business-forum

coaches

Sabtu, 09 November 2013

CEO PowerLunch - WILLINGNESS TO HAPPINESS

Para CEO tampak serius mengikuti edukasi bisnis dengan tema "Happiness and Productivity at Work".

Dalam proses bisnisnya, seorang leader ternyata perlu unsur happiness, yang nantinya berujung pada hasil produktivitas yang tinggi.
Hal itu yang didiskusikan dalam Forum CEO PowerLunch, Rabu (23/10) kemarin. Forum berjudul “Happiness and Productivity at Work” ini diadakan oleh PT. Surabaya Excellence Action (ActionCOACH East Java-Bali) di Pelangi Room, Hotel Shangrila Surabaya.
Suwito Sumargo, selaku pembicara dalam acara ini menegaskan, bahwa happiness lebih menunjuk pada prosesnya, dan tidak tergantung dengan apa yang akan diperoleh.
“Sebenarnya happiness ini sudah ada dalam setiap diri kita, tinggal bagaimana cara kita mengeluarkannya. Inti happiness tergantung pada tindakan atau action kita, dimana hal itu akan lebih terasa jika kita punya ambisi lebih,”  tutur pria yang biasa dipanggil coach Suwito ini terkait prinsip happiness.
“Ada perbedaan antara personal ambition dan great ambition. Ambisi yang besar berhubungan dengan personal lain, bukan hanya pribadi saja. Misalnya, kita punya ambisi pribadi ingin menjadi seorang CEO. I want to be CEO. Maka jika diterjemahkan dalam sebuah great ambition menjadi, saya ingin menjadi CEO sehingga orang-orang bisa bekerja dan saya bisa mengurangi pengangguran. Dalam menjalankan kepemimpinannya pun dia akan lebih memperhatikan kepentingan orang banyak, sehingga lebih dihargai dan dipercaya karyawannya,” papar coach Suwito lagi.
Lebih lanjut, coach Suwito menjelaskan, setidaknya ada 6 poin yang bisa dilihat dari seorang trustworthy leader. Pertama adalah komunikasi yang transparan, jujur, dan terbuka terhadap bawahannya. Proses menciptakan komunikasi transparan ini memang panjang, karena terkait dengan gaya komunikasi dari setiap orang yang berbeda, dan bagaimana komitmen mereka untuk menjadikannya sebuah budaya.
Kedua, leader yang menghargai feedback dari para karyawannya. Di sini, leader akan menerima saran, pendapat, sampai kritik apapun dari mereka, tanpa ada judgement.
Selanjutnya, pemimpin yang mencerminkan pribadi empowers people. Dalam artian, bisa membuat orang lain maju,yang notabene bukan hanya untuk kepentingan perusahaan saja. Keempat, fokus pada penciptaan leader yang baru. Jadi bagaimana seorang leader menciptakan leader lain yang lebih baik (leader create leader).
Poin berikutnya, U+ME=US, yang artinya membaur atau akrab dengan para staff atau karyawan. Terakhir, consistent behaviour. Konsisten terhadap visi yang dia perjuangkan. Karena visi ini merupakan pengejawantahan dari ambisi yang lebih besar (greater ambition).
“Seperti apa yang Dalai Lama bilang, happiness is not something ready made. It comes from your own actions. Kebahagiaan menjadi seorang CEO bukan dilihat pada hasil gemilang, tapi lebih penting bagaimana dalam actionnya, dia menjadi seorang pemimpin yang bisa dihargai, dipercaya, dan dengan penuh kesadaran membuat orang lain lebih baik. Prinsipnya willingness to happiness,” ungkap coach Suwito.

Being Greater Productivity
Jika happiness lebih mengarah pada proses, maka pada teknikalnya ada beberapa aspek yang diperlukan untuk mencapai produktivitas yang maksimal. Beberapa diantaranya seperti personalize agenda, delineate and group task, dan monitor agenda.
“Pada monitor agenda, lebih pada orang yang process oriented. Jadi selalu melihat prosesnya, bukan hasilnya,” kata pria yang sudah 30 tahun lebih berkecimpung di dunia bisnis ini.
Selain itu ada aspek hand over assignments, email and social media trap, clean desk, juga limited meeting dan discipline in giving out helps, baik pekerjaan yang bersifat teknikal, maupun bersifat pemikiran.
“Riset membuktikan bahwa meeting yang dilakukan lebih dari 2 jam, ujungnya akan tidak efektif dan menjadi tidak fokus pada topik meeting. Karena itu usahakan tetap fokus pada topik meeting dan hindari terlalu banyak melakukan meeting, apalagi sampai 2 jam ke atas.”
Di akhir acara, Coach Suwito berharap, dengan mengikuti forum ini, para peserta bisa menjadi true leader, yang bisa menjalankan bisnis dengan hati, dan bisa mengkolaburasikan antara mindshare dan heartshare (hati nurani).

