business-forum

coaches

Tampilkan posting dengan label FDG. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label FDG. Tampilkan semua posting

Senin, 10 Agustus 2015

“Dalam Bisnis, Perlu Tidak Kita Membentuk Multi Segmen? atau Cukup Fokus di Satu Segmen Saja?” (Hasil FDG IX)

Moderator : Coach Humphrey Rusli

Hasil penelitian/ jawaban kuesioner :

  1. Apakah jenis bisnis/ perusahaan anda?
60% responden penelitian ini bergerak dibidang manufacture, sedangkan 40% nya
bergerak dibidang jasa.

2.       Anda menyadari segmentasi produk/ jasa anda pada saat :
Sebanyak  47%  responden menjawab bahwa mereka menyadari segmentasi produk/ jasa mereka pada saat  mereka akan memulai bisnis. Sedangkan sebagian besar yaitu 53% responden menyadari segmentasi produk/ jasa mereka pada saat bisnis sudah berjalan.
  1. Tujuan segmentasi dalam bisnis anda (jika ada) adalah
·         Sebagian besar berpendapat bahwa segmentasi ini sangat diperlukan terutama
agar fokus  dan mengetahui target pasar.
·         Mengelompokkannya untuk memerluas bisnis serta
·         Menentukan strategi baik di harga, promosi maupun perlakuan konsumen

  1. Menurut anda bisnis yang bagaimana yang perlu fokus di satu segmen saja ?
·         Bisnis yang baru dimulai
·         Bisnis yang memiliki banyak kompetitor
·         Bisnis yang memiliki niche market dan unik
·         Bisnis yang B to B

  1. Menurut anda bisnis yang bagaimana yang perlu fokus di multi segmen ?  
·         Bisnis yang sudah stabil dan yang ingin berkembang/ mengembangkan
bisnisnya lebih luas lagi.
·         Bisnis yang sudah stagnan di satu segmen saja
·         Bisnis yang tidak memiliki keunikan
·         Bisnis Manufacture

Segmen adalah market kita baik menengah atas maupun bawah. Dalam berbisnis apakah kita harus :
  1. Mencari segmen dulu baru menyediakan barang/ jasa atau
  2. Menyediakan barang/ jasa dulu baru mencari segmen?

Dua-duanya bisa dilakukan tetapi dua-duanya pun memiliki perbedaan, pada poin pertama harus memiliki disiplin dalam network, logistic, supply chain management dan multiple supplier. Sedangkan pada poin kedua, harus memiliki kemampuan tertentu, memiliki kualitas dan memiliki market research.
Parameter segmen bisa di kategorikan dari :

-          Gender, usia                             -  Lifestyle
-          Profesi,                                     -  Hoby
-          Strata Ekonomi Sosial              -  Profesi
-          Tingkat pendidikan,                  -  Kebudayaan
-          Tingkat pendapatan,                 -  Teritorial

Bagi pebisnis pemula, disarankan untuk tidak mementingkan segmen dulu tetapi lebih kepada bagaimana mendatangkan konsumen dan mendatangkannya lagi.
Sekarang bisnis sudah sulit disegmenkan, yang benar adalah kita harus bisa menciptakan segmen, mengapa sulit disegmenkan? Karena:

  1. Saat ini teknologi sudah sangat terjangkau, informasi cepat sampai ditangan konsumen dan konsumen saat ini bisa menjadi golongan yang bisa masuk kesemua segmen.
  2. Kondisi keuangan, dimana saat ini banyak fasilitas-fasilitas yang memudahkan dalam meminjamkan uang. Sehingga dengan kemudahan tersebut orang bisa menjadi segmen/ golongan menengah atau atas.
  3. Produk/ jasa saat ini sudah sulit diklarifikasi karena memiliki perbedaan yang tiipis, kecuali barang/ jasa yang premium sekali.

        Kita harus menciptakan segmen dengan mencari Needs dan Wants konsumen. Wants yaitu apa yang konsumen inginkan dan Needs adalah kita menjual apa yang mereka butuhkan. Apapun produk/ jasa anda apakah yang mau dan yang suka cukup banyak? untuk mengetahuinya kita bisa melakukan tes market, dan jika tidak ada yang mau berarti produk/ jasa kita tidak memiliki segmen.

Jika kita bisa menangkap apa keinginan konsumen maka dari serangkaian keinginan-keinginan tersebut kita bisa menarik benang merah segmen bisnis kita. Seorang pebisnis harus mampu :

1.       Mencari formula mengapa konsumen mau datang sampai menemukan segmen yang kita ciptakan sendiri.
2.       Mampu membuat sinergi sebelum expansi. Sinergi yaitu apakah bisnis anda sudah memiliki sistem yang saat anda tinggal bisa tetap berjalan baik marketing, sales, service maupun operasionalnya.

Yang perlu tekankan yaitu strategi mencari dimana Wants-nya, karena untuk Needs-nya bisa/ mudah di copy oleh orang lain.

 
Ingin Mengikuti Forum Diskusi Grup (FDG) ini tiap bulan?
Segera Daftar jadi Member, FREE

Research & Development Team

Sabtu, 20 Juni 2015

LEADERSHIP, BISA DIBENTUK ATAU BAKAT DARI LAHIR? - Moderator : Coach Ruaniwati

Dalam penelitian ini, 52% responden bergerak dibidang jasa dan 48% bergerak di bidang manufacture. 93% dari mereka  memiliki pendapat bahwa jiwa kepemimpinan mereka tumbuh dari proses pembelajaran, sedangkan sebanyak 7% responden berpendapat bahwa jiwa kepemimpinannya tumbuh sejak kecil atau bakat lahir.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang leadership, beberapa peserta Forum Diskusi Grup (FDG) berpendapat bahwa pengertian dari leadership sendiri adalah jiwa kepemimpinan seseorang dimana orang tersebut berada digaris depan yang memiliki pengaruh dan pengikut dalam mencapai suatu visi misi serta memiliki kualitas seperti: bertanggung jawab, konsisten, memiliki integritas, memiliki kecepatan dalam mengambil keputusan dan memiliki banyak strategi.
Jika leadership itu lahir dari bakat, apakah langsung dapat dipakai/ diterapkan di dalam  perusahaan? Mengapa? 80% berpendapat  leadership yang lahir dari bakat tidak bisa langsung dipakai/ diterapkan perusahaan  karena leadership  perlu pengetahuan dan melalui proses/ tahap pengalaman, 20% berpendapat leadership bisa langsung dipakai/ diterapkan diperusahaan.
Jika leadership bisa dibentuk, yang perlu ditanamkan atau diajarkan terlebih dahulu yaitu kedisiplinan,  kekuatan mental, tanggung jawab, dan kemauan belajar tinggi.

Beda Leadership yang Sengaja Dibentuk dengan yang Benar-Benar  Bakat dari Lahir
Leadership yang sengaja dibentuk :
Ø Terkadang ada kendala dalam proses pembentukannya
Ø Leadership yang dibentuk berdasarkan situasi dan kondisi pada saat tertentu
Ø Bukan dari jiwa/ mentalnya sehingga membutuhkan waktu lebih lama dalam membentuk leadership.
        Leadership yang dari bakat:
Ø  Terkadang mengandalkan insting
Ø  Cenderung ditaktor
Ø  Lahir dari bakat sehingga cenderung
     memiliki mental kuat
Menurut coach Ruani jika kita mengingat apa yang dulu pernah kita dengar, seperti ungkapan dari Ki Hajar Dewantara tentang pemimpin, banyak hal yang dapat kita ambil dan implementasikan sebagai seorang leadership. Berikut Pendapat Ki Hajar Dewantara:
1.                       Ing Ngarso Sung Tulodo
2.                       Ing Madyo Mangun Karso
3.                       Tut Wuri Handayani
Ing Ngarso Sung Tulodo’ jika dikaitkan dengan leadership memberikan pengertian sebagai seorang pemimpin kita harus mampu memberikan teladan. ‘Ing Madyo Mangun Karso’, kita juga harus dapat meningkatkan semangat, ‘Tut Wuri Handayani’ yaitu memberikan dorongan atau meluruskan tujuan kembali sesuai dengan arah yang ingin diraih.
Sebagai seorang pemimpin kita juga harus menyiapkan second layer, atau pengganti diri kita jika suatu saat kita berhenti memimpin, apakah itu nantinya anak kita ataukah orang lain.
Beberapa peserta berpendapat bahwa hal yang harus dipersiapkan untuk second layer adalah sharing visi dan misi perusahaan/ dream, succession plan dan dedikasi.
Ada banyak hal yang menjadi alasan mengapa mereka memilih poin tersebut.
·      Sharing visi-misi/ dream, calon seorang leader pertama harus mengetahui visi dan misi perusahaan  dengan jelas, sebelum melangkah untuk menjadi seorang leader.  Sebagai penerjemahannya perlu dibuat langkah-langkah strategis yang berorientasi pada jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Jadi, setiap individu mempunyai acuan untuk bergerak dan mengembangkan kreativitas yang menunjang kemajuan perusahaan.
·      Succession Plan, hal ini sangat berpengaruh pada setiap individu di perusahaan yang memang diproyeksikan/ diharapkan menduduki posisi strategis/ jabatan yang lebih tinggi. Pada saat karyawan itu masuk ke perusahaan, seharusnya sudah ada tes yang jelas (seperti psikotest, tes bakat minat dan lain-lain) supaya kita bisa membangun carreer path yang jelas. Lebih tepatnya  yaitu “put the right man on the right place".
·      Dedikasi, dedikasi dapat dijabarkan sebagai pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha. Di sana mengandung unsur loyalitas, kejujuran, kemampuan personal, memahami job description, visi-misi/ orientasi perusahaan, team work, tanggung jawab dan pencapaian hasil usaha. Hal itulah yang merupakan salah satu dasar yang diperlukan bagi seorang pemimpin.
Selain poin-poin yang diajarkan untuk mempersiapkan second layer, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengukur keberhasilan dari apa yang sudah kita ajarkan dan bagaimana caranya mengukurnya?
Kemudian tanda-tanda seperti apakah seorang leader yang baik itu? hasil survey dan hasil dari forum diskusi kami   menyebutkan beberapa tandanya adalah :
Ø     Memiliki banyak pengikut
Ø     Memiliki kharismatik
Ø     Memiliki integritas
Ø     Berani mengambil tantangan/ resiko
Ø     Memiliki skill dan insting bisnis
Ø     Visioner
Ø     Mampu menciptakan leader baru.
Leadership yang memang sengaja dibentuk dan leadership yang merupakan bakat dari lahir bisa memiliki tingkat kemampuan berbeda tetapi akan tergantung juga dengan orangnya, dimana jika tidak diasah meskipun leadership itu merupakan bakatnya maka tidak akan dapat berkembang berbeda dengan leadership yang dibentuk, meskipun dibentuk tetapi jika terus diasah maka kemampuannya akan lebih berkembang.

Salam The Next Level!
Research & Development Team


Rabu, 04 Februari 2015

HARUSKAH MEMBAYAR MAHAL UNTUK BRANDING - (Hasil FDG IV – 23 Januari ’15)

Apakah branding itu? 50% responden dari hasil penelitian yang kami lakukan terhadap para pemilik bisnis baik dari bidang jasa maupun manufacture berpendapat bahwa branding itu identik dengan nama perusahaan, nama produk/ jasa, merek dagang yang mudah diingat, bersifat unik yang membedakan produk/ jasa satu dengan yang lain. Mereka menganggap penting branding karena memiliki tujuan agar produk/ jasa kita lebih dikenal konsumen dan konsumen di Indonesia umumnya lebih melihat brand dari pada kualitas.
Branding menurut coach Ruani adalah cara mengkomunikasikan personality/ identitas kita kepada orang lain/ kepada calon konsumen dengan konsisten.Identitas menentukan kita ini siapa dibandingkan orang lain, biasanya identitas pemilik bisnis atau perintis bisnis akan melekat menjadi  identitas perusahaan. Identitas perusahaan harus dibangun sedini mungkin dan  dilakukan secara konsisten agar nantinya bukan konsumen yang menilai dan menentukan identitas kita. Tentu sah-sah saja kalau persepsi konsumen benar, bagaimana kalau tidak?
Dalam melakukan kegiatan branding pasti akan memiliki tantangan seperti bagaimana memberikan suatu kepercayaan dan kepuasan kepada konsumen, mencari ide agar branding lebih efektif dan efisien, tepat sasaran, konsisten, mengendalikan internal SDM serta mengedukasi konsumen perihal produk/ jasa yang kita kenalkan. Agar kegiatan branding kita sesuai dengan segmen dan target yang dituju maka kita perlu melakukan  4W dan 1H yaitu:
1.        Who, siapa saja orang yang menjadi calon konsumen kita
2.        Where, mencari tahu dimana konsumen itu berada/ berkumpul.
3.        What,  apa saja kelebihan dan keunikan produk kita sehingga dapat menarik minat calon konsumen untuk membeli. Apa saja yang dapat kita tawarkan kepada konsumen.
4.     Why, kenapa konsumen harus membeli produk/ jasa kita, apa keuntungan yang didapat dengan membeli/ menggunakan produk/ jasa kita.
5.     How, bagaimana kita memasarkan dan bagaimana hasil evaluasi pemasaran kita.
Banyak hal yang dilakukan oleh para pemilik bisnis untuk meningkatkan branding mereka yaitu dengan meningkatkan kualitas pelayanan, melakukan kerjasama dengan perusahaan/ instansi lain, memanfaatkan Word of Mouth (WOM) serta memasang iklan di koran, majalah, televisi, mencetak brosur dan menggunakan media online seperti website/ media sosial.
Dari hasil penelitian media online dapat dipakai secara efektif untuk meningkatkan penjualan. Hal ini terlihat dari parameter yang digunakan seperti adanya kenaikan pendapatan, adanya repeat order dan target yang tercapai.
Sebelum melakukan branding sebaiknya kita perlu mengetahui 4 hal tentang brand:
1.     Identitas brand kita harus jelas.
2.     Brand itu harus memiliki suatu nilai seperti ROI maupun nilai uangnya.
3.   Brand harus memiliki experience yang konsisten.
4. Brand itu menggambarkan tentang kita/ perusahaan.
Dan suatu brand dikatakan bagus jika:
1.    Dapat menyampaikan pesan yang dimaksud dengan jelas.
2.    Dapat menggambarkan/ mengkonfirmasi kredibilitas perusahaan seperti apa.
3. Dapat terbentuk komunikasi/ hubungan baik dengan konsumen, memberikan pengalaman yang berkesan kepada konsumen.
4. Dapat memotivasi konsumen untuk membeli produk/ jasa kita.
 Selain kegiatan branding yang gencar dilakukan kita juga harus memperhatikan dari sisi produk/ jasa yang kita jual, jangan sampai apa yang kita branding kan tidak sesuai dengan produk/ jasa yang kita jual karena dampaknya konsumen kita akan kecewa dan branding kita tidak akan bisa bertahan lama.
Dalam melakukan kegiatan branding 63% pemilik bisnis mempunyai dana yang dialokasikan khusus untuk branding sedangkan sisanya sebanyak 37% tidak memiliki dana khusus. Sebenarnya dalam melakukan kegiatan branding tidaklah harus mahal, tetapi bisa dilakukan dengan mengoptimalkan media yang harganya lebih terjangkau seperti media sosial, dimana sebagian besar pemilik bisnis berpendapat media tersebut cukup efektif dan tergolong murah.
Kemudian, dalam suatu perusahaan siapakah yang seharusnya melakukan fungsi branding? sering sekali kegiatan branding identik dengan tanggung jawab marketing, tetapi fungsi branding ini seharusnya menjadi tanggung jawab semua orang yang ada di perusahaan karena kegiatan branding merupakan bagian dari strategi bisnis dimana semua lini harus mengetahui apa yang perusahaan ingin capai.

Jumat, 21 November 2014

PEOPLE OR SYSTEM - ( Intisari Forum Discussion Group (FDG) II – 14 Nov ’14 )

Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?
Bagi pebisnis, menjawab hal ini seperti menjawab pertanyaan: mana yang lebih penting, membentuk sistem dulu baru merekrut SDM? atau sebaliknya?
Dalam sebuah riset yang diadakan oleh tim Research and Development kami, sebanyak 79% pebisnis memilih sistem lebih dulu. Dengan adanya sistem, semua akan teratur atau terencana, sehingga orang-orang yang ada akan bekerja sesuai dengan sistem yang sudah dibuat. Sedangkan sisanya, sebanyak 21% lebih memilih merekrut SDM dulu, dengan alasan jika orang-orangnya tidak ‘mumpuni’, maka sistem yang lahir nantinya juga akan buruk atau tidak berkualitas.
Sebenarnya apa itu sistem? Apa pentingnya sistem dalam bisnis kita? Dari forum diskusi yang kami adakan beberapa waktu lalu (Jum’at, 14 Nov ’14), sebagian besar pemilik usaha berpendapat, intinya sistem merupakan sesuatu yang terencana, di dalamnya terdapat orang-orang yang keseluruhannya mengacu pada visi-misi perusahaan.
Sistem bisa saja lahir pada saat kita pertama kali membangun usaha atau pada saat usaha mulai besar dimana proses pekerjaan kita sudah dapat didelegasikan ke bawahan. Sederhananya, sistem itu berangkat dari aturan main. Sebuah aturan main bisa kemudian disebut sistem jika ‘dia’ terbukti bagus, dalam artian bisa menghasilkan profit yang berkelanjutan.
Lebih jauh bicara tentang sistem, kita juga harus memiliki sistem default sebagai acuan. Jika sistem baru yang kita buat tidak sesuai dengan lapangan kita bisa kembali ke sistem default. Sistem default adalah sistem yang berlaku di lapangan, tidak didesain sebelumnya dan berjalan apa adanya.
Ada kasus menarik yang diberikan coach Humphrey Rusli (moderator FDG II) dalam forum ini. Contohnya fakta yang dialami oleh salah satu pengusaha kuliner, waktu usahanya berdiri di daerah kumuh, rumah makannya ramai dikunjungi pelanggan. Namun, ketika pindah ke tempat yang lebih besar dan bersih, pengunjung malah banyak yang ‘lari’ dan menurun drastis. Beberapa perusahaan seperti ini, sistemnya amburadul tetapi sukses, dan setelah sistemnya dirapikan justru mengalami kerugian. Kok aneh, ya? Menurut anda, kira-kira apakah ada yang salah dengan perubahan sistemnya dan bagaimana solusinya?


JANGAN JADI AKTOR UTAMA SAJA
Selama ini, sebagian besar pengusaha atau pemilik bisnis hanya menempatkan dirinya sebagai aktor utama. Apa yang saya rasakan, apa saja yang harus saya lakukan, menurut saya gimana. Mereka terlalu berkutat untuk perbaikan diri sendiri, tanpa menyadari bahwa melihat dari sisi konsumen (market) adalah hal yang tak kalah pentingnya.
Market itu tidak mengenal teori, diperlukan analisa dan penggalian informasi yang akurat jika kita ingin membuat sistem, terutama dalam menggali jenis dan kemauan konsumen kita. Selama ini konsumen membeli produk kita karena apa?
Secara garis besar, ada 3 faktor yang menyebabkan konsumen memakai produk atau jasa kita:
1.     Fungsionalitas. Poin ini seperti pelayanannya cepat, murah, komplit, dan tempatnya dekat/ mudah ditemukan dimana-mana.
2.     Emosional. Kesan apa yang ingin didapatkan ketika memakai sebuah produk atau jasa. Seperti kesan mewah, gengsi, pintar, dan masih banyak lagi.
3.     Familiaritas. Seperti kebiasaan yang sering dilakukan dan konsumen merasa nyaman dengan kebiasaan itu.
Pada kasus pengusaha kuliner (rumah makan) di atas, pelanggan ‘setia’ mungkin lebih memilih datang ke depot kumuhnya, karena sudah terbiasa dan nyaman disitu (faktor familiaritas). Bisa juga karena tempatnya yang mudah dijangkau (faktor fungsionalitas). Sebab itu, tidak mengherankan jika kemudian rumah makannya menjadi sepi ketika dia pindah tempat.
Alangkah baiknya, jika pengusaha itu ingin melebarkan ‘sayap’ bisnisnya, bisa dengan membuka cabang baru, tempat baru, jenis atau segmen konsumen baru, dan dengan pendekatan yang baru juga. Entah itu melalui pendekatan fungsionalitas, emosionalnya, maupun familiaritas. Itu jika kita bicara tentang konsumen bisnis sendiri, bagaimana dengan konsumen dari kompetitor? dalam dunia usaha, tentunya bukan hal baru jika setiap pengusaha saling berebut konsumen atau pasar.
Ada beberapa cara merebut konsumen yang sudah loyal dengan produk tertentu, diantaranya:
1.     Mengeluarkan produk yang berbeda/ unik. Bersifat lain daripada kompetitornya.
2.     Mengeluarkan produk yang sejenis dan menyamakan familiaritasnya dengan kompetitor. Misal mie merk XYZ, yang mengeluarkan jenis produk sama dengan kompetitornya seperti mie kuah rasa soto koya dan masih banyak lagi.
Sebenarnya sulit untuk merebut konsumen yang membeli suatu produk/ jasa karena familiaritasnya, untuk itu alangkah baiknya jika kita menciptakan konsumen dengan segmen sendiri. 

Kembali ke pertanyaan utama: mana yang lebih penting, membentuk sistem dulu baru merekrut SDM? atau sebaliknya? dari FDG II ini disimpulkan, sebaiknya sistem ditentukan atau dirancang terlebih dahulu oleh pemilik perusahaan, karena pemilik perusahaan paling berperan besar dan yang lebih banyak menanggung resiko jika sistem yang dijalankan ‘amburadul’.