business-forum

coaches

Tampilkan postingan dengan label uncategorized. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uncategorized. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2015

TAK ADA PILIHAN! - By: Coach Suwito Sumargo**

Saat berkunjung ke sebuah tempat usaha (toko), saya sering kagum dengan ketangguhan sang bos dalam menjalankan usahanya. Tak jarang, sang Bos harus sudah standby atau mengawali pekerjaannya, sejak sebelum toko buka hingga malam hari (setelah toko tutup).
Menurut penuturan mereka, saat toko buka mereka sibuk melayani pembeli, pemasok dan mengawasi para pekerjanya. Sementara setelah toko tutup, dia harus memeriksa setiap transaksi dan menuliskannya ke dalam buku catatan. Hampir tak ada waktu istirahat yang memadai, apalagi berinteraksi dengan keluarga dan teman.
Kadang, saya menangkap keluh mereka, yang merasa capek setelah menjalani selama belasan (bahkan puluhan) tahun. Mereka bilang: tak ada pilihan! Mereka harus mengerjakan sendiri karena tidak ada yang bisa diandalkan untuk menggantikannya.
Apa yang mereka lakukan, mungkin layak kita acungi jempol. Komitmen mereka ini sungguh luar biasa. Tapi, apakah pernah terpikir, betapa mahalnya tenaga, pikiran dan waktu yang mereka curahkan?
Sejak menjadi Coach, saya selalu berusaha, mendorong para pengusaha ini untuk berpikir dan bertindak dengan cara yang berbeda. Kalau mau, sebenarnya pekerjaan-pekerjaan itu bisa di-delegasi-kan ke orang lain.
Dan sang bos bisa menikmati lebih banyak waktu luang. Karena memiliki cukup banyak waktu luang, jelas lebih berharga. Seberapa besar penghargaan Anda terhadap waktu?
Share pendapat dan problem Anda by email ke: suwito@baracoaching.com

** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)

Kamis, 16 April 2015

KERANCUAN ANTARA GAJI, INSENTIF, TUNJANGAN, KOMISI, BONUS DALAM PERUSAHAAN - By: Coach Humphrey Rusli

Sering saya ditanya oleh para pengusaha, baik klien ActionCOACH atau saat saya mengasuh acara bincang bisnis. “Coach, kalau bonus itu dijanjikan diawal boleh atau tidak?”. Atau, “Manajer saya minta tunjangannya dinaikkan, apakah ada ukuran yang baku untuk menaikkannya, berapa persen?” Dan masih banyak lagi yang bernada seperti pertanyaan-pertanyaan di atas.

Ada baiknya saya ulas secara singkat perbedaan serta batasan dari macam-macam terminologi di atas:
1.       Gaji
Mungkin ini yang paling mudah dan sudah jelas. Gaji adalah satuan upah sebagai pengganti keahlian, waktu dan tenaga yang dicurahkan seorang pegawai dalam perusahaan. Besar kecilnya gaji tergantung seberapa besar waktu atau tenaga, dan seberapa ahli tenaga kerja yang di’beli’ perusahaan tersebut.

2.       Insentif
Insentif sebetulnya adalah 'tambahan' uang, sebagai upaya meminta pekerja mengerjakan tugas tertentu. Misalkan: seorang pekerja diminta untuk mengerjakan tugas tambahan, di luar tugas pokoknya.
Lalu si pekerja diberi insentif agar berkenan melakukan tugas extra itu. Insentif bersifat sementara dan kasuistis. Bila pekerjaan ekstra itu berlangsung permanen, maka insentif dilebur menjadi gaji, alias ada penyesuaian gaji atas beban pekerjaan barunya.

3.       Tunjangan
Mungkin dari semua istilah, ini adalah yang paling sering kurang tepat penggunaannya. Sebenarnya istilah tunjangan ini muncul apabila si pekerja butuh ditunjang agar mampu bekerja secara profesional pada bagiannya masing-masing.
Contoh: tunjangan rumah. Ini diberikan bagi pekerja yang dipekerjakan diluar kota sehingga butuh tempat tinggal. Tunjangan kendaraan, ini untuk pekerja yang terpaksa pulang pergi jarak jauh dari dan ke tempat kerja.
Ada juga tunjangan jabatan. Untuk jabatan tertentu misalkan manajer pemasaran, si pegawai dituntut untuk berpenampilan rapi dan well-groomed. Dari mana uangnya? Dari tunjangan jabatan itu. Intinya semua yang meningkatkan performa pegawai dan perlu ditunjang, masuk ke dalam post "tunjangan". Namun hati-hati, tidak semua pegawai perlu diberi tunjangan untuk bisa bekerja optimal.

4.       Komisi
Istilah ini sudah sangat populer di dunia penjualan. Komisi adalah bagi hasil dari sebuah usaha yang memiliki target yang jelas. Komisi memiliki aturan yang mengikat. Besaran komisi ditentukan di depan, dan komisi hanya diberikan bila target yang disepakati di awal tercapai. Bila target tidak tercapai, komisi otomatis tidak keluar.

