran, menjelang pemilu…” dan lain sebagainya. Padahal tidak sepenuhnya begitu. Kebanyakan, ada kelalaian sehingga proses kerja tim tidak optimal. Nah, dengan mengikuti forum ini, peserta bisa sharing dan punya pandangan bagaimana membekali tim mereka untuk berhubungan dengan customer dan mendatangkan hasil untuk perusahaan setiap saat,” jelas wanita yang juga sebagai Head of Training Division BARACoaching Surabaya ini.
Beberapa hal yang dipelajari dalam forum ini, diantaranya cara efektif meningkatkan kesetiaan dan produktivitas kerja, trik mendelegasikan tugas dan bagaimana tim menikmati pekerjaan layaknya owner, sampai teknik manajemen untuk mencetak SDM unggul.
“Sebagian besar masalah yang berhubungan dengan tim bisnis adalah salah pilih kandidat dan ketimpangan dalam pendelegasian tugas. Karenanya, penting untuk memahami karakter calon karyawan saat proses interview. Bisa dengan melakukan tes karakter DISC dan VAK (Visual Auditory Kinesthetic),” ungkap Erfina tentang salah satu trik mendelegasikan tugas ke anak buah.
Lebih lanjut, sesuai dengan temanya, wanita yang memiliki selera humor tinggi ini juga memaparkan tentang 4 kunci membentuk garda depan berdaya gedor tinggi yang dianggap sebagai nafas atau mutlak dipunyai sebuah perusahaan. Pertama adalah berkaitan dengan hal personal. Yang dilakukan dalam poin ini adalah mengarahkan SDM, memberi support dan solusi atas permasalahan yang anak buah hadapi, sampai pemberian reward atau penghargaan.
“Penghargaan di sini bukan hanya bersifat fisik saja, tapi juga memberikan pujian-pujian kecil. Misal, berikan tepukan di pundak mereka, sebagai apresiasi bangga dan puas atas hasil kerja mereka,” tambah Erfina.
Poin selanjutnya yang perlu diperhatikan yaitu kompensasi yang layak pada karyawan, serta pemberian komisi yang memberikan challenge (tantangan) buat mereka.
Ketiga yaitu alignment (penyelarasan/ penyesuaian). Berikan akses pada karyawan untuk berkinerja. Jangan pernah menutup mata atau bahkan pura-pura tidak mengerti terhadap prestasi mereka. Dalam prakteknya, bisa dengan memberikan jabatan atau tanggung jawab lebih tinggi yang sesuai dengan perkembangan kemampuan mereka dalam kerja.
“Jika ketiga hal di atas sudah diterima oleh karyawan, bukan tidak mungkin setiap individu dalam tim akan memberikan high performance untuk perusahaan. Intinya karyawan jangan dianggap sebagai aset saja, tapi partner atau mitra pemilik bisnis dalam meraih sukses, ” tegas wanita yang akrab dipanggil Fina ini.
Selain meruipakan ajang diskusi bisnis, acara ini juga sebagai preview program training, yang di tahun 2014 ini diperkenalkan secara terbuka (umum).
“Selama ini training dalam lembaga kami, merupakan bagian dari program coaching, sehingga sifatnya hanya terbatas untuk para klien beserta jajaran manajemennya. Dengan semakin banyaknya permintaan, kami memberikan kesempatan untuk publik mendapatkan layanan program training lepas tanpa harus melalui coaching terlebih dulu,” tutur Fina di sela-sela akhir acara.

Jumat, 21 Maret 2014

CEO PowerLunch - DISIPLIN TINGGI PEMBENTUK BUDAYA PERUSAHAAN BESAR

Humphrey Rusli (pembicara dan COO BARACoaching Surabaya) bersama para peserta CEO PowerLunch.

