business-forum

coaches

Tampilkan postingan dengan label uncategorized. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uncategorized. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Agustus 2015

SENSASI ‘ROLLER COASTER’ - By: Coach Suwito Sumargo**

Pernah naik roller coaster? Bagaimana rasanya, menegangkan bukan? Saya merasakan ketegangan naik roller coaster untuk pertama kalinya, di Jakarta. Dengan gaduhnya saya menceritakan pengalaman itu. Sensasi pertamanya itu lho, yang saya ceritakan kemana-mana. Tegang, takut, gemetaran, tapi sekaligus juga menyenangkan. Heboh deh, rasanya.
Meskipun senang, namun sampai beberapa tahun kemudian saya tidak mau naik lagi. Setelah itu saya hanya berani naik roller coaster yang levelnya lebih ringan, untuk anak-anak.
Pengalaman pertama, seharusnya mengasyikkan. Mengapa? Agar kita mau dan ingin mengulanginya berkali-kali. Pengalaman saya naik roller coaster memang mengasyikkan. Tapi saya tidak tergerak untuk merasakannya lagi. Kapok!
Setelah tahun 1990an, barulah saya naik roller coaster lagi. Kali ini di Disneyland. Ternyata, apa yang saya rasakan berbeda. Lebih menyenangkan dan keteganganpun berkurang. Sejak itu, dengan agak memaksa, saya ajak anak-anak untuk merasakan naik roller coaster. Kami pun bersenang-senang dan menikmati naik roller coaster.
Bagaimana dengan yang terjadi di bisnis kita? Apakah Anda mempersiapkan sedemikian rupa, sehingga pengalaman pertama membeli atau memakai produk Anda, benar-benar meninggalkan kesan positif yang mendalam? Dan bukan sebaliknya, malah meninggalkan kesan negatif sehingga si calon pembeli kapok!
Apakah Anda punya pengalaman serupa? Atau Anda bisa menceritakan, bagaimana menyiapkan agar pembeli merasakan pengalaman pertama yang positif?
Musik apa yang Anda perdengarkan di toko Anda? Bagaimana body language karyawan kita, saat menyapa pelanggan? Bagaimana tampilan toko kita? Aroma apa yang tercium di lobby atau ruang tunggu? Bagaimana dengan temperatur ruang? Apakah kita sudah mempersiapkan dengan baik?
Share pengalaman Anda by email: suwito@baracoaching.com. Mari berbagi pengalaman, siapa tahu jawaban Anda bisa menginspirasi teman-teman kita.
Salam The NEXT Level!

** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)


Kamis, 30 Juli 2015

INTENSIVE PRACTICE - By: Coach Ruaniwati**

Dalam 7 bulan terakhir, saya meng-hire seorang "personal trainer” untuk melatih otot-otot badan supaya menjadi lebih ramping.
Pada 3 bulan awal, tidak terlihat hasil yang berarti pada otot saya, selain kesakitan pada otot yang dilatih bergantian (biasanya sampai 3-4 hari setelah latihan). Dari minggu ke minggu, bulan demi bulan, sampai mendekati 4 bulan, mulai terasa perubahan, berat badan turun sekitar 4 kg.
Hampir bersamaan dengan pola latihan yang terstruktur, saya juga mulai mengatur pola makan yang baik. Setelah 3 bulan, kebiasaan pola makan menjadi lebih terbentuk. 
Sejujurnya, awalnya saya agak kurang yakin apakah bakal ada hasil, terutama pada saat-saat awal. Ada waktu-waktu selama periode latihan, muncul rasa malas dan bosan.
Setelah berjalan 3 bulan, pelatih saya mulai memberikan lebih banyak variasi gerakan dan menambah beban latihan, bagaimana hasilnya?
Ternyata saya sudah mampu untuk ditambah beban latihan, dan karena otot badan sudah lebih terlatih, rasa sakitnya biasanya hanya sekitar 2 harian.  Saya menyadari bahwa saya mampu karena ada latihan-latihan sebelumnya, intensitas teratur dan seorang pelatih yang bisa ramah pada suatu saat dan galak pada saat yang lain.
Selama proses latihan itu, pelatih dan saya menemukan bahwa ada gerakan tertentu yang tidak membentuk otot tapi menimbulkan cedera bagi saya (setiap orang bisa mempunyai reaksi tubuh yang berbeda untuk gerakan latihan tertentu).
Pelatih yang baik mampu melihat kemampuan orang yang dilatihnya, kapan menambah beban, kapan meningkatkan massa otot, kapan mulai variasi gerakan baru. Mengamati secara berkesinambungan kemajuan, memberi motivasi, memberitahu pengetahuan lain yang relevan dengan latihan, misalnya pola makan yang baik, dan tips lainnya. Mampu menerapkan disiplin jika diperlukan.
Mengapa saya menceritakan pengalaman ini? Karena pengalaman ini mirip sekali dengan proses business coaching. Bisa saja terjadi pada awal pendampingan, seorang pebisnis tidak merasakan hasil berarti di bisnisnya. 
Sama seperti proses latihan yang saya ceritakan tadi, proses coaching juga adalah proses pembentukan otot-otot usaha Anda. Semakin terlatih, semakin mampu untuk mengangkat beban lebih berat dan bervariasi, sehingga semakin baik juga bisnis Anda.
Anda ingin naik ke level usaha berikutnya? Action!