5.       Bonus
Ini adalah suatu istilah yang paling sering disalah-kaprahkan dengan komisi dan atau insentif.
Secara konseptual, bonus tidak sama dengan istilah-istilah tersebut di atas. Bonus berasal dari kata latin yang bermakna: "atas kebaikan hati".
Dari dasar makna ini sudah terlihat, bonus tidak ada dasar perhitungan yang mengikat, tidak bisa dijanjikan, dan tidak tergantung oleh target yang dicapai. Bonus murni bentuk ucapan terima kasih owner usaha kepada teamnya.
Besarannya? 100% terserah owner. Apakah setiap tahun sudah pasti ada bonus? Belum tentu, tergantung owner. Dengan kata lain seorang pegawai tidak bisa ‘menuntut’ bonus akhir tahun kepada atasannya. Bonus adalah hak prerogatif owner.


Lalu? Setelah paham istilah-istilah di atas, apakah Anda bisa menggunakannya untuk memacu tim anda untuk lebih berkarya? Manakah yang Anda pakai dalam usaha Anda?

Ingat, Anda adalah pengusaha, Anda yang pegang uang. Istilah-istilah di atas tidak dibuat untuk mengekang Anda, namun sebaliknya seharusnya semakin Anda paham perbedaannya, semakin kreatif Anda memacu tim Anda.

The Sky is The Limit!
Selamat berkarya.

Senin, 06 April 2015

SENYUMMM..... - By: Coach Suwito Sumargo

Anda mungkin bertanya, apa hubungan antara bisnis dengan senyum. Saya akan bercerita sedikit di sini.
Suatu petang saya mampir di sebuah kedai, yang hanya menyediakan satu menu saja: Nasi Pecel. Tentu saja ada pernik-pernik pelengkapnya, seperti: Empal, Dadar Jagung, Sate Jerohan, dan lain-lain.
Saya mengantri di trotoar, bersama 4 - 5 orang lainnya. Dan ada belasan orang lagi yang sedang asyik menikmati nasi pecel (beralaskan pincuk daun). Kurang dari 10 menit, giliran saya pun tiba: Makan disini? Begitu sapa si Mbok. Saya pun mengangguk. Setelah 5 atau 6 tanya-jawab, tak sampai 2 menit, saya sudah siap menyantap nasi pecel plus srundeng dan sepotong empal.
Sambil makan, saya pun mulai menghitung-hitung, kira-kira berapa porsi yang bisa terjual dalam semalam. Dengan bantuan informasi dari tukang parkir, muncul angka yang fantastis, setidaknya 200 porsi. Itu capaian normal selama 3 jam per hari. Si Mbok berjualan 7 hari dalam seminggu, bergantian dengan putri dan menantunya.
Keesokan harinya, saya makan malam di resto siap saji lokal. Harga makanannya 4x lebih mahal. Dan saya harus menunggu 10 menit sebelum hidangan tersaji didepan saya. Tanpa senyuman ramah pula. Aah...bedanya bak  bumi dengan langit.
Selama belasan tahun, si Mbok tidak pernah pindah, tidak buka cabang, tidak mengubah tampilan atau penyajian, tidak mengubah menu utama (nasi pecel). Konon, senyum ramahnya pun tak pernah berubah.
Bila Anda punya bisnis semacam ini, apakah Anda akan ekspansi, buka cabang dimana-mana? Apakah Anda akan menerapkan standarisasi layanan, memperbaiki tampilan dan meningkatkan kebersihan? Silahkan share pendapat Anda.
Salam The NEXT Level!

