business-forum

coaches

Tampilkan posting dengan label training. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label training. Tampilkan semua posting

Senin, 05 Oktober 2015

The Ultimate Sales Training – With Petrokimia Gresik


The Ultimate Sales Training” untuk tim Petrokimia Gresik. Bertempat di Gedung Diklat Petrokimia, acara ini berlangsung selama 2 hari (29-30 September 2015).
Training dibagi menjadi 2 sesi. Coach Ruaniwati selaku pelatih bisnis sekaligus pembicara di hari pertama, memaparkan teori dasar-dasar penjualan secara fundamental.

Sedangkan hari kedua, menghadirkan nara sumber yang berbeda, Erfina Hakim. Erfina selaku Head of Training Division BARACoaching Surabaya lebih menjelaskan sisi mentalis seorang sales. Jadi lebih mengarah pada teknik apa saja untuk jadi tenaga sales yang handal.

Banyak hal dikupas dalam training ini. Mulai dari bekal seorang sales, tipe sales, tantangan apa saja yang dihadapi dan bagaimana menghadapinya, sampai mengenal karakter setiap peserta melalui tes DISC. Para peserta juga aktif berdiskusi dan share pengalaman mereka dengan pembicara. 

Jumat, 04 September 2015

Soft Selling Training - TIGA KUNCI KEBERHASILAN SOFT SELLING

Banyak sales tidak menyadari, bahwa soft selling merupakan teknik penjualan yang harus dikuasai selain hard selling. Soft selling, yang disebut-sebut sebagai teknik dasar negotiation skill ini berkaitan dengan strategi (taktik) menjual yang tujuannya membuat konsumen tidak merasa ‘dirugikan’ atau mau membeli tanpa merasa ‘dijuali’, bahkan bangga membeli/ menyepakati kerjasama.
Setelah mengupas beberapa tema penjualan (sales) sebelumnya, kali ini ActionCOACH BARACoaching Surabaya kembali mengadakan training bertajuk “Soft Selling”, Kamis (27/08/15) lalu. Erfina Hakim, selaku pembicara memaparkan poin-poin penting, mulai apa itu soft selling, hal apa yang harus dihindari, bentuk dan teknik, sampai tips bertanya dalam soft selling.
“Dalam soft selling, yang terpenting adalah tekniknya, bukan medianya. Jadi bagaimana kita menyampaikan secara persuasif, nampak dalam visualisasi fisik yang wajar bahkan elegan, dan jauh dari kesan mendesak atau provokatif,” ujar Erfina.
Lebih lanjut, wanita yang akrab dipanggil bu Fina ini menyampaikan 3 kunci yang perlu dicermati dalam menjual dengan teknik soft selling.  Pertama, menyampaikan dari sudut pandang dia (pembeli). Poin ini bisa dilakukan dengan memahami temperamen calon pembeli, menemukan kebutuhan, bukan keinginan pembeli, dan paham teknik komunikasi dengan pembeli.
Kedua sesuai dengan kondisi Anda (penjual), dan terakhir melakukan dig deep atau menggali informasi lebih dalam tentang calon pembeli.
“Semua komposisi di atas harus Anda sempurnakan dengan pemilihan kata-kata (words), permainan voice, dan tampilan body language atau bahasa tubuh. Dalam penjualan, body language memegang peran sebesar 55% dalam keberhasilan closing dengan pembeli. Lebih besar dari 2 poin sebelumnya, words hanya 7% dan voice hanya 38%.”
Dalam training half day ini, wanita yang dikenal sebagai trainer yang friendly dan selalu ceria ini menyampaikan beberapa tips teknik bertanya dig deep (menggali lebih dalam). Pilihan kata tanya apa saja yang sebaiknya dipakai dan kata tanya apa saja yang justru harus dihindari. Sebelum kemudian sharing dengan para peserta tentang bagaimana prakteknya dan kendala di lapangan.
Erfina menegaskan, mengaktifkan ‘radar’ soft selling seperti mengaktifkan HP kita. Buka akses untuk banyak berkenalan bahkan bertemu orang dan terus instrospeksi teknik komunikasi dari sudut kita.

“Saya harap setelah pelatihan ini, para peserta bisa dengan mudah men’drive’ dan menutup (closing) penjualan secara elegan, dan lawannya (pembelinya) justru antusias dengan kita,” harap wanita yang punya passion terbesar mengajar, melatih dan berbagi pengalaman dengan orang lain ini. 

Selasa, 04 Agustus 2015

JUALAN ALA ‘PEMBURU’ ATAU ‘PETANI’?

Menjual itu tidak cukup dari cara menyampaikan saja. Diperlukan strategi, kapan saat sales memakai topi seorang ‘pemburu’, dan di waktu lain berganti topi menjadi ‘petani’. Seperti apa itu? Hal ini dipaparkan dalam training “Be A Hunter or A Farmer”, Rabu (29 Juli ’15) lalu.
Erfina Hakim, selaku pembicara menjelaskan perbedaan antara teknik sales hunter (pemburu) dan farmer (petani). Teknik hunter lebih bersifat hard sales, karena memang langsung ‘to the point’ menjual pada calon customer. Berbeda dengan teknik farmer yang lebih bersifat soft atau tak kentara dalam menjual.
Lebih lanjut, Head of Training Division BARACoaching Surabaya ini berujar, bertindak ala hunter atau farmer sangat tergantung dari konsep awal sebelum aktivitas sales marketing dilakukan.
“Dalam artian, bisa dilakukan sebagai tanggung jawab berbeda dari 2 tenaga sales marketing. Atau sebaliknya, 1 orang bisa sekaligus punya tanggung jawab sebagai hunter dan farmer. Tergantung kebijakan perusahaan.”
Kondisi saat ini, banyak pembeli lebih canggih dari tenaga sales, target penjualan yang menantang di persaingan ketat, serta kecenderungan pesaing yang lebih baik, sehingga nilai unik yang dimiliki semakin terkikis.
“Hal itu menjadi alasan kuat, mengapa seorang business owner jangan hanya melulu memberi target penjualan tanpa memahami teknik dan strategi bagaimana menjalankannya,” tegas wanita yang lebih dari 15 tahun berpengalaman di dunia sales marketing ini.
Banyak hal diajarkan dalam half day training ini. Selain poin utama teknik hunter dan farmer, mengenal kualifikasi hunter-farmer, masing-masing job desk dan dalam situasi seperti apa peran hunter-farmer dijalankan, bahkan hanya oleh satu orang saja.
Di sesi terakhir, Erfina memaparkan seperti apa penilaian kinerja sales yang mengemban tugas hunter maupun farmer.

