business-forum

coaches

Tampilkan postingan dengan label HR Forum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HR Forum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2014

HR FORUM - FROM CEO TO A GREAT COACH


Banyak perusahaan yang belum paham pentingnya coaching dalam perkembangan bisnis mereka. Metode coaching ditengarai sangat berpengaruh terhadap pengembangan pribadi karyawan dan juga bagian proses sistem manajemen kinerja. Lalu apa itu coaching? Dan hal apa saja yang mesti dipunyai seorang CEO atau manajer, agar dia menjadi seorang coach yang handal bagi timnya?
Untuk menjawab pertanyaan itu, SEA Corp. (ActionCOACH East Java & Bali) mengadakan forum bertajuk “Introducing Coaching in Your Business”. Acara yang diadakan Jum’at (27/12/13) ini, menghadirkan pembicara Suwito Sumargo, seorang International Certified Business Coach yang sudah berpengalaman lebih dari 30 tahun membangun bisnis.
Di awal sesi, coach Suwito memaparkan beberapa definisi coaching. Diantaranya menurut Whitmore (1997), coaching is the process of empowering others. Dalam artian, lebih pada membantu orang lain untuk belajar, daripada mengajari mereka.
Menurut finalis Rookie Coach of The Year 2013 ini, coaching berbeda dengan training, karena metode training memang ada untuk tujuan dan pencapaian target tertentu.
“Seorang coach membantu orang lain melihat ‘blind spot’ dan membuka potensi mereka. Forum ini diadakan, agar para CEO sadar, bahwa untuk menjadi coach bagi karyawannya, bukan hanya dibutuhkan pemahaman saja. Secara pribadi, dia harus punya willing to help others, bersedia dengan tulus mengembangkan potensi orang lain,” tegas coach Suwito.
Lebih jauh, dijelaskan dasar-dasar sikap yang harus dimiliki oleh manager as a coach. Yang utama, listen more than talks, lebih banyak mendengarkan daripada bicara.
“Yang dimaksud dengan mendengarkan di sini adalah deep listening. Cobalah untuk menekankan kontak mata dan mencondongkan telinga di saat karyawan berkomunikasi kepada Anda. Konsentrasi dan temukan clarity (kejelasan) tentang apa yang mereka keluhkan. Baru setelah itu, Anda bisa memberikan tanggapan,” ungkap pemilik PT. GBT Laras Imbang ini.
Dalam memberikan tanggapan pun, hendaknya bersifat open ended question, yaitu memberikan pertanyaan yang bertujuan untuk membantu tim atau karyawan menemukan jawaban atas permasalahannya sendiri.
“Hindari pertanyaan yang jawabannya berupa pilihan ya atau tidak. Tapi pertanyaan yang tujuannya memunculkan ‘awareness’ akan persoalan yang sedang dihadapi. Jadi mereka mendapatkan clarity dari permasalahan sendiri. Inilah inti dari open-ended question,” ujar coach Suwito.
Coach Suwito menambahkan, setelah wacana dan kesadaran tim terbuka, yang paling penting bukan hanya action, tapi juga komitmen mereka untuk menjalankan dan memecahkan masalah yang dihadapi.
Sikap lain yang perlu dimiliki untuk menumbuhkan budaya coaching adalah lingkungan yang bisa membuat karyawan Anda termotivasi. Gunakan ‘relationship’ untuk mempengaruhi mereka dan jangan ada ‘gap’ antara Anda dan mereka. Karena metode coaching lebih efektif jika hubungan yang terjadi lebih seperti partner atau teman sharing.
Lalu apa saja yang dibutuhkan agar budaya tersebut bisa diterima di perusahaan? Coach Suwito kembali memaparkan, bahwa diperlukan kesiapan dari kedua belah pihak, baik atasan maupun dari karyawan sendiri. Ada baiknya, atasan harus siap terlebih dahulu untuk memulai budaya coaching di perusahaan yang dia pimpin. 