Kamis, 02 April 2015

GARANSI EMOSIONAL VS GARANSI TEKNIKAL - By: Coach Humphrey Rusli

Pernahkah kita menjumpai bisnis atau brand/merk yang sangat dikagumi oleh konsumennya? atau sebuah produk yang sangat banyak memiliki konsumen loyal, bahkan ada yang sampai level fanatik?
“Kalau ndak pake produk xyz rasanya kurang pas,” begitu kata konsumen fanatiknya.
Mungkin buat sebagian pebisnis, ini hanyalah mimpi dan tidak mungkin terjadi. Bisa karena kalah modal dalam beriklan, kalah pandai dalam mempromosikan atau tidak menggunakan konsultan merek ternama, dan lain sebagainya.
Apapun alasannya, mereka sudah menyimpulkan tidak bisa punya konsumen loyal (fanatik) seperti brand di atas, dan kemudian memutuskan lebih baik fokus cari uang yang biasa-biasa saja.
Bagaimana kalau ternyata brand apapun bisa memiliki fenomena diatas? bagaimana kalau ternyata resepnya tidak serumit yang anda bayangkan?
Coba simak artikel pendek saya berikut ini:
Pada dasarnya manusia sangat egotistical (egois), lebih mengutamakan perasaan dan pemikiran sendiri dibandingkan pendapat dan pemikiran orang lain. Kesalahan besar yang sering kami (para coaches) lihat dalam banyak usaha adalah para pengusaha berusaha memberikan kesan "hebat", "terkini", "terbaru", "termutakhir", "tercanggih", dan lain sebagainya pada para konsumen, tanpa memperhatikan pendapat pribadi konsumen tersebut. Ini adalah apa yang saya sebut sebagai jebakan "Kecap No 1", di mana si penjual mati-matian berusaha menekankan persepsi bahwa produk/jasanya adalah yang terbaik.
Ingat, hampir semua manusia modern (termasuk saya dan anda) sangat sensitif dengan persepsi yang dipaksakan dari luar, dan lebih memilih mendengarkan pendapat pribadinya sendiri atau teman-teman dekat yang dipercayai.
Nah, untuk dapat memberikan persepsi positif kepada calon konsumen kita, alih alih memberikan iklan dengan jargon superlatif (Ter..., Paling ..., Super ..., dsb), alangkah bijaksananya kalau kita menceritakan proses produk atau jasa kita dan mengarahkan terbentuknya persepsi positif akan produk/jasa kita dari kacamata konsumen. Biarkan calon konsumen yang mengambil kesimpulan, bahwa anda hebat dan keren tanpa harus menyebutkan diri hebat dan keren.
Ini disebut strategi memberikan Garansi Emosional kepada calon konsumen. Apa itu Garansi Emosional? apa bedanya dengan garansi-garansi yang banyak ditawarkan oleh produsen/penjual? Prinsipnya sebetulnya sama, yaitu memberikan ketenangan buat calon pembeli bahwa keputusan membelinya tidak salah.  Bedanya, Garansi Teknikal (yang sudah lazim) menekankan pada jaminan bila sebuah produk atau jasa anda tidak berfungsi sesuai janjinya. Atau jaminan bila ada kerusakan akan diganti, dst.
Garansi teknikal berlaku setelah produk/jasa itu terbeli. Sedangkan Garansi Emosional berlaku bahkan sebelum produk/jasa itu terbeli. Bagaimana maksudnya?
Pernahkah anda minum air mineral atau AMDK? Sudah pasti pernah bukan? Pertanyaan saya, apa yang membuat anda yakin bahwa air mineral itu bersih? bukankah jernih semata tidak menjamin air itu layak minum? bukankah anda seharusnya membawa ke laboratorium untuk mengecek dahulu sebelum meminumnya?
Berapa orang yang pergi ke laboratorium dulu untuk setiap AMDK yang hendak dikonsumsi? jawabannya: TIDAK SATU PUN (kecuali anda yang bertugas di bagian sertifikasi AMDK). Mengapa anda dan saya percaya saja? apakah karena merek? ternyata bukan!
Coba anda cermati, iklan AMDK pada umumnya tidak pernah menyebutkan bahwa dia BERSIH dan BEBAS KUMAN. Coba cari tulisan itu dalam kemasan atau dalam iklan TV /radio/ koran/dsb. Pasti tidak anda temukan! lalu apa yang ditulis sebagai gantinya ketika beriklan?
- Menggunakan air dari sumber mata air XYZ
- Melalui proses penyaringan 17 x
- Sistem Ozonisasi atau reversed Osmosis
- Dst...
Ini adalah yang disebut "Garansi Emosional", yaitu persepsi anda sengaja diarahkan oleh produsen sehingga muncul kesimpulan tertentu. Dan karena anda sendiri yang menyimpulkan, bukan disimpulkan oleh produsen, anda jadi langsung percaya (ingat manusia lebih percaya pendapat pribadi).
Tidak percaya? Mari kita praktekkan:
Jika anda membaca atau mendengar sebuah statement : AMDK kami melalui proses penyaringan 17x... maka dalam benak anda pasti muncul sebuah kesimpulan... hmmm... kalau AMDK itu disaring 17x seharusnya air itu...... BERSIH!
Benar bukan?
Nah inilah yang disebut GARANSI EMOSIONAL, sebuah teknik menyajikan narasi untuk disimpulkan oleh pendengarnya.
Sudahkah anda memiliki GARANSI EMOSIONAL dalam bisnis anda? 
Semoga bermanfaat.


