business-forum

coaches

Senin, 21 Oktober 2013

Book Club - DINAMIKA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA HIERARKI INDONESIA

Suasana forum Book Club "Pemimpin dan Perubahan"

Leader is agent of change. Pun di dunia bisnis, seorang pemimpin berada di garda terdepan dalam menghadapi segala perubahan, sekaligus membawa kemudi bisnisnya mencapai puncak sukses. Bagaimana cara pemimpin untuk mengelola perubahan itulah yang kemudian didiskusikan dalam forum bedah buku “Pemimpin dan Perubahan”, Jum’at (18/10) kemarin.
Acara yang dikemas dengan nama “Book Club” ini merupakan upaya PT. Surabaya Excellence Action (ActionCOACH East Java-Bali) untuk menghadirkan atmosfir pembelajaran bisnis dengan membedah buku-buku, yang kemudian didiskusikan dan dihubungkan dengan permasalahan bisnis yang ada.
Ruaniwati, selaku CEO Dash & Associates sekaligus pembicara acara ini menjelaskan, secara garis besar buku “Pemimpin dan Perubahan” ini berisi hasil interview dan riset beberapa pemimpin perusahaan yang cukup representatif di indonesia, khususnya bagaimana model kepemimpinan mereka di tengah perubahan yang terjadi.
“Secara garis besar, buku ini menerangkan bagaimana pemimpin Indonesia dalam mengelola perubahan, serta mengemukakan pendekatan budaya pemimpin Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh budaya hierarkis. Hierarki disini bisa diartikan, bahwa pemimpin itu dianggap sebagai bapak atau ibu yang menopang, mengayomi, dan menjadi teladan bagi anak buahnya. Pemimpin dulu yang bertindak, baru diikuti oleh anak buahnya. Dengan begitu, seorang pemimpin dituntut harus cepat mengambil langkah untuk menghadapi perubahan,” paparnya di sela-sela acara yang bertempat di Ballroom ActionCOACH, Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya ini.
Lebih jauh, Ruani bertutur, bahwa dewasa ini kita berada di landscape bisnis yang selalu berubah. Karenanya, diperlukan seorang pemimpin yang tanggap mensiasati fenomena yang terjadi.
“Sekarang ini kita berada pada landscape bisnis yang selalu berubah. Dalam masyarakat hierarki Indonesia, sosok pemimpin sebagai pemberi arah menjadi sangat penting untuk mengambil keputusan dan menggerakkan anak buahnya, menanggapi perubahan dengan cara berbeda juga, sesuai dengan landscape yang ada. Perubahan tidak harus selalu bersifat strategis namun juga bisa dengan melakukan perubahan kecil yang sifatnya rutin, misalnya mengubah pola penjualan,” tegas perempuan yang akrab disapa bu Ruani ini.
Salah satu peserta yang hadir, Wahyudi Jonathan berpendapat, memang tidak mudah bagi pemimpin untuk menggerakkan anak  buahnya, bersama-sama menghadapi perubahan. Untuk itu diperlukan sikap terbuka dari seorang leader. Misalnya dengan menunjukkan sikap sejajar dengan karyawan, seperti saling sharing, tidak keberatan meluangkan waktu mendengar cerita dan keluhan mereka.
“Sikap terbuka memungkinkan seorang leader lebih dekat dengan timnya. Meskipun tidak mudah mengajak tim berjalan bersama demi kemajuan perusahaan, tapi minimal, sebagai langkah awal kita ada dan dianggap oleh mereka,” kata pria yang juga CEO PT. Gaya Indah ini bijak. 

Kamis, 10 Oktober 2013

HR FORUM - GREAT PERSUADER TO A GREAT LEADER

Suwito Sumargo, selaku pembicara HR Forum : The Art of Persuasion.