”Parameter kinerja si hunter adalah dengan melihat banyaknya traksaksi atau angka penjualan yang dihasilkan. Sedangkan farmer, dengan melihat berapa banyak yang dia temui, layani, lalu progressnya seperti apa, dan juga estimasi jangka waktu untuk menjadi hot prospek.”

Rabu, 17 Juni 2015

Sampoerna The Apprentice 2015 - PELATIHAN BISNIS UNTUK WHOLESALLER SAMPOERNA TERBAIK SE-INDONESIA

Sebagai salah satu lembaga pendampingan bisnis internasional, ActionCOACH BARACoaching Surabaya juga mensupport beberapa perusahaan dalam event mereka. Salah satunya dalam Sampoerna the Apprentice 2015 di Hotel Trans Bandung, 10-13 Juni 2015 kemarin. Acara yang diadakan oleh PT. HM. Sampoerna ini diikuti oleh 29 peserta dari Aceh sampai Merauke.
Wayan Mertasana Tantra, selaku Sales Director PT. HM. Sampoerna bertutur, event yang sudah ada sejak tahun 2011 ini, sebagai bentuk apresiasi terhadap wholesaller terbaik se-Indonesia.
Menghadirkan nara sumber utama, Coach Humphrey Rusli yang memberikan training bisnis terhadap generasi ke-2 (penerus) wholesaller Sampoerna yang terpilih.
“Selama beberapa hari ke depan, Anda akan diajak untuk berpikir secara lateral dan out of the box,” tegas coach Humphrey.
Lebih lanjut, beliau juga berkali-kali menegaskan pentingnya teamwork selama acara ini.
“Anda akan dibantu oleh teman-teman Anda dan ada saatnya Anda juga membantu teman-teman pengusaha yang ada di ruangan ini untuk mencapai hasil yang lebih baik bagi bisnis Anda.”
Di hari pertama, pelatih bisnis terbaik Indonesia 2014 ini memaparkan tentang fakta unik bisnis keluarga sekaligus apa suka dukanya. Hari berikutnya bagaimana membuat perencanaan (develop a plan) sampai hari terakhir, peserta diajak untuk menuliskan perencanaan bisnis mereka.
Silvy Chandra, salah satu peserta berujar, lewat acara ini dia bukan hanya bisa networking, tapi sekaligus brainstorming dengan teman-teman pebisnis dari seluruh Indonesia.
“Saya jadi tahu, pada umumnya teman-teman sudah sampai mana perkembangan bisnisnya, selain itu bagaimana keadaan bisnis di wilayah masing-masing.”
Peserta asal Denpasar, Bali ini juga mengaku mendapatkan inspirasi sekaligus refresh materi yang sudah pernah didapat sebelumnya.

“Kebetulan teori-teori yang diberikan, sebagian sudah saya dapatkan waktu kuliah. Dan sekarang, lewat pelatihan yang diberikan coach Humphrey, saya jadi benar-benar terinspirasi, seperti bisa membandingkan o.. ternyata ini bisa diaplikasikan, yang ini tidak.”

Sabtu, 23 Mei 2015

55% KUNCI KOMUNIKASI ADA PADA ‘BAHASA’ TUBUH

Sebagian besar pelaku bisnis berpendapat, sales yang handal adalah sales yang pandai ‘bicara’. Padahal faktanya, pendukung terbesar kunci keberhasilan ‘closing’ adalah dengan memainkan bahasa tubuh.
Hal ini dipaparkan Erfina Hakim dalam training “Body Language As Behaviour Detector”, Kamis, (20/05/15) lalu. Bertempat di Office BARACoaching Surabaya, acara ini merupakan bagian dari pelatihan internal untuk klinik kecantikan de Lovely.
Banyak hal dikupas dalam forum ini, diantaranya fakta penting tentang bahasa tubuh.
“Fakta penting yang selama ini tidak disadari tentang bahasa tubuh adalah 55% sebagai pemegang penting dalam keberhasilan komunikasi. Banyak pelaku bisnis yang tidak tahu dan justru terjebak pada pemahaman, tenaga sales dan marketing yang handal itu jika mereka pintar ‘ngomong’,” tutur Erfina selaku pembicara.
Selain fakta penting, para peserta diajak belajar contoh-contoh perilaku non verbal dan aplikasinya dalam pekerjaan sehari-hari. Juga diajarkan bagaimana membaca bahasa isyarat (untuk mengenali perasaan, pikiran, dan niat) yang ‘disampaikan’ oleh wajah, torso, tangan, serta kaki.
“Satu lagi fakta yang kita tidak tahu, bahwa sebenarnya bagian tubuh yang paling jujur adalah kaki,” ungkap wanita murah senyum ini.
“Itulah sebabnya, para pelaku bisnis yang sudah tahu hal ini sering melakukan negoisasi di ruang terbuka, atau yang memungkinkan melihat kaki calon prospeknya,” tambahnya lagi.
Diikuti oleh seluruh karyawan, jajaran manajerial, sampai pemilik perusahaan, acara ini berlangsung seru. Para peserta juga aktif berdiskusi dengan pembicara terkait problem yang mereka hadapi dalam pekerjaan sehari-hari.
Olivia Woen, salah satu peserta mengaku merasa puas dengan training ini.
“Training ini berjalan sesuai dengan harapan saya. Pembicaranya interaktif, all out, dan bisa menghidupkan suasana, sehingga peserta training tidak bosan mengikuti. Hal baru yang saya pelajari diantaranya tentang torso dan kaki sebagai bagian tubuh yang paling jujur,” ungkapnya.
Lebih lanjut, wanita yang juga pemilik klinik de Lovely ini berharap, setelah mengikuti training ini, timnya bukan hanya bisa membawa diri, namun juga bisa membaca kemauan customer lewat bahasa tubuh. 