Senin, 23 Maret 2015

KARYAWAN SAYA NGGAK BERKUALITAS? - By: Coach Suwito Sumargo

“Saya kesulitan mendapatkan karyawan yang berkualitas. Karyawan saya ini selalu merepotkan. Mereka berulang kali bertanya dan tidak mau memutuskan sendiri.” Demikian sekilas perbincangan saya dengan seorang pemilik toko.
Saya berkunjung ini atas permintaan Pak Danny (pemilik toko). Sambil berbincang-bincang, bola mata Pak Danny 'berkeliaran' mengamati seluruh penjuru toko. Berkali-kali beliau minta maaf kepada saya, karena beliau harus segera 'mencegat' karyawan dan memberi serangkaian perintah. Ini untuk mencegah agar karyawannya tidak melakukan kesalahan.
Setengah jam kemudian, kesibukan toko pun mereda. Kami bisa berbincang lebih santai. Sambil menghela nafas, beliau berkata, “Ya seperti inilah kesibukan saya, setiap hari. Karena itu, saya tidak mungkin meninggalkan toko ini dan menghadiri seminar. Sebenarnya saya sangat ingin memiliki karyawan yang nggenah dan bisa dipercaya.”
Kejadian seperti ini sangat sering saya temui, ketika saya makan di depot atau belanja di sebuah toko kelontong atau membeli sesuatu di toko bangunan. Dan setiap pemilik usaha melakukan hal yang serupa dengan cerita diatas. Keluhan baru terasa ketika kegiatan usaha mulai tumbuh dan berkembang, ketika pembeli/pelanggan mulai banyak. Dan ketika keluhan makin sering muncul, punya usaha tidak lagi menyenangkan. Malah menjadi beban.
Bagaimana membebaskan kita dari beban ini?
Pertama, pikirkan satu bagian pekerjaan, yang PASTI bisa dikerjakan oleh karyawan-karyawan kita, dengan sempurna. Cukup satu bagian saja, bukan seluruh proses. Kemudian, coba latihkan ke karyawan-karyawan itu dan amati siapa yang menunjukkan tanda-tanda akan bisa melakukannya dengan baik.
Lalu, bagaimana bila karyawan-karyawan itu enggan mengikutinya?
Saya biasanya meminta klien untuk menceritakan ke karyawan-karyawannya, sebuah cerita tentang masa depan perusahaan dan bagaimana peluang karyawan-karyawan itu untuk maju dan sukses bersama. Ini bukan cerita tentang visi-misi yang nggombal, melainkan sebuah cerita atau cita-cita yang disampaikan dengan sepenuh hati, tulus dan jujur. Cerita yang disampaikan dengan penuh semangat. Dan...ternyata tidak banyak pemilik usaha yang mampu melakukannya dengan baik.
Tapi, bila si pemilik usaha berhasil meyakinkan karyawan-karyawannya, maka mereka akan berusaha sebaik-baiknya. Bahkan, tak jarang terjadi kompetisi diantara mereka. Dengan demikian, setiap karyawan itu akan berusaha menunjukkan yang terbaik.
Apa yang kita pelajari dari artikel saya kali ini?
1.    Kuasailah urut-urutan pekerjaan, lakukan pemenggalan-pemenggalan, agar setiap penggalan bisa dilakukan dengan baik.
2.    Menyemangati karyawan dengan menceritakan masa depan perusahaan dan bagaimana mencapainya. Bila kita berhasil melakukannya, maka kita mengajak karyawan-karyawan kita untuk memahami dan melaksanakan visi-misi.
Anda akan belajar lebih banyak, bila Anda menghubungi kami...

Salam The NEXT Level!

Kamis, 19 Maret 2015

KAPAN BUKA CABANG? - By: Coach Ruaniwati

Kapankah waktunya kita membuka cabang? Jika pertanyaan ini diajukan kepada Anda, mungkin jawabannya bisa bermacam-macam. Misal, jika saya sudah punya orang yang tepat atau jika modalnya sudah cukup, dan alasan lainnya. Bagaimana menjawab pertanyaan ini?
Mari kita telaah dengan benar dan ijinkan saya menanyakan, apakah sebenarnya yang Anda inginkan terjadi di bisnis Anda dalam 3 sampai 5 tahun ke depan?  Apakah jawabannya salah satu di bawah ini?
“Oh, saya ingin sales saya naik, saya ingin lebih profit atau saya ingin perusahaan saya lebih dikenal”. Jika jawabannya salah satu dari itu, apakah selama ini cara Anda berbisnis tidak bisa lebih dioptimalkan, sehingga harus membuka cabang baru?
Membuka cabang adalah salah satu cara untuk menaikkan omzet, menaikkan profit dan membuat usaha Anda lebih dikenal, apakah hanya itu saja?
Tentu saja ada banyak cara lainnya untuk meningkatkan hal-hal itu dan tidak harus membuka cabang untuk mencapainya. Membuka cabang juga mengandung resiko-resiko yang harus kita tanggung. Karena itu kita perlu realistis memperhitungkan dan menganalisa dengan baik.
Selain itu, membuka cabang juga harus disesuaikan dengan rencana jangka panjang bisnis Anda. Paling baik jika keputusan yang kita ambil sejalan dengan sasaran jangka panjang. Jika tidak, maka membuka cabang akan menimbulkan masalah atau beban baru.
Jika semua resiko yang mungkin muncul telah diperhitungkan dan mengambil keputusan untuk membuka cabang, apakah yang harus dilakukan? Buatlah perencanaan yang jelas, yang dapat diikuti oleh tim yang terlibat dan didiskusikan dengan mereka. Membuat perencanaan sebenarnya lebih mudah daripada melaksanakannya, mengapa demikian?
Melaksanakan rencana bisnis kita, memerlukan fokus dan konsistensi, bukan hanya dalam hal pembukaan cabang tapi juga di semua area bisnis. Tingkat keberhasilan yang baik ditentukan oleh seberapa baik kita sebagai pebisnis dan tim yang terlibat konsisten.
Bagaimana dengan Anda, apakah ini waktu yang tepat untuk membuka cabang? Ingin tahu lebih banyak?  Silakan emailkan pendapat Anda ke ruaniwati@baracoaching.com.

Salam the NEXT Level!