Selain mengetahui perbedaaan mendasar antara disiplin dan budaya, seorang pemilik bisnis juga harus mengetahui apa yang menjadi cue (stimulan) dari pembentukan budaya, bagaimana proses dan cara menerapkannya, dan seperti apa reward yang diperoleh.
Itulah inti dari forum CEO PowerLunch yang diadakan oleh BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java dan Bali) pada Rabu (19/03) lalu. Bertempat di hotel Shangrila Surabaya, acara bisnis rutin ini bertajuk “Building Strong Discipline and Great Culture”.
Humphrey Rusli selaku pembicara sekaligus Chief Operating Officer (COO) BARACoaching Surabaya bertutur, forum CEO PowerLunch merupakan sebuah forum atau komunitas bisnis tempat bertemunya para CEO atau pemilik bisnis.
“Di sini nantinya para pemilik bisnis bisa networking, sharing tentang pengalaman bisnis, serta belajar bersama tentang isu dan problem bisnis terkini,” tutur pria yang akrab dipanggil coach Humphrey ini.
Di awal forum, coach Humphrey menjelaskan perbedaan antara disiplin dan budaya. Dikatakan masih tingkat disiplin, jika seseorang masih menggunakan logika dan mengerjakan sesuatu dengan terpaksa.
“Disiplin yang kuat merupakan jembatan untuk menuju budaya perusahaan yang kuat juga. Dengan rutin dilakukan dan disiplin tinggi, apa yang awalnya kita lakukan dengan terpaksa, akan menjadi habit atau kebiasaan dengan sendirinya. Jadi disiplin ini lebih pada prosesnya untuk sampai menjadi budaya yang sudah tidak lagi memaksa” papar coach Humphrey.
Menurut coach Humphrey, ada 3 bentuk disiplin. Disiplin menemukan cue, disiplin menemukan proses, dan disiplin menemukan rewardnya.
Cue merupakan stimulan untuk melakukan sesuatu sampai menjadi budaya. Ada 5 kemungkinan terbentuknya cue. Diantaranya lokasi (where are you), waktu (time), emotional state, lingkungan (other people/ who’s around) dan immediate preceding action (tindakan atau kegiatan pemicu sebuah kebiasaan). Sedangkan reward bukan hanya berupa penghargaan berupa ‘fisik’ semata, namun bisa dalam bentuk kepuasan bagi pelakunya.
Para peserta antusias mengikuti forum ini, karena selain memberikan materi, coach Humphrey juga memberikan study kasus bisnis dan membentuk kelompok-kelompok, agar para pengusaha bisa saling berdiskusi membahas contoh kasus yang diberikan.
“Setelah mengikuti forum ini, saya berharap, para pemilik bisnis atau peserta paham bahwa budaya adalah habit yang sudah terus-menerus dilakukan sebelumnya. Budaya itu ada ilmunya, dari sini setidaknya mereka mampu membuat blue-print serta membentuk budaya perusahaan yang bagus dan profitable,” tegas pria yang pernah menjadi top number #1 International Business Coach Juli 2013 ini.
Selain diadakan di Surabaya, forum CEO PowerLunch juga diadakan serentak di Jakarta, pada waktu yang sama. 

