business-forum

coaches

Tampilkan posting dengan label coach suwito. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label coach suwito. Tampilkan semua posting

Senin, 20 Maret 2017

HAAH! 400 PELAMAR? - By: Coach Suwito Sumargo*

“Haah! 400 pelamar?” sergah teman saya sambil terbeliak. Dia betul-betul kaget, ketika staf-nya bilang ada 400 orang yang memasukkan lamarannya.
“Gimana nih nanganinya?” sambungnya.
“Tenang, aku bantu deh”.
Dia pun langsung nggak panik lagi. 
Selama seminggu berikutnya, saya (dibantu seorang admin) men-download semua lamaran. Lalu memilah-milahnya berdasarkan background pendidikan, gender, usia & pengalaman kerja. Berikutnya, seleksi mulai dilakukan. Yang punya pengalaman kerja, kayaknya bisa langsung diundang interview. Tapi jumlahnya puluhan, gimana nih? 
Maka seleksi awalpun dilakukan. Caranya, menelpon satu per satu. Dari percakapan singkat, rata-rata 7-10 menit, langsung bisa dikenali karakter si kandidat. Dan hanya kandidat terpilih yang perlu kita panggil untuk interview tatap muka lanjutan. 
Artikel kali ini bukan untuk membahas langkah-langkah rekrutmen. Kejadian di atas sebetulnya diawali oleh kejadian: karyawan yang mendadak resign. Bahkan bukan hanya 1 orang. Dan teman saya pun langsung panik dan tergopoh-gopoh melakukan rekrutmen. 
Untunglah, sekarang sudah banyak portal yang mengakomodasi rekrutmen. Proses pemasangan iklan lowongan hampir sudah tidak jadi masalah. Dan kalau mau mencari kandidat yang fresh graduate, gampang banget. Karena pelamar fresh graduate sudah ‘melek’ internet dan lebih suka melamar via internet. 
Setiap perusahaan pasti mengalami pergantian karyawan. Jadi, kalau ada karyawan yang sudah tidak mau lagi bekerja di perusahaan kita, ya nggak usah dipikiri, apalagi dimasukkan hati. Nah, bila pergantian karyawan ini sudah bisa dihadapi dengan tenang dan kepala dingin, maka proses rekrutmen bisa dijalani tanpa gejolak emosi. 
Selanjutnya, kita toh sudah tahu job desc yang nantinya harus dikerjakan oleh si karyawan baru. Dari situ kita harusnya tahu ciri-ciri, profile dan karakter yang tepat untuk posisi itu. 
Ada baiknya, meski sedang tidak ada pergantian karyawan, kita tetap melakukan rekrutmen. Setidaknya, kita selalu melatih ketajaman dalam membaca karakter melalui interview
Pertanyaan yang muncul, apakah kalau ada kandidat yang baik, harus langsung direkrut? Bila memungkinkan, ya sebaiknya direkrut. Konon, mencari calon bintang itu tidak mudah. 
Bagaimana pengalaman Anda dalam rekrutmen? Apakah saat ini Anda sedang dalam proses rekrutmen? Silahkan kirim e-mail, bila Anda butuh bantuan. 
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 06 Maret 2017