Kamis, 12 Maret 2015

JANGAN JUAL SAMBALNYA, TAPI JUAL LAUKNYA! - By: Coach Humphrey Rusli

Di budaya kita Indonesia, terutama di tanah Jawa, makan nasi dengan condiment atau pelengkap semacam sambal sangatlah umum. Bahkan buat sebagian orang, makan belum terasa nikmat jika belum ada sambal.
Sambal sebenarnya bukan merupakan lauk utama, namun mengapa sering dicari? Bagi penggemarnya, sambal ini adalah penambah selera, mungkin bila tanpa sambal makanan lezat hanya akan disantap sebanyak 1 porsi saja. Namun bila dibumbui sambal (yang pedasnya menggigit) mungkin bisa 1,5 bahkan 2x porsi biasa. Jadi kesimpulannya sebenarnya mana yang lebih penting, lauknya atau sambalnya?
Tentu jawaban (pada umumnya) adalah: Yang penting adalah lauknya. Namun benarkah demikian?
Jika kita beruntung bisa menikmati sajian/lauk yang nikmat, mungkin kita tidak terlalu butuh sambal untuk membantu menyantap habis nasi beserta lauk tersebut. Namun bagaimana bila lauknya tidak sedap atau kurang sesuai selera kita? Sudah barang tentu kita ‘terpaksa’ harus menambahkan sambal sebanyak-banyaknya agar bisa mengkamuflase rasa lauk yang kurang sedap dengan pedasnya sambal tersebut. Bukankah demikian?
Atau sebaliknya, bagi yang mengaku doyan berat sambal, mungkinkah mereka membeli makanan yang isinya hanya nasi putih dan sambal saja, tanpa lauk apapun? Tentu tidak bukan? Susah saya membayangkan hal itu terjadi, betapapun gemar mereka akan sambal, mereka tetap membutuhkan lauk yang juga sama nikmatnya bukan?

Lalu apa Hubungannya Sambal-Lauk ini dengan Bisnis?
Dalam bisnis, hukum sambal-lauk ini juga sangat berlaku. Sambal di dalam bisnis adalah ‘discount’ yang diberikan oleh penjual ke konsumennya. Sambal (discount) ini sangat menggiurkan dan bahkan sering dijadikan satu-satunya cara untuk menarik perhatian dan merangsang konsumen membeli lebih atau membeli sekarang juga.
Ini sebenarnya sah-sah saja dalam bisnis. Namun harap diingat, bahwa konsumen anda sebenarnya membutuhkan lauknya terlebih dahulu sebelum sambal (discount)nya. Lauk di dunia bisnis adalah keunikan dan perbedaan kualitas, layanan dan sebagainya dibandingkan kompetitor sejenis.

Ingat rumus dari Hukum Sambal-Lauk ini:
1. Tidak ada orang yang hanya membutuhkan sambal (discount) nya semata. Mereka membutuhkan lauknya terlebih dahulu, yaitu keunikan dan perbedaan yang seharusnya menjadi sasaran utama yang dijual oleh produsen/penjual kepada pembeli.
2. Semakin buruk kualitas lauknya (buruk di kualitas atau tidak adanya pembeda yang jelas dibanding kompetitor) semakin pembeli membutuhkan sambal yang extra pedas (discount yang extra besar) untuk menutupi ‘rasa’ yang kurang sedap tersebut.
Ada 10 lauk yang digemari oleh konsumen pada umumnya:
1. Lauk "Quality" atau bahan baku/SDM yang berkualitas dari sebuah produk/ jasa.
2. Lauk "Speed of Service" atau kecepatan pelayanan yang signifikan dibandingkan kompetitor.
3. Lauk "Customer Service" atau pelayanan prima ke pelanggan.
4. Lauk "Reliability" atau bisa diandalkan.
5. Lauk "Consistency" atau kemampuan supplier untuk menjamin kesamaan service atau quality secara kontinue dan terus-menerus.
6. Lauk "Safety" atau keamanan.
7. Lauk "Back Up Service" atau pelayanan yang terpadu dan mudah diakses oleh pelanggan.
8. Lauk "Convenience" atau nyaman dan dilayani dengan sangat baik, cepat, serta tepat sasaran.
9. Lauk "Image" atau kebanggaan yang timbul pada konsumen ketika membeli produk/jasa itu.
10. Lauk "Guarantee" atau ketenangan pembeli karena sebagian besar resiko ditanggung oleh produsen/penjual.
Nah, kesimpulannya: juallah ‘lauk’nya dahulu sebelum memberikan ‘sambal’nya, niscaya konsumen anda akan semakin bergairah dan setia kapada anda.