** Coach Ruaniwati: pelatih bisnis dengan pengalaman lebih dari 16 tahun di bidang marketing, branding, dan advertising.

Kamis, 25 Juni 2015

DAPAT MARKET SHARE ATAU INFORMASI, MANA YANG DULUAN? - By : Coach Humphrey Rusli ***

Ketika saya membantu para pengusaha muda merumuskan konsep bisnis yang pas dan sesuai dengan market, banyak yang kesulitan merumuskan: siapakah sebenarnya target market mereka, di mana mereka berada, masuk ke segmen mana mereka, apa yang mereka suka atau tidak suka, dan lain sebagainya.
Salah satu faktor utama kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas adalah: tidak tersedianya informasi yang komprehensif dan tidak terbiasanya kita melakukan riset mandiri sebelum kita berbisnis. Mungkin karena semakin banyaknya guru-guru bisnis yang menjamin "sukses" bila kita "nekad" dan langsung terjun di market. Tidak perlu bertele-tele mencari dan menganalisa pasar sebelumnya.
Langsung praktek dan belajar dari kesalahan di lapangan, kita jadinya semakin "terangsang" untuk menggunakan konsep tabrak dulu baru mikir belakangan. Nah, "konsep tabrak dulu" ini yang ingin saya bahas sedikit lebih dalam.
Sebenarnya ketika kita tes market atau menjual produk/jasa kita pertama kali, apa yang kita harapkan? Dapat market share atau Informasi? Artinya, apakah jualan pertama kita dimaksudkan untuk membuka pasar dengan harga miring (biasanya demikian), sehingga diterima dulu oleh pasar dan dengan harapan kita akan eksis nantinya. ATAU untuk memperoleh feedback dari konsumen perdana dengan harapan anda bisa memperbaiki produk dan servis anda ke depannya?
Fokus ke penetrasi pasar sebenarnya tidak salah. Namun sebaiknya ini dilakukan dengan data yang baik, artinya fokus pertama kita harusnya adalah mendapatkan feedback yang bisa kita pakai sebagai bahan pelajaran untuk memperbaiki proses penjualan kita. Baru setelah itu kita fokus ke penetrasi pasar.
Mengapa demikian urutannya? Karena penetrasi membutuhkan biaya yang cukup signifikan. Semakin kita tidak paham sikap respon pasar terhadap produk atau jasa kita, semakin sulit dan mahal biaya penetrasi produk atau jasa kita.
Perusahaan Zappos (yang diakui sebagai perusahaan sepatu online tersukses di dunia, dengan omzet tahunan mencapai 1 milliar dollar) pun melakukan "konsep tabrak dulu" sebelum melakukan penetrasi pasar besar-besaran.
Di awal berdirinya, Zappos pun kesulitan menebak apa maunya pasar. Mereka mencoba menerka-nerka, namun tidak terlalu berhasil. Hingga akhirnya sang pendiri melakukan tindakan berikut:
A. Mencari toko sepatu retail offline yang cukup banyak koleksinya.
B. Minta ijin pemiliknya untuk mem-foto stok sepatunya dan memasarkan secara online.
C. Membuat perjanjian dengan si pemilik toko tersebut: bila ada yang laku, Zappos akan membeli secara tunai dan dengan harga retail penuh tanpa diskon dari toko tersebut.
Benar, anda tidak salah baca. Zappos membeli secara tunai dan dengan harga retail untuk kemudian dijual dengan harga yang sama atau lebih mahal sedikit. Hal ini menyebabkan di awal bisnis onlinenya, Zappos tidak untung, bahkan sedikit merugi.
Kenapa Zappos mau? Karena dari eksperimen ini, muncul ilmu-ilmu baru yang mereka bisa ambil. Diantaranya:
- Bagaimana proses menjual yang disukai pelanggan.
- Bagaimana sistem yang mensupport jenis bisnis ini (online).
- Apa yang harus disiapkan bila ada yang minta retur.
- Mengapa ada model-model tertentu yang disukai dan ada yang tidak disukai.
- Seberapa rewel konsumen mereka akan model dan cara pembayaran, dan apa yang Zappos bisa lakukan,
- Dan masih banyak lagi.

Kesimpulan:
Sebenarnya pilihannya ada di tangan anda:
1. Anda melakukan riset pasar sebelumnya.
Mengumpulkan data segmen mana yang kita sasar, apa yang kita mereka sukai, dan sebagainya, sehingga anda lebih mudah membidik dengan tepat. Namun, ini butuh mental, energi, dan waktu yang tidak sedikit.
Atau
2. Jika anda kesulitan (tidak ada waktu) mengumpulkan data, sebaiknya anda melakukan tes market. Namun BUKAN untuk tujuan penetrasi pasar dahulu, melainkan untuk mendapatkan FEEDBACK yang jelas dari REAL market anda.
Sukses Untuk Anda!