Kamis, 21 Mei 2015

THE ULTIMATE SALES TRAINING (With PT. Adi Caraka dan Gramedia)


 The Ultimate Sales Training dengan Tim PT. Adi Caraka (Hotel Somerset Surabaya, 01-02 Mei 15)



"Sales itu komitmen teknik pada hasil. Maksudnya, jangan terlalu mikir pada hasilnya, tapi pastikan secara total menjalankan prosesnya.

Nah, di training ini Anda akan dibukakan bagaimana menchallenge diri Anda untuk menemukan teknik menjual dari waktu ke waktu, secara efektif dan mudah, minimal buat Anda sendiri."
(Erfina Hakim - Pembicara)

"Secara garis besar, teori yang disampaikan saya sudah pernah mendengar sebelumnya. Namun bedanya, dan yang membuat saya sangat mengapresiasi adalah cara pembicara menyampaikan serta menganalogi, bagaimana kita bisa menerapkan dan mempraktekkan teori itu dalam pekerjaan kita sehari-hari."
(Yosa – PT. Adi Caraka Cab. Surabaya)

"Training ini menjawab kebutuhan perusahaan, baik dari segi sales dan marketing, maupun manajemen. Secara teknik marketing, kita mendapatkan metode serta cara baru yang bisa diterapkan di lapangan. Lebih dari itu, dari sisi manajemen juga diajarkan, bagaimana melihat karakter calon karyawan (tenaga sales dan marketing) dan memilahnya untuk bergabung di perusahaan."
(Ari M. – PT. Adi Caraka Cab. Semarang)

"Banyak hal baru yang saya pelajari setelah ikut training ini. Saya jadi ingat kembali, untuk menantang diri lagi. BREAK The LIMIT!"
(Shelvy – TB. Gramedia)

The Ultimate Sales Training, Kerjasama dengan Gramedia (Office BARACoaching Sby, 18 Mei '15)

Senin, 04 Mei 2015

UNGKAP CARA SIMPLE MENGETAHUI ‘PASSION’ MENJUAL

Jantung dari sebuah perusahaan terletak pada kegiatan penjualan (sales). Itu sebabnya, seorang owner bisnis harus cukup peka sekaligus tanggap akan kebutuhan tenaga salesnya.
Hal ini dikatakan Erfina Hakim, selaku pembicara dalam training yang diadakan BARACoaching–ActionCOACH Surabaya. Acara yang bertajuk “Easy Selling” ini diadakan selama 3 hari berturut-turut, Rabu sampai Jum’at, 22 s/d 24 April ’15 di Office BARACoaching, PTC Surabaya.
Pada sesi awal, dipaparkan apa saja bekal seorang tenaga sales dan marketing. Pertama, pantang memiliki mental block. Salah satu yang bisa menghambat pikiran kita untuk maju adalah adanya mental block dalam diri kita. Hal ini sering terjadi ketika kita meremehkan atau diremehkan orang lain (underestimate/d).
“Karena itu, tantang diri Anda. Pecahkan rekor diri sendiri, untuk selalu mendapatkan lebih dan lebih,” tegas wanita yang lebih dari 15 tahun bergelut dengan dunia sales ini.
Bekal kedua, live with passion. Ada beberapa cara simpel mengenali, apakah kita punya passion ‘menjual’ atau tidak. Diantaranya, jika mampu mengendalikan bagaimana kita bekerja, merasa cakap melakukan, dan terus bisa meningkatkan. Selain itu, passion bisa dilihat bila pekerjaan kita memberi pengaruh atau kontribusi pada perusahaan.
Banyak hal diajarkan dalam training berdurasi kurang lebih 4 jam ini. Selain bekal seorang sales dan marketing, juga diberikan edukasi tentang hard selling, soft selling, kekuatan komunikasi melalui body language, sampai teknik cepat menguji ‘kepekaan diri’ terhadap prospek. Para peserta juga diajak diskusi aktif tentang problem dan kesulitan mereka selama di ‘lapangan’.
Azam, salah satu peserta training mengaku, secara keseluruhan baik dari segi materi maupun penyampaiannya, training ini bagus dan bermanfaat.
“Kita memang butuh pelatihan seperti ini,” tambahnya.
Di akhir acara, Erfina berharap, para peserta training bisa lebih mampu men-challenge diri sendiri, mencari cara paling mudah untuk ‘jualan’ yang sesuai dengan karakter dirinya.

Rabu, 04 Februari 2015

Training TM OKE - 20 DETIK PERTAMA UNTUK 15 MENIT KE DEPAN

Dalam dunia bisnis, seorang telemarketer merupakan bagian dari ‘jantung’ yang ‘memompa’ kemajuan usaha. Itu sebabnya, diperlukan skill yang mumpuni untuk melakukan pemasaran lewat telepon. Beberapa yang harus dikuasai adalah teknik melakukan negosiasi dan bagaimana closing penjualan.
Hal itu dikupas dalam training bertajuk “Telemarketing OKE”, Sabtu (31/01/15) lalu. Training yang diadakan oleh ActionCOACH BARACoaching Surabaya ini diberikan pada tim sales pusat (Surabaya) dan cabang Malang PT. Arofah Mina. Di awal acara, Erfina Hakim, selaku pembicara bertutur tentang tujuan training itu.
“Kita berharap setelah mengikuti pelatihan ini, peserta bisa menguasai 4 hal penting dalam telemarketing. Empat poin itu adalah menutup closing penjualan by phone, lalu melakukan negosiasi lebih baik, mendapatkan appointment penting, dan terakhir memudahkan penagihan pembayaran,” ungkap Erfina.
Lebih jauh, wanita yang pernah meraih predikat ‘The Best Area Manager’ wilayah Indonesia Timur ini juga memaparkan apa saja bekal seorang telemarketer sebelum menelepon. Problem kebanyakan dari seorang telemarketer adalah ketakutan sebelum menelepon prospek.
Hal ini, menurut Erfina karena mereka terbawa imajinasi buruk yang mereka ciptakan sendiri sebelum telepon.
“Belum-belum sudah mikir bakal ditolaklah, prospeknya judes, dan hal-hal negatif lainnya. Bangunlah imajinasi menyenangkan dan selalu berpikir positif. Bayangkan hal-hal lucu, bisa dengan saling bercanda dengan teman kerja sebelum menelpon. Pokoknya hindari berpikir buruk, karena ini tidak akan membangun mental Anda. Malah akan menyusutkan semangat untuk menelpon prospek,” tegas wanita yang akrab dipanggil Fina ini.
Selain itu, posisi tubuh juga harus mendukung. Siapkan tujuan dan sesuaikan skrip. Tujuan harus jelas, atur gaya bahasa (intonasi, volume, tekanan suara, kecepatan bicara) sehingga mudah dipahami, dan bersikaplah tenang.
“Hal paling penting lain yang harus dipahami, kesempatan pertama telemarketing adalah menjual suara bukan produk,” tambah Fina.
Itu sebabnya, tidak masalah bila seorang telemarketer tidak paham semua product knowledge. Yang harus diperhatikan adalah penciptaan kesan pertama di 20 detik pertama, sebagai penentu 15 menit ke depan.
Selain mendapat teori tentang telemarketing, peserta juga berbagi pengalaman dan sharing problem terkait selling by phone. Mulai perbedaan hard selling dan soft selling, sampai ‘uneg-uneg’ yang berhubungan dengan penelepon (prospek). 
Heri Wibowo, selaku pemilik PT. Arofah Mina berujar, ”Ini adalah training kedua yang diikuti tim saya. Training sebelumnya sangat membawa kemajuan, khususnya pada tim pertama. Trainingnya applicable dan hasilnya luar biasa. Setelah menjalani pelatihan Telemarketing OKE mereka (tim Arofah Mina) bisa melampaui target semua.”