Pendapat Para CEO :
1.       Achmad Suratin Kurniawan (Nafisa Production)
Selain penjelasan yang bersifat komunikatif, tema yang diberikan dalam forum CEO PowerLunch kali ini sangat inspiratif.
Selama ini, untuk menjadi pemimpin yang trustworthy, kami selalu berusaha konsisten dengan apa yang kami sampaikan kepada para karyawan. Mulai dari hal kebijakan, sampai konsisten dalam menjalankan visi dan apa yang menjadi tujuan kami ke depan.
Kami juga sering melakukan pendekatan secara personal kepada mereka. Di samping membuat suasana kerja jadi lebih nyaman, diharapkan bisa terjalin semacam ikatan batin atau ‘chemistry’ antara mereka dan perusahaan, sehingga produktivitas kerja pun bisa meningkat.
2.       Widarta Chandra (Sarana Sukses)
Menurut saya, dibutuhkan wise yang begitu besar untuk menjadi pemimpin yang trustworthy. Selain kemauan menjadi great leader, butuh waktu dan banyak pengalaman, untuk menempa diri jadi bijaksana.
Forum ini bermanfaat buat saya, karena Coach Suwito selaku pembicara sudah lama terjun di dunia bisnis, sehingga materi yang disampaikan juga lebih bersifat praktis dan teknis. 

HR FORUM - LOYALITAS CIPTAKAN INVESTASI BISNIS



Jum’at, 25 Oktober 2013, PT. Surabaya Excellence Action (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan acara HR Forum bertajuk “Building Loyalty”. Acara intern yang diadakan tiap bulan itu, membahas tentang pentingnya loyalitas karyawan, dan bagaimana cara membangunnya.
Suwito Sumargo, selaku pembicara menyebut hasil penelitian Columbia University, dimana setiap tahun rata-rata perusahaan kehilangan 20-50% pekerjanya. Dan menggantikan karyawan yang hilang itu, biayanya bisa mencapai 150% dari salary tahunan karyawan tersebut.
 “Pekerja merupakan aset dalam menjalankan bisnis. Itulah sebabnya, penting untuk mengembangkan dan mempertahankan mereka. Jika mereka bertambah mumpuni dan ikut berperan dalam menghasilkan profit bagi kita, maka bukan tidak mungkin, cost yang kita keluarkan buat mereka itu menjadi sebuah investasi ke depannya,” papar coach Suwito di tengah acara yang berlangsung di Surabaya Room, Office SEA Corp. ini.
 “Tinggal bagaimana kita membangun emosi mereka agar ‘klik’ dan terikat dengan kita. Beberapa diantaranya dengan memperbaiki kinerja dan menempatkan mereka di bidang pekerjaan yang tepat, sehingga bisa perform,” tambahnya.
Menurut pria yang juga pemilik GBT Laras Imbang ini, ada beberapa langkah yang dilakukan untuk menumbuhkan loyalitas karyawan.
Diantaranya dengan membuat employee merasa berharga. Perkenalkan dan gambarkan visi kita, dengan harapan dia bisa engage dan merasa ikut bagian dalam merealisasikan mimpi kita sebagai owner bisnis. Lebih lanjut, kita bisa menggunakan ‘secret shoppers’, seseorang yang diam-diam membantu untuk mengetahui apakah karyawan secara emotionally sudah engaged dengan kita atau belum. Bisa dari teman dekat ataupun keluarganya.
Langkah selanjutnya, employee must feel confident and improved. Awali dengan membuka hatinya supaya dia menjadi ‘welcome’.
“Kita bisa memulainya dengan memberikan training baik skill training, maupun moralitas training. Juga adakan mentoring program, dimana mereka yang sudah lama bekerja dan ahli pada satu bidang mengajarkan ilmunya pada yang masih baru. Dari sini rasa percaya diri mereka akan naik,” kata coach Suwito.
Hal lain yang tak kalah penting yaitu membangun ‘supportive environment’ dan promote team building. Selain membangun lingkungan dan suasana kerja yang kondusif, team building diperlukan, agar para karyawan bisa saling menutupi kelemahan dan bisa belajar dari kelebihan (kemampuan) yang lain.
“Lebih jauh, kita harus bersikap transparan terhadap mereka. Tell them the truth. Buat mereka respect dengan kita, dengan menceritakan kondisi perusahaan yang sebenarnya, meskipun di saat krisis sekalipun. Selanjutnya, beri mereka penghargaan atas kontribusi dan prestasi yang diberikan kepada perusahaan.  Penghargaan yang diberikan selain bersifat konsisten atau rutin, baiknya berdasarkan parameter atau kriteria tertentu yang terbuka dan obyektif,” tegas coach Suwito di sesi terakhir forum. 

