business-forum

coaches

Kamis, 12 Desember 2013

CEO PowerLunch - KUPAS STRATEGI JITU ‘BERTARUNG’ MELAWAN RAKSASA

Dalam dunia bisnis, seorang owner dituntut untuk terus belajar dan menemukan strategi agar bisa eksis dan memenangkan persaingan bisnis. Salah satu lawan bisnis yang sulit ditaklukkan adalah perusahaan-perusahaan raksasa yang sudah kuat posisinya dalam dunia bisnis. Meskipun begitu, mereka masih punya kekurangan, dan bukan mustahil, kita bisa masuk melewati ‘celah’ yang lemah itu lalu muncul sebagai pemenang.
Itulah inti dari acara CEO Power Lunch yang diadakan oleh SEA Corp. (ActionCOACH East Java&Bali) di Kahuripan Room, hotel Sheraton Surabaya (20/11/13). Dalam acara yang diikuti oleh para owner bisnis ini, Humphrey Rusli (COO SEA Corp.), selaku pembicara memberikan edukasi bisnis bertema “Killing the Giant”. Hal-hal apa saja yang menjadi kelemahan perusahaan besar (giant) dan bagaimana strategi yang bisa diambil agar bisa sejajar, bahkan memenangkan persaingan dalam menarik arus pasar.
“Dibanding dengan perusahaan yang lebih kecil, perusahaan raksasa atau giant terlalu bersifat birokrasi, sehingga prosedurnya lebih lambat, karena mereka punya step-step yang baku. Selain itu kelemahan mereka adalah pada informasi market. Bila perusahaan kecil tahu kein ginan pasar melalui suara konsumen secara langsung, maka untuk si giant yang skala marketnya luas, mereka tidak mungkin lagi mendengarkan satu persatu keinginan konsumennya. Yang mereka dengar adalah informasi berdasar opini atau asumsi, yang dibentuk dengan melihat hasil polling atau survey market,” papar Humphrey terkait beberapa kelemahan yang dimiliki perusahaan raksasa.
Lebih lanjut, business coach yang akrab disapa coach Humphrey ini menyampaikan beberapa strategi yang dilakukan agar kita bisa memenangkan persaingan dengan mereka. Yang pertama, mempunyai keunikan yang kuat pada produk dan jasa yang kita hasilkan (creating strong niche). Poin ini memang sulit, mengingat kita harus tahu apa yang membuat konsumen tertarik untuk datang dan memakai produk kita.
“Saat ini sangat sulit menemukan niche, karena kebanyakan para owner hanya fokus pada pendapatan atau uang semata. Jadi, ketika bisnis ramai, mereka sudah tidak terlalu memusingkan keunikan apa yang menjadi daya tarik bisnis mereka,” tutur coach Humphrey.
Strategi selanjutnya, yaitu be the expert. Ada beberapa media yang bisa digunakan, untuk menunjukkan seberapa professional anda. Selain media online dan offline, event semacam pameran dan seminar, juga bisa menjadi ajang menunjukkan seberapa jauh kompetensi bisnis anda.
Selain itu ada juga poin winning on speed, seek and destroy, last minute winning, polarize (on purpose), seize the microphone, dan strategi being ugly-beautifully.
“Yang dimaksud dengan being ugly-beautifully disini memiliki kemampuan untuk berseberangan dengan mainstream. Make it irrelevant for the giant to fight you. Tapi dari buruk atau berseberangan inilah, justru yang menjadi kekuatan kita untuk menjadi beda dan nomor satu. Ada poin penting yang harus diingat bila anda menjalankan strategi ini. Pertama, perusahaan anda harus di posisi atau level yang kuat juga untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang terjadi, seperti ketika konsumen tidak ada yang tertarik dengan produk anda. Kedua, anda dituntut untuk terus mencoba dan mencari peluang yang bisa mendaya ungkitkan produk anda menjadi sesuatu yang beda,” tegas pria friendly ini.
Di sesi terakhir, coach Humphrey berharap, para owner bisnis yang mengikuti acara ini bukan sekedar bisa menyerap pembelajaran yang diberikan untuk kemajuan bisnis mereka. Namun ke depan, bisa mensharingkan apa yang mereka dapat kepada tim bisnis, dan orang-orang di sekitar mereka.