*** Coach Humphrey Rusli:
- Coach of the Year 2014 (BEF Award Indonesia 2014) ;
- Sales Coach of the Year 2012 se-Asia dan Australia;
- Associate Coach of the Year 2013 tingkat Internasional (44 negara).

Jumat, 19 Juni 2015

6 LANGKAH PRAKTIS AGAR USAHA LANGGENG - By: Coach Ruaniwati**

Usaha langgeng sampai puluhan tahun bahkan dari generasi ke generasi, apakah mungkin?
Boro-boro ke generasi berikutnya, sekarang saja saya masih ngos-ngosan menjaga supaya perusahaan tetap hidup! Mungkin ada sebagian pebisnis yang berpikir demikian.
Bagaimana sih caranya supaya bisnis saya bisa stabil, kuat dan langgeng? Darimana saya harus mulai? Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan demi kelangsungan perusahaan:
1. Nilailah perusahaan Anda se-obyektif mungkin, coba pilahlah!
Sisi sales/marketing? Operasional? Sumber daya manusia-nya? Keuangannya? Jika Anda tidak dapat menilai sendiri, carilah tenaga ahli yang mampu membuat penilaian ini. Biasanya orang luar mampu menilai dengan lebih obyektif.
2. Jika sudah mendapatkan penilaian, tentukan prioritas bagian yang perlu diatasi lebih dulu.
3. Dengan tim Anda, buatlah rencana tindakan yang bisa segera ditentukan.
4. Tentukan target, pastikan siapa yang melakukan apa dan kapan.
5. Evaluasi setiap tindakan, bandingkan dengan rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya.
6. Lakukan perbaikan terus menerus sehingga hasilnya semakin baik.
Jika kita sedang membangun usaha, cobalah mengevaluasi kondisi perusahaan Anda paling tidak 6 bulan sekali, sehingga pencapaian atau targetnya bisa dievaluasi secara menyeluruh.
Berpikir dengan cara berbeda juga adalah kemampuan penting bagi para pebisnis. Jika kita melakukan hal sama dengan cara berbeda maka dapat dipastikan kita akan mendapatkan hasil berbeda.
Siap berubah? Siap action? Siapa takut!
Semoga Bermanfaat!

** Coach Ruaniwati: womanpreneur dengan pengalaman lebih dari 16 tahun di bidang marketing, branding, dan advertising.

Rabu, 17 Juni 2015

Sampoerna The Apprentice 2015 - PELATIHAN BISNIS UNTUK WHOLESALLER SAMPOERNA TERBAIK SE-INDONESIA

Sebagai salah satu lembaga pendampingan bisnis internasional, ActionCOACH BARACoaching Surabaya juga mensupport beberapa perusahaan dalam event mereka. Salah satunya dalam Sampoerna the Apprentice 2015 di Hotel Trans Bandung, 10-13 Juni 2015 kemarin. Acara yang diadakan oleh PT. HM. Sampoerna ini diikuti oleh 29 peserta dari Aceh sampai Merauke.
Wayan Mertasana Tantra, selaku Sales Director PT. HM. Sampoerna bertutur, event yang sudah ada sejak tahun 2011 ini, sebagai bentuk apresiasi terhadap wholesaller terbaik se-Indonesia.
Menghadirkan nara sumber utama, Coach Humphrey Rusli yang memberikan training bisnis terhadap generasi ke-2 (penerus) wholesaller Sampoerna yang terpilih.
“Selama beberapa hari ke depan, Anda akan diajak untuk berpikir secara lateral dan out of the box,” tegas coach Humphrey.
Lebih lanjut, beliau juga berkali-kali menegaskan pentingnya teamwork selama acara ini.
“Anda akan dibantu oleh teman-teman Anda dan ada saatnya Anda juga membantu teman-teman pengusaha yang ada di ruangan ini untuk mencapai hasil yang lebih baik bagi bisnis Anda.”
Di hari pertama, pelatih bisnis terbaik Indonesia 2014 ini memaparkan tentang fakta unik bisnis keluarga sekaligus apa suka dukanya. Hari berikutnya bagaimana membuat perencanaan (develop a plan) sampai hari terakhir, peserta diajak untuk menuliskan perencanaan bisnis mereka.
Silvy Chandra, salah satu peserta berujar, lewat acara ini dia bukan hanya bisa networking, tapi sekaligus brainstorming dengan teman-teman pebisnis dari seluruh Indonesia.
“Saya jadi tahu, pada umumnya teman-teman sudah sampai mana perkembangan bisnisnya, selain itu bagaimana keadaan bisnis di wilayah masing-masing.”
Peserta asal Denpasar, Bali ini juga mengaku mendapatkan inspirasi sekaligus refresh materi yang sudah pernah didapat sebelumnya.

“Kebetulan teori-teori yang diberikan, sebagian sudah saya dapatkan waktu kuliah. Dan sekarang, lewat pelatihan yang diberikan coach Humphrey, saya jadi benar-benar terinspirasi, seperti bisa membandingkan o.. ternyata ini bisa diaplikasikan, yang ini tidak.”