Sabtu, 08 Maret 2014

Kerjasama SURYA - TEKANKAN PENTINGNYA SISTEM DEFAULT


Jangan pernah mengubah sistem tanpa melakukan pencatatan atau dokumentasi sistem sebelumnya. Itulah inti dari edukasi bisnis yang diadakan oleh Harian SURYA bekerjasama dengan BARACoaching (ActionCOACH East Java-Bali), Rabu (26/02) lalu. Acara yang bertempat di kantor pusat Harian SURYA ini bertajuk “Designing Your Business To The Next Level”.
“Pada intinya, sistem itu adalah aturan main. Ada beberapa kendala atau tantangan ketika sistem baru dibuat. Salah satu tantangan terbesarnya adalah adanya resistensi terhadap perubahan sistem,” kata Humphrey Rusli selaku COO (Chief Operating Officer) BARACoaching sekaligus pembicara dalam acara ini.   
Mengatasi hal tersebut, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan ketika membuat satu perubahan atau sistem baru. Dasar pertama yaitu mengetahui cara kerja kita seperti apa. Selain mengetahui, manajemen juga harus mengakui kerja timnya. Setelah itu membandingkan (compare) cara kerja sekarang dengan tercapainya tujuan. Terakhir, melakukan koreksi berupa penambahan dan pengurangan, sehingga cara kerja menjadi lebih efektif dan efisien.
Lalu bagaimana langkah-langkah untuk menentukan cara kerja? Pria yang akrab dipanggil coach Humphrey ini menyebut, diantaranya dengan menggambar organogram (diagram organisasi), membuat tahapan atau arus kerja (flowchart), mengikutsertakan seluruh tim, dan mengetahui aktivitas atau kerja tim.
“Kita bisa meminta tim membuat laporan kerja harian atau semacam daily report, untuk mengetahui secara real apa yang mereka lakukan. Komunikasi secara terbuka untuk mengetahui kondisi emosional tim. Di ActionCOACH, cara untuk mengetahui hal tersebut dikenal dengan metode ‘Your Team 40 Points’,” papar coach Humphrey.
Your Team 40 Points masing-masing berisi tentang 10 pekerjaan yang membuang waktu mereka, 10 hal yang paling membuat mereka stres, 10 hal yang membuat mereka merasa produktif, dan 10 hal yang membuat mereka senang atau gembira (happy).
Di acara yang dihadiri oleh tim manajemen SURYA ini, coach Humphrey menekankan perlunya membuat default terhadap sistem yang dibuat. Caranya dengan mencatat atau mendokumentasikan sistem sebelum-sebelumnya. Hal ini bertujuan agar perusahaan punya back up plan, ketika terjadi problem dengan sistem baru, sehingga bisa menggunakan atau kembali ke sistem yang lama dengan tepat.
Adi Sasono, Manager Produksi harian SURYA menanyakan kapan default dilakukan. Pada saat krisis atau ketika perusahaan masih dalam kondisi baik-baik saja sekalipun.
Default wajib dilakukan ketika perusahaan menginstal sistem baru. Atau paling tidak minimal 1 sampai 2 tahun sekali. Jadi perusahaan semestinya mengecek secara rutin,” jawab coach Humphrey.
Selain teknik mengubah sebuah sistem tanpa beresiko mengacaukan kondisi pada saat itu, forum ini juga membahas tentang kontrak posisi (positional contact) dan bagaimana mengaplikasikan pada perusahaan sehingga tim bisa bekerja optimal, dan pemahaman KPI (Key Performance Index) yang benar, untuk hasil lebih terprediksi.
“Saya merasa tim SURYA memiliki kreativitas tinggi dan punya potensi untuk menjadi calon leader yang baik. Meskipun di awal forum sepertinya enggan, namun saya sangat apresiatif, karena pada akhirnya mereka kooperatif, mau belajar dan diskusi,” jelas coach Humphrey di akhir acara.
Sepakat dengan itu, Puput Rodiar Sari dari tim harian SURYA berkata bahwa dirinya dan tim merasa edukasi ini bermanfaat dan menambah pengetahuan, khususnya terkait dengan sistem perusahaan. Meskipun waktunya pendek, namun materi dan cara penyampaian yang diberikan bagus. Dia berharap dari diskusi dan sharing yang dilakukan, tim SURYA bisa menerapkan, sehingga akan membawa hal positif bagi perusahaan. 