Pendapat para CEO :
1. Feny Liana – ATHALIA
Selain gaya penyampaian yang mudah diterima, forum ini hidup karena pesertanya juga aktif bertanya. Sehingga komunikasi lebih pada dua arah.
Menurut saya, tidak perlu menjadi giant untuk mencapai kesuksesan bisnis. Karena perusahaan raksasa juga punya celah dan kelemahan dalam bisnisnya. Poin pentingnya adalah bagaimana kita menciptakan sesuatu yang unik, sehingga bisa terlihat berbeda dan merebut keinginan pasar.

2. Roy Adiputra - CV. Daya Prima Sinergi
Menjadi giant belum tentu dia expert di segala hal. Seperti ungkapan ‘kecil-kecil cabe rawit’, pada kenyataannya perusahaan kecil pun bisa mengalahkan perusahaan raksasa, asal tahu strateginya, berpikir, dan terus mencoba hal baru dan berbeda yang menjadi nilai tambah.
Selain penjelasannya yang mudah dimengerti, forum CEO PowerLunch juga memberi banyak manfaat dan pengetahuan buat saya.

Senin, 02 Desember 2013

BOOK CLUB - HASNUL TEKANKAN KETERBUKAAN DAN JUMP OUT OF THE BOX


Berbicara tentang sosok leader dalam sebuah bisnis, memang tidak ada habisnya. Setelah menyorot dinamika kepemimpinan dalam budaya hierarki Indonesia, kini SEA Corp. (ActionCOACH East Java&Bali) membedah buku seorang Hasnul Suhaimi, CEO PT. XL Axiata berjudul “Everyone Can Lead”. Buku yang bercerita tentang konsep kepemimpinan dan perjalanan hidup Hasnul ini, didiskusikan dalam forum ‘Book Club’, Jum’at (15/11/13) lalu. 

“Buku ini sangat menarik, karena selain berisi perjalanan hidup yang menginspirasi, si pengarang juga menjadi saksi terjadinya pergeseran fundamental dalam dunia bisnis telekomunikasi,” kata Suwito Sumargo, selaku pembicara dalam acara ini.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa coach Suwito ini bertutur, Hasnul adalah seorang pemimpin yang tidak terduga sebelumnya. Dia merupakan cerminan bahwa tidak setiap orang dilahirkan menjadi pemimpin, tapi setiap orang punya peluang untuk menjadi pemimpin, dengan step-step yang diperoleh dari pembelajaran, pengalaman, dan latihan yang terus menerus.

Ada 5 prasyarat utama menjadi pemimpin yang dipaparkan Hasnul dalam buku ini. Pertama, fisik yang sehat dan berwibawa. Menurut Hasnul, penampilan fisik mempengaruhi persepsi orang lain tentang diri kita. Meskipun begitu, ayah dua anak ini tetap menegaskan, hal lain yang lebih penting dari kondisi fisik, yaitu kemampuan dan ketangguhan dalam melakukan pekerjaan. Menjaga kesehatan dengan olahraga dan pola hidup teratur, serta selalu menjaga penampilan, merupakan tips yang diberikan Hasnul.

Setelah fisik, syarat kedua berhubungan dengan intelektualitas. Pemimpin dengan intelektualitas tinggi akan mudah menyerap dan memahami pengetahuan yang diterimanya, serta mampu menerapkannya ke dalam tindakan lebih terarah. Intelektualitas tinggi juga bisa memungkinkan seorang pemimpin untuk berpikir secara jump out of the box dan meningkatkan kemampuan diri sebagai leader.

“Dalam perjalanannya, Hasnul terus mengasah kemampuannya, sharpening his blade, baik yang sudah terlihat maupun yang belum terlihat, secara formal maupun non formal,” tutur coach Suwito.
Ketiga, kemampuan emosional (soft skill) yang dibagi menjadi kemampuan individu (personal) dan sosial. Kemampuan emosional bukan hanya tergantung dari intelektualitas seseorang. Lebih jauh, kemampuan ini juga dipengaruhi oleh kesanggupan leader dalam mengembangkan diri, hingga bisa menangkap pesan dari fenomena yang ada di sekitarnya. Beberapa cara yang bisa dilakukan, diantaranya dengan keterbukaan, kemampuan mengendalikan diri, serta menjauhkan diri dari sifat pasrah atau terima jadi.