Selasa, 03 Februari 2015

Training Tim Ando - TAKTIK SALES: ‘MEMBURU’ ATAU ‘MENANAM’?

Ternyata bagaimana cara kita ‘berjualan’ juga dipengaruhi oleh kondisi pasar atau permintaan konsumen. Itu sebabnya muncul istilah hunter dan farmer dalam sistem penjualan (sales).
Hal ini disampaikan Coach Suwito Sumargo, selaku pembicara dalam training internal yang diadakan oleh PT. Halimjaya Sakti, Selasa (27/01/15) lalu. Pelatihan yang dihadiri oleh kurang lebih 70 peserta, dari tim sales dan marketing juga jajaran manajerial produsen sandal-sepatu merek “Ando” ini, bertajuk “Sales Made Simple”.
Dalam dunia sales dikenal teknik hunter dan farmer. Para sales yang menggunakan teknik hunter biasanya mereka yang bisa langsung mengenali ‘mangsa’. Lebih tajam dan cepat dalam menjual. Berbeda dengan teknik farmer, yang lebih slow dan tidak langsung menuju sasaran (pelanggan).
Baik teknik hunter maupun farmer bisa digunakan dalam menjual. Seorang sales tidak melulu harus langsung me’nembak’kan jualannya pada pelanggan. Ada kalanya dia harus bergerak lebih ‘slow’, dengan melakukan pengenalan dan pendekatan kepada calon pelanggannya terlebih dulu.
Which technique you choose? Semua itu melihat daerahnya, bagaimana kondisi pasar dan permintaan konsumennya,” ungkap coach Suwito.
Selain teknik sales, pembicara asli Surabaya ini juga mengupas tentang bekal apa saja yang harus dimiliki untuk menjadi seorang ‘penjual’ yang sukses. Bekal ini datang dari lingkungan di luar kita dan dari diri sendiri.
Bekal dari luar seperti mengikuti training secara berkala, pengetahuan tentang strategi menjual dan menghadapi customer. Poin ini tidak terlepas dari peran perusahaan, yang sebaiknya jangan hanya menjual komoditi saja, namun memperhatikan juga kualitas SDM-nya.
Sedangkan bekal dari dalam diri diantaranya meliputi: semangat untuk bekerja dan berprestasi, jujur, loyal, kerjasama (team work), sesuai dengan peraturan perusahaan atau tertib administrasi, sampai mempersiapkan penampilan sebelum menemui customer.
“Pada dasarnya semua karyawan itu memang harus punya semangat kerja dan berprestasi. Manfaatnya bukan hanya untuk perusahaan saja, namun yang terbesar adalah untuk dirinya sendiri. Kalau semangat itu kita punya, maka yang meraih kesuksesan nantinya kita juga,” tegas Coach yang sudah berpengalaman lebih dari 30 tahun di dunia bisnis ini.
Lebih lanjut, the Most Supportive Coach 2014 ini juga berdiskusi dengan peserta terkait problem dan pengalaman di lapangan.
Di akhir acara, Handoko Halim selaku Direktur PT. Halimjaya Sakti berharap training ini benar-benar bisa membawa manfaat yang besar juga perubahan positif yang diharapkan.
“Perubahan positif ini sangat berguna untuk menunjang perkembangan perusahaan dan memenangkan persaingan pasar. Lebih jauh, perubahan positif bukan hanya untuk perusahaan saja, namun untuk mereka pribadi juga,” ujarnya. 