Dalam dunia bisnis, kemampuan persuasi bukan hanya penting dimiliki oleh pelaku marketing atau sales saja. Lebih jauh, para owner bisnis juga harus menjadi seorang ‘great persuader’ dalam perusahaan. Itulah yang dibicarakan dalam Human Resource (HR) Forum bertajuk “The Art of Persuasion”, Jum’at (27/09) lalu. Acara yang rutin diadakan SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) tiap bulan ini, bertempat di Surabaya Room, SEA Office, PTC Surabaya.
 “Acara ini bertujuan untuk penyadaran diri sendiri, bahwa kalau kita ingin menjadi pemimpin panutan, maka harus punya kemampuan untuk mempersuasi orang lain. Seni persuasi memungkinkan seorang pemimpin lebih mudah menjual ide kepada bawahannya, sehingga dia bisa mewujudkan tujuannya,” papar Suwito Sumargo selaku pembicara.
Setidaknya ada 6 ciri yang dimiliki untuk menjadi seorang ‘great persuader’. Pertama, karakter yang kuat. Misalnya jika seseorang dominan berkarakter D (Dominance), maka dia memiliki sikap tegas dalam mengambil keputusan. Bila orang itu berkarakter I (Influence), maka dia cenderung antusias dan penuh percaya diri.
Suwito memaparkan, pada umumnya, bentuk karakter bisa dikelompokkan menjadi 4 macam: karakter D (Dominance), I (Influence), S (Steadiness), dan C (Compliance). Orang yang dominan berkarakter D cenderung orang yang cepat mengambil keputusan, memiliki ego yang sangat tinggi, dan selalu ingin tampil di depan. Orang I cenderung sebagai orang yang mampu meyakinkan dan memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu. Orang dengan karakter S adalah orang-orang yang sabar, meski kadang kurang tegas dalam mengambil keputusan. Sedangkan orang dengan dominan karakter C, cenderung sebagai orang yang detil dan teliti.
“Sebenarnya karakter ini bisa dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan. Jadi misalnya dia aslinya berkarakter D, maka seiring waktu, melalui pembelajaran dan pengaruh lingkungan, bisa saja dia berubah menjadi orang dengan karakter C atau I yang kuat,” ungkap pria yang akrab disapa coach Suwito ini.
Ciri berikutnya yaitu adanya confidence (percaya diri), sikap positif (positive attitude) yang dimulai dari positive thinking, serta kemampuan dalam menjalin hubungan dengan orang lain (networking & relationship skills).
“Rasa percaya diri sangat diperlukan, karena hal ini bisa membuat seseorang lebih yakin bisa mempengaruhi orang lain. Networking dan relationship skills juga penting, karena tanpa ini seseorang tidak akan pernah menjadi great persuader,” tegas coach Suwito.
Ciri lainnya yaitu berorientasi pada hasil (result oriented) dan selalu tidak pernah merasa puas (high level of unsatisfaction).
“Keenam ciri ini tidak mutlak dimiliki atau selalu ada, bisa sebagian saja. Dan menariknya, semua bisa dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan,” tambah coach Suwito.
Dalam HR Forum, pria yang juga pemilik PT. GBT Laras Imbang ini, juga menyebutkan elemen yang harus dibentuk. Beberapa diantaranya build rapport (membangun percakapan yang baik), focus listening (deep listening) dalam artian memberikan intensi dan perhatian penuh pada orang yang berbicara, questioning (clear sense of purpose), dan constructive feedback.
Dalam hal questioning, ada 4 tujuan berbeda yang bisa diejawantahkan dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan yang membuat orang lain untuk memutuskan sesuatu (to decide), pertanyaan yang membuat orang lain untuk melakukan sesuatu (to take action), pertanyaan untuk mengubah pandangan orang lain (to change mind), dan pertanyaan yang fokus untuk hal-hal tertentu (to focus on certain things).

Jumat, 04 Oktober 2013

Kerjasama dengan JMP - STRATEGI PERSAINGAN BISNIS JITU***

Penyerahan tanda terima kasih dari Prasetyo (kanan), selaku Kabag Event & Promotor  JMP kepada Humphrey Rusli (kiri), pembicara sekaligus COO SEA Corp.