Kamis, 12 Desember 2013

HR FORUM - SEPULUH RAMBU-RAMBU REKRUITMENT

Karyawan merupakan aset penting dan sumber daya utama bagi perusahaan. Dia bisa membawa keuntungan, bahkan mendongkrak bisnis mencapai puncak. Itu mengapa proses recruitment menjadi satu hal important, yang harus dipahami oleh seorang owner bisnis.
Agar owner bisnis punya bekal dalam merekrut dan mendapatkan karyawan yang sesuai , SEA Corp. (ActionCOACH East Java & Bali) mengadakan acara Human Resource Forum bertajuk “10 Hiring Mistakes”, Jum’at (22/11/13). Sebuah forum yang mengupas kesalahan apa saja yang biasa terjadi ketika merekrut karyawan baru. Suwito Sumargo, sebagai pembicara berkata, penting bagi owner bisnis mengikuti acara ini.
“Saya ingin owner bisnis paham, bahwa kesalahan kecil saat menghire karyawan itu sering dilakukan. Padahal itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Karena karyawan sangat penting keberadaanya buat perusahaan, maka jangan sampai kita mendapat orang yang tidak sesuai dengan posisi dan pekerjaannya,” tegas coach Suwito.
Kesalahan pertama yang biasa dilakukan owner bisnis dalam proses recruitment karyawan adalah menghire ‘diri sendiri’ (hiring yourself). Para owner seringkali merekrut karyawan yang terlihat punya karakter sama dengan pemilik perusahaan.
“Kemiripan karakter seringkali menjadi kelemahan bagi owner. Padahal, meskipun dengan background dan karakter yang sama, belum tentu hasil kerja dan pemikirannya juga sama,” tutur coach Suwito.
Lebih jauh, coach Suwito menegaskan, pemilik bisnis harus bersikap fair pada karyawannya. Jadi ketika ia menginginkan satu hal positif dilakukan karyawannya, maka dia harus mengawali dalam melakukannya.
Kedua, fast food hiring, yaitu merekrut hanya pada saat membutuhkan. Di waktu ini, seringkali para owner tergesa dan asal-asalan menerima karyawan. Karena berada pada kondisi ‘kepepet’, mereka jadi terjebak dalam kondisi serba instant (fast food).
Pada poin ini, coach Suwito membagikan tips bagaimana para owner bisa langsung mendapatkan seorang karyawan yang diinginkan pada saat urgent atau benar-benar membutuhkan.
“Proses recruitment baiknya sering dilakukan pada saat kita tidak sedang membutuhkan mereka. Daftar kandidat yang memenuhi kualifikasi, baru dipanggil lagi ketika perusahaan sangat membutuhkan posisi yang tepat untuk kandidat itu. Intinya, di waktu yang ‘kepepet’ kita tidak perlu lagi melakukan proses recruitment,” jelas pria yang juga owner GBT Laras Imbang ini.
Kesalahan berikutnya, hiring the resume, not the person. Hati-hati terhadap ‘jebakan’ resume adalah inti pada poin ini. Jadi ketika merekrut, jangan hanya mengandalkan Curriculum Vitae (CV). Ketika interview juga usahakan jangan terpaku dengan melihat resume. Kandidat yang berpotensi adalah mereka yang bukan hanya cerdas, tapi inovatif dan kreatif.
Keempat, interviewing on autopilot. Poin ini berhubungan dengan seberapa sering anda merekrut karyawan. Sebaiknya jangan terlalu sering, karena nantinya proses rekruitment akan berjalan otomatis dan asal-asalan. Hal ini bisa menghilangkan kepekaan anda untuk memilih kandidat yang sesuai dengan perusahaan.
“Hindari autopilot, karena kita butuh human sense,” tambah coach Suwito.
Kelima, lazy references checking. Sebelum memutuskan untuk menerima kandidat, ada baiknya anda menghubungi rekan yang pernah bekerja sebelumnya dengan kandidat. Dengan begitu anda bisa tahu bagaimana mereka bekerja serta sifat dan tingkah laku, yang bisa dijadikan acuan ketika kelak mereka bergabung dengan perusahaan kita.
Poin berikutnya, freezing out your team. Usahakan melibatkan tim saat proses hiring. Akan lebih baik, jika nantinya tim itu yang akan terlibat langsung dengan kandidat.
Kesalahan yang juga biasa terjadi adalah only hiring outside – or inside. Di beberapa perusahaan, para owner hanya merekrut orang-orang dari internal perusahaan untuk menjabat posisi baru. Hal ini karena owner sudah mengetahui bagaimana attitude serta karakter mereka. Selain itu, culture yang dimiliki sang karyawan sudah sama dengan culture perusahaan. Padahal, diperlukan juga merekrut orang luar untuk membentuk budaya baru, sehingga perusahaan akan lebih beradaptasi dan welcome terhadap perubahan.
“Namun jika hanya merekrut pihak luar saja juga tidak baik, karena culture perusahaan dan proses bisnis yang sudah terbentuk bisa berubah, bahkan berantakan. Itu mengapa, harus ada kombinasi antara keduanya. Diperlukan orang luar, agar yang di dalam ini tidak kaku dan statis. Sebaliknya, diperlukan pihak dalam, untuk mempertahankan budaya perusahaan yang sudah terbentuk.”
Selanjutnya, when it’s all about the money. Pada saat merekrut, jangan semata-mata karena uang. Buat perhitungan dulu sebelumnya. Apa yang dia dapat, harus seimbang atau sesuai dengan apa yang berikan kepada kita.
Terakhir, letting it fester. Jauhkan pekerja yang buruk dan berpengaruh negatif pada perusahaan anda.
“Pengaruh negatif di sini bukan hanya yang punya attitude yang buruk saja, namun juga pekerja yang terlalu potensial, sehingga gap dengan perusahaan jauh,” tegas coach Suwito lagi.

