business-forum

coaches

Tampilkan posting dengan label CEO powerlunch. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label CEO powerlunch. Tampilkan semua posting

Selasa, 12 Agustus 2014

CEO PowerLunch - PARANOIA DIPERLUKAN DALAM KETIDAKPASTIAN BISNIS?


Menyesuaikan diri dan bertahan terhadap segala perubahan, merupakan keharusan agar bisa bertahan hidup. Tak terkecuali dalam dunia bisnis. Pemilik bisnis dituntut untuk bisa menghadapi perubahan, jika tidak ingin bisnisnya ‘tergilas’. Lalu apa yang harus dilakukan agar bisnis tetap bertahan menghadapi perubahan yang terjadi?
Menjawab kebutuhan tersebut, BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan forum para CEO yang terangkum dalam acara CEO PowerLunch. Acara bertajuk “Thriving in Uncertainty” itu bertempat di hotel Shangrila Surabaya, Rabu, 18 Juni 2014.
Coach Suwito Sumargo, selaku pembicara dalam acara ini mengungkap beberapa penelitian Jim Collins, penulis buku “Great by Choice” tentang persamaan yang dilakukan beberapa perusahaan untuk bisa bertahan lama melawan ketidakpastian.
“Ketidakpastian bisnis yang dimaksud bersifat tidak terduga dan secara tiba-tiba. Beberapa penyebab seperti business circle, government policy, dan masih banyak lagi,” tutur coach Suwito.
Sebelum memasuki materi inti, pelatih bisnis yang juga pemilik salah satu franchise otomotif terbesar di Surabaya ini, memutarkan video petualangan Robert Falcon Scott (Inggris) dan Roald Amundsen (Norwegia) yang mengarungi kutub utara.
Apa yang menjadi pembeda dalam perjalanan keduanya, sehingga hanya Amundsen yang berhasil menaklukan kesulitan yang dihadapi dalam perjalanannya. Sedangkan Scott, meskipun telah melakukan persiapan dan usaha keras sebelumnya, namun gagal dan akhirnya meninggal. Apa yang telah dilakukan Amundsen, yang bisa dijadikan pelajaran untuk para pebisnis dewasa ini, dalam menghadapi masa-masa sulit?
Bercermin pada petualangan Amundsen, menurut coach Suwito, ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh pemain bisnis, agar perusahaan bukan hanya mencapai puncak sukses, namun yang terpenting terus bertahan sampai jangka waktu yang tidak ditentukan.
Pertama, menciptakan ‘masalah’ untuk menguji perusahaan, mampu atau tidak dalam melewatinya.
Seorang pemimpin perusahaan besar, bertanya pada tim salesnya: “Apa yang Anda lakukan bila bulan ini tidak ada penjualan sama sekali yang masuk?”. Tim salesnya mencoba menjawab dengan memberikan teknik-teknik menjual untuk mendatangkan konsumen. Sang pemimpin pun memberikan kesempatan pada mereka untuk mencoba cara-cara yang diberikan.
Jadi, pada poin ini, diharapkan perusahaan menjadi lebih peka, melakukan persiapan dan bisa menyikapi saat situasi tidak terduga. Tepatnya, bisa menyelesaikan masalah, ketika berada di luar zona nyaman.
“Seperti ungkapan sedia payung sebelum hujan. Ungkapan ini menjadi tidak berarti ketika kita tidak pernah mencoba atau menguji payungnya, tahan atau tidak,” jelas coach Suwito
Kedua, bergaul dengan orang-orang yang punya passion sama.
Amundsen do this. Selain melatih fisik, Amundsen belajar dari orang-orang Eskimo. Dia bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan Eskimo, sehingga mampu bertahan dan berhasil mengarungi kutub utara.”
20 Miles March
Terakhir, ada sesuatu yang merangsang untuk menuju southpole. Menetapkan apa yang menjadi target kita, baru berlatih ke arah sana. Hal pertama untuk mencapai southpole, melakukan disiplin yang tinggi (Fanatic Discipline). Jadi benar-benar fanatik dalam disiplin, terarah, dan tetap konsisten dalam keadaan apapun.
Dari sekian banyak perusahaan yang diteliti oleh Jim Collins, yang sukses menaikkan nilainya, mempunyai ciri melakukan disiplin ’20 miles march’ seperti yang dilakukan Amundsen.