Salam The Next Level

Humphrey Rusli

Kamis, 05 Maret 2015

Membangun Karir atau Membangun Aset? - Coach Humphrey Rusli

Membangun karir atau aset? Pertanyaan ini terkesan sangat simple dan bisa dijawab langsung oleh pemilik bisnis keluarga. Namun sebenarnya justru ini adalah pertanyaan kunci yang bisa membantu pemilik bisnis keluarga melanggengkan usaha mereka sampai lintas generasi. Sayangnya, pertanyaan ini jarang ditanyakan sehingga menimbulkan keruwetan yang sejatinya tidak perlu diributkan. Kok bisa? Mari kita telaah.
Bisnis keluarga pada umumnya beranggotakan para keluarga dekat, yang sama-sama menggeluti satu bidang usaha. Umumnya generasi yang lebih tua bermaksud meneruskan aset ini ke garis semendanya, yaitu garis keturunan langsung dari kakek ke anak, lalu ke cucu, dan seterusnya.
Biasanya juga yang generasi lebih muda mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi, baik di dalam atau luar negeri. Sepulangnya dari atau setamatnya masa sekolah anak, pilihan yang jelas pada umumnya adalah langsung ditarik untuk membantu bisnis keluarga.
Nah, di sini mulai muncul kerancuan yang kalau dibiarkan akan menjadi sumber pertengkaran tiada berkesudahan dan tidak jarang berakhir ke perpecahan keluarga itu dalam menjalankan usaha. Pertanyaan yang sering muncul di benak generasi yang lebih muda adalah: Saya direkrut untuk membangun karir saya di bisnis keluarga ini atau untuk membantu generasi sebelumnya membangun aset? Apa perbedaannya?
Membangun Karir: Ini adalah bentuk pengembangan diri atau self actualization dari seorang eksekutif. Untuk membangun karir ada syarat-syarat yang wajib ada, job desc yang jelas, penghasilan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan prestasi kerja, kejelasan wewenang, dan adanya reward and punishment yang jelas.
Jadi kalau si anak memiliki pendidikan S2 di bidang bisnis dan kemudian diposisikan sebagai sopir atau yang mengurus para sopir angkutan, sudah barang tentu ini merupakan career suicide bagi si anak itu. Tujuan utama dari membangun karir adalah penciptaan rekam jejak prestasi yang baik (sesuai minat dan bakat) dan mengumpulkan pendapatan sebesar-besarnya. Gengsi juga berperan besar dalam membangun karir.
Membangun Aset: Pemahaman membangun aset 180 derajat berseberangan dari membangun karir. Membangun bisnis (baca: aset) tidak membutuhkan kejelasan job desc yang absolut di awalnya bagi para anggota keluarga yang terlibat. Nantinya pasti harus ada kejelasan job desc, tapi ketika seorang anggota keluarga baru bergabung, tidak diperlukan kejelasan ini.
Mengapa? Karena membangun aset bertujuan untuk menciptakan passive income dengan seefektif dan seefisien mungkin. Jadi kalau lulusan S2 tersebut diatas ternyata cakap mengurus sopir-sopir dan sopir-sopir pun segan dan patuh terhadap anak tersebut, maka posisi dia boleh dikatakan lebih leverage (berdaya ungkit) dalam asset building sebagai pengurus sopir, walaupun latar belakangnya adalah Master di Bisnis.
Membangun aset juga tidak terlalu memperhatikan peningkatan pendapatan ataupun peningkatan jabatan bagi anggota keluarganya, karena yang menjadi nomor satu bukan pendapatan per bulannya, namun apakah mesin penghasil uang mereka bisa terus-menerus menghasilkan uang dalam jangka panjang atau tidak. Sifat paling dasar dari aset adalah bisa diwariskan, sedangkan karir tidak bisa diteruskan ke generasi penerusnya.
Nah, sayangnya jarang sekali topik diatas ini dibahas oleh generasi yang senior bersama-sama dengan generasi muda. Kesalahpahaman akan hal ini sungguh sering terjadi di bisnis-bisnis keluarga yang kami bantu.
Si anak merasa gaji kurang dan tidak bisa kelihatan bergengsi, sedangkan si ayah merasa si anak kurang ulet dan suka pilih-pilih dalam menjalankan suatu pekerjaan. Si anak merasa tidak jelas (dan tidak berani bertanya) tentang apakah dia akan diwarisi aset usaha ini atau hanya sekedar ‘membantu’ dan mendapatkan gaji.
Sedang si ayah merasa sudah pasti akan mewariskan usaha ini ke anak, dan tidak perlu dibahas terlalu detail di awal. Masalah ini bisa lebih rumit lagi kalau sudah ada beberapa anak, sepupu, menantu yang bergabung di satu usaha yang sama.
Bagaimana solusinya? Bicarakan dan putuskan dengan jelas antara generasi senior dan generasi junior, apakah para junior direkrut untuk membantu membangun aset (yang nantinya akan diwariskan ke mereka) atau mereka direkrut untuk membangun karir di usaha orang tuanya (yang nantinya bisa dipakai untuk membangun karir di perusahaan orang lain yang lebih tinggi kelasnya)?
Semoga Berguna!
Humphrey