Rabu, 05 Maret 2014

BOOK CLUB - KECERDASAN FINANSIAL : ILMU KEKAYAAN YANG TIDAK DIAJARKAN DI SEKOLAH DAN KAMPUS



Jum’at (21/02/14), BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java – Bali) mengadakan acara Book Club. Acara yang rutin diadakan setiap bulan itu, hadir dengan membedah buku “8 Intisari Kecerdasan Finansial” yang ditulis William Tanuwidjaja.
Kecerdasan Finansial merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, menciptakan, dan mengelola sumber daya (resources) potensial menjadi kekayaan riil.
“Perlunya mempelajari kecerdasan finansial supaya kita bisa menjadikan hidup lebih optimal. Mengubah mindset kita tentang uang. Dengan cara berpikir tepat, kita bisa mendayagunakan uang dengan optimal,” tegas Ruaniwati, selaku pembicara dalam acara ini.
Kecerdasan finansial bisa dipelajari, diasah, disempurnakan, dan dipertajam. Tergantung pada diri kita, karena jika tidak diasah akan usang. Kita bisa belajar mengasah kecerdasan finansial dari beberapa hal. Pertama, belajar dari dunia nyata dengan menggunakan pola trial and error. Belajar dari mentor, ahli, dan belajar dari buku. Dewasa ini, buku-buku yang membahas tentang pendidikan dan bagaimana mengelola aset sebagai sumber uang, sudah mulai men’jamur’.
“Yang lebih penting adalah action. Tapi sebelum itu, kita harus paham intisari kecerdasan finansial untuk menuju kebebasan finansial (passive income),” kata wanita yang akrab dipanggil bu Ruani ini.
Dalam bukunya, William menyebut 8 intisari kecerdasan untuk menuju passive income. Pertama, memilah tujuan produktif dan konsumtif. Kegiatan produktif merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan. Misal membeli rumah atau bangunan, yang kemudian disewakan atau dijadikan apartemen. Bisa juga dalam bentuk membeli perusahaan atau emas, yang ke depannya benda tersebut bisa mendatangkan penghasilan buat kita.
Sebaliknya, contoh kegiatan konsumtif misalnya dengan membeli makanan, baju, mobil dan barang-barang bersifat consumable, yang nantinya setelah digunakan atau dipakai akan habis nilainya.
“Seorang business owner harus bisa memilah tujuan produktif dan konsumtif, dan tahu persis artinya buat bisnisnya,” tambah bu Ruani.
Kedua, membedakan aset dan liabilitas. Contohnya kita membeli rumah. Rumah itu hanya jadi liabilitas (beban usaha) jika kita tidak memfungsikannya. Namun, berubah menjadi aset jika rumah tersebut kita sewakan atau jadikan tempat usaha.
Selanjutnya, memahami aliran uang. Poin ini tergantung mindset kita, bagaimana membuat kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Keempat, carilah ‘emas’ yang tersembunyi. Dalam artian, mencari sesuatu yang berharga di bisnis kita, yang nantinya bisa dikelola, dikembangkan, dan menghasilkan profit buat kita.
Poin berikutnya, memiliki daya ungkit. Daya ungkit adalah sesuatu yang membuat aset kita semakin lama semakin berlipat ganda.
Kemudian biarkan uang yang bekerja, pahami tanda-tanda makro ekonomi dan ciptakan aset yang tidak bisa hilang atau ‘dirampok’ orang. Poin terakhir lebih berhubungan dengan soft skill.
Di akhir acara, wanita yang juga CEO Dash & Associates ini mengungkapkan,“Saya harap peserta bukan hanya mengerti kecerdasan finansial saja, tapi bisa mengubah mindset untuk menjadikan hidup lebih optimal. Jadi bukan mencari uang untuk kebutuhan konsumtif semata, namun juga bagaimana bermanfaat untuk orang lain.”