Diceritakan, Amundsen meletakkan tenda perbekalan setiap 20 mil. Kenapa 20 mil? Ini didasarkan pada penelitian dan survey yang dilakukannya sebelumnya. Untuk mencapai southpole atau tempat yang dituju, dia konsisten melakukan perjalanan setiap 20 mil sebelum kemudian beristirahat di tenda. Meski cuaca sedang bagus pun, dia tidak akan menambah panjang perjalanannya, tapi tetap 20 mil.
“Konsistensi atau keteraturan itu sangat penting. Tidak mudah dilakukan jika tidak dibiasakan. Namun perlu diperhatikan, untuk menjadi habit, harus punya pengamatan terlebih dulu. Inti dari 20 miles march itu adalah bersifat teratur dan tetap dengan melakukan test and measure sebelumnya,” papar coach Suwito.
Lalu tantangan apa saja yang biasanya dihadapi? Disinggung tentang hal ini, pria murah senyum ini menjawab, ada dua hal yang menjadi tantangan dalam 20 miles march.
“Pertama yaitu komitmen dalam menjalankan 20 miles march, seberat apapun keadaannya. Kedua, bagaimana ketika dalam kondisi bagus harus tetap berhenti di setiap ’20 mil’.”
Poin kedua yang harus dilakukan untuk mencapai southpole adalah Empirical Creativity. Kreatif yang dimaksud bukan hanya sekedar bersifat kreatif, atau lain daripada yang lain. Melainkan, harus dibarengi dengan melakukan penelitian data-data secara kontinyu.
Kebiasaan yang dilakukan antara lain dengan mengumpulkan data (pencatatan) sedari perusahaan masih kecil untuk menyusun statistik. Selain sebagai komparasi, hal ini memudahkan Anda menentukan bullet atau peluru yang akan dijadikan cannon ball.
Bullet merupakan wujud dari test and measure dalam skala kecil, yang ditembakkan sampai tepat sasaran. Misal, ada satu perusahaan konsultan bisnis yang ingin mengetahui, media apa yang paling efektif dan tepat untuk promosinya. Maka mulailah ia memasang iklan di berbagai media, sampai menemukan media apa yang diinginkan.
Setelah itu, barulah akan diberdayakan seluruh daya upaya ke satu tujuan tersebut. Itulah yang disebut cannon ball. Bullet sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan 3 pertimbangan, yaitu biaya yang rendah (low cost), resiko yang kecil (low risk), serta gangguan yang kecil (low distraction).
Terakhir, Productive Paranoia. Paranoia merupakan satu keadaan dimana seseorang menaruh curiga berlebihan terhadap sesuatu. Hal ini menjadikan seorang pelaku bisnis sulit mencapai mimpinya, karena tidak pernah punya keputusan final. Selalu berubah, karena kecurigaan atau ketakutannya.
Untuk menghadapi ketidakpastian dalam bisnis, paranoia memang diperlukan, bukan ketakutan yang menjadikan stagnan, namun paranoia yang masih produktif. Jadi bagaimana seorang CEO kemudian menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi ‘badai’ yang akan dihadapi.
Beberapa langkah yang bisa diterapkan dalam productive paranoia diantaranya menyediakan uang cash yang cukup dan cadangannya (build cash reserves and buffers). Berapa banyak? Tentunya harus ditakar dulu agar sesuai dengan kebutuhan.
Setelah itu Zoom Out To Zoom In. Artinya, melihat sesuatu secara keseluruhan atau lebih luas, sebelum akhirnya lebih detail dan spesifik dari jarak dekat. Contohnya, melihat kompetitor kita mana saja, baru kemudian kompetitor utama yang mana.
Di akhir acara, para peserta diminta untuk memberikan apa yang mereka dapat dalam CEO PowerLunch Club kali ini. Satu diantaranya, Erick Robertan dari CV. Era Prima Jaya.
“Saya senang mengikuti acara ini. Temanya mengingatkan saya dengan apa yang pernah dikatakan oleh salah seorang pengusaha top: kepastian adalah ketidakpastian. Selain itu, saya tertarik dengan 20 miles march. Membuat saya jadi berpikir lebih spesifik, dan menggali apa yang akan kita lakukan, salah satunya dengan membuat list,” papar pria berkacamata ini panjang lebar.
Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk Amundsen atau Scott? Apakah Anda lebih memilih menyelesaikan masalah ketika masalah itu terjadi? Atau meng’create’ masalah kecil untuk ‘latihan’ sebelum Anda melewatinya?