Sabtu, 09 November 2013

HR FORUM - LOYALITAS CIPTAKAN INVESTASI BISNIS



Jum’at, 25 Oktober 2013, PT. Surabaya Excellence Action (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan acara HR Forum bertajuk “Building Loyalty”. Acara intern yang diadakan tiap bulan itu, membahas tentang pentingnya loyalitas karyawan, dan bagaimana cara membangunnya.
Suwito Sumargo, selaku pembicara menyebut hasil penelitian Columbia University, dimana setiap tahun rata-rata perusahaan kehilangan 20-50% pekerjanya. Dan menggantikan karyawan yang hilang itu, biayanya bisa mencapai 150% dari salary tahunan karyawan tersebut.
 “Pekerja merupakan aset dalam menjalankan bisnis. Itulah sebabnya, penting untuk mengembangkan dan mempertahankan mereka. Jika mereka bertambah mumpuni dan ikut berperan dalam menghasilkan profit bagi kita, maka bukan tidak mungkin, cost yang kita keluarkan buat mereka itu menjadi sebuah investasi ke depannya,” papar coach Suwito di tengah acara yang berlangsung di Surabaya Room, Office SEA Corp. ini.
 “Tinggal bagaimana kita membangun emosi mereka agar ‘klik’ dan terikat dengan kita. Beberapa diantaranya dengan memperbaiki kinerja dan menempatkan mereka di bidang pekerjaan yang tepat, sehingga bisa perform,” tambahnya.
Menurut pria yang juga pemilik GBT Laras Imbang ini, ada beberapa langkah yang dilakukan untuk menumbuhkan loyalitas karyawan.
Diantaranya dengan membuat employee merasa berharga. Perkenalkan dan gambarkan visi kita, dengan harapan dia bisa engage dan merasa ikut bagian dalam merealisasikan mimpi kita sebagai owner bisnis. Lebih lanjut, kita bisa menggunakan ‘secret shoppers’, seseorang yang diam-diam membantu untuk mengetahui apakah karyawan secara emotionally sudah engaged dengan kita atau belum. Bisa dari teman dekat ataupun keluarganya.
Langkah selanjutnya, employee must feel confident and improved. Awali dengan membuka hatinya supaya dia menjadi ‘welcome’.
“Kita bisa memulainya dengan memberikan training baik skill training, maupun moralitas training. Juga adakan mentoring program, dimana mereka yang sudah lama bekerja dan ahli pada satu bidang mengajarkan ilmunya pada yang masih baru. Dari sini rasa percaya diri mereka akan naik,” kata coach Suwito.
Hal lain yang tak kalah penting yaitu membangun ‘supportive environment’ dan promote team building. Selain membangun lingkungan dan suasana kerja yang kondusif, team building diperlukan, agar para karyawan bisa saling menutupi kelemahan dan bisa belajar dari kelebihan (kemampuan) yang lain.
“Lebih jauh, kita harus bersikap transparan terhadap mereka. Tell them the truth. Buat mereka respect dengan kita, dengan menceritakan kondisi perusahaan yang sebenarnya, meskipun di saat krisis sekalipun. Selanjutnya, beri mereka penghargaan atas kontribusi dan prestasi yang diberikan kepada perusahaan.  Penghargaan yang diberikan selain bersifat konsisten atau rutin, baiknya berdasarkan parameter atau kriteria tertentu yang terbuka dan obyektif,” tegas coach Suwito di sesi terakhir forum. 

Kamis, 10 Oktober 2013

HR FORUM - GREAT PERSUADER TO A GREAT LEADER

Suwito Sumargo, selaku pembicara HR Forum : The Art of Persuasion.

Dalam dunia bisnis, kemampuan persuasi bukan hanya penting dimiliki oleh pelaku marketing atau sales saja. Lebih jauh, para owner bisnis juga harus menjadi seorang ‘great persuader’ dalam perusahaan. Itulah yang dibicarakan dalam Human Resource (HR) Forum bertajuk “The Art of Persuasion”, Jum’at (27/09) lalu. Acara yang rutin diadakan SEA Corp. (ActionCOACH East Java-Bali) tiap bulan ini, bertempat di Surabaya Room, SEA Office, PTC Surabaya.
 “Acara ini bertujuan untuk penyadaran diri sendiri, bahwa kalau kita ingin menjadi pemimpin panutan, maka harus punya kemampuan untuk mempersuasi orang lain. Seni persuasi memungkinkan seorang pemimpin lebih mudah menjual ide kepada bawahannya, sehingga dia bisa mewujudkan tujuannya,” papar Suwito Sumargo selaku pembicara.
Setidaknya ada 6 ciri yang dimiliki untuk menjadi seorang ‘great persuader’. Pertama, karakter yang kuat. Misalnya jika seseorang dominan berkarakter D (Dominance), maka dia memiliki sikap tegas dalam mengambil keputusan. Bila orang itu berkarakter I (Influence), maka dia cenderung antusias dan penuh percaya diri.
Suwito memaparkan, pada umumnya, bentuk karakter bisa dikelompokkan menjadi 4 macam: karakter D (Dominance), I (Influence), S (Steadiness), dan C (Compliance). Orang yang dominan berkarakter D cenderung orang yang cepat mengambil keputusan, memiliki ego yang sangat tinggi, dan selalu ingin tampil di depan. Orang I cenderung sebagai orang yang mampu meyakinkan dan memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu. Orang dengan karakter S adalah orang-orang yang sabar, meski kadang kurang tegas dalam mengambil keputusan. Sedangkan orang dengan dominan karakter C, cenderung sebagai orang yang detil dan teliti.
“Sebenarnya karakter ini bisa dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan. Jadi misalnya dia aslinya berkarakter D, maka seiring waktu, melalui pembelajaran dan pengaruh lingkungan, bisa saja dia berubah menjadi orang dengan karakter C atau I yang kuat,” ungkap pria yang akrab disapa coach Suwito ini.
Ciri berikutnya yaitu adanya confidence (percaya diri), sikap positif (positive attitude) yang dimulai dari positive thinking, serta kemampuan dalam menjalin hubungan dengan orang lain (networking & relationship skills).
“Rasa percaya diri sangat diperlukan, karena hal ini bisa membuat seseorang lebih yakin bisa mempengaruhi orang lain. Networking dan relationship skills juga penting, karena tanpa ini seseorang tidak akan pernah menjadi great persuader,” tegas coach Suwito.
Ciri lainnya yaitu berorientasi pada hasil (result oriented) dan selalu tidak pernah merasa puas (high level of unsatisfaction).
“Keenam ciri ini tidak mutlak dimiliki atau selalu ada, bisa sebagian saja. Dan menariknya, semua bisa dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan,” tambah coach Suwito.
Dalam HR Forum, pria yang juga pemilik PT. GBT Laras Imbang ini, juga menyebutkan elemen yang harus dibentuk. Beberapa diantaranya build rapport (membangun percakapan yang baik), focus listening (deep listening) dalam artian memberikan intensi dan perhatian penuh pada orang yang berbicara, questioning (clear sense of purpose), dan constructive feedback.
Dalam hal questioning, ada 4 tujuan berbeda yang bisa diejawantahkan dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan yang membuat orang lain untuk memutuskan sesuatu (to decide), pertanyaan yang membuat orang lain untuk melakukan sesuatu (to take action), pertanyaan untuk mengubah pandangan orang lain (to change mind), dan pertanyaan yang fokus untuk hal-hal tertentu (to focus on certain things).