“Sebagai pemimpin, Hasnul selalu terbuka untuk menyerap informasi di sekitarnya. Dia punya prinsip lo jual gue beli. Artinya mau belajar dari apa saja, dan tidak malu bertanya,” tegas coach Suwito.
Berikutnya kemampuan sosial, yaitu kecakapan pemimpin dalam menyesuaikan diri dengan orang, kelompok, maupun lingkungan baru. Hal ini termasuk kesanggupan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Sebagai seorang leader, selain tegas, Hasnul dikenal sebagai pemimpin yang humble dan membumi (touch the ground).

 Di akhir acara, coach Suwito berharap, dengan mengikuti acara ini, peserta bisa lebih terinspirasi dan semangat untuk menjadi sosok pemimpin yang baik.
“Hasnul itu sosok pemimpin yang kuat pada tim buildingnya. Dia seorang yang tegas, sekaligus bisa mengayomi dan memotivasi timnya. Saya berharap, para CEO yang mengikuti acara ini bisa menarik intisari dan mempraktekkan pada bisnis, sesuai dengan karakter atau kebutuhan masing-masing individu,” tutup coach Suwito.

Sabtu, 09 November 2013

CEO PowerLunch - WILLINGNESS TO HAPPINESS

Para CEO tampak serius mengikuti edukasi bisnis dengan tema "Happiness and Productivity at Work".

Dalam proses bisnisnya, seorang leader ternyata perlu unsur happiness, yang nantinya berujung pada hasil produktivitas yang tinggi.
Hal itu yang didiskusikan dalam Forum CEO PowerLunch, Rabu (23/10) kemarin. Forum berjudul “Happiness and Productivity at Work” ini diadakan oleh PT. Surabaya Excellence Action (ActionCOACH East Java-Bali) di Pelangi Room, Hotel Shangrila Surabaya.
Suwito Sumargo, selaku pembicara dalam acara ini menegaskan, bahwa happiness lebih menunjuk pada prosesnya, dan tidak tergantung dengan apa yang akan diperoleh.
“Sebenarnya happiness ini sudah ada dalam setiap diri kita, tinggal bagaimana cara kita mengeluarkannya. Inti happiness tergantung pada tindakan atau action kita, dimana hal itu akan lebih terasa jika kita punya ambisi lebih,”  tutur pria yang biasa dipanggil coach Suwito ini terkait prinsip happiness.
“Ada perbedaan antara personal ambition dan great ambition. Ambisi yang besar berhubungan dengan personal lain, bukan hanya pribadi saja. Misalnya, kita punya ambisi pribadi ingin menjadi seorang CEO. I want to be CEO. Maka jika diterjemahkan dalam sebuah great ambition menjadi, saya ingin menjadi CEO sehingga orang-orang bisa bekerja dan saya bisa mengurangi pengangguran. Dalam menjalankan kepemimpinannya pun dia akan lebih memperhatikan kepentingan orang banyak, sehingga lebih dihargai dan dipercaya karyawannya,” papar coach Suwito lagi.
Lebih lanjut, coach Suwito menjelaskan, setidaknya ada 6 poin yang bisa dilihat dari seorang trustworthy leader. Pertama adalah komunikasi yang transparan, jujur, dan terbuka terhadap bawahannya. Proses menciptakan komunikasi transparan ini memang panjang, karena terkait dengan gaya komunikasi dari setiap orang yang berbeda, dan bagaimana komitmen mereka untuk menjadikannya sebuah budaya.
Kedua, leader yang menghargai feedback dari para karyawannya. Di sini, leader akan menerima saran, pendapat, sampai kritik apapun dari mereka, tanpa ada judgement.
Selanjutnya, pemimpin yang mencerminkan pribadi empowers people. Dalam artian, bisa membuat orang lain maju,yang notabene bukan hanya untuk kepentingan perusahaan saja. Keempat, fokus pada penciptaan leader yang baru. Jadi bagaimana seorang leader menciptakan leader lain yang lebih baik (leader create leader).
Poin berikutnya, U+ME=US, yang artinya membaur atau akrab dengan para staff atau karyawan. Terakhir, consistent behaviour. Konsisten terhadap visi yang dia perjuangkan. Karena visi ini merupakan pengejawantahan dari ambisi yang lebih besar (greater ambition).
“Seperti apa yang Dalai Lama bilang, happiness is not something ready made. It comes from your own actions. Kebahagiaan menjadi seorang CEO bukan dilihat pada hasil gemilang, tapi lebih penting bagaimana dalam actionnya, dia menjadi seorang pemimpin yang bisa dihargai, dipercaya, dan dengan penuh kesadaran membuat orang lain lebih baik. Prinsipnya willingness to happiness,” ungkap coach Suwito.