Jumat, 15 Agustus 2014

Training “ADAPTATION SKILL TO SUCCESS” : MENGENAL SENI PERBEDAAN UNTUK KESUKSESAN



Adaptasi merupakan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Adaptasi juga ditengarai sebagai salah satu faktor yang bisa mendukung kesuksesan. Lalu apa saja kendala dalam menyesuaikan dengan lingkungan yang berbeda? apa saja yang mesti dilakukan agar cepat beradaptasi?
Beberapa masalah ini dikupas oleh Erfina Hakim, pembicara dalam kepada tim Toeng Market, Selasa (12/08/14) lalu. Acara yang bertempat di Ballroom Las Vegas, Office BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) ini merupakan satu dari rangkaian training untuk tim Toeng Market.
Di acara tersebut Erfina bertutur, bahwa masalah dalam melakukan adaptasi, bukan pada orangnya yang enggan atau tidak mau melakukan penyesuaian, namun lebih karena setiap orang terlahir dengan pribadi berbeda.
“Persoalan adaptasi yang utama bukan pada mencari di lingkungan sama. Tapi bicara tentang bagaimana kita bisa menghasilkan dan berkembang optimal justru di tengah perbedaan. Karena dalam kehidupan, kita akan bertemu dengan orang-orang yang berbeda, di lingkungan yang berbeda pula,” papar wanita yang suka bergaya sporty ini.
Lebih jauh, Bu Fina juga menjelaskan beberapa keahlian yang nantinya akan bersaing di abad-21. Pertama, Interpersonal Skills, dimana seseorang mampu membangun, menjaga atau menyelesaikan konflik dalam hubungan.
Kedua, Customer Service Strategy, merupakan kemampuan seseorang dalam menyatukan dan menjalankan strategi pelayanan. Ditandai dengan pemahaman bahwa melayani orang lain merupakan kunci keberhasilan atau kesuksesan.
Berikutnya, Kreatif. Kemampuan seseorang dalam berpikir dan bertindak secara innovatif. Dia bisa menciptakan ide baru yang kreatif dan solutif. Intinya sesuatu yang baru, berbeda, dan bermanfaat.
Keempat, Thinking System (keahlian berpikir), kemampuan seseorang untuk menguraikan dan memahami masalah secara lebih terperinci. Dengan perincian itu, seseorang diharapkan bisa membuat prioritas tugas, berdasarkan tingkat kepentingannya.
Kelima, keahlian Pengembangan Diri. Yaitu, kemampuan dalam menyadari kelemahan dan kekuatan sebagai proses pembelajaran bagi dirinya. Di poin ini, seseorang punya rasa tanggung jawab untuk mengembangkan diri, dan punya inisiatif untuk melakukan proses pembelajaran secara berkelanjutan.
Terakhir, Keahlian Teknis. Dimana seseorang mampu menggunakan pengalamannya dan mengaplikasikan pengetahuan atau keahlian tertentu. Salah satunya ditandai dengan mampu mendemonstrasikan skill yang relevan dengan pekerjaan.
“Dari keenam keahlian di atas, yang lebih fight dan siap bersaing di era dewasa ini, adalah mereka yang punya bekal keahlian beradaptasi.”
Lalu apa saja yang dibutuhkan agar seseorang sanggup bertahan di tengah perbedaan? Diantaranya, sanggup menjalin hubungan dengan siapapun, dapat memberikan respon yang tepat terhadap situasi baru, dan dapat menangani tugas secara bersama-sama tanpa mengurangi kualitas.
Salah satu peserta training, Handoko, bertanya sesuatu yang berbeda itu implementasinya seperti apa.
Implementasinya yaitu keterbukaan menerima perbedaan dan melakukan hal positif yang mungkin belum pernah kita coba sebelumnya.
“Segala apapun di dunia pasti berubah, terbukalah dan jangan pernah takut melakukan sesuatu yang berbeda, karena dalam perbedaan kita belajar seni berhubungan dengan orang lain,” tegas Bu Fina.
Di akhir acara, wanita kelahiran Malang ini membagikan tips untuk mudah beradaptasi. Selain menyadari bahwa hidup tidak bisa sendiri, juga harus sadar bahwa banyak karakter berbeda, yang menuntut kita wajib ‘keluar’ dari zona nyaman. Dalam artian bukan hanya bergaul dengan seseorang di lingkungan yang sama dan sesuai kepribadian kita. Namun lebih jauh, bergaul dengan orang-orang berbeda, untuk belajar melihat dari banyak sudut pandang, yang nantinya bisa membuat diri kita berkembang.
Terakhir yaitu cermat mendengarkan dan mengenali sosok ‘pemegang kunci’. Yang dimaksud dengan pemegang kunci di sini adalah mereka yang paling dominan dalam satu kelompok atau komunitas.
“Semua hal itu harus didukung dengan sikap seperti senantiasa tersenyum dan bergairah, tampil secara natural atau apa adanya, serta memiliki inisiatif untuk membuka percakapan.”
Tantangannya adalah ada orang yang cepat dalam beradaptasi, dan ada pula yang lambat. Lalu termasuk manakah Anda?