PROMOSI - By: Coach Suwito Sumargo*

Pengusaha 1 : “Gimana kabarnya bisnismu?”
Pengusaha 2 : “Yaa biasa aja kok.”
P 1 : “Wah bisnisku sepi, omzet merosot. Bagi dong kiatmu kok bisa mempertahankan bisnis biasa-biasa dalam kondisi seperti sekarang.”
P 2 : “Yaa promosi-lah. Emangnya kamu nggak promosi?”
P 1 : “Aku dah nyoba, promosi menurunkan harga semua produk. Tapi efeknya hanya sesaat. Setelah masa promosi selesai, omzet pun turun lagi.”
Begitulah cuplikan obrolan dua orang pengusaha dalam sebuah reuni. Kebetulan mereka berdua adalah alumni sebuah SMA. Dan mereka sudah lama sekali ndak saling bertemu.
Pengusaha kedua menceritakan, bahwa dia melakukan promosi secara terus menerus. Tapi, bukan sekedar promosi yang membabi buta.
Dalam bisnis, kita selalu bisa mengelompokkan pelanggan berdasarkan perilakunya. Misalnya di sebuah resto, setelah dicermati saat jam makan siang, ternyata menu yang paling laris adalah masakan Indonesia.
Nah, pengusaha kedua tadi memberikan selembar kupon, tapi hanya kepada pengunjung yang tergolong pengunjung setia saja. Kenapa demikian? Karena kupon tersebut merupakan ungkapan terima kasih atas kesetiaan si pengunjung.
Kupon yang bisa ditukar dengan snack itu dapat dipakai kapan saja. Maka, setiap sore selepas jam kantor, pengunjung setia ini kembali mengunjungi resto, bersantai menikmati snack sambil menunggu kepadatan lalu lintas mereda. Tentu saja resto tidak akan merugi, karena pengunjung tetap membeli minuman.
Langkah promosi ini ternyata didahului dengan riset tentang perilaku pengunjungnya. Dari riset itu diketahui perilaku pengunjungnya, termasuk menu favorit dan nilai pengeluaran rata-ratanya. Sasaranpun dapat ditentukan secara tajam, siapa saja yang dianggap pengunjung setia dan mana yang bukan (pengunjung setia).
Hadiah diberikan kepada pengunjung setia dan bukan untuk pengunjung yang baru pertama kali atau jarang datang.
Ternyata, promosi tidak hanya sekedar menurunkan harga atau memberikan diskon atau bahkan menggratiskan menu tertentu. Benar? 
Promosi diatas memang sangat tepat untuk mempertahankan kesetiaan pelanggan. Sedangkan untuk memancing agar pengunjung yang belum setia jadi makin setia, atau mengundang pelanggan baru, tentu butuh promosi yang berbeda. Bagaimana kiat promosi Anda?
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 20 Februari 2017

PERLUKAH DOKUMENTASI SOP? - By: Coach Suwito Sumargo*

Dalam sebuah diskusi dengan beberapa pebisnis, saya menemui sebuah fakta, yaitu bahwa ternyata sebagian dari mereka sudah punya SOP. Bahkan SOP-nya itu sudah terdokumentasi dengan baik.
Satu-dua pebisnis memang tampak mengerti betul tentang apa itu SOP, apa manfaatnya dan bagaimana menjaga agar SOP tersebut tetap up-to-date (sesuai dengan kebutuhan).
Tapi ada juga yang hanya punya dokumen SOP dan tak tahu bagaimana meng-implementasi-kannya secara benar dan konsisten. Entah bagaimana prosesnya, kok mereka (tahu-tahu) sudah punya SOP.
Tapi, semua orang yang hadir saat itu sepakat bahwa SOP memang dibutuhkan setiap perusahaan. Dengan adanya SOP, maka kekhawatiran akan konsistensi proses dan standar kwalitas lebih bisa teratasi.
Berikut ini cerita dari sebuah perusahaan yang sedang menyusun SOP. Kebetulan yang sedang coba disusun SOP-nya adalah urutan pekerjaan seorang koki. Koki ini sudah punya sebuah kebiasaan atau urutan tindakannya sudah terbentuk. Tentunya secara alami, setelah puluhan tahun bekerja sebagai koki.
Masalahnya, sang koki tidak lagi bisa menceritakan secara runtut dan detil, apa saja yang dia lakukan untuk menghasilkan sebuah masakan yang enak. Semua yang dilakukan sudah otomatis, dilakukan tanpa sadar.
Saya menyarankan pengamatan dari jarak dekat. Tentunya tersedia kamera video yang selalu merekam. Setiap gerak-gerik harus direkam.
Selain itu, harus diusahakan menimbang semua bahan dan bumbu yang (biasanya) hanya dijumput dengan jari atau sendok. Kita perlu tahu, berapa gram yang dibutuhkan untuk menciptakan rasa yang enak.
Ini menjadi dokumentasi SOP tahap awal. Dari sini, kita bisa menguraikan menjadi langkah-langkah yang lebih rinci. Tujuannya adalah agar mudah diduplikasi.
Bila SOP ini akhirnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja, dan memberikan hasil yang seragam/sama, maka tujuan pembuatan SOP sudah berhasil.
Tapi, muncul lagi kesulitan baru. Yaitu sang koki ternyata tidak mengijinkan orang lain menggantikan dia. Bahkan diberi pembantu pun nggak mau. Nah, ini bukan masalah SOP.
Kembali ke topik awal, ternyata menyusun SOP memang tidak mudah dan prosesnya tidak seketika. Tapi, sekali kita punya SOP, maka mutu pun bisa lebih terjaga.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 06 Februari 2017