CEO PowerLunch - BAHAYA ‘LATEN’ YANG MENGHANCURKAN BISNIS


Berbicara tentang kesehatan bisnis, ternyata sama dengan kesehatan fisik kita. Ada beberapa fase atau tahapan dimana satu ‘penyakit’ tidak terdeteksi, dan jika dibiarkan akan sulit disembuhkan, bahkan bisa membawa pada kondisi mematikan. Begitupun dengan bisnis. Ada indikasi tak terlihat, yang lama-kelamaan bisa menghancurkan usaha.
Hal inilah yang dipaparkan dalam Forum CEO PowerLunch bertema “How the Mighty Falls”, Rabu (19/02) lalu. Acara rutin yang diadakan oleh BARACoaching (ActionCOACH East Java-Bali) ini merupakan ajang para CEO untuk bersilaturahmi dan berdiskusi terkait masalah bisnis terkini. Humphrey Rusli, selaku COO (Chief Operating Officer) BARACoaching sekaligus pembicara utama menjelaskan tentang 5 stadium beserta gejala yang perlu diwaspadai, karena bisa menghancurkan bisnis.
“Diantara tahapan penyakit, maka stadium awal tentunya mudah disembuhkan, namun lebih sulit dideteksi. Sebaliknya bila seseorang sudah masuk dalam stadium empat, maka sakitnya akan mudah dideteksi, tapi sudah sulit disembuhkan. Sama juga dengan yang terjadi pada bisnis. Ada beberapa gejala perlu diwaspadai, karena bila dibiarkan akan membawa dampak fatal, bahkan membuat perusahaan jatuh,” tutur coach Humphrey di acara yang berlangsung di hotel Shangrila Surabaya ini.
Lebih jauh, coach Humphrey menyebut 5 fase yang bisa menjatuhkan perusahaan besar. Stadium satu yaitu bangga dengan kesuksesan dan merasa sukses adalah kewajaran.
“Pada fase ini, pemimpin bisnis punya pandangan bahwa sukses yang diraih sebelumnya, bisa otomatis diulang dengan mudah. Dia melupakan konteks sukses yang diraihnya. Jadi tidak lagi fokus dengan pemikiran atau strategi bagaimana untuk meraih puncak bisnis, yang diingat hanya suksesnya semata. Diantara beberapa tanda, biasanya yang paling terlihat yaitu tidak pernah melakukan evaluasi kerja, tidak melakukan update karena berkiblat ke cara yang lama dan menganggap cukup banyak tahu, serta jumlah konsumen yang tidak bertambah, karena hanya memaintain konsumen lama,” papar pria kelahiran Surabaya ini panjang lebar.
Fase selanjutnya adalah mengembangkan usaha atau ekspansi, dengan asumsi strategi yang sama bisa dijalankan untuk bidang usaha lain. Pertumbuhan bisnis menjadi cepat tanpa tahu konteks. Biasanya pemimpin bisnis akan mempertaruhkan segalanya untuk satu produk. Dan pada saat mengalami masalah, maka dia akan menyalahkan faktor luar, daripada melakukan introspeksi diri.
Stadium ketiga ditandai dengan sikap menyangkal atau menutup dari kesalahan diri sendiri (self denial). Di fase ini, pemimpin bisnis tidak mau introspeksi diri dan cenderung menyalahkan faktor luar untuk menutupi realita buruk pada bisnisnya.
“Selain menutup diri terhadap kritik dan realita buruk, pemimpin bisnis di stadium tiga juga semakin sedikit membuka kesempatan timnya berdebat. Jadi sifatnya one way instruction. Timnya juga begitu, menyetujui di depan, tapi di belakang tidak sepakat dan tidak menjalankan apa yang sudah disepakati dengan pemimpin,” jelas coach Humphrey.
Pada stadium berikutnya, dengan keadaan financial yang sudah memburuk, pemimpin bisnis biasanya mengandalkan akuisisi atau gebrakan marketing yang bisa menyelamatkan bisnisnya.
“Disini pemimpin perusahaan mulai dilematis, melakukan perubahan yang radikal atau minta bantuan pihak luar untuk menyelamatkan usahanya. Jika harus merekrut pemimpin lagi, maka calon leader baru cenderung mengabaikan culture perusahaan, karena hanya fokus untuk menyembuhkan bisnisnya.”
Jika stadium ini tidak bisa diperbaiki, maka tahap berikutnya semua sumber dan harapan akan ‘mati’.
All resources are depleted, all hopes are gone. No more cash. Yang ada selanjutnya, pemimpin akan menjual semua aset perusahaan atau membiarkannya mati sendiri,” kata coach Humphrey.
Di akhir acara, coach Humphrey menambahkan, dia berharap dengan mengikuti acara ini, peserta yang hadir (para CEO) sadar akan bahaya laten, bahkan yang sudah ada atau mulai dirasakan di perusahaan mereka, agar tidak sampai dibiarkan dan membawa kehancuran bisnis.