Senin, 15 Juni 2015

APA SAJA CIRI PEMIMPIN YANG BAIK ITU? - By: Coach Suwito Sumargo**

Konon, pemimpin yang baik dituntut harus mampu memberi contoh atau jadi teladan.
Wah...saya malah kalah trampil dengan anak buah dan itu berarti saya tidak bisa memberi contoh?
Gimana dong?
Ada lagi, pemimpin yang jempolan itu harus bisa memberi solusi, bila anak buah mengalami kesulitan. Ehm...inipun saya juga belum tentu bisa. Lha wong anak buah saya lebih senior dan berpengalaman.
Gimana nih, apakah berarti saya tidak bisa jadi pemimpin yang baik dan jempolan? Apa sih ciri-ciri pemimpin itu? Mengapa banyak pemimpin gagal, apa saja yang hambatannya?
Seorang pemimpin bisnis, selain memahami kompetensi bisnis yang dijalankan, juga harus menerapkan nilai-nilai moral dalam kesehariannya. Dalam artian, bagaimana dia berhubungan dengan orang lain, termasuk dengan bawahan atau timnya.
Semua orang bisa menjadi pemimpin, tapi belum tentu menjadi pemimpin yang baik. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, sebagai dasar atau pondasi membentuk kepemimpinan yang kuat.
Pertama adalah sikap terbuka terhadap masukan bawahannya. Jika diibaratkan dengan organ tubuh manusia, bawahan atau tim, merupakan alat gerak kita. Untuk membuatnya ‘berjalan’ bahkan ‘berlari’ kita harus tahu cara menggerakkan mereka. Caranya? Dengan melakukan komunikasi intens dan mengerti karakter setiap anak buah, sehingga memudahkan untuk mengarahkan mereka seperti kemauan kita.
Contoh aktivitas untuk membangun hubungan dengan tim bisa dengan melakukan evaluasi berkala. Di sini kita bisa mendengarkan penjelasan, keluhan, pendapat dan respon tentang kebijakan atau hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan. Dan tugas kita adalah mendengarkan dan menjawab, serta memberi masukan dan ‘mendorong’ mereka.
Kedua berhubungan dengan tujuan (visi dan misi) perusahaan dan gairah untuk mewujudkannya. Tujuan perusahaan bukan hanya dibuat ‘sebagus’ mungkin. Sesempurna mungkin. Tujuan itu harus disampaikan dengan tim kita. Sampaikan dengan cara sederhana dan mudah dimengerti.
Gairah dalam mewujudkan visi misi perusahaan bisa membangkitkan semangat tim untuk mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari, sampai akhirnya menjadi budaya dalam perusahaan.
Ketiga adalah menetapkan rencana tindakan dan aturan main. Rencana tindakan harus sesuai dengan aturan main yang ada. Sesuai dengan standar dan norma yang sudah ditetapkan atau jadi budaya perusahaan.
Namun, janganlah standar tersebut jadi membatasi ‘gerak’ kerja tim Anda. Doronglah mereka untuk selalu bereksperimen dan berpikir ‘out of the box’. Jangan lupa untuk memberikan mereka reward agar mereka semakin tertantang untuk berinovasi dan memberikan yang terbaik untuk perusahaan.
Poin ini juga harus didukung dengan sikap tanggung jawab. Mau bertanggung jawab atas semua konsekuensi terhadap keputusan yang dibuat atau diambil anak buah.
Terakhir, pastikan agar semua orang yang ada dalam tim terlibat. Memberikan perhatian, upaya dan komitmennya kepada bisnis Anda. Kenapa? Agar kerja ‘alat gerak’ Anda tidaklah timpang.
Nah, lalu bagaimana dengan Anda? Sebagai pemimpin, sudahkah Anda melakukan poin-poin dalam bisnis Anda?

** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)


Kamis, 04 Juni 2015

UKURAN S, M, L, Atau XL? - By: Coach Suwito Sumargo**

Bagi pria, mestinya cukup gampang dalam hal memilih baju, terutama dalam hal ukuran. Paling-paling hanya milih ukuran S-M-L-XL atau XXL. Kenyataannya tidak demikian.
Misalnya saya sendiri. Setiap kali saya membeli baju baru, yang pertama saya lakukan adalah memilih warna dan coraknya. Selain itu, saya juga sering membandingkan bahan kainnya, apakah enak dipakai dan tidak terasa panas di badan. Ketika bertanya ke beberapa teman pria, ternyata saya mendapatkan macam-macam jawaban. Beberapa teman menjawab dengan gampang: serahkan saja ke isteri masing-masing, mereka pasti lebih tahu apa yang cocok bagi suaminya.
Sebaliknya, satu-dua teman menjawab dengan lebih detail. Para pria ini mengeluhkan banyak hal, misalnya: ukuran S-M-L-XL satu perusahaan baju dengan yang lainnya ternyata tidak sama, tidak ada standarnya. Karena itu, mereka harus mencoba beberapa kali sebelum menemukan ukuran yang pas. Ini tentu menjengkelkan.
Saya pun teringat dengan pengalaman beberapa waktu yang lalu, ketika memilih baju di salah satu Departemen Store ternama. Saya sengaja hanya mendatangi sebuah merk yang sudah familiar, karena beberapa kali saya membeli baju dengan merk tersebut, ternyata ukurannya pas banget. Nah, kali ini saya terpaksa kecewa. Setelah memilih warna, corak dan bahan, saya pun meminta ukuran L ke SPG yang bertugas. Eeh...ternyata ukuran L terlalu kecil. Dan yang pas adalah XL, dengan konsekwensi panjang lengan tak sesuai.
Kali ini saya tidak ingin membahas ukuran baju yang pas buat saya. Tapi, bukankah seharusnya setiap pabrik pakaian memiliki standar ukuran S-M-L-XL yang sama? Bukankah itu standar yang berlaku secara internasional?
Anda mungkin tidak setuju dengan pendapat saya. Karena pengalaman menunjukkan kepada kita, bahwa ukuran standar pun tidak (pernah) sama antara satu pabrik dengan lainnya. Seolah-olah setiap pabrik berhak menentukan ukuran standar nya masing-masing. Benarkah demikian?
Andaikata pendapat diatas dianggap benar, yaitu setiap pabrik pakaian bisa menetapkan standar ukuran S-M-L-XL nya sendiri, bagaimana dengan kita sebagai konsumen? Bukankah itu bakal merepotkan kita?
Sebaliknya, mungkin ini justru merupakan peluang bagi pabrik atau produsen. Yaitu, apabila si produsen bisa konsisten mempertahankan standar ukurannya, bukankah mereka berpeluang mempertahankan konsumen nya, agar loyal kepada produknya? 
Jadi, andaikata ceritanya agak sedikit berbeda, yaitu: setelah memilih warna, corak dan jenis bahan, lalu saya langsung cocok dengan ukuran L (sesuai dengan ukuran yang biasa saya pakai sebelumnya), maka sangat mungkin saya akan menjadi pelanggan loyal merk kesukaan saya.
Proses merekrut pembeli saja sudah cukup memusingkan. Nah, kini saatnya kita memikirkan: bagaimana mempertahankan agar sang pembeli menjadi pelanggan dan loyal. Bila tidak dipikirkan secara matang, mungkin masalah standar ukuran pun bisa membuat pembeli menjadi tidak loyal.
Banyak produsen yang belum apa-apa sudah putus asa: toh konsumen tidak akan loyal-loyal banget. Mereka selalu punya pilihan: warna, corak dan bahan. Memang, masih sedikit produsen yang memikirkan segala pernik-pernik keinginan pelanggannya. Kebanyakan produsen hanya membuat produk ala kadarnya, yang penting laku terjual.
Mereka enggan bersusah payah hingga bisa mempertahankan pembeli menjadi pelanggan (loyal). Anda termasuk dalam kategori mana, produsen yang benar-benar serius mikiri keinginan dan harapan pelanggankah?


** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)

Senin, 01 Juni 2015

PUJIAN - By: Coach Suwito Sumargo**

Seorang teman kagum atas kebersihan mobil saya. Ia bertanya, apakah mobil saya secara teratur dibawa ketempat cuci mobil? Dengan tersenyum saya menggeleng dan sambil menunjuk ke sopir, saya berkata mobil ini bersih karena dia rajin membersihkannya. Coba tebak, apa yang terjadi selanjutnya? Menurut Anda, bijakkah cara saya ini?
Faktanya adalah saya memuji seseorang secara terang-terangan. Anda juga bisa mempraktekkannya pada karyawan Anda. Konon, ada mitos bahwa bila kita memuji secara terang-terangan, maka orang yang dipuji tersebut akan besar kepala dan efeknya tidak baik.
Tapi, bila kita menggunakan cara yang benar, maka pujian kita itu justru berdampak positif. Dampak positif itu seperti: mereka akan menikmati pekerjaan, bekerja lebih keras, bahkan membagi kebahagiaan itu dengan rekan-rekannya, sehingga karyawan lain bisa meniru bahkan berlomba-lomba menciptakan prestasi.
Lalu bagaimana cara memuji yang benar itu?
1.     Tulus
Pujilah karyawan Anda setulus dan sepositif mungkin.
2.     Waktu
Yang dimaksud di sini adalah tepat pada waktunya. Jangan terlambat dalam memberikan pujian. Semakin cepat Anda mengapresiasi hasil kerja positifnya, akan semakin ‘mengena’ pujian Anda. Dan lebih baik jangan terlalu berlebihan, sesuaikan dengan hasil pekerjaannya saja.
3.     Gesture
Gesture berhubungan dengan bagaimana cara kita menyampaikan pujian itu. Bisa dari bahasa tubuh maupun mimik muka. Terkadang, karyawan bisa melihat tulus tidaknya kita memberikan pujian dari poin ini.
4.     Sesuai karakter orang yang dipuji
Dalam memberikan pujian, kita juga harus tahu karakter karyawan yang kita puji. Karena tidak semua karakter bisa menerima ‘perlakuan’ yang sama. Ada yang lebih senang dipuji di depan umum, namun ada juga yang lebih suka bila kita menyampaikannya secara privat.
Lalu ada yang lebih suka dipuji dengan gaya biasa saja, tapi banyak juga karyawan yang dipuji dengan gaya berlebihan (hiperbola).
Nah, bagaimana menurut Anda. Share ke saya, bila Anda punya cara memuji yang lebih bijak.
Salam The NEXT Level!


** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)

Kamis, 21 Mei 2015

BELAJAR ‘MENJUAL’ DARI FILM FOCUS - By: Coach Humphrey Rusli**

Sudah nonton film "FOCUS"? Film ini menceritakan kisah seorang "ConMan" atau penipu yang bernama Nicky Spurgeon (diperankan oleh Will Smith) dan muridnya Jess (Margot Robbie). Film ini saya angkat dalam artikel ini, karena ada adegan yang sangat bagus dan saya kira relevan dalam dunia marketing dan sales.
Diceritakan bahwa Nicky dan Jess hendak menipu seorang cukong cina yang hobby judi. Mereka mensetting seolah-olah mereka (Nicky dan Jess) bertemu secara tidak sengaja dengan si cukong yang sedang menonton American Football di stadiun. Nicky dan Jess pun sedang menonton pertandingan olah raga ini dalam stadiun yang sama dan duduk hanya beberapa meter dari si cukong.
Singkat cerita, mereka (Nicky and Jess) beradu judi dengan si cukong, mulai dari menebak score, menebak arah bola dan lain sebagainya. Si cukong terus menerus menang dan berhasil menebak dengan benar terus, dia merasa sangat beruntung hingga akhirnya si cukong bersedia untuk bermain yang terakhirnya dengan taruhan uang sangat besar USD 1,000,000. Apa yang harus ditebak?
Si cukong memilih satu pemain dari semua pemain di lapangan berdasarkan insting si cukong, dan Nicky wajib menebak angka punggung pemain berapa yang ditebak oleh si cukong.
Apakah Nicky berhasil? Yes, angka 55 yang dipilih secara random oleh si cukong berhasil ditebak oleh Nicky and Jess! Luar biasa bukan! Berapa kecil kemungkinan benarnya? 1: 10000000... Alias sangat kecil sekali. Apakah ini keberuntungan semata? Ternyata tidak.
Semua sudah direncanakan sejak awal dengan matang. Angka 55 secara terus menerus sudah dimasukkan ke benak alam bawah sadar si cukong. Mulai dari si cukong check out dari hotel, sudah ada lampu hias dengan motif "55", ketika keluar di jalan, si cukong melihat demonstran yang membawa spanduk bertuliskan "55", bahkan ketika sedang di ruangan khusus dalam stadiun, Nicky dengan sengaja memutarkan lagu yang mengandung kosa kata "WU..WU..WU" yang dalam bahasa mandarin berarti "5".
Tanpa sadar si cukong sudah digiring untuk memilih angka 55.
Menarik bukan? Apa hubungannya dengan marketing and sales? Kadang perilaku konsumen kita mirip seperti si cukong itu, mereka sulit ditebak dan terkesan instingtif akan produk atau jasa mana yang akan dipilihnya. Dan tentunya supplier mana yang dipilih akhirnya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun sebenarnya ini bisa kita rencanakan.
Setiap transaksi yang terjadi itu sebetulnya dimulai dari proses yang panjang. Bagaimana anda bertemu prospek, seberapa sering anda bicara dan tukar informasi dengan dia, seberapa sering anda dia jumpai dalam acara-acara non formal, dan seberapa kerap dia melihat brand anda atau mendengar tim anda menceritakan jasa atau produk anda.
Sudah saatnya anda yang menentukan "nasib" perusahaan anda. Nah sudahkah anda mendesain dengan cermat proses pemasaran dan penjualan anda?
"At the end of the day..this is A Game Of FOCUS."

Salam The NEXT Level!

*** Coach Humphrey Rusli:
- Coach of the Year 2014 (BEF Award Indonesia 2014) ;
- Sales Coach of the Year 2012 se-Asia dan Australia;
- Associate Coach of the Year 2013 tingkat Internasional (44 negara).

Kamis, 07 Mei 2015

“AVENGERS” DALAM BISNIS - By: Coach Ruaniwati

Bagi saya, film-film superhero selalu asik ditonton :), selain dibikin kagum sama penampilan kostum, bentuk badan berotot aktor/aktris-nya, penampilan akting yang baik maupun penampilan visual koreografi yang tertata baik. Apalagi kalau film-nya tentang serombongan superhero, wow!
Ya, saya sedang membicarakan (baca "ngrasani") AVENGER! Saya terkagum-kagum dengan koreografi visual yang luar biasa keren. Dan seperti biasa, yang kita lihat keren sebenarnya adalah proses di belakang layar yang memakan ribuan jam kerja, ratusan kru yang terlibat dan tentu saja koordinasi yang baik untuk menciptakan karya yang mampu menarik perhatian orang banyak.
Film superhero dari sisi cerita mirip-mirip plot-nya, ada penjahat yang bakal ditumpas oleh sang pahlawan. Kali ini penjahat dengan segala kelengkapan teknologi yang rencananya ingin melenyapkan umat manusia di bumi dan seperti biasa di akhir cerita, penjahat ditumpas oleh superhero.
Ada satu hal di film "avengers" ini yang ingin saya bawa ke dunia nyata. Pada waktu superhero dalam proses mencari jalan menumpas penjahat (baca: Ultron) mereka ternyata mudah dipecah belah, salah satu taktik yang paling kuno yang tercatat di sejarah. Memanfaatkan ketakutan mereka masing-masing, para superhero luluh lantak tak berdaya menghadapi penjahat.
Bagaimana ini di dunia nyata? Barangkali tim yang kita punya secara perorangan adalah orang-orang luar biasa, tanpa dukungan kelompok mereka telah terbukti berprestasi hebat. Pada waktu berkumpul menjadi satu kelompok, ternyata hasilnya "memble". Apa yang terjadi? Mengapa mereka bisa tidak berprestasi secara kelompok?
Salah satu peran penting dalam kelompok adalah seorang pemimpin, yang dihormati oleh seluruh anggota kelompok, yang walaupun secara pribadi juga dapat dipengaruhi, namun punya kemampuan untuk melihat persoalan dengan obyektif dan melihat kelompok sebagai kesatuan.
Hal lain yang juga tak kalah penting adalah tujuan kelompok, jika setiap orang dalam kelompok mempunyai tujuan yang sama, maka sesulit apapun tugasnya, setiap orang mampu bertahan demi tujuan yang diyakini bersama (dalam hal ini mencegah pembasmian umat manusia dalam Avengers).
Apakah di perusahaan, Anda sudah punya tujuan bersama yang diyakini oleh orang yang terlibat? Apakah Anda telah bertindak sebagai pemimpin yang dihormati, disegani oleh kelompok superhero Anda?
Bertindaklah sekarang dan ciptakan segerombolan superhero di usaha Anda!
Salam The NEXT Level!

SHERLOCK HOLMES - By: Coach Ruaniwati

Siapa tidak tahu detektif terkenal rekaan Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes? 
Buku-bukunya laris sepanjang masa, filmnya di bioskop selalu di-antri penonton, sampai dibuat berseri. Tak ketinggalan serial televisi beberapa versi. Lengkap!
Mengapa begitu banyak orang nge-fans dengan tokoh ini? Sherlock digambarkan sangat pandai, hampir-hampir dianggap dewa di dunia per-detektif-an :). 
Yang paling menarik adalah kemampuan deduksi yang luar biasa, yang diperoleh dari pengamatan sangat detail. Pemecahan suatu kasus biasanya digambarkan rumit dan tidak dapat ditebak oleh orang pada umumnya. 
Sherlock dapat menghubungkan bukti-bukti detail sederhana sedemikian rupa sehingga dapat mengetahui kejadian sesungguhnya yang memecahkan misterinya.
Selain itu, pengamatan menyeluruh tentang perilaku dan mengetahui motivasi seseorang melakukan suatu tindakan yang membuat Sherlock jadi detektif kawakan.
Apakah kemampuan deduksi dan mengamati hal-hal detail seperti ini dapat kita pelajari dan dibawa ke kondisi sehari-hari perusahaan? Tentu saja bisa jika kita mau!
Bagaimana pengamatan detail dan kemampuan deduksi dapat diterapkan? Coba amati anak buah Anda, apakah jika diperlakukan aturan baru terjadi perubahan perilaku? Positif atau negatif? Apa yang menyebabkan mereka bertindak seperti itu?
Apakah detail-detail sederhana perilaku mereka dapat dikembangkan menjadi perilaku yang baik dan memberi benefit bagi perusahaan?
Apakah Anda punya contoh lain di bisnis Anda yang memerlukan deduksi ala Sherlock?
Selamat jadi detektif!
Salam The Next Level