CEK TOKO SEBELAH - By: Coach Suwito Sumargo*

Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri menonton film “Cek Toko Sebelah”. Ini gara-gara seorang client bilang film tersebut bagus. Lho...kok saya percaya begitu saja ya?
Film ber-genre komedi itu bikin perut mulas, karena adegan dan dialognya yang sangat kocak. Meskipun begitu, beberapa adegan lebih serius terselip diantara gelak tawa. Bagi saya, film ini menampilkan nilai-nilai kehidupan dalam keluarga dan bisnis.
Erwin, si bungsu, punya kemampuan mengelola bisnis. Dan itu dibuktikan saat Erwin mengelola toko ayahnya selama 1 bulan. Meski begitu, dia tak mau menduduki posisi owner selamanya. Dia memilih bekerja sebagai eksekutif untuk wilayah Asia-Pasifik. Bekerja dan mengejar karir di perusahaan lain.
Yohan, si sulung yang lebih perasa (melankolis), justru tidak dipercaya oleh Koh A Fuk (ayah). Karena dianggap tidak punya kemampuan seperti adiknya. Padahal Yohan sangat ingin meraih posisi sebagai pengelola toko, menggantikan ayahnya.
Dalam bisnis, kita sering menghadapi dilema: kemampuan atau kemauan? Saat me-rekrut karyawan pun kita menghadapi dilema ini. Sebagai senior di perusahaan sendiri pun, saya juga mengalami dilema serupa.
Kemampuan, bisa dipelajari di bangku kuliah. Atau juga bisa diajarkan saat kandidat dalam masa percobaan. Kemampuan bisa dikenali sejak awal, saat interview. Tanyakan langsung prestasi kerjanya atau baca di Curriculum Vitae (CV) nya.
Kemauan kerja seseorang lebih susah dikenali. Saya pun kadang-kadang terkecoh dengan omongan dan latar belakang kandidat. Tapi, kemauan yang kuat saja tidaklah cukup. Harus dibarengi dengan kegigihan untuk mencapai target dalam waktu singkat. Kemauan yang kuat (plus kegigihan) inilah yang harus kita buktikan saat masa percobaan. Oleh karena itu, di masa percobaan seorang kandidat harus diberi target yang tinggi, untuk membuktikan kemauan, kegigihan dan sekaligus kemampuannya.
Meski ber-genre komedi, saya menangkap pesan positif dari film Cek Toko Sebelah. Misalnya tentang bagaimana komunikasi yang terbuka bisa menyelesaikan masalah (keluarga). Atau tentang kerendahan hati seorang A Fuk yang akhirnya mau mengalah dan mengubur ego nya dalam memilih penerus.
Bagi saya, film ini mengingatkan: jangan hanya kemampuan saja yang diutamakan. Tapi juga kemauan dan kegigihan. Dan yang terakhir ini harus diuji saat masa percobaan. 
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                       
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 23 Januari 2017