Rabu, 11 Juni 2014

Motivational Session - BERSIKAP POSITIF SEBAGAI ‘MAGNET’ LOYALITAS CUSTOMER


Bagi tim sales dan marketing, menjual merupakan hal yang wajib dan biasa dilakukan dalam pekerjaan sehari-hari. Lalu bagaimana dengan tim non sales? Apakah mereka juga bisa melakukan pendekatan, bahkan mendapatkan loyalitas customer, meskipun tanpa ‘menjual’?
Hal ini yang dikupas ActionCOACH dalam Motivational Session bertajuk “Bekerja tanpa Menjual”, Senin (02/06) lalu.
“Inti dari bekerja tanpa menjual bukan kita menarik customer dengan apa yang kita tawarkan, namun lebih pada sikap positif sehingga mereka menjadi respek dan kembali pada kita,” tegas Erfina Hakim selaku pembicara forum.
Forum berdurasi kurang lebih 2 jam ini, merupakan bentuk kerjasama BARACoaching (ActionCOACH East Java-Bali) dengan GBT Laras-Imbang. Bertempat di Office GBT Jemursari, forum ini dihadiri oleh tim manajemen (front liner) , kasir dari 7 cabang GBT seluruh Surabaya.
Ada beberapa syarat, agar kita menjadi pribadi handal yang bisa mendukung kita dalam bekerja tanpa harus ‘menjual’. Pertama adalah rasa percaya diri (confident).
“Rasa PD diperlukan saat kita berhadapan dengan customer. Bagaimana bisa menghadapi customer jika tidak ada rasa percaya diri yang mendukung komunikasi kita di depan mereka.”
Menurut Erfina, percaya diri yang bagus itu, percaya diri tanpa maksud tertentu. Dalam artian, bukan ingin mendapatkan apa yang dimau, tapi sebaliknya, bisa memberikan sesuatu dengan sikap yang kita tunjukkan. Bisa itu senyuman, kegembiraan, kesantunan, positif thinking dan masih banyak lagi.
“Jadi PD benar-benar alami terpancar dari diri kita, bukan dibuat-buat. Nah, dari situ customer akan melihat aura yang menjadi ‘magnet’ buat mereka,” lanjut Business Development Manager BARACoaching Surabaya ini.
Selain percaya diri, juga diperlukan mampu bekerja dalam sebuah teamwork.
“Ketika kita mampu bekerja dalam tim, berarti kita mampu bekerjasama dengan orang-orang dengan pola pikir dan pendapat yang berbeda. Hal ini tentu saja sedikit banyak sulit dilakukan. Itulah kenapa kecerdasan seseorang itu teruji ketika bisa bekerja dalam tim,” papar wanita yang sudah berpengalaman di bidang marketing selama 16 tahun ini.
“Dengan teamwork, kita jadi lebih bisa mengekspresikan diri. Marah atau emosi dalam bekerja  bukan larangan, namun setidaknya tidak akan menimbulkan kendala atau pengaruh negatif dalam bekerja. Tim akan memaklumi, mensupport dan segera mengembalikan energi positif kita ketika menghadapi customer,” tambah Erfina lagi.
Di samping percaya diri dan teamwork, poin lain adalah mengenali minat dan berpikir terbuka. Selama ini, orang akan melakukan action pada sesuatu yang dia minati saja. Padahal, faktanya banyak pembelajaran dan pengalaman bisa didapatkan di luar hal yang selama ini kita kerjakan.
Itu kenapa, mengenali minat juga harus dibarengi dengan sikap terbuka. Mau mencoba sesuatu yang baru, disertai dengan menambah wawasan kita, bisa dengan ‘surfing’ internet, banyak bergaul dan membaca, selalu update berita terbaru, dan masih banyak lagi.
“Dasar dari bekerja tanpa menjual, kita harus dapat feel dari pekerjaan kita terlebih dulu. Dengan begitu kita akan melakukan pekerjaan dengan senang, bahkan seperti tidak sedang bekerja. Pada akhirnya, akan menuntun kita untuk terus berkarya dan menghadapi konsumen,” kata wanita yang biasa disapa bu Fina ini.
“Tapi jangan salah lho, bekerja itu tidak selalu kita harus mencari zona nyaman dan tidak mau keluar dari situ. Dalam kaitannya dengan bekerja tanpa menjual, ada beberapa cara yang bisa membuat kita berkembang,”tambahnya.
Pertama adalah kontrol proses. Salah satu yang bisa dilakukan di sini, selalu melakukan pencatatan tentang apapun yang kita kerjakan. Baik itu hal apa saja yang akan dilakukan (agenda kerja), maupun segala sesuatu yang kita tahu dan sudah dikerjakan.
Dengan begitu, diharapkan kita bisa mudah melakukan langkah evaluate and adjust. Mengevaluasi dan membandingkan dengan apa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.
Terakhir, melakukan action. Dari apa yang sudah dicatat dan evaluasi, kita bisa melakukan action yang tepat.
“Saya punya tagline menarik tentang bekerja tanpa menjual. Berangkat tanpa beban, masalah tak jadi soal, pulang menyenangkan, karena target tetap menyenangkan,” tutup bu Fina di akhir acara.
Sementara itu, Maria Theresia Setiadi, selaku Corporate Secretary GBT Laras-Imbang mengaku puas dengan sesi motivasi yang diberikan.
“Kami cukup puas dengan training yang diberikan. Saya ingin, setelah acara ini para peserta bisa mengaplikasikan di lapangan, jadi tidak hanya sekedar dipahami secara teori saja. Ke depan, saya berharap ada program berkelanjutan, dan langsung diawasi oleh Bu Fina,” ungkap wanita yang akrab dipanggil Bu Theres ini.

Kamis, 05 Juni 2014

Training “BODY LANGUAGE” - UNGKAP SENI BAHASA TUBUH UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN


Selama ini, banyak orang belum sadar, bahwa bahasa tubuh (body language) merupakan bagian penting dalam komunikasi, yang bisa diaplikasikan dalam bisnis. Berdasar hal itu, BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan pelatihan bertajuk “Body Language”, Selasa (13/05/14).
Bertempat di kantor pusat BARACoaching, PTC Surabaya, pelatihan ini merupakan forum kerjasama BARACoaching dengan Toeng Market Surabaya.
“Kita sengaja memberikan tema body language, selain menyesuaikan dengan kebutuhan Toeng Market, alasan utama adalah kita ingin menghadirkan secara teknikal, sisi lain untuk memaksimalkan sales dan marketing,” tutur Erfina Hakim, selaku pembicara dalam pelatihan ini.
Ada beberapa fakta penting bahasa tubuh yang dipaparkan. Diantaranya, berdasarkan riset, dalam kaitannya dengan penyampaian komunikasi, bahasa tubuh memegang 55% kunci keberhasilan kita untuk mendapatkan respon dari lawan bicara.
Kedua, bahasa tubuh menggambarkan respon seseorang terhadap apa yang kita bicarakan.
“Kita bisa menyadari respon orang lain minimal 90 detik – 4 menit pertama, dengan melihat bahasa tubuhnya. Nah, dari situ para tenaga sales atau marketing bisa memilih dengan tepat, action yang akan dilakukan selanjutnya untuk menutup penjualan,” tegas wanita yang saat ini sebagai Head of Training Divison BARACoaching Surabaya.
Fakta ketiga, bahasa tubuh merupakan ekspresi yang tidak hanya berasal dari alam bawah sadar, tapi juga hasil latihan dari kepribadian atau karakter (baik ucapan dan tindakan).
Selain penjelasan secara teori, pelatihan ini tidak membosankan karena disertai dengan teknik-teknik bahasa tubuh dan juga sharing dari para peserta, yang terdiri dari jajaran managemen dan juga karyawan Toeng Market.
Erfina berharap, dengan pelatihan ini mereka bisa memahami pentingnya bahasa tubuh untuk lebih meyakinkan dalam transfer informasi kepada pelanggan.
“Selain itu, ke depan saya ingin tim Toeng Market bisa peka terhadap bahasa tubuh yang diberikan prospek/ pelanggan, sehingga lebih efektif memberikan layanan dan meningkatkan target penjualan,” kata wanita berlesung pipit ini di akhir acara.

Jumat, 16 Mei 2014

Training LEADERSHIP OKE - TIDAK SEMUA KARYAWAN BISA DIPERLAKUKAN SAMA


Punya kharisma saja, ternyata tidak cukup untuk mendapatkan respek dan dukungan anak buah. Selain itu, seorang leader harus bisa memahami mereka sesuai karakter masing-masing. Hal itu yang dibahas dalam Training Full Day “Leadership Oke”, Jum’at (25/04) lalu. Acara yang dihadirkan oleh BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) ini bertempat di Office BARACoaching, Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya.
Erfina Hakim, selaku Head of Training Division sekaligus pembicara berkata, bahwa training ini hadir berdasarkan kebutuhan para leader untuk mendapatkan, mengelola, dan menempatkan anak buah sesuai dengan kebutuhan prioritas usaha.
“Fenomena yang banyak terjadi, para leader kurang paham bahwa manusia sebagai individu yang dinamis dan perlu penyesuaian diri (beradaptasi) dalam setiap lingkungan, termasuk lingkungan bisnis. Itu kenapa perlu adanya seni memimpin yang disesuaikan dengan karakter dari masing-masing anak buah. Karena tidak semua karyawan bisa diperlakukan sama,” papar Erfina.
Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan terkait dengan pemahaman aspek manusia sebagai individu yang dinamis dalam penyesuaian diri. Diantaranya, yaitu karakter, temperamen, sikap, stabilitas emosi, responsibilitas, dan sosiabilitas.
Karakter seseorang akan berujung pada konsekuensi dan konsistensi berpendirian. Sedangkan temperamen lebih pada disposisi cepat atau lambat seseorang itu bereaksi. Sikap menentukan cara seseorang memberikan sambutan, dan stabilitas emosi berupa keseimbangan luapan atau ungkapan emosi seseorang.
Selain itu ada responsibilitas dan sosiabilitas. Responsibilitas berhubungan dengan kesiapan resiko dan sosiabilitas berupa hubungan interpersonal dengan orang lain dalam lingkungan atau tempat dia bergaul.
“Karakter itu bersifat semi permanen, dimana jika kita tidak menginginkannya lagi, maka dengan mudah kita bisa menghapusnya,” ujar wanita berlesung pipi yang akrab dipanggil bu Fina ini.
Selama ini, sebagian besar para leader salah menentukan komposisi karakter dalam tim, sehingga sulit untuk mensinergikan dan mendongkrak kemajuan bisnis. Yang dimaksud komposisi karakter adalah jumlah ideal karakter yang harus ada dalam setiap divisi. Misal tim marketing, maka karakter calon karyawan seperti apa yang harus ditempatkan di bagian itu. Hal ini juga berlaku untuk divisi lain.
“Itu kenapa pemilik bisnis, leader atau para pelaku HR harus punya bekal tentang apa saja yang harus diperhatikan ketika proses interview. Poin ini penting dalam proses selektifitas dan pendelegasian tugas,” tambah bu Fina.
Selain mengupas step by step proses interview calon karyawan yang benar dan efektif, training “Leadership Oke” juga mempelajari langkah-langkah menempatkan karyawan sesuai kebutuhan prioritas usaha, tips meningkatkan kesetiaan dan produktivitas, sampai seni memimpin sesuai dengan karakter anak buah.
“Ada tiga hal yang saya harapkan setelah para leader bisnis mengikuti training ini. Pertama, adanya kesadaran bahwa manusia itu sebagai makhluk dinamis yang selalu berubah, dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Kedua, dia bisa memilih, menempatkan, dan mengelola SDM yang ada, untuk sinergi tim menuju perubahan yang lebih baik. Terakhir, leader bisa menjadi orang yang bisa mewakili perusahaan agar anak buah bisa menerima dan dengan ‘sukarela’ bekerja sesuai budaya perusahaan. Nah, ketika ketiga hal ini sudah berjalan, maka happiness at work akan terbentuk, dan bisa mendongkrak kemajuan bisnis,” tutup wanita yang juga interest di otomotif ini. 

Jumat, 02 Mei 2014

Motivational Session - UNGKAP SENI MENCARI ‘JODOH’ DALAM KERJA


Mencari kecocokan dalam kerja, sama seperti ketika kita mencari jodoh dalam hidup. Jadi perlu proses penyesuaian tiada henti sebelum menuju kebahagiaan atau kepuasan dalam kerja.
Hal itu adalah inti dari sesi motivasi bertajuk “Happiness At Work”. Acara yang diselenggarakan sebagai bagian dari gathering karyawan PT. Aneka Isolasi ini menghadirkan Erfina Hakim, selaku pembicara sekaligus Head of Training Division BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali).
Bertempat di Rumah Makan Agis Ahmad Yani Surabaya, Kamis (24/04/14), acara ini diikuti oleh sekitar 70 peserta jajaran manajemen, terdiri dari CEO dan karyawan PT. Aneka Isolasi. Di awal acara, Erfina bertutur bahwa inti dari happiness at work adalah seni mengubah ketidakpuasan kerja menjadi sebuah happiness, dimana hal itu tidak hanya dilihat dari segi materi atau besar kecilnya gaji semata.
“Saat ini masih banyak pemikiran bahwa kebahagiaan dan kepuasan dalam kerja itu asalnya dari segi financial atau materi saja. Biasanya hal ini sering dikaitkan dengan besar kecilnya gaji yang diterima. Padahal itu bukan faktor terbesar penyebab ketidakpuasan dalam kerja,” tutur Erfina tentang tema acara.
Selanjutnya, wanita yang akrab disapa Fina ini memaparkan beberapa hal yang menjadi pemicu atau sumber ketidakbahagiaan dalam kerja. Diantaranya, komunikasi, perhatian, dan penghargaan yang jarang diberikan oleh atasan atau rekan kerja.
“Penghargaan di sini bukan hanya bersifat fisik saja, tapi juga memberikan pujian-pujian kecil. Misal, berikan tepukan di pundak mereka, sebagai apresiasi bangga dan puas atas hasil kerja mereka,” kata Fina.
Pemicu lain adalah konflik internal sesama rekan kerja. Biasanya, kondisi ini semakin membawa ketidaknyamanan karena kurang adanya inisiatif kedua belah pihak (yang terlibat konflik) untuk menyelesaikan masalah.
“Sikap terbuka sangat diperlukan dalam situasi seperti ini. Jangan dimulai dengan siapa yang benar atau siapa yang salah. Tapi mulailah dengan mindset “oh, mungkin saya tidak tahu, tapi dia yang tahu yang saya tidak tahu”. Dengan sikap terbuka diharapkan kita bisa punya sudut pandang berbeda, sekaligus bisa mencairkan dan meng’clear’kan masalah,” jelas wanita yang punya hobi travelling ini.
Lebih jauh, Fina menegaskan bahwa perusahaan harus hati-hati dengan maksud ‘happiness’ di sini. Happiness dalam kerja jangan diartikan dengan sekedar perasaan nyaman dengan culture dan lingkungan kerja yang sehat.
“Konsep happiness at work yang sebenarnya adalah bukan hanya bekerja, namun juga berkinerja. Bagaimana karyawan menemukan rasa memiliki sebuah perusahaan atau bisnis layaknya owner. Seperti, setiap tindak tanduknya memperhatikan efektivitas kerja. Selain itu, mengingatkan diri untuk budaya disiplin menggawangi proses, terus melakukan action (pencatatan-perbandingan-evaluasi dan penyesuaian) serta fokus pada target tujuan prioritas.”
Ada 5 poin happiness at work yang dipaparkan dalam forum ini. Tiga hal paling penting, diantaranya pertama berpikir dalam bertindak dengan tidak memperhatikan kemudahan bagi diri sendiri saja, namun juga bagaimana memudahkan pekerjaan rekan kerja yang lain.
Kedua, jadikan ketidakpuasaan dalam bekerja sebagai sebuah pemantik dan dorongan, untuk bangkit dan menemukan pembuktian serta hasil yang lebih baik.
Ketiga, miliki waktu refreshing sejenak bersama rekan-rekan kerja di luar jam kantor. Interaksi positif dari hubungan di luar jam kantor, bukan hanya me’lunturkan’ kepenatan kerja, tapi juga bisa menemukan ide baru, sekaligus menjadi pembentuk budaya kerja yang sehat.
Di akhir acara, Erfina kembali menegaskan bahwa mencari kecocokan kerja itu hampir sama dengan mencari jodoh dalam hidup.
“Setiap personal atau karyawan menyadari bahwa dalam bekerja, sebenarnya juga mencari jodoh atau dengan kata lain kecocokan. Karenanya tidak ada yang namanya karyawan maupun perusahaan ideal. Semuanya berproses dalam penyesuaian tiada henti.”