Rabu, 04 Juni 2014

CEO POWERLUNCH - KHARISMA ITU SKILL, BUKAN BAWAAN LAHIR


Banyak orang berpendapat bahwa kharisma itu bawaan dari lahir, entah itu karena kelebihan dari segi fisik, maupun gelar kebangsawanan. Padahal, kharisma merupakan skill yang bisa dilatih. Ketidaktahuan ini yang menyebabkan para pemimpin bisnis enggan mempelajari kharisma, yang notabene berperan penting dalam dunia bisnis.
Hal itu yang disampaikan Humphrey Rusli, selaku pembicara dalam CEO PowerLunch bertajuk “Building Your Leadership Charisma”, Rabu (07 Mei ’14). Bertempat di Hotel Sheraton Surabaya, acara ini diselenggarakan oleh BARACOAching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali).
“Kami sengaja menghadirkan forum tentang kharisma, karena banyaknya mitos yang mengatakan bahwa kharisma itu bawaan lahir, entah itu disebabkan karena gelar kebangsawanan, kekayaan, maupun kecantikan dan kemolekan tubuh. Ditambah dengan sedikitnya forum yang membahas secara teknik, membuat para CEO semakin tidak paham, bahwa kharisma itu bisa dilatih. Itu sebabnya kenapa BARACoaching Surabaya mencoba mengambil benang merah, bagaimana agar pemimpin bisa meningkatkan kharisma, bahkan ketika awalnya tidak punya,” papar coach Humphrey, yang juga selaku COO BARACoaching Surabaya.
Lalu seberapa penting kharisma dalam kepemimpinan?
Disinggung tentang hal itu, coach Humphrey menjelaskan, selain untuk memiliki anak buah yang bertalenta sekaligus loyal dan berkaliber bagus, lebih lanjut kharisma yang dimiliki pemimpin, bisa meningkatkan profit dalam bisnis.
“Hal ini karena tim mau bekerja mensupport perusahaan dengan sedikit, atau bahkan tanpa pamrih,” tutur coach Humphrey.
Ada 3 aspek krusial dalam membentuk kharisma. Pertama adalah ketulusan (warmth). Bersikap terbuka dan menerima orang lain apa adanya, tanpa disertai buruk sangka atau negative thinking terhadap orang lain.
Kedua, adalah power atau kekuatan. Seseorang pada poin ini, selain memiliki kekuatan dalam hal intelektual, juga punya koneksi (networking) yang luas. Hal ini untuk memudahkan dalam hal problem solving atau ketika membantu orang lain menyelesaikan masalahnya.
Terakhir, presence (kehadiran). Poin ini memiliki pengertian, hadir sepenuhnya untuk orang lain, mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Jadi bersifat totally, tidak disela dengan pekerjaan lain.
“Jika ketiga hal tersebut bisa kita lakukan, maka bukan tidak mungkin kita akan menjadi pribadi yang kharismatik. Karena pada prinsipnya, yang bisa menilai kita kharismatik atau tidak adalah orang yang bicara dengan kita,” tegas pria yang meraih penghargaan sebagai Coach of The Year 2014 (Business Excellence Forum Award Indonesia 2014) ini.
Selain hal di atas, ada beberapa pokok materi yang disampaikan dalam forum rutin para CEO dan pemilik bisnis ini. Diantaranya, apa itu kharisma, perbedaan kharisma dengan wibawa, serta 6 taktik praktis yang bisa diterapkan langsung oleh peserta dan 10 sifat manusia yang menunjang kharisma itu.
Lebih lanjut, coach Humphrey berharap setelah mengikuti forum ini, para peserta (CEO) akan mampu berevolusi menjadi pemimpin yang efektif, lebih disegani dan profit lebih tinggi dengan loyalitas dan dukungan tim.

Jumat, 21 Maret 2014

CEO PowerLunch - DISIPLIN TINGGI PEMBENTUK BUDAYA PERUSAHAAN BESAR

Humphrey Rusli (pembicara dan COO BARACoaching Surabaya) bersama para peserta CEO PowerLunch.