Senin, 21 Oktober 2013

Book Club - DINAMIKA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA HIERARKI INDONESIA

Suasana forum Book Club "Pemimpin dan Perubahan"

Leader is agent of change. Pun di dunia bisnis, seorang pemimpin berada di garda terdepan dalam menghadapi segala perubahan, sekaligus membawa kemudi bisnisnya mencapai puncak sukses. Bagaimana cara pemimpin untuk mengelola perubahan itulah yang kemudian didiskusikan dalam forum bedah buku “Pemimpin dan Perubahan”, Jum’at (18/10) kemarin.
Acara yang dikemas dengan nama “Book Club” ini merupakan upaya PT. Surabaya Excellence Action (ActionCOACH East Java-Bali) untuk menghadirkan atmosfir pembelajaran bisnis dengan membedah buku-buku, yang kemudian didiskusikan dan dihubungkan dengan permasalahan bisnis yang ada.
Ruaniwati, selaku CEO Dash & Associates sekaligus pembicara acara ini menjelaskan, secara garis besar buku “Pemimpin dan Perubahan” ini berisi hasil interview dan riset beberapa pemimpin perusahaan yang cukup representatif di indonesia, khususnya bagaimana model kepemimpinan mereka di tengah perubahan yang terjadi.
“Secara garis besar, buku ini menerangkan bagaimana pemimpin Indonesia dalam mengelola perubahan, serta mengemukakan pendekatan budaya pemimpin Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh budaya hierarkis. Hierarki disini bisa diartikan, bahwa pemimpin itu dianggap sebagai bapak atau ibu yang menopang, mengayomi, dan menjadi teladan bagi anak buahnya. Pemimpin dulu yang bertindak, baru diikuti oleh anak buahnya. Dengan begitu, seorang pemimpin dituntut harus cepat mengambil langkah untuk menghadapi perubahan,” paparnya di sela-sela acara yang bertempat di Ballroom ActionCOACH, Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya ini.
Lebih jauh, Ruani bertutur, bahwa dewasa ini kita berada di landscape bisnis yang selalu berubah. Karenanya, diperlukan seorang pemimpin yang tanggap mensiasati fenomena yang terjadi.
“Sekarang ini kita berada pada landscape bisnis yang selalu berubah. Dalam masyarakat hierarki Indonesia, sosok pemimpin sebagai pemberi arah menjadi sangat penting untuk mengambil keputusan dan menggerakkan anak buahnya, menanggapi perubahan dengan cara berbeda juga, sesuai dengan landscape yang ada. Perubahan tidak harus selalu bersifat strategis namun juga bisa dengan melakukan perubahan kecil yang sifatnya rutin, misalnya mengubah pola penjualan,” tegas perempuan yang akrab disapa bu Ruani ini.
Salah satu peserta yang hadir, Wahyudi Jonathan berpendapat, memang tidak mudah bagi pemimpin untuk menggerakkan anak  buahnya, bersama-sama menghadapi perubahan. Untuk itu diperlukan sikap terbuka dari seorang leader. Misalnya dengan menunjukkan sikap sejajar dengan karyawan, seperti saling sharing, tidak keberatan meluangkan waktu mendengar cerita dan keluhan mereka.
“Sikap terbuka memungkinkan seorang leader lebih dekat dengan timnya. Meskipun tidak mudah mengajak tim berjalan bersama demi kemajuan perusahaan, tapi minimal, sebagai langkah awal kita ada dan dianggap oleh mereka,” kata pria yang juga CEO PT. Gaya Indah ini bijak. 

Kamis, 10 Oktober 2013

HR FORUM - GREAT PERSUADER TO A GREAT LEADER

Suwito Sumargo, selaku pembicara HR Forum : The Art of Persuasion.