PENGHARGAAN IMMATERIAL - By: Coach Suwito Sumargo*

Ini hanya cerita aja...
Saat wawancara, saya bertanya : Kenapa Anda keluar dari perusahaan setelah bekerja hampir 10 tahun dan jabatan Anda bagus?
Si pelamar berkata: Boss saya berubah. Dulu, saya orang dekatnya Boss. Saya sering diajak omong dan pendapat saya didengar. Sekarang, setelah perusahaan makin besar, Boss jarang menyapa.
Percakapan seperti ini cukup sering saya dengar, ketika sesama recruiter bertemu dan bertukar pengalaman.
Iseng-iseng saya pun bertanya ke teman-teman : Sebetulnya, apa sih yang mereka (karyawan) cari? Dah dapat jabatan bagus, kok masih ndak kerasan juga?
Perlakuan khusus dari seorang Boss ke karyawannya, tentu menyenangkan. Diajak omong dan diperhatikan pendapatnya, merupakan bentuk penghargaan dari Boss ke karyawan. Ini menyenangkan dan membanggakan. Dan ini merupakan bagian dari sistem imbalan (remunerasi, penggajian). Penghargaan immaterial justru sangat diharapkan oleh kebanyakan karyawan.
Ketika perusahaan menjadi besar, penghargaan immaterial tidak boleh ditinggalkan. Bentuk penghargaan immaterial dan cara penyampaiannya bisa saja berubah. Tapi jangan dihilangkan.
Karyawan itu manusia dan ingin diperlakukan manusiawi.

Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 14 November 2016

INVEST DI PROPERTY, BIJAKKAH? - By: Coach Suwito Sumargo*

Banyak pemilik bisnis yang termangu, ketika harga property mendadak naik gila-gilaan. Mereka menyesali, kenapa tidak sedari dulu membeli property? Berdasar pengalaman sebelumnya, maka orang pun mulai ngotot membeli property. Kata mereka: Ini investasi masa depan. Harga property tidak pernah turun. Nah, seperti judul diatas : Bijakkah?
Saya bukan orang yang antipati dengan para 'investor' property. Saya juga bukan expert di bidang property. Tapi, kali ini saya ingin mengajak Anda untuk melihat dari sudut yang berbeda. Pernah tahu A-S-P-C? Asset - Sales - Profit – Cash. Ini sering saya pakai dalam menjelaskan sisi keuangan dari sebuah perusahaan.
Konsep ini saya kutip dari buku The Ultimate Blueprint or an Insanely Successful Business, karangan Keith J. Cunningham.
Dalam menjalankan usaha, kita perlu asset atau modal. Asset ini dibutuhkan untuk menggerakkan atau menghasilkan sales atau penjualan. Bila kita berhasil menemukan formulanya, maka kita hanya butuh sedikit modal untuk menghasilkan penjualan sebesar-besarnya. Dan formula ini bisa berbeda-beda antara satu bisnis dengan yang lainnya. Atau bisa berbeda-beda antara satu pebisnis dengan yang lainnya.
Sales akan menghasilkan profit atau laba. Tentu saja, profit adalah salah satu tujuan kita dalam berbisnis. Dan pengusaha yang jempolan tentu bisa menghasilkan profit optimal. Akhirnya, profit itu harus berwujud uang cash (dana tunai) di tangan kita.
Profit yang hanya tercatat saja di laporan keuangan, tentu tidak cukup bermakna. Profit yang masih diawang-awang, karena masih harus ditagih, tidak bisa memberikan rasa lega, bukan? Nah, setelah duit ditangan, kita seringkali silau (atau khilaf). Seringkali kita berpikiran pendek: ini keuntungan yang jadi hak saya, dan bisa dibelanjakan untuk apa saja.
Dan orang pun seringkali membelanjakannya menjadi property. Property yang dikemudian hari akan naik harganya. Kembali ke pertanyaan saya: Bijakkah?
Mari kita cermati satu persatu dan tolong jawab pertanyaan berikut ini :
1.    Apakah kita masih memiliki hutang? Mana yang lebih penting, menggunakan dana tunai yang ada untuk membayar (melunasi) hutang atau menggunakannya untuk membeli property?
2.    Apakah untuk mendorong sales yang lebih profitable, kita perlu menambah asset (modal)? Mana yang lebih penting, menambahkan dana tunai ini untuk memperkuat modal, atau membeli property?
3.    Apakah kita punya rencana ekspansi? Mana yang lebih penting, menggunakan dana tunai ini untuk mewujudkan ekspansi atau membeli property?
4.    Apakah untuk meningkatkan sales, kita membutuhkan dana untuk membiayai program marketing? Mana yang lebih penting, menggunakan dana tunai ini untuk program marketing atau membeli property?
Dan kita pun masih bisa mempertanyakan banyak hal, mana yang lebih penting, ......atau membeli property? Bagaimana keputusan Anda, masih tetap ingin membeli property?
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 31 Oktober 2016