SURABAYA (Surabaya Pagi)—ActionCOACH Surabaya atau SEA Corp., sebuah lembaga pendampingan bisnis kembali menyapa Jembatan Merah Plaza Surabaya. Ini merupakan kunjungan ketiga setelah dua pertemuan sebelumnya dinilai cukup sukses. Pertemuan ketiga ini kembali diadakan di Meeting Room Even dan Promosi Jembatan Merah Plaza Surabaya. Kali ini, seperti yang sebelumnya, pihak JMP kembali mengajak beberapa karyawan dan pemilik bisnis dari beberapa tenant yang ada di JMP untuk menghadiri seminar tersebut.
Pada seminar singkat yang dilangsungkan Selasa (24/9) ini, Coach Humphrey Rusli selaku pembicara menegaskan perlunya seorang pebisnis memiliki strategi jitu untuk bersaing dalam menjalankan usahanya. Bisnis, kata Coach Humphrey Rusli, tidak akan terlepas dari strategi pemasaran. Hal itu dibutuhkan untuk mengundang pembeli sebanyak mungkin agar memperoleh keuntungan besar. Hanya, tentu ada beberapa kiat yang perlu diperhatikan.
“Ini akan berhubungan dengan advertising,” kata Coach Humphrey Rusli pada Surabaya Pagi yang ditemui di sela acara berlangsung. “Advertising di sini adalah bagaimana melakukan pemasaran dengan cara yang sehat, bukan dengan cara yang tidak sehat. Bukan hanya dengan cara besar-besaran uang, bukan hanya dengan promosi besaran harga (diskon), tapi dengan cara yang lebih smart,” papar Coach Humprey Rusli. Seperti prinsip ekonomi, pengeluaran sekecil mungkin untuk keuntungan yang lebih besar.
Selama ini, orang-orang yang berbelanja berkutat dengan masalah kualitas barang, “padahal memang tidak ada yang akan ngomong sebuah produk tidak berkualitas atau tidak bagus. Apakah kita berani bilang produk kita lebih bagus dari yang lain? Sekarang banyak produk yang sama diproduksi oleh orang berbeda, kualitasnya tidak beda jauh. Jadi jika kita tidak memiliki kualitas premium dibanding produk lain, itu tak akan berpengaruh di mata pembeli,” kata coach yang sudah berpengalaman di bidang seminar bisnis ini.
Jadi, masalahnya bukan hanya pada kualitas, karena orang tidak akan terlalu mempedulikan itu di bawah alam sadarnya. Pada kenyataannya, ada hal-hal di luar kualitas yang bisa mempengaruhi laku tidaknya suatu produk, “contoh, seorang pasien lebih memilih dirawat seorang dokter yang cantik walau tak seberapa pintar, dibanding dokter lainnya. Ada faktor yang tak logis, tetapi berpengaruh dalam mengundang pelanggan.” Bagaimana mengemas produk kita secara smart dan memperkenalkan produk pada pelanggan tanpa terlalu mengeluarkan biaya besar, itu yang sering dilupakan.
Walau ini menjadi seminar terakhir dari SEA Corp. untuk JMP di bulan ini, tetapi melihat animo peserta seminar yang hadir, tak menutup kemungkinan SEA Corp. dan pihak JMP akan bekerjasama lagi di lain kesempatan.

***Berita ini merupakan berita kerjasama ActionCOACH dengan JMP, yang dimuat di harian Surabaya Pagi, 25 September 2013 hal. 14.

Sabtu, 28 September 2013

Book Club - MARKETING IS A GAME

Ruaniwati, selaku pembicara dalam Book Club "Gaming Your Club"
Marketing is also a game. Dunia marketing juga merupakan model permainan. Kita dituntut untuk kreatif, belajar berpikir secara out of the box, memberikan tools dan tips, serta strategi yang tepat untuk menggairahkan pasar.
Hal itu yang dibahas dalam acara bedah buku “Gaming Your Market”, pada Jum’at, 20 September (14.00-17.00). Buku yang ditulis oleh Ivan Mulyadi ini menceritakan tentang game dan berbagai mekanismenya, yang dewasa ini banyak diterapkan ke dalam aktivitas marketing perusahaan.
Bedah buku ini, merupakan bagian dari acara rutin ActionCOACH Surabaya yang bernama ‘Book Club’. Sebuah forum intern yang membedah buku-buku bisnis, untuk kemudian didiskusikan dan dihubungkan dengan permasalahan bisnis yang ada.
Ruaniwati, selaku CEO Dash & Associates sekaligus pembicara acara ini bertutur sangat terkesan dengan buku ini.
“Saya cukup tahu tentang game, dan buku ini menarik, karena dasarnya ternyata gaming bisa jadi rules yang menarik untuk berinteraksi dengan customer,” kata wanita yang akrab dipanggil Bu Ruani ini.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa marketing dan game merupakan padanan yang sempurna (perfect match). Selama orang masih bermain, industri game akan terus tumbuh. Peran game bukan hanya sebagai media promosi, dalam artian membangun merek dan loyalitas saja, tapi juga menjadi bagian dari dunia marketing.
“Acara ini membicarakan korelasi antara game marketing dalam buku, dengan apa yang bisa dipraktekkan di dunia bisnis kita sekarang. Saya berharap, peserta Book Club bisa punya wawasan, kalau marketing tidak hanya dilakukan dengan cara-cara lama. Dunia berubah, dan ada cara baru dan kreatif, yang tidak selalu mahal. Salah satunya melalui game marketing,” papar Ruani.