Being Greater Productivity
Jika happiness lebih mengarah pada proses, maka pada teknikalnya ada beberapa aspek yang diperlukan untuk mencapai produktivitas yang maksimal. Beberapa diantaranya seperti personalize agenda, delineate and group task, dan monitor agenda.
“Pada monitor agenda, lebih pada orang yang process oriented. Jadi selalu melihat prosesnya, bukan hasilnya,” kata pria yang sudah 30 tahun lebih berkecimpung di dunia bisnis ini.
Selain itu ada aspek hand over assignments, email and social media trap, clean desk, juga limited meeting dan discipline in giving out helps, baik pekerjaan yang bersifat teknikal, maupun bersifat pemikiran.
“Riset membuktikan bahwa meeting yang dilakukan lebih dari 2 jam, ujungnya akan tidak efektif dan menjadi tidak fokus pada topik meeting. Karena itu usahakan tetap fokus pada topik meeting dan hindari terlalu banyak melakukan meeting, apalagi sampai 2 jam ke atas.”
Di akhir acara, Coach Suwito berharap, dengan mengikuti forum ini, para peserta bisa menjadi true leader, yang bisa menjalankan bisnis dengan hati, dan bisa mengkolaburasikan antara mindshare dan heartshare (hati nurani).

Pendapat Para CEO :
1.       Achmad Suratin Kurniawan (Nafisa Production)
Selain penjelasan yang bersifat komunikatif, tema yang diberikan dalam forum CEO PowerLunch kali ini sangat inspiratif.
Selama ini, untuk menjadi pemimpin yang trustworthy, kami selalu berusaha konsisten dengan apa yang kami sampaikan kepada para karyawan. Mulai dari hal kebijakan, sampai konsisten dalam menjalankan visi dan apa yang menjadi tujuan kami ke depan.
Kami juga sering melakukan pendekatan secara personal kepada mereka. Di samping membuat suasana kerja jadi lebih nyaman, diharapkan bisa terjalin semacam ikatan batin atau ‘chemistry’ antara mereka dan perusahaan, sehingga produktivitas kerja pun bisa meningkat.
2.       Widarta Chandra (Sarana Sukses)
Menurut saya, dibutuhkan wise yang begitu besar untuk menjadi pemimpin yang trustworthy. Selain kemauan menjadi great leader, butuh waktu dan banyak pengalaman, untuk menempa diri jadi bijaksana.
Forum ini bermanfaat buat saya, karena Coach Suwito selaku pembicara sudah lama terjun di dunia bisnis, sehingga materi yang disampaikan juga lebih bersifat praktis dan teknis. 