Kamis, 26 Februari 2015

BERSAING..SIAPA TAKUT? - By: Coach Ruaniwati

Siapakah sih sebenarnya yang disebut pesaing? Apakah yang produk atau layanannya sama seperti usaha kita? Apakah mereka yang menggerogoti pasar atau pelanggan kita? Apakah mereka yang menembak ide-ide kita?
Anda mungkin setuju dengan satu atau lebih jawaban diatas. Kenyataannya, tidak ada usaha yang tidak punya pesaing. Di semua level usaha dari level bawah sampai level tertinggi, dari produk apapun yang kita tahu, pasti ada kompetisi. Faktanya, jika suatu usaha tidak ada pesaingnya, kemungkinan besar karena usaha tersebut tidak prospek sehingga tidak ada pengusaha lain yang mau berusaha di bidang atau jenis usaha yang sama.
Selama ada kompetisi, itu berarti usaha kita ada prospeknya dan menghasilkan keuntungan.
Mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Persaingan dapat kita pakai sebagai tolak ukur kita terhadap kinerja usaha kita. Manfaat lainnya dari persaingan adalah latihan sparring partner. Tidak ada juara PERTAMA tanpa juara kedua, ketiga dan seterusnya.
Jadi, bagaimana kita bisa berlatih dengan memanfaatkan persaingan sebagai pendorong supaya kita jadi lebih baik? Ada 6 cara untuk menaikkan level usaha Anda:
1. Bersikaplah positif terhadap persaingan, menyadari jika semua usaha pasti ada pesaingnya.
2. Buatlah ranking, di nomor berapa kita saat ini, pikirkan bagaimana caranya untuk naik di level berikutnya. Jika Anda memerlukan bantuan ahli, silahkan cari dari sumber-sumber yang dapat dipercaya.
3. Terimalah kenyataan. Jika ranking Anda di urutan terbawah tidak perlu berkecil hati. Yang penting adalah tindakan yang direncanakan untuk bisa naik level.
4. Temukan hal utama apa yang membuat Anda berbeda dengan pesaing.
5 Jika seandainya kita di nomor satu, berhati-hatilah, tetap waspada. Cara yang paling baik adalah bertanding dengan diri sendiri, terus menerus mengusahakan untuk mengalahkan record kita sendiri.
6. Temukan cara untuk bekerjasama dengan pesaing jika memungkinkan, sehingga mendapatkan benefit (misalkan: membeli material dari sumber yang sama, sehingga mendapatkan harga yang lebih rendah karena kuantitas pembelian bersama yang lebih besar dibanding sendiri-sendiri).
Menarik bukan? Bersaing...Siapa takut?
Emailkan pendapat Anda untuk memperkaya bahasan ini ke ruaniwati@baracoaching.com

Salam The Next Level!

Senin, 23 Februari 2015

KAPAN ANDA MEREKRUT KARYAWAN? - By: Coach Suwito

“Ada berapa kandidat?”
“Dua orang.”
“Ya sudah, rekrut aja dua-duanya.”
“Bapak tidak menginterview dulu?”
“Ndak usah. Besok mereka langsung suruh kerja aja.”
Itu cuplikan pembicaraan sang Boss dengan Staf-nya. Kita tentu bisa menduga-duga situasi yang terjadi, yaitu sang Boss sedang kepepet dan amat butuh pegawai. Dan saking kepepetnya, sang Boss sampai-sampai mengabaikan interview.
Padahal interview merupakan salah satu tahapan penting dalam proses rekrutmen. Melalui interview kita bisa mengungkap karakter seseorang, termasuk kebiasaan-kebiasaan buruk yang seringkali ditutupi oleh kandidat.
Selain interview, kita juga perlu melakukan serangkaian tes untuk membuktikan karakter dan bakat-minat sesungguhnya. Ini akan berguna untuk merencanakan tahapan pelatihan yang dibutuhkan untuk pengembangan si kandidat.
Tahapan lain yang juga perlu dilakukan ialah pemeriksaan rekomendasi. Bila kita menyempatkan diri untuk menghubungi pemberi rekomendasi, maka akan lebih banyak fakta yang bisa terungkap. Siapa tahu ada fakta-fakta positif yang bisa membuat si kandidat menghasilkan top performance?
Ah, andai sang Boss tidak kepepet waktu, maka proses rekrutmen bisa dijalani dengan lebih baik. Jadi, sebaiknya lakukan saja rekrutmen terus-menerus, tidak perlu menunggu kepepet. Siapa tahu, kita justru menemukan kandidat-kandidat yang lebih baik dibandingkan karyawan yang ada saat ini.
Bagaimana pendapat Anda? Semoga tulisan di atas bisa membuka wacana dan inspirasi dalam bisnis Anda.
Have a Nice Monday...and... Salam The NEXT Level!

Kamis, 12 Februari 2015

4 HAL AGAR KARYAWAN ANDA BETAH DAN JADI ASET PERUSAHAAN - Coach Humphrey Rusli

Banyak pengusaha mengeluhkan, anak muda jaman sekarang tidak sama dengan jaman dahulu. Kalau dulu nggak perhitungan, sekarang sedikit-sedikit minta diberi kompensasi. Kalau dulu takut dan hormat sepenuhnya pada atasan, sekarang berani membantah dan sulit diatur, bahkan sering yang sok pintar tapi nggak bisa bekerja.
Belum lagi soal ketahanan mental, orang dulu sudah biasa ditekan dan menjalani semuanya dengan ulet. Anak jaman sekarang tidak tahan tekanan, dimarahin sedikit saja sudah sakit hati, dan tidak mau bekerja lagi.
Saya kira list perbedaannya akan sangat panjang kalau kita teruskan. Lalu bagaimana kita menyikapinya? Apakah generasi sekarang (Y) tidak bisa dijadikan aset yang bisa diandalkan untuk perusahaan anda? Jawabnya: Tentu bisa, hanya anda perlu paham 4 hal utama yang menjadi kebutuhan generasi ini.
1.  Surrounding
Generasi ini membutuhkan penerimaan kelompok atau "group acceptance". Buat dia, akan lebih betah bekerja, jika bukan hanya perusahaan itu yang menerimanya, tapi juga kelompok baru (teman-teman baru) di dalamnya, dimana dia akan bekerja bersama-sama.
Gunakan gruop interview untuk memperkuat hal ini. Pertemukan SDM yang akan anda rekrut dengan calon teman-teman sejawatnya, dan minta pendapat anak buah anda untuk menilai secara obyektif apakah SDM yang akan direkrut ini akan "fit in" ke dalam kelompok ini atau tidak.
2.  Acknowledgment
Generasi ini juga menghargai pengakuan yang bersifat pribadi atau perseorangan dari atasannya langsung. Sekedar memberikan applaus bila dia mencapai target atau memberikan email dengan maksud memuji performanya secara pribadi adalah sangat diharapkan dan akan memotivasinya untuk lebih berkarya lagi.
3. Information
Ini adalah ‘mata uang’ jaman generasi sekarang. Memberitahukan informasi secara terbuka tentang rencana perusahaan anda mau dibawa kemana, akan membuat mereka merasa ‘terlibat’.
Informasi ini juga bisa diperlakukan sebagai reward buat jenjang-jenjang tertentu. Misalkan untuk manager, maka ada informasi lebih detail tentang arah rencana perusahaan yang hanya manager yang boleh tahu, sedang staf biasa belum perlu tahu.
4. Security
Keamanan masa depan sangat dibutuhkan oleh mereka. Jenjang karir dan kesolidan finansial perusahaan membuat mereka merasa tenang dan dapat secara ‘rela’ dipacu keras oleh perusahaan tersebut. Sebaliknya, perusahaan yang tidak menyediakan jenjang karir yang jelas akan dianggap perusahaan kurang berkelas dan sering hanya akan dijadikan batu pijakan sementara saja sampai mereka menemukan perusahaan yang lebih menjanjikan.

Semoga artikel ini bisa membantu anda menciptakan tim yang super!

Salam the Next Level!

Senin, 09 Februari 2015

BAPAK SUKA LAGU APA? - By: Coach Suwito

Satu hari saya mampir ke sebuah toko CD untuk melengkapi koleksi disk musik saya.
“Bapak suka lagu apa? Tanya si pegawai toko.
“Ehm...yang rancak,” jawab saya datar.
“Mari, Pak, di sebelah sini. Dua deret ini iramanya rancak. Kalau Bapak suka yang instrumen, ada di rak yang itu. Kalau Bapak suka yang bahasa inggris, ada di sebelah sana,” demikian si pegawai toko ‘nyrocos’ dengan lancarnya.
Diam-diam saya mulai mengamati tempat ini. Tatanannya apik, teratur. Si pegawai juga aktif dan pintar menjual. Tapi sayangnya toko ini sepi pengunjung. Kenapa ya?
Yang pertama saya amati tentu saja LOKASI. Dan ternyata lokasi toko ini tidak jelek, karena bersebelahan dengan ATM centre dan cukup banyak orang yang lalu lalang mengunjungi ATM centre itu.
Lokasi sudah cukup oke. Lalu, perhatian saya tertarik ke interior-eksteriornya yang terkesan biasa-biasa saja. Saya jadi teringat dengan prinsip AIDA. AIDA merupakan prinsip pemasaran, dimana konsumen dibuat untuk tertarik lebih dulu (Attract), lalu membangkitkan keinginan atau minat mereka (Interest), menimbulkan keinginan untuk membeli atau memakai produk/ jasa kita (Desire), sebelum akhirnya benar-benar melakukan transaksi dengan Anda (Action). Tampaknya toko ini perlu sentuhan AIDA.
Mungkin interior-nya perlu sedikit diubah. Selain diisi dengan deretan rak dan CD, pemilik toko bisa menambahkan sofa atau tempat duduk yang didesain sedemikian rupa, agar pengunjung sedikit lebih lama berada di situ. Mendengarkan musik dengan lebih santai dan nyaman. Melihat film terbaru berikut sinopsisnya dari layar video yang anda sediakan di sekitar area duduk.
Bukan hanya itu, fasilitas seperti wifi juga perlu. Pengunjung bisa dengan mudah browsing tentang informasi film dan musik favorit juga terbaru. Sediakan juga satu unit komputer untuk informasi, CD apa saja yang disediakan.
Sekarang mari beralih pada eksterior toko. Saya belum melihat ada poster atau papan iklan di luar toko. Sayang sekali, bukankah desain poster atau iklan eksterior yang eye catching bisa jadi senjata Attrack dalam prinsip AIDA, untuk ‘memaksa’ calon pengunjung masuk?
Bicara konsep menarik, bukan hanya tentang desain tempat saja. Selain tempat, ada banyak poin bisa ditambahkan untuk menarik perhatian pengunjung atau konsumen. Salah satunya, dengan keanggotaan (membership). Secara tidak langsung, membership adalah sebuah bentuk pengakuan diri konsumen, bahwa mereka merupakan bagian dari sebuah komunitas (baca: bisnis anda).
Dengan bersedianya mereka menjadi anggota, bisa diartikan mereka mulai percaya dengan kita. So, berikan keuntungan dan manfaat lebih melalui membership, agar mereka bukan saja percaya, tapi kemudian loyal terhadap kita.
Nah, bagaimana dengan Anda? Setelah membaca cerita di atas, sudahkah terbersit prinsip AIDA yang bisa ‘disentuhkan’ dalam bisnis Anda?
Have a Nice Monday...and... Salam The NEXT Level!