TRUST - By: Coach Suwito Sumargo*

Coba perhatikan struktur organisasi di perusahaan Anda. Adakah posisi supervisor? Dan apa pekerjaan utama para supervisor ini?
Di kebanyakan perusahaan, supervisor seringkali ditugasi sebagai pengawas. Ya, betul dan tak jarang, pengawas ini harus terus menerus memelototi cara kerja anak buah. Mengawasi dengan rasa curiga dan sebagian besar (memang) dipicu oleh ketidak percayaan terhadap bawahan.
Tim yang dibangun/ dibentuk dengan dasar ketidak percayaan seperti di atas, bakal sulit menjadi solid.
Unsur pertama untuk membentuk tim yang solid adalah trust atau rasa saling percaya. Rasa saling percaya diantara anggota tim bisa diawali dengan saling menghargai keahlian masing-masing. Percaya bahwa rekan kerjanya betul-betul bisa diandalkan, karena memang cakap/ trampil.
Rasa saling percaya juga bisa dimulai dari sikap saling menghargai pendapat masing-masing anggota tim. Pada tim yang punya rasa saling percaya, maka anggota tim tidak akan segan-segan menyampaikan dan menerima kritik. Tim yang dibangun atas dasar trust, bisa memaklumi kekurangan atau kelemahan rekannya. Dan tim akan bekerja sama untuk mewujudkan hasil yang disepakati.
Bagaimana dengan tim di perusahaan Anda? Sudahkah mereka bicara secara blak-blakan, menyampaikan kritik dan pendapat masing-masing? Apakah mereka sudah bisa menerima dan mengakui kekurangan dan keunggulan masing-masing? Dan sudahkah mereka punya goal bersama?
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 17 Oktober 2016