HR FORUM - LOYALITAS CIPTAKAN INVESTASI BISNIS



Jum’at, 25 Oktober 2013, PT. Surabaya Excellence Action (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan acara HR Forum bertajuk “Building Loyalty”. Acara intern yang diadakan tiap bulan itu, membahas tentang pentingnya loyalitas karyawan, dan bagaimana cara membangunnya.
Suwito Sumargo, selaku pembicara menyebut hasil penelitian Columbia University, dimana setiap tahun rata-rata perusahaan kehilangan 20-50% pekerjanya. Dan menggantikan karyawan yang hilang itu, biayanya bisa mencapai 150% dari salary tahunan karyawan tersebut.
 “Pekerja merupakan aset dalam menjalankan bisnis. Itulah sebabnya, penting untuk mengembangkan dan mempertahankan mereka. Jika mereka bertambah mumpuni dan ikut berperan dalam menghasilkan profit bagi kita, maka bukan tidak mungkin, cost yang kita keluarkan buat mereka itu menjadi sebuah investasi ke depannya,” papar coach Suwito di tengah acara yang berlangsung di Surabaya Room, Office SEA Corp. ini.
 “Tinggal bagaimana kita membangun emosi mereka agar ‘klik’ dan terikat dengan kita. Beberapa diantaranya dengan memperbaiki kinerja dan menempatkan mereka di bidang pekerjaan yang tepat, sehingga bisa perform,” tambahnya.
Menurut pria yang juga pemilik GBT Laras Imbang ini, ada beberapa langkah yang dilakukan untuk menumbuhkan loyalitas karyawan.
Diantaranya dengan membuat employee merasa berharga. Perkenalkan dan gambarkan visi kita, dengan harapan dia bisa engage dan merasa ikut bagian dalam merealisasikan mimpi kita sebagai owner bisnis. Lebih lanjut, kita bisa menggunakan ‘secret shoppers’, seseorang yang diam-diam membantu untuk mengetahui apakah karyawan secara emotionally sudah engaged dengan kita atau belum. Bisa dari teman dekat ataupun keluarganya.
Langkah selanjutnya, employee must feel confident and improved. Awali dengan membuka hatinya supaya dia menjadi ‘welcome’.
“Kita bisa memulainya dengan memberikan training baik skill training, maupun moralitas training. Juga adakan mentoring program, dimana mereka yang sudah lama bekerja dan ahli pada satu bidang mengajarkan ilmunya pada yang masih baru. Dari sini rasa percaya diri mereka akan naik,” kata coach Suwito.
Hal lain yang tak kalah penting yaitu membangun ‘supportive environment’ dan promote team building. Selain membangun lingkungan dan suasana kerja yang kondusif, team building diperlukan, agar para karyawan bisa saling menutupi kelemahan dan bisa belajar dari kelebihan (kemampuan) yang lain.
“Lebih jauh, kita harus bersikap transparan terhadap mereka. Tell them the truth. Buat mereka respect dengan kita, dengan menceritakan kondisi perusahaan yang sebenarnya, meskipun di saat krisis sekalipun. Selanjutnya, beri mereka penghargaan atas kontribusi dan prestasi yang diberikan kepada perusahaan.  Penghargaan yang diberikan selain bersifat konsisten atau rutin, baiknya berdasarkan parameter atau kriteria tertentu yang terbuka dan obyektif,” tegas coach Suwito di sesi terakhir forum. 

Senin, 21 Oktober 2013

Book Club - DINAMIKA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA HIERARKI INDONESIA

Suasana forum Book Club "Pemimpin dan Perubahan"

Leader is agent of change. Pun di dunia bisnis, seorang pemimpin berada di garda terdepan dalam menghadapi segala perubahan, sekaligus membawa kemudi bisnisnya mencapai puncak sukses. Bagaimana cara pemimpin untuk mengelola perubahan itulah yang kemudian didiskusikan dalam forum bedah buku “Pemimpin dan Perubahan”, Jum’at (18/10) kemarin.
Acara yang dikemas dengan nama “Book Club” ini merupakan upaya PT. Surabaya Excellence Action (ActionCOACH East Java-Bali) untuk menghadirkan atmosfir pembelajaran bisnis dengan membedah buku-buku, yang kemudian didiskusikan dan dihubungkan dengan permasalahan bisnis yang ada.
Ruaniwati, selaku CEO Dash & Associates sekaligus pembicara acara ini menjelaskan, secara garis besar buku “Pemimpin dan Perubahan” ini berisi hasil interview dan riset beberapa pemimpin perusahaan yang cukup representatif di indonesia, khususnya bagaimana model kepemimpinan mereka di tengah perubahan yang terjadi.
“Secara garis besar, buku ini menerangkan bagaimana pemimpin Indonesia dalam mengelola perubahan, serta mengemukakan pendekatan budaya pemimpin Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh budaya hierarkis. Hierarki disini bisa diartikan, bahwa pemimpin itu dianggap sebagai bapak atau ibu yang menopang, mengayomi, dan menjadi teladan bagi anak buahnya. Pemimpin dulu yang bertindak, baru diikuti oleh anak buahnya. Dengan begitu, seorang pemimpin dituntut harus cepat mengambil langkah untuk menghadapi perubahan,” paparnya di sela-sela acara yang bertempat di Ballroom ActionCOACH, Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya ini.
Lebih jauh, Ruani bertutur, bahwa dewasa ini kita berada di landscape bisnis yang selalu berubah. Karenanya, diperlukan seorang pemimpin yang tanggap mensiasati fenomena yang terjadi.
“Sekarang ini kita berada pada landscape bisnis yang selalu berubah. Dalam masyarakat hierarki Indonesia, sosok pemimpin sebagai pemberi arah menjadi sangat penting untuk mengambil keputusan dan menggerakkan anak buahnya, menanggapi perubahan dengan cara berbeda juga, sesuai dengan landscape yang ada. Perubahan tidak harus selalu bersifat strategis namun juga bisa dengan melakukan perubahan kecil yang sifatnya rutin, misalnya mengubah pola penjualan,” tegas perempuan yang akrab disapa bu Ruani ini.
Salah satu peserta yang hadir, Wahyudi Jonathan berpendapat, memang tidak mudah bagi pemimpin untuk menggerakkan anak  buahnya, bersama-sama menghadapi perubahan. Untuk itu diperlukan sikap terbuka dari seorang leader. Misalnya dengan menunjukkan sikap sejajar dengan karyawan, seperti saling sharing, tidak keberatan meluangkan waktu mendengar cerita dan keluhan mereka.
“Sikap terbuka memungkinkan seorang leader lebih dekat dengan timnya. Meskipun tidak mudah mengajak tim berjalan bersama demi kemajuan perusahaan, tapi minimal, sebagai langkah awal kita ada dan dianggap oleh mereka,” kata pria yang juga CEO PT. Gaya Indah ini bijak. 