Senin, 07 April 2014

Forum MGDBGT : KARYAWAN BUKAN HANYA ASET, TAPI ‘PARTNER’ BISNIS


Pemilik bisnis bukan hanya wajib menguasai seluruh aspek bisnis secara seimbang. Namun dibutuhkan juga sinergi dari sebuah tim, yang idealnya terdiri dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang sudah sejalan dengan visi perusahaan. Dalam artian, mereka punya tanggung jawab dan menikmati pekerjaan layaknya pemilik perusahaan, untuk membuat perusahaan mampu bertahan di tengah atmosfer ‘hypercompetition’ demi tujuan keberhasilan yang berkelanjutan.
Hal itu dipaparkan Erfina Hakim, selaku pembicara dalam forum “Membentuk Garda Depan Berdaya Gedor Tinggi”, Kamis (03/04) kemarin di Master Office ActionCOACH BARACoaching PTC Surabaya.
“Dalam situasi yang sangat ekstrim saat ini, banyak pemilik bisnis yang hanya menerima dan memaklumi keadaan, ketika perusahaan sedang dalam keadaan ‘sulit’. Misal “Ah, sepi, maklum habis lebaran, menjelang pemilu…” dan lain sebagainya. Padahal tidak sepenuhnya begitu. Kebanyakan, ada kelalaian sehingga proses kerja tim tidak optimal. Nah, dengan mengikuti forum ini, peserta bisa sharing dan punya pandangan bagaimana membekali tim mereka untuk berhubungan dengan customer dan mendatangkan hasil untuk perusahaan setiap saat,” jelas wanita yang juga sebagai Head of Training Division BARACoaching Surabaya ini.
Beberapa hal yang dipelajari dalam forum ini, diantaranya cara efektif meningkatkan kesetiaan dan produktivitas kerja, trik mendelegasikan tugas dan bagaimana tim menikmati pekerjaan layaknya owner, sampai teknik manajemen untuk mencetak SDM unggul.
“Sebagian besar masalah yang berhubungan dengan tim bisnis adalah salah pilih kandidat dan ketimpangan dalam pendelegasian tugas. Karenanya, penting untuk memahami karakter calon karyawan saat proses interview. Bisa dengan melakukan tes karakter DISC dan VAK (Visual Auditory Kinesthetic),” ungkap Erfina tentang salah satu trik mendelegasikan tugas ke anak buah.
Lebih lanjut, sesuai dengan temanya, wanita yang memiliki selera humor tinggi ini juga memaparkan tentang 4 kunci membentuk garda depan berdaya gedor tinggi yang dianggap sebagai nafas atau mutlak dipunyai sebuah perusahaan. Pertama adalah berkaitan dengan hal personal. Yang dilakukan dalam poin ini adalah mengarahkan SDM, memberi support dan solusi atas permasalahan yang anak buah hadapi, sampai pemberian reward atau penghargaan.
“Penghargaan di sini bukan hanya bersifat fisik saja, tapi juga memberikan pujian-pujian kecil. Misal, berikan tepukan di pundak mereka, sebagai apresiasi bangga dan puas atas hasil kerja mereka,” tambah Erfina.
Poin selanjutnya yang perlu diperhatikan yaitu kompensasi yang layak pada karyawan, serta pemberian komisi yang memberikan challenge (tantangan) buat mereka.
Ketiga yaitu alignment (penyelarasan/ penyesuaian). Berikan akses pada karyawan untuk berkinerja. Jangan pernah menutup mata atau bahkan pura-pura tidak mengerti terhadap prestasi mereka. Dalam prakteknya, bisa dengan memberikan jabatan atau tanggung jawab lebih tinggi yang sesuai dengan perkembangan kemampuan mereka dalam kerja.
“Jika ketiga hal di atas sudah diterima oleh karyawan, bukan tidak mungkin setiap individu dalam tim akan memberikan high performance untuk perusahaan. Intinya karyawan jangan dianggap sebagai aset saja, tapi partner atau mitra pemilik bisnis dalam meraih sukses, ” tegas wanita yang akrab dipanggil Fina ini.
Selain meruipakan ajang diskusi bisnis, acara ini juga sebagai preview program training, yang di tahun 2014 ini diperkenalkan secara terbuka (umum).
“Selama ini training dalam lembaga kami, merupakan bagian dari program coaching, sehingga sifatnya hanya terbatas untuk para klien beserta jajaran manajemennya. Dengan semakin banyaknya permintaan, kami memberikan kesempatan untuk publik mendapatkan layanan program training lepas tanpa harus melalui coaching terlebih dulu,” tutur Fina di sela-sela akhir acara.