CUSTOMER CARE - By: Coach Suwito Sumargo*

Dalam perjalanan ke Lombok kali ini, saya sengaja memilih sebuah penerbangan yang masih tergolong LCC (Low Cost Carrier), Penerbangan (dengan) Biaya Ringan.
Ada pengalaman menarik tentang Customer Care yang bisa kita tiru. Berikut ini pengalaman saya:
Menjelang mendarat di Lombok, salah seorang Pramugara mengucapkan sebuah pantun. Tak disangka, seluruh penumpang menyambutnya dengan tepuk tangan. Ruang kabin pun gemuruh oleh celoteh ria para penumpang. Pantunnya kocak. Sayang...saya lupa mencatatnya.
Baik di perjalanan menuju ke Lombok, maupun sepulang dari Lombok, pantun Pramugara/ Pramugari selalu disambut tepuk tangan para penumpang. Jelas, mereka suka akan pantun yang menyegarkan itu.
Di perjalanan pulang ke Surabaya, pesawat melewati cuaca buruk. Pesawat pun terguncang sangat keras. Jantung saya berdebar-debar, tegang dan mual. Begitu pesawat sudah mendarat, kami pun lega. Tak pelak, di pintu keluar setiap penumpang menyalami Pramugara/Pramugari. Maklum, setelah mengalami suasana tegang, para penumpang tentu lega bisa mendarat dengan selamat. Pantun yang diucapkan si Pramugara, bukan cuma menghibur tapi juga menghapus ketegangan.
Ada satu hal lagi yang menarik.
Menjelang take off, biasanya lampu diredupkan. Saat itu saya tidak memperhatikan pengumuman dan tetap membaca.  Diam-diam salah seorang Pramugari menyalakan lampu baca di atas saya. Dan saya pun mengangkat kepala sambil tersenyum. Dalam hati saya mengucap : “Terima kasih Mbak Pramugari”.
Sebagai konsumen, perlakuan sederhana seperti itu amatlah menenteramkan. Ada pantun yang menghibur (dan diapresiasi oleh konsumen). Juga menyalakan lampu baca (tanpa diminta), sangat layak dihargai.
Meski tergolong Low Cost Carrier, layanannya ternyata tidak murahan. Sudahkah kita memikirkan Customer Care yang sederhana, nyaris tanpa biaya, tapi diapresiasi pelanggan kita?
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 03 Oktober 2016

INTERVIEW MARATHON - By: Coach Suwito Sumargo*

Sabtu lalu saya meng-interview 19 orang kandidat. Mulai pukul 08.00 tepat sampai pukul 16.45. Setiap jam saya meng-interview 2-5 orang kandidat. Wow...sebuah pengalaman luar biasa. Apalagi saya menjalani sendirian, tanpa support siapapun.
Saya tahu, meng-interview banyak orang bakal sangat melelahkan. Oleh karena itu saya pun menyiapkan diri, baik fisik, mental, maupun ‘pernik-pernik’nya.
Pertama, saya membuat daftar nama-nama kandidat, lengkap dengan jam hadirnya. Daftar tersebut saya tempelkan di pintu kaca depan, dengan sebuah catatan : "Pelamar yang belum saatnya diwawancara, harap menunggu dengan tertib, tenang dan sopan".
Kedua, saya menyiapkan sejumlah pertanyaan (bernomor) sebagai panduan. Form untuk mencatat jawaban pun saya siapkan, agar mudah mengompilasikannya nanti.
Dengan pertanyaan yang sama ke setiap kandidat, maka saya akan bisa mengelompokkan jawaban-jawabannya. 
Saya juga berlatih, agar pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar sebagai pertanyaan spontan. Pertanyaan spontan dan relaks akan membuat kandidat tak segan membuka diri, sehingga saya bisa mengenali karakter dan behaviour aslinya.
Dua persiapan tersebut diatas, membuat saya lebih tenang. Ini sebenarnya hanya taktik saya saja dalam menyiapkan diri (mental) sebagai interviewer marathon.
Apa sih yang saya 'takuti' dalam interview seperti ini?
Capek. Meskipun secara fisik sebetulnya tidak banyak tenaga yang saya keluarkan. Tapi, yang menguras tenaga justru adalah rasa bosan karena banyaknya kandidat dan durasi interview yang panjang. Saya juga akan capek karena ulah kandidat yang kadang-kadang menjengkelkan.
Selain capek, juga rasa bosan karena harus menyimak jawaban-jawaban yang sama. Rasa bosan akan muncul, bila banyak kandidat yang kebetulan punya karakter serupa.
Lega rasanya, ketika saya sampai di akhir interview dengan fisik, pikiran dan hati yang tetap segar. Hari Senin ini, saya akan mulai memilih, kandidat mana yang terbaik atau paling sesuai. Semoga.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.