Dalam dunia bisnis, kemampuan persuasi bukan hanya penting dimiliki oleh pelaku marketing atau sales saja. Lebih jauh, para owner bisnis juga harus menjadi seorang ‘great persuader’ dalam perusahaan. Itulah yang dibicarakan dalam Human Resource (HR) Forum bertajuk “The Art of Persuasion”, Jum’at (27/09) lalu. Acara yang rutin diadakan SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) tiap bulan ini, bertempat di Surabaya Room, SEA Office, PTC Surabaya.
 “Acara ini bertujuan untuk penyadaran diri sendiri, bahwa kalau kita ingin menjadi pemimpin panutan, maka harus punya kemampuan untuk mempersuasi orang lain. Seni persuasi memungkinkan seorang pemimpin lebih mudah menjual ide kepada bawahannya, sehingga dia bisa mewujudkan tujuannya,” papar Suwito Sumargo selaku pembicara.
Setidaknya ada 6 ciri yang dimiliki untuk menjadi seorang ‘great persuader’. Pertama, karakter yang kuat. Misalnya jika seseorang dominan berkarakter D (Dominance), maka dia memiliki sikap tegas dalam mengambil keputusan. Bila orang itu berkarakter I (Influence), maka dia cenderung antusias dan penuh percaya diri.
Suwito memaparkan, pada umumnya, bentuk karakter bisa dikelompokkan menjadi 4 macam: karakter D (Dominance), I (Influence), S (Steadiness), dan C (Compliance). Orang yang dominan berkarakter D cenderung orang yang cepat mengambil keputusan, memiliki ego yang sangat tinggi, dan selalu ingin tampil di depan. Orang I cenderung sebagai orang yang mampu meyakinkan dan memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu. Orang dengan karakter S adalah orang-orang yang sabar, meski kadang kurang tegas dalam mengambil keputusan. Sedangkan orang dengan dominan karakter C, cenderung sebagai orang yang detil dan teliti.
“Sebenarnya karakter ini bisa dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan. Jadi misalnya dia aslinya berkarakter D, maka seiring waktu, melalui pembelajaran dan pengaruh lingkungan, bisa saja dia berubah menjadi orang dengan karakter C atau I yang kuat,” ungkap pria yang akrab disapa coach Suwito ini.
Ciri berikutnya yaitu adanya confidence (percaya diri), sikap positif (positive attitude) yang dimulai dari positive thinking, serta kemampuan dalam menjalin hubungan dengan orang lain (networking & relationship skills).
“Rasa percaya diri sangat diperlukan, karena hal ini bisa membuat seseorang lebih yakin bisa mempengaruhi orang lain. Networking dan relationship skills juga penting, karena tanpa ini seseorang tidak akan pernah menjadi great persuader,” tegas coach Suwito.
Ciri lainnya yaitu berorientasi pada hasil (result oriented) dan selalu tidak pernah merasa puas (high level of unsatisfaction).
“Keenam ciri ini tidak mutlak dimiliki atau selalu ada, bisa sebagian saja. Dan menariknya, semua bisa dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan,” tambah coach Suwito.
Dalam HR Forum, pria yang juga pemilik PT. GBT Laras Imbang ini, juga menyebutkan elemen yang harus dibentuk. Beberapa diantaranya build rapport (membangun percakapan yang baik), focus listening (deep listening) dalam artian memberikan intensi dan perhatian penuh pada orang yang berbicara, questioning (clear sense of purpose), dan constructive feedback.
Dalam hal questioning, ada 4 tujuan berbeda yang bisa diejawantahkan dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan yang membuat orang lain untuk memutuskan sesuatu (to decide), pertanyaan yang membuat orang lain untuk melakukan sesuatu (to take action), pertanyaan untuk mengubah pandangan orang lain (to change mind), dan pertanyaan yang fokus untuk hal-hal tertentu (to focus on certain things).

Jumat, 04 Oktober 2013

Kerjasama dengan JMP - STRATEGI PERSAINGAN BISNIS JITU***

Penyerahan tanda terima kasih dari Prasetyo (kanan), selaku Kabag Event & Promotor  JMP kepada Humphrey Rusli (kiri), pembicara sekaligus COO SEA Corp.