Senin, 23 September 2013

CEO PowerLunch - UNGKAP JURUS JITU MENUJU BISNIS PREMIUM

Humphrey Rusli memberikan materi “Being Premium: Sales, Price, & Clients”

Rabu, 18 September 2013, SEA Corp. (ActionCOACH East Java & Bali) kembali mengadakan forum intern rutin, CEO PowerLunch bertajuk “Being Premium: Sales, Price, & Clients” di Pelangi Room, Hotel Shangrila Surabaya.
Humphrey Rusli, selaku pembicara dalam acara ini menyampaikan, bagaimana agar seorang pelaku bisnis menjadi premium, baik itu dalam hal penjualan, harga, maupun mendapatkan customer.
Menurut Humphrey, kualitas dalam bisnis bukan satu-satunya faktor utama yang bisa mendongkrak bisnis menjadi premium. Karena kualitas adalah wajib hukumnya dalam sebuah bisnis.
“Kualitas dalam bisnis bukan satu-satunya faktor utama yang mendongkrak bisnis kita menjadi premium. Ada beberapa faktor untuk menjadi premium, salah satunya adalah niche (ceruk pasar). Namun, sifat niche di sini lebih pada spesialisasi. Usahakan agar bisnis Anda lebih spesialis, dan ambil sisi yang bisa dijadikan pembeda dibanding usaha bisnis lainnya yang bersifat sama,” ungkapnya di depan sekitar 25 peserta yang hadir.
Di akhir acara, Humphrey berharap, dengan mengikuti acara ini, para CEO bukan hanya paham secara teori saja, namun juga bisa mempraktekannya dalam bisnis mereka, sehingga mampu menembus level premium.


Para CEO dalam ‘ritual’ makan siang bersama, sebelum acara CEO PowerLunch dimulai

Pendapat para CEO :
1.     Theresia Setiadi – GBT Laras Imbang
Penjelasan yang diberikan coach Humphrey langsung fokus ke materi dan tidak bertele-tele, sehingga cukup jelas dan mudah dimengerti. Satu hal baru yang langsung mengena adalah melakukan sesuatu dengan continous atau terus-menerus, untuk mencapai puncak bisnis.
Selama ini untuk menjadi premium, kita berusaha berempati kepada pelanggan, bagaimana kita menempatkan posisi, seandainya menjadi mereka. Sehingga kita selalu memberikan layanan yang sebaik-baiknya kepada pelanggan. Jangan sampai mereka kembali dengan keluhan atau komplain.

2.     Moegiono – MUSTIKA Hotel & Restaurant
Banyak  hal baru yang saya dapatkan selama mengikuti acara ini. Materi dan penyampaian yang diberikan juga bagus. Berkaitan dengan being premium sendiri, menurut pendapat saya, sebuah bisnis dikatakan premium, jika semua elemen yang ada dalam bisnis kita sudah tertata dan mencapai hasil maksimal. Mulai dari SDM yang mumpuni dan sejalan dengan keinginan owner, proses pembuatan produk dan pelayanan pada konsumen yang maksimal, sampai tingkat customer yang loyal, sehingga dia tidak keberatan untuk merekomendasikan usaha kita kepada orang lain.
Selama ini, dalam menjalankan bisnis, banyak hal yang kami lakukan untuk being premium. Diantaranya perbaikan pelayanan, upgrading karyawan, selalu mengadakan inovasi-inovasi, dan mengadakan market intelegent.

Humphrey Rusli bersama sebagian besar peserta CEO PowerLunch

Sabtu, 21 September 2013

CEO PowerLunch - SENI DAN PERAN TIM DALAM MENARIK SUPER-STAR



Dalam dunia bisnis, keberhasilan usaha tidak lepas dari peran karyawan. Itu kenapa owner bisnis perlu memiliki pengetahuan bagaimana cara mendapatkan karyawan yang ‘mumpuni’, baik dari segi skill, maupun attitudenya.
Bekal itu yang diberikan kepada owner bisnis dalam acara CEO PowerLunch, bertajuk “The Secret of Hiring Best People”, Rabu, 28 Agustus 2013 lalu.
Selain menjelaskan tentang tantangan yang ada saat proses perekrutan, Humphrey Rusli sebagai pembicara juga mengungkap ‘seni’ menarik seorang karyawan jempolan (super-star).
“Karyawan jempolan memang punya kelebihan sejak lahir. Namun untuk menjadi super-star, itu didapat dari jangka panjang (long term), dengan proses yang benar dan disiplin tentunya. Diperlukan kemampuan owner untuk mendapatkan dan kemudian melatihnya menjadi seorang great employee ,” tutur Humphrey di tengah acara yang berlangsung di Pelangi Room, hotel Shangrila Surabaya ini.
Lalu apa saja yang harus diperhatikan agar bisa mendapatkan seorang super-star? Humphrey menyebut, yang pertama adalah menunjukkan pada mereka bahwa perusahaan Anda punya level yang akan terus meningkat. Karena seorang super-star itu pada dasarnya senang tantangan dan selalu ingin berkembang.
“Beberapa contoh hal yang bisa dilakukan, diantaranya bisa dengan menunjukkan fasilitas training perusahaan pada mereka. Lebih baik lagi jika perusahaan Anda punya Corporate Social Responsibility, karena bisa menyentuh mereka secara holistik, bukan hanya skill saja, tapi juga rasa sosial mereka,” ungkap International business coach ini.
Selanjutnya, selain menunjukkan reputasi baik perusahaan pada mereka, juga harus dibarengi dengan atmosfir dan nuansa kerja yang kondusif saat mereka mulai bekerja pada perusahaan Anda.
“Yang terpenting adalah kualitas tim Anda juga harus dilatih untuk mendapatkan seorang calon super-star. Usahakan memberikan kualifikasi pertanyaan bermutu, dan pihak yang memberikan interview juga harus ‘mumpuni’,” kata Humphrey. “Kerjasama tim dan owner bisnis diperlukan untuk melatih dan memotivasi, agar seorang super-star tidak hanya super secara skill saja, tapi juga menjadi great employee yang bisa mengembangkan sistem mencapai puncak,” tambahnya lagi.

Pendapat para CEO : 
1.     Sesilia Mulyadi (PT. Bangun Adinata Indokarya)
Problem terbesar ketika merekrut adalah bagaimana mendapat karyawan yang karakternya sesuai dengan perusahaan kita. Kalau masalah skill tidak masalah, karena skill bisa dilatih. Dengan penjelasan yang diberikan coach Humphrey, sangat bermanfaat menambah pengetahuan, khususnya tentang bagaimana menghire orang yang tepat untuk perusahaan kita.

2.     Kris Dwiantoro (PT. Nisrina Indonesia)
Yang paling penting pada saat merekrut adalah memperhatikan heart dan spirit yang dipunyai oleh seorang calon karyawan. Namun justru inilah problem utama dalam proses hiring. Dengan mengikuti CEO Powerlunch, banyak hal baru yang didapat. Selain jenis-jenis pertanyaan untuk proses rekruitment, juga bagaimana mengungkap heart dan spirit calon karyawan.

Jumat, 20 September 2013

WEALTH EXPO 2013, KOTA KASABLANKA, THE KASABLANKA

Tim SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) dalam Wealth Expo 2013 di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, 13-14 September 2013. Acara yang diadakan oleh PT. Adam Khoo Learning Technologies Group ini diikuti oleh kurang lebih 4000 peserta. Menghadirkan beberapa pembicara seperti Chris Gardner, Adam Khoo, James Gwee, Merry Riana, Fabina Lim, serta CEO SEA Corp., Han 'Tiger' Budiyono. 
Coach Han Budiyono (CEO SEA Corp.) sebagai salah satu pembicara dalam Wealth Expo 2013.