Kamis, 10 Oktober 2013

HR FORUM - GREAT PERSUADER TO A GREAT LEADER

Suwito Sumargo, selaku pembicara HR Forum : The Art of Persuasion.

Dalam dunia bisnis, kemampuan persuasi bukan hanya penting dimiliki oleh pelaku marketing atau sales saja. Lebih jauh, para owner bisnis juga harus menjadi seorang ‘great persuader’ dalam perusahaan. Itulah yang dibicarakan dalam Human Resource (HR) Forum bertajuk “The Art of Persuasion”, Jum’at (27/09) lalu. Acara yang rutin diadakan SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) tiap bulan ini, bertempat di Surabaya Room, SEA Office, PTC Surabaya.
 “Acara ini bertujuan untuk penyadaran diri sendiri, bahwa kalau kita ingin menjadi pemimpin panutan, maka harus punya kemampuan untuk mempersuasi orang lain. Seni persuasi memungkinkan seorang pemimpin lebih mudah menjual ide kepada bawahannya, sehingga dia bisa mewujudkan tujuannya,” papar Suwito Sumargo selaku pembicara.
Setidaknya ada 6 ciri yang dimiliki untuk menjadi seorang ‘great persuader’. Pertama, karakter yang kuat. Misalnya jika seseorang dominan berkarakter D (Dominance), maka dia memiliki sikap tegas dalam mengambil keputusan. Bila orang itu berkarakter I (Influence), maka dia cenderung antusias dan penuh percaya diri.
Suwito memaparkan, pada umumnya, bentuk karakter bisa dikelompokkan menjadi 4 macam: karakter D (Dominance), I (Influence), S (Steadiness), dan C (Compliance). Orang yang dominan berkarakter D cenderung orang yang cepat mengambil keputusan, memiliki ego yang sangat tinggi, dan selalu ingin tampil di depan. Orang I cenderung sebagai orang yang mampu meyakinkan dan memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu. Orang dengan karakter S adalah orang-orang yang sabar, meski kadang kurang tegas dalam mengambil keputusan. Sedangkan orang dengan dominan karakter C, cenderung sebagai orang yang detil dan teliti.
“Sebenarnya karakter ini bisa dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan. Jadi misalnya dia aslinya berkarakter D, maka seiring waktu, melalui pembelajaran dan pengaruh lingkungan, bisa saja dia berubah menjadi orang dengan karakter C atau I yang kuat,” ungkap pria yang akrab disapa coach Suwito ini.
Ciri berikutnya yaitu adanya confidence (percaya diri), sikap positif (positive attitude) yang dimulai dari positive thinking, serta kemampuan dalam menjalin hubungan dengan orang lain (networking & relationship skills).
“Rasa percaya diri sangat diperlukan, karena hal ini bisa membuat seseorang lebih yakin bisa mempengaruhi orang lain. Networking dan relationship skills juga penting, karena tanpa ini seseorang tidak akan pernah menjadi great persuader,” tegas coach Suwito.
Ciri lainnya yaitu berorientasi pada hasil (result oriented) dan selalu tidak pernah merasa puas (high level of unsatisfaction).
“Keenam ciri ini tidak mutlak dimiliki atau selalu ada, bisa sebagian saja. Dan menariknya, semua bisa dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan,” tambah coach Suwito.
Dalam HR Forum, pria yang juga pemilik PT. GBT Laras Imbang ini, juga menyebutkan elemen yang harus dibentuk. Beberapa diantaranya build rapport (membangun percakapan yang baik), focus listening (deep listening) dalam artian memberikan intensi dan perhatian penuh pada orang yang berbicara, questioning (clear sense of purpose), dan constructive feedback.
Dalam hal questioning, ada 4 tujuan berbeda yang bisa diejawantahkan dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan yang membuat orang lain untuk memutuskan sesuatu (to decide), pertanyaan yang membuat orang lain untuk melakukan sesuatu (to take action), pertanyaan untuk mengubah pandangan orang lain (to change mind), dan pertanyaan yang fokus untuk hal-hal tertentu (to focus on certain things).

Jumat, 04 Oktober 2013

Kerjasama dengan JMP - STRATEGI PERSAINGAN BISNIS JITU***

Penyerahan tanda terima kasih dari Prasetyo (kanan), selaku Kabag Event & Promotor  JMP kepada Humphrey Rusli (kiri), pembicara sekaligus COO SEA Corp.

SURABAYA (Surabaya Pagi)—ActionCOACH Surabaya atau SEA Corp., sebuah lembaga pendampingan bisnis kembali menyapa Jembatan Merah Plaza Surabaya. Ini merupakan kunjungan ketiga setelah dua pertemuan sebelumnya dinilai cukup sukses. Pertemuan ketiga ini kembali diadakan di Meeting Room Even dan Promosi Jembatan Merah Plaza Surabaya. Kali ini, seperti yang sebelumnya, pihak JMP kembali mengajak beberapa karyawan dan pemilik bisnis dari beberapa tenant yang ada di JMP untuk menghadiri seminar tersebut.
Pada seminar singkat yang dilangsungkan Selasa (24/9) ini, Coach Humphrey Rusli selaku pembicara menegaskan perlunya seorang pebisnis memiliki strategi jitu untuk bersaing dalam menjalankan usahanya. Bisnis, kata Coach Humphrey Rusli, tidak akan terlepas dari strategi pemasaran. Hal itu dibutuhkan untuk mengundang pembeli sebanyak mungkin agar memperoleh keuntungan besar. Hanya, tentu ada beberapa kiat yang perlu diperhatikan.
“Ini akan berhubungan dengan advertising,” kata Coach Humphrey Rusli pada Surabaya Pagi yang ditemui di sela acara berlangsung. “Advertising di sini adalah bagaimana melakukan pemasaran dengan cara yang sehat, bukan dengan cara yang tidak sehat. Bukan hanya dengan cara besar-besaran uang, bukan hanya dengan promosi besaran harga (diskon), tapi dengan cara yang lebih smart,” papar Coach Humprey Rusli. Seperti prinsip ekonomi, pengeluaran sekecil mungkin untuk keuntungan yang lebih besar.
Selama ini, orang-orang yang berbelanja berkutat dengan masalah kualitas barang, “padahal memang tidak ada yang akan ngomong sebuah produk tidak berkualitas atau tidak bagus. Apakah kita berani bilang produk kita lebih bagus dari yang lain? Sekarang banyak produk yang sama diproduksi oleh orang berbeda, kualitasnya tidak beda jauh. Jadi jika kita tidak memiliki kualitas premium dibanding produk lain, itu tak akan berpengaruh di mata pembeli,” kata coach yang sudah berpengalaman di bidang seminar bisnis ini.
Jadi, masalahnya bukan hanya pada kualitas, karena orang tidak akan terlalu mempedulikan itu di bawah alam sadarnya. Pada kenyataannya, ada hal-hal di luar kualitas yang bisa mempengaruhi laku tidaknya suatu produk, “contoh, seorang pasien lebih memilih dirawat seorang dokter yang cantik walau tak seberapa pintar, dibanding dokter lainnya. Ada faktor yang tak logis, tetapi berpengaruh dalam mengundang pelanggan.” Bagaimana mengemas produk kita secara smart dan memperkenalkan produk pada pelanggan tanpa terlalu mengeluarkan biaya besar, itu yang sering dilupakan.
Walau ini menjadi seminar terakhir dari SEA Corp. untuk JMP di bulan ini, tetapi melihat animo peserta seminar yang hadir, tak menutup kemungkinan SEA Corp. dan pihak JMP akan bekerjasama lagi di lain kesempatan.

***Berita ini merupakan berita kerjasama ActionCOACH dengan JMP, yang dimuat di harian Surabaya Pagi, 25 September 2013 hal. 14.