Pendapat para CEO :
1.       Jeffry Jono Sugiharto – CV. Talenta Indah Cemerlang
Banyak manfaat yang saya dapatkan dengan mengikuti forum ini. Selain bisa networking dengan sesama pemilik bisnis,  saya juga belajar bagaimana memanage bisnis lebih baik dan bisa grow. Saya seperti diingatkan, bahwa ada fase-fase yang kelihatannya sepele, tidak kita sadari, dan bahkan cenderung kita abaikan, ternyata jika dibiarkan akan fatal dan menjadikan bisnis kita ‘kronis’.
2.       Sam Sebastian – House of David
Buat saya, perlu untuk mengetahui tanda-tanda yang bisa membuat perusahaan jatuh, agar bisa mengantisipasi dan melakukan perbaikan.
Pada forum ini diberikan beberapa contoh, bagaimana perusahaan-perusahaan yang sudah begitu besar akhirnya jatuh. Namun ada juga yang sudah memburuk, kemudian berhasil fight dan mengulang kesuksesannya. Hal ini begitu inspiratif dan bermanfaat buat saya.


BAGI ANDA (PEMIMPIN ATAU PEMILIK BISNIS) YANG BELUM SEMPAT MENGIKUTI FORUM DI ATAS, SILAHKAN KIRIM ALAMAT EMAIL & NO. HP PADA COMMENT BOX, UNTUK MENDAPATKAN PENJELASAN RINGKAS MATERI “HOW THE MIGHTY FALLS” DARI BUSINESS COACH KAMI.
FREE OF CHARGE !

Sharing Bisnis Bersama Rotary Club Surabaja - PERAN COACHING SEBAGAI FITNESS CENTER


Mana yang biasanya akan lebih diutamakan oleh pemilik bisnis, mempunyai sumber daya manusia (tim) yang mumpuni, atau strategi marketing yang bagus? Lalu mana yang lebih penting, teknikal kompetensi atau bisnis kompetensi?
Dua hal itulah yang dibahas dalam sharing bisnis dengan anggota Rotary Club Surabaja, Kamis (27/02) kemarin. Menghadirkan Humphrey Rusli, sebagai pembicara, acara yang bertempat di hotel J.W Marriot Surabaya ini diikuti oleh sekitar 15 anggota Rotary Club Surabaja. Coach Humphrey memaparkan, bahwa dewasa ini sebagian pemilik bisnis hanya fokus pada teknikal kompetensi saja.
“Saat ini problem pemilik bisnis lebih banyak dikarenakan karena mereka fokus pada teknikal kompetensi saja. Padahal, teknikal kompetensi harus seimbang dengan bisnis kompetensi. Begitupun dengan strategi marketing. Yang diutamakan adalah menyiapkan sumber daya manusianya dulu. Percuma saja jika sistem atau strateginya bagus, tapi orangnya tidak mendukung,” papar pria yang pernah menjadi top number one International Business Coach ini.
Lebih lanjut, dijelaskan tentang perlunya pemilik bisnis memiliki pelatih bisnis (coach). Seorang coach akan membantu mengembangkan bisnis ke level lebih tinggi, karena perannya bukan sebagai seorang dokter yang hanya dibutuhkan ketika bisnis sedang sakit. Istilah tepatnya, business coaching sebagai program fitness center yang akan meningkatkan ‘stamina’ bisnis ke level lebih tinggi.
“Ada 4 area yang dibedah dalam coaching sebuah bisnis. Keempat area itu adalah sales, operational, Human Resource Development (HRD) dan area finance,” kata coach Humphrey.
Sri Wulandari, salah satu anggota Rotary Club Surabaya berujar, sharing yang dilakukan coach Humphrey sangat bermanfaat buat mereka.
“Meskipun hanya sebentar, namun apa yang disampaikan oleh coach Humphrey sangat bermanfaat buat kami, khususnya terkait dengan pengembangan bisnis ke depan,” tutur wanita berkacamata ini.