SURABAYA (Surabaya Pagi)—ActionCOACH Surabaya atau SEA Corp., sebuah lembaga pendampingan bisnis kembali menyapa Jembatan Merah Plaza Surabaya. Ini merupakan kunjungan ketiga setelah dua pertemuan sebelumnya dinilai cukup sukses. Pertemuan ketiga ini kembali diadakan di Meeting Room Even dan Promosi Jembatan Merah Plaza Surabaya. Kali ini, seperti yang sebelumnya, pihak JMP kembali mengajak beberapa karyawan dan pemilik bisnis dari beberapa tenant yang ada di JMP untuk menghadiri seminar tersebut.
Pada seminar singkat yang dilangsungkan Selasa (24/9) ini, Coach Humphrey Rusli selaku pembicara menegaskan perlunya seorang pebisnis memiliki strategi jitu untuk bersaing dalam menjalankan usahanya. Bisnis, kata Coach Humphrey Rusli, tidak akan terlepas dari strategi pemasaran. Hal itu dibutuhkan untuk mengundang pembeli sebanyak mungkin agar memperoleh keuntungan besar. Hanya, tentu ada beberapa kiat yang perlu diperhatikan.
“Ini akan berhubungan dengan advertising,” kata Coach Humphrey Rusli pada Surabaya Pagi yang ditemui di sela acara berlangsung. “Advertising di sini adalah bagaimana melakukan pemasaran dengan cara yang sehat, bukan dengan cara yang tidak sehat. Bukan hanya dengan cara besar-besaran uang, bukan hanya dengan promosi besaran harga (diskon), tapi dengan cara yang lebih smart,” papar Coach Humprey Rusli. Seperti prinsip ekonomi, pengeluaran sekecil mungkin untuk keuntungan yang lebih besar.
Selama ini, orang-orang yang berbelanja berkutat dengan masalah kualitas barang, “padahal memang tidak ada yang akan ngomong sebuah produk tidak berkualitas atau tidak bagus. Apakah kita berani bilang produk kita lebih bagus dari yang lain? Sekarang banyak produk yang sama diproduksi oleh orang berbeda, kualitasnya tidak beda jauh. Jadi jika kita tidak memiliki kualitas premium dibanding produk lain, itu tak akan berpengaruh di mata pembeli,” kata coach yang sudah berpengalaman di bidang seminar bisnis ini.
Jadi, masalahnya bukan hanya pada kualitas, karena orang tidak akan terlalu mempedulikan itu di bawah alam sadarnya. Pada kenyataannya, ada hal-hal di luar kualitas yang bisa mempengaruhi laku tidaknya suatu produk, “contoh, seorang pasien lebih memilih dirawat seorang dokter yang cantik walau tak seberapa pintar, dibanding dokter lainnya. Ada faktor yang tak logis, tetapi berpengaruh dalam mengundang pelanggan.” Bagaimana mengemas produk kita secara smart dan memperkenalkan produk pada pelanggan tanpa terlalu mengeluarkan biaya besar, itu yang sering dilupakan.
Walau ini menjadi seminar terakhir dari SEA Corp. untuk JMP di bulan ini, tetapi melihat animo peserta seminar yang hadir, tak menutup kemungkinan SEA Corp. dan pihak JMP akan bekerjasama lagi di lain kesempatan.

***Berita ini merupakan berita kerjasama ActionCOACH dengan JMP, yang dimuat di harian Surabaya Pagi, 25 September 2013 hal. 14.

Sabtu, 28 September 2013

Book Club - MARKETING IS A GAME

Ruaniwati, selaku pembicara dalam Book Club "Gaming Your Club"
Marketing is also a game. Dunia marketing juga merupakan model permainan. Kita dituntut untuk kreatif, belajar berpikir secara out of the box, memberikan tools dan tips, serta strategi yang tepat untuk menggairahkan pasar.
Hal itu yang dibahas dalam acara bedah buku “Gaming Your Market”, pada Jum’at, 20 September (14.00-17.00). Buku yang ditulis oleh Ivan Mulyadi ini menceritakan tentang game dan berbagai mekanismenya, yang dewasa ini banyak diterapkan ke dalam aktivitas marketing perusahaan.
Bedah buku ini, merupakan bagian dari acara rutin ActionCOACH Surabaya yang bernama ‘Book Club’. Sebuah forum intern yang membedah buku-buku bisnis, untuk kemudian didiskusikan dan dihubungkan dengan permasalahan bisnis yang ada.
Ruaniwati, selaku CEO Dash & Associates sekaligus pembicara acara ini bertutur sangat terkesan dengan buku ini.
“Saya cukup tahu tentang game, dan buku ini menarik, karena dasarnya ternyata gaming bisa jadi rules yang menarik untuk berinteraksi dengan customer,” kata wanita yang akrab dipanggil Bu Ruani ini.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa marketing dan game merupakan padanan yang sempurna (perfect match). Selama orang masih bermain, industri game akan terus tumbuh. Peran game bukan hanya sebagai media promosi, dalam artian membangun merek dan loyalitas saja, tapi juga menjadi bagian dari dunia marketing.
“Acara ini membicarakan korelasi antara game marketing dalam buku, dengan apa yang bisa dipraktekkan di dunia bisnis kita sekarang. Saya berharap, peserta Book Club bisa punya wawasan, kalau marketing tidak hanya dilakukan dengan cara-cara lama. Dunia berubah, dan ada cara baru dan kreatif, yang tidak selalu mahal. Salah satunya melalui game marketing,” papar Ruani.

Senin, 23 September 2013

CEO PowerLunch - UNGKAP JURUS JITU MENUJU BISNIS PREMIUM

Humphrey Rusli memberikan materi “Being Premium: Sales, Price, & Clients”

Rabu, 18 September 2013, SEA Corp. (ActionCOACH East Java & Bali) kembali mengadakan forum intern rutin, CEO PowerLunch bertajuk “Being Premium: Sales, Price, & Clients” di Pelangi Room, Hotel Shangrila Surabaya.
Humphrey Rusli, selaku pembicara dalam acara ini menyampaikan, bagaimana agar seorang pelaku bisnis menjadi premium, baik itu dalam hal penjualan, harga, maupun mendapatkan customer.
Menurut Humphrey, kualitas dalam bisnis bukan satu-satunya faktor utama yang bisa mendongkrak bisnis menjadi premium. Karena kualitas adalah wajib hukumnya dalam sebuah bisnis.
“Kualitas dalam bisnis bukan satu-satunya faktor utama yang mendongkrak bisnis kita menjadi premium. Ada beberapa faktor untuk menjadi premium, salah satunya adalah niche (ceruk pasar). Namun, sifat niche di sini lebih pada spesialisasi. Usahakan agar bisnis Anda lebih spesialis, dan ambil sisi yang bisa dijadikan pembeda dibanding usaha bisnis lainnya yang bersifat sama,” ungkapnya di depan sekitar 25 peserta yang hadir.
Di akhir acara, Humphrey berharap, dengan mengikuti acara ini, para CEO bukan hanya paham secara teori saja, namun juga bisa mempraktekannya dalam bisnis mereka, sehingga mampu menembus level premium.


Para CEO dalam ‘ritual’ makan siang bersama, sebelum acara CEO PowerLunch dimulai

Pendapat para CEO :
1.     Theresia Setiadi – GBT Laras Imbang
Penjelasan yang diberikan coach Humphrey langsung fokus ke materi dan tidak bertele-tele, sehingga cukup jelas dan mudah dimengerti. Satu hal baru yang langsung mengena adalah melakukan sesuatu dengan continous atau terus-menerus, untuk mencapai puncak bisnis.
Selama ini untuk menjadi premium, kita berusaha berempati kepada pelanggan, bagaimana kita menempatkan posisi, seandainya menjadi mereka. Sehingga kita selalu memberikan layanan yang sebaik-baiknya kepada pelanggan. Jangan sampai mereka kembali dengan keluhan atau komplain.

2.     Moegiono – MUSTIKA Hotel & Restaurant
Banyak  hal baru yang saya dapatkan selama mengikuti acara ini. Materi dan penyampaian yang diberikan juga bagus. Berkaitan dengan being premium sendiri, menurut pendapat saya, sebuah bisnis dikatakan premium, jika semua elemen yang ada dalam bisnis kita sudah tertata dan mencapai hasil maksimal. Mulai dari SDM yang mumpuni dan sejalan dengan keinginan owner, proses pembuatan produk dan pelayanan pada konsumen yang maksimal, sampai tingkat customer yang loyal, sehingga dia tidak keberatan untuk merekomendasikan usaha kita kepada orang lain.
Selama ini, dalam menjalankan bisnis, banyak hal yang kami lakukan untuk being premium. Diantaranya perbaikan pelayanan, upgrading karyawan, selalu mengadakan inovasi-inovasi, dan mengadakan market intelegent.

Humphrey Rusli bersama sebagian besar peserta CEO PowerLunch