Senin, 04 Mei 2015

FATAL LOYAL - By: Coach Suwito Sumargo**

Senin yang lalu, jam 6.30 pagi saya sudah siap di lobby laboratorium langganan saya. Memang, 6 bulan terakhir ini saya bolak-balik ke beberapa laboratorium, yang bukan langganan saya. Dan 2 pemeriksaan terakhir, saya kembali memeriksakan diri ke laboratorium langganan saya. Saya menggunakan kesempatan ini untuk membandingkan satu laboratorium dengan lainnya.
Nopember 2014, saya menjalani pemeriksaan di laboratorium B. Hasil pemeriksaannya agak mengecewakan, karena gula darah menembus batas. Gara-gara layanannya saya anggap tidak memuaskan, maka saya meragukan kebenaran hasil pengukurannya.
Setelah konsultasi dengan dokter keluarga, maka diputuskan agar saya melakukan pemeriksaan sekali lagi, dengan metode yang berbeda dan di laboratorium yang berbeda. Kali ini saya mengusulkan untuk melakukan pemeriksaan di laboratorium langganan saya.
Ternyata, laboratorium langganan saya tidak bisa melakukan pemeriksaan dengan metode seperti yang diminta dokter. Pemeriksaan pun terpaksa saya lakukan di laboratorium sebuah rumah sakit swasta yang ternama. Hasilnya? Memperkuat hasil pemeriksaan pertama, di laboratorium B: gula darah saya memang menembus batas.
Saya pun mulai menjalani terapi dan 2 minggu kemudian saya mengunjungi laboratorium langganan. Hasilnya? Ada perbaikan! 2 bulan kemudian, pemeriksaan serupa dilakukan sekali lagi. Dan dokter memutuskan, gula darah saya sudah kembali normal.
Total, dalam 6 bulan terakhir saya mengunjungi 3 laboratorium yang berbeda. Dan saya tetap ingin kembali ke laboratorium langganan. Mengapa? Di laboratorium langganan, bukan saja layanannya lebih ramah, tapi saya juga melihat perbaikan atau pengembangan-pengembangan.
Dalam 5 tahun terakhir, saya mengunjungi laboratorium langganan saya, minimal sekali setahun. Dan, saya selalu menemukan perubahan dan perkembangan baru.
Misalnya, toiletnya bukan saja selalu bersih, wangi, tersedia tempat menaruh barang-barang kecil bawaan kita dan jumlahnya pun ditambah. Maklum, di saat banyak pasien melakukan pemeriksaan, terkadang terjadi antrian di toilet.
Software yang digunakan semakin praktis, mencatat detil pemeriksaan jadi semakin cepat. Karyawan-karyawannya semakin terlatih, murah senyum dan ramah. Ada 1 karyawan, yang diberi tugas khusus, yaitu menjelaskan pernik-pernik pemeriksaan, baik kepada pasien lama maupun baru. Dan masih banyak lagi daftar pujian terhadap laboratorium langganan saya ini.
Mungkin tidak semua, tapi pasti ada saja pasien (seperti saya), yang gemar mengamati. Pasien (atau pelanggan), adalah pengamat awam. Tapi, hasilnya bisa mempengaruhi pendapatan perusahaan.
Pelanggan yang loyal, membutuhkan sentuhan tertentu agar tidak 'patah hati'. Meski saya tergolong jarang ke laboratorium, tapi saya mengamati perkembangannya. Dan, saya suka dengan perkembangan positif yang saya lihat dan alami.
Apa jadinya, bila saya tidak lagi merasakan perkembangan positif? Apa kira-kira pendapat pelanggan seperti saya, bila merasa tidak puas dan tidak sreg lagi dengan layanannya?
Bagaimana bila saya juga meragukan kebenaran hasilnya? Jawabannya? Pasti saya tidak mau kembali dan pindah ke laboratorium lain.
Dan mungkin saja, saya akan bilang kesana kemari, bahwa mutu dan layanan laboratorium ini sudah merosot. Jadi, kita harus hati-hati dalam memperlakukan pelanggan. Bila keliru, hasilnya bisa-bisa fatal. Tapi, bila perlakuan kita tepat, maka pelanggan akan jadi loyal.


** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)

Kamis, 23 April 2015

SHERLOCK HOLMES - By: Coach Ruaniwati



Siapa tidak tahu detektif terkenal rekaan Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes? 
Buku-bukunya laris sepanjang masa, filmnya di bioskop selalu di-antri penonton, sampai dibuat berseri. Tak ketinggalan serial televisi beberapa versi. Lengkap!
Mengapa begitu banyak orang nge-fans dengan tokoh ini? Sherlock digambarkan sangat pandai, hampir-hampir dianggap dewa di dunia per-detektif-an :). 
Yang paling menarik adalah kemampuan deduksi yang luar biasa, yang diperoleh dari pengamatan sangat detail. Pemecahan suatu kasus biasanya digambarkan rumit dan tidak dapat ditebak oleh orang pada umumnya. 
Sherlock dapat menghubungkan bukti-bukti detail sederhana sedemikian rupa sehingga dapat mengetahui kejadian sesungguhnya yang memecahkan misterinya.
Selain itu, pengamatan menyeluruh tentang perilaku dan mengetahui motivasi seseorang melakukan suatu tindakan yang membuat Sherlock jadi detektif kawakan.
Apakah kemampuan deduksi dan mengamati hal-hal detail seperti ini dapat kita pelajari dan dibawa ke kondisi sehari-hari perusahaan? Tentu saja bisa jika kita mau!
Bagaimana pengamatan detail dan kemampuan deduksi dapat diterapkan? Coba amati anak buah Anda, apakah jika diperlakukan aturan baru terjadi perubahan perilaku? Positif atau negatif? Apa yang menyebabkan mereka bertindak seperti itu?
Apakah detail-detail sederhana perilaku mereka dapat dikembangkan menjadi perilaku yang baik dan memberi benefit bagi perusahaan?
Apakah Anda punya contoh lain di bisnis Anda yang memerlukan deduksi ala Sherlock?
Selamat jadi detektif!
Salam The Next Level