Selain mengetahui perbedaaan mendasar antara disiplin dan budaya, seorang pemilik bisnis juga harus mengetahui apa yang menjadi cue (stimulan) dari pembentukan budaya, bagaimana proses dan cara menerapkannya, dan seperti apa reward yang diperoleh.
Itulah inti dari forum CEO PowerLunch yang diadakan oleh BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java dan Bali) pada Rabu (19/03) lalu. Bertempat di hotel Shangrila Surabaya, acara bisnis rutin ini bertajuk “Building Strong Discipline and Great Culture”.
Humphrey Rusli selaku pembicara sekaligus Chief Operating Officer (COO) BARACoaching Surabaya bertutur, forum CEO PowerLunch merupakan sebuah forum atau komunitas bisnis tempat bertemunya para CEO atau pemilik bisnis.
“Di sini nantinya para pemilik bisnis bisa networking, sharing tentang pengalaman bisnis, serta belajar bersama tentang isu dan problem bisnis terkini,” tutur pria yang akrab dipanggil coach Humphrey ini.
Di awal forum, coach Humphrey menjelaskan perbedaan antara disiplin dan budaya. Dikatakan masih tingkat disiplin, jika seseorang masih menggunakan logika dan mengerjakan sesuatu dengan terpaksa.
“Disiplin yang kuat merupakan jembatan untuk menuju budaya perusahaan yang kuat juga. Dengan rutin dilakukan dan disiplin tinggi, apa yang awalnya kita lakukan dengan terpaksa, akan menjadi habit atau kebiasaan dengan sendirinya. Jadi disiplin ini lebih pada prosesnya untuk sampai menjadi budaya yang sudah tidak lagi memaksa” papar coach Humphrey.
Menurut coach Humphrey, ada 3 bentuk disiplin. Disiplin menemukan cue, disiplin menemukan proses, dan disiplin menemukan rewardnya.
Cue merupakan stimulan untuk melakukan sesuatu sampai menjadi budaya. Ada 5 kemungkinan terbentuknya cue. Diantaranya lokasi (where are you), waktu (time), emotional state, lingkungan (other people/ who’s around) dan immediate preceding action (tindakan atau kegiatan pemicu sebuah kebiasaan). Sedangkan reward bukan hanya berupa penghargaan berupa ‘fisik’ semata, namun bisa dalam bentuk kepuasan bagi pelakunya.
Para peserta antusias mengikuti forum ini, karena selain memberikan materi, coach Humphrey juga memberikan study kasus bisnis dan membentuk kelompok-kelompok, agar para pengusaha bisa saling berdiskusi membahas contoh kasus yang diberikan.
“Setelah mengikuti forum ini, saya berharap, para pemilik bisnis atau peserta paham bahwa budaya adalah habit yang sudah terus-menerus dilakukan sebelumnya. Budaya itu ada ilmunya, dari sini setidaknya mereka mampu membuat blue-print serta membentuk budaya perusahaan yang bagus dan profitable,” tegas pria yang pernah menjadi top number #1 International Business Coach Juli 2013 ini.
Selain diadakan di Surabaya, forum CEO PowerLunch juga diadakan serentak di Jakarta, pada waktu yang sama. 

Rabu, 05 Maret 2014

CEO PowerLunch - BAHAYA ‘LATEN’ YANG MENGHANCURKAN BISNIS


Berbicara tentang kesehatan bisnis, ternyata sama dengan kesehatan fisik kita. Ada beberapa fase atau tahapan dimana satu ‘penyakit’ tidak terdeteksi, dan jika dibiarkan akan sulit disembuhkan, bahkan bisa membawa pada kondisi mematikan. Begitupun dengan bisnis. Ada indikasi tak terlihat, yang lama-kelamaan bisa menghancurkan usaha.
Hal inilah yang dipaparkan dalam Forum CEO PowerLunch bertema “How the Mighty Falls”, Rabu (19/02) lalu. Acara rutin yang diadakan oleh BARACoaching (ActionCOACH East Java-Bali) ini merupakan ajang para CEO untuk bersilaturahmi dan berdiskusi terkait masalah bisnis terkini. Humphrey Rusli, selaku COO (Chief Operating Officer) BARACoaching sekaligus pembicara utama menjelaskan tentang 5 stadium beserta gejala yang perlu diwaspadai, karena bisa menghancurkan bisnis.
“Diantara tahapan penyakit, maka stadium awal tentunya mudah disembuhkan, namun lebih sulit dideteksi. Sebaliknya bila seseorang sudah masuk dalam stadium empat, maka sakitnya akan mudah dideteksi, tapi sudah sulit disembuhkan. Sama juga dengan yang terjadi pada bisnis. Ada beberapa gejala perlu diwaspadai, karena bila dibiarkan akan membawa dampak fatal, bahkan membuat perusahaan jatuh,” tutur coach Humphrey di acara yang berlangsung di hotel Shangrila Surabaya ini.
Lebih jauh, coach Humphrey menyebut 5 fase yang bisa menjatuhkan perusahaan besar. Stadium satu yaitu bangga dengan kesuksesan dan merasa sukses adalah kewajaran.
“Pada fase ini, pemimpin bisnis punya pandangan bahwa sukses yang diraih sebelumnya, bisa otomatis diulang dengan mudah. Dia melupakan konteks sukses yang diraihnya. Jadi tidak lagi fokus dengan pemikiran atau strategi bagaimana untuk meraih puncak bisnis, yang diingat hanya suksesnya semata. Diantara beberapa tanda, biasanya yang paling terlihat yaitu tidak pernah melakukan evaluasi kerja, tidak melakukan update karena berkiblat ke cara yang lama dan menganggap cukup banyak tahu, serta jumlah konsumen yang tidak bertambah, karena hanya memaintain konsumen lama,” papar pria kelahiran Surabaya ini panjang lebar.
Fase selanjutnya adalah mengembangkan usaha atau ekspansi, dengan asumsi strategi yang sama bisa dijalankan untuk bidang usaha lain. Pertumbuhan bisnis menjadi cepat tanpa tahu konteks. Biasanya pemimpin bisnis akan mempertaruhkan segalanya untuk satu produk. Dan pada saat mengalami masalah, maka dia akan menyalahkan faktor luar, daripada melakukan introspeksi diri.
Stadium ketiga ditandai dengan sikap menyangkal atau menutup dari kesalahan diri sendiri (self denial). Di fase ini, pemimpin bisnis tidak mau introspeksi diri dan cenderung menyalahkan faktor luar untuk menutupi realita buruk pada bisnisnya.
“Selain menutup diri terhadap kritik dan realita buruk, pemimpin bisnis di stadium tiga juga semakin sedikit membuka kesempatan timnya berdebat. Jadi sifatnya one way instruction. Timnya juga begitu, menyetujui di depan, tapi di belakang tidak sepakat dan tidak menjalankan apa yang sudah disepakati dengan pemimpin,” jelas coach Humphrey.
Pada stadium berikutnya, dengan keadaan financial yang sudah memburuk, pemimpin bisnis biasanya mengandalkan akuisisi atau gebrakan marketing yang bisa menyelamatkan bisnisnya.
“Disini pemimpin perusahaan mulai dilematis, melakukan perubahan yang radikal atau minta bantuan pihak luar untuk menyelamatkan usahanya. Jika harus merekrut pemimpin lagi, maka calon leader baru cenderung mengabaikan culture perusahaan, karena hanya fokus untuk menyembuhkan bisnisnya.”
Jika stadium ini tidak bisa diperbaiki, maka tahap berikutnya semua sumber dan harapan akan ‘mati’.
All resources are depleted, all hopes are gone. No more cash. Yang ada selanjutnya, pemimpin akan menjual semua aset perusahaan atau membiarkannya mati sendiri,” kata coach Humphrey.
Di akhir acara, coach Humphrey menambahkan, dia berharap dengan mengikuti acara ini, peserta yang hadir (para CEO) sadar akan bahaya laten, bahkan yang sudah ada atau mulai dirasakan di perusahaan mereka, agar tidak sampai dibiarkan dan membawa kehancuran bisnis.

Pendapat para CEO :
1.       Jeffry Jono Sugiharto – CV. Talenta Indah Cemerlang
Banyak manfaat yang saya dapatkan dengan mengikuti forum ini. Selain bisa networking dengan sesama pemilik bisnis,  saya juga belajar bagaimana memanage bisnis lebih baik dan bisa grow. Saya seperti diingatkan, bahwa ada fase-fase yang kelihatannya sepele, tidak kita sadari, dan bahkan cenderung kita abaikan, ternyata jika dibiarkan akan fatal dan menjadikan bisnis kita ‘kronis’.
2.       Sam Sebastian – House of David
Buat saya, perlu untuk mengetahui tanda-tanda yang bisa membuat perusahaan jatuh, agar bisa mengantisipasi dan melakukan perbaikan.
Pada forum ini diberikan beberapa contoh, bagaimana perusahaan-perusahaan yang sudah begitu besar akhirnya jatuh. Namun ada juga yang sudah memburuk, kemudian berhasil fight dan mengulang kesuksesannya. Hal ini begitu inspiratif dan bermanfaat buat saya.


BAGI ANDA (PEMIMPIN ATAU PEMILIK BISNIS) YANG BELUM SEMPAT MENGIKUTI FORUM DI ATAS, SILAHKAN KIRIM ALAMAT EMAIL & NO. HP PADA COMMENT BOX, UNTUK MENDAPATKAN PENJELASAN RINGKAS MATERI “HOW THE MIGHTY FALLS” DARI BUSINESS COACH KAMI.
FREE OF CHARGE !

Kamis, 06 Februari 2014

CEO PowerLunch - MITOS-MITOS KELIRU YANG BISA MEMBUNUH BISNIS BESAR

Menjalankan roda perusahaan besar memang tidaklah mudah. Apalagi di era hyper competition dewasa ini. Pemimpin visioner dan produk yang berkualitas, bukanlah jaminan utama untuk menjadi perusahaan raksasa. Lalu apa saja yang harus diperhatikan agar perusahaan besar bisa terus tumbuh dan berkembang, bukan malah kembali ke posisi awal?
BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengupas hal tersebut dalam acara CEO PowerLunch bertajuk “How the Big Stay Big”, Rabu (15/01) kemarin. Forum bulanan yang diadakan di Kalimantan Room, Shangrilla Hotel Surabaya ini dihadiri oleh para CEO dari wilayah Surabaya dan sekitarnya.
”Jim Collins dalam risetnya berkata, bahwa perusahaan besar yang tumbuh menjadi raksasa bukan disebabkan karena adanya pemimpin visioner yang hanya fokus pada profit saja. Lebih jauh, dia harus punya idealisme atau prinsip kuat, dan itu bukan profit. Profit hanya menjadi salah satu sasaran antara, bukan yang utama,” jelas Humphrey Rusli selaku Chief Operating Officer (COO) BARACoaching Surabaya sekaligus pembicara dalam acara ini.
Coach Humphrey menyebutkan, ada 11 mitos yang harus dihindari karena dapat membunuh pertumbuhan bisnis. Beberapa diantaranya adanya pendapat bahwa untuk menjadi perusahaan besar, harus punya pemimpin yang karismatik dan visioner. Padahal, faktanya pemimpin-pemimpin besar justru bekerja di balik layar dan fokus pada pembentukan rencana jangka panjang juga mengembangkan tim untuk menjalankannya.
Mitos selanjutnya hanya fokus ke profit. Fakta berbicara, perusahaan akan tumbuh jika pemimpin tidak hanya memikirkan profit, tapi dia juga punya pandangan (prinsip) hidup yang kuat. Profit hanya menjadi salah satu sasaran antara, bukan yang utama.
“Selain itu ada juga pendapat atau mitos yang menyebutkan, diperlukan planning yang rumit dan canggih untuk mencapai puncak bisnis. Pada kenyataannya, untuk menjadi besar diperlukan eksperimen, trial and error, dan terkadang keberanian untuk berbuat salah. Karena tanpa itu semua tidak akan ada yang namanya belajar dan berkembang,” tegas international business coach kelahiran Surabaya ini.
 Kesalahan lain yang sering dilakukan oleh para pemilik bisnis adalah merekruit orang-orang siap pakai (berpengalaman), agar perusahaanya menjadi besar. Pendapat itu pun sebuah mitos, karena lebih baik menerima orang yang tidak seberapa berpengalaman, untuk dididik menjadi lebih baik dari bawah (home grown) dengan lingkungan yang kondusif.
“Sebenarnya inti dari forum How the Big Stay Big adalah mengingatkan esensi dari perusahaan yang bisa berkembang menjadi raksasa, untuk kemudian belajar menerapkan esensi itu. Selain itu mengeliminasi cara pandang yang salah dan tidak mensupport tujuan perusahaan jangka panjang.”
 Meski begitu, tambah coach Humphrey, tidak mudah untuk menjalankannya. Diperlukan tenaga, waktu, dan effort yang besar. Sebagian besar pebisnis pun masih beranggapan, kualitas superior sebuah produk adalah yang utama, tanpa sadar hal paling penting adalah konsistensi kualitas dan disiplin mendeliver janji, untuk kontinuitas cashflow.
 “CEO diidentikkan sebagai sosok yang sangat sibuk dan tidak punya waktu, sehingga seringkali lupa untuk membuka wawasan dan networking dengan pebisnis lain. Acara CEO PowerLunch ini didesain untuk itu semua. Karena di sini mereka bisa mendapatkan network berkualitas dengan lingkungan belajar yang kondusif,” tutup coach Humphrey di akhir acara.

Pendapat para CEO :
1.       Nirwan Sumargo – GBT Laras Imbang
Sebagai dokter, buat saya tetap penting mengikuti forum bisnis seperti CEO PowerLunch. Banyak hal yang bisa diambil di sini. Saya banyak mendapatkan ilmu bisnis yang belum pernah saya peroleh secara akademik. Lebih jauh juga membuka wawasan saya, terutama dari segi peningkatan pelayanan kualitas kesehatan, sehingga tahu kepuasan konsumen (pasien).
Bagi saya, agar tetap bertahan, pelaku bisnis harus punya visi yang jelas, karena dengan bekal itulah dia akan menjalankan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai goal yang ingin dicapai. Kedua, harus punya empati, baik terhadap tim, orang lain, maupun dengan sesama pebisnis untuk maju bersama.
Terakhir, harus punya kemampuan untuk mengevaluasi. Misal, dalam keseharian saya menjalankan praktek, saya terbiasa menanyakan kepada pasien, seperti mengapa mereka memakai jasa saya? Apa pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan keinginan mereka?
Itu semua membantu saya untuk mengevaluasi dan menempatkan diri, serta menilai sampai sejauh manakah saya.

2.       Daniel P. Tengker – House of David
Menurut pendapat saya, untuk tetap menjadi besar, maka seorang pelaku bisnis harus punya impian yang besar juga. Contohnya, Akio Morita, pendiri perusahaan raksasa Sony, yang mengwali bisnisnya dengan membuat barang-barang elektronik yang mudah rusak. Waktu itu, dia hanya punya impian besar untuk membuat nama Jepang harum di mata dunia.
Selanjutnya jangan hanya mengejar profit. Kita harus punya satu arahan yang akhirnya bisa memotivasi dan menjadi jiwa untuk perusahaan. Kalau kita hanya fokus pada profit, bisa terkalahkan oleh mereka yang punya impian besar.
CEO PowerLunch “How the Big Stay Big” memberikan pemahaman pada saya, bahwa ada banyak hal atau titik yang mesti dipelajari dan dibenahi, karena perusahaan besar atau raksasa juga bisa jatuh.
Selain itu, lebih membuka pemikiran kita tentang apa yang bisa membuat tetap fun untuk terus bekerja (berbisnis), yang itu bukan melulu karena uang. Secara networking, juga banyak memberikan inside, karena bisa bertemu dengan sesama owner bisnis, tahu cara atau pola pikir mereka, dan yang lebih penting bisa sharing dengan mereka.


BAGI ANDA (PEMIMPIN ATAU PEMILIK BISNIS) YANG BELUM SEMPAT MENGIKUTI FORUM DI ATAS, SILAHKAN KIRIM ALAMAT EMAIL & NO. HP PADA COMMENT BOX, UNTUK MENDAPATKAN PENJELASAN RINGKAS MATERI “HOW THE BIG STAY BIG” DARI BUSINESS COACH KAMI.
FREE OF CHARGE !

Jumat, 10 Januari 2014

CEO PowerLunch - KOMBINASI CEO DAN COACH HASILKAN BISNIS ‘SEGAR’


Rabu (18/12/13), SEA Corp. (ActionCOACH East Java & Bali) kembali mengadakan forum ‘CEO PowerLunch’ di Hotel Sheraton Surabaya. Acara yang bertajuk “CEO as A Great Coach” ini menghadirkan Humphrey Rusli, selaku pembicara sekaligus Chief Operating Officer (COO) SEA Corp.
Dalam forum yang dihadiri oleh para CEO dan owner bisnis ini, coach Humphrey bertutur bahwa tema CEO as A Great Coach didesain karena banyak CEO yang masih mengerjakan tugas-tugas harian (bersifat taktik dan praktikal). Dia belum sadar, bahwa tugas CEO bukan pelaksana, melainkan sebagai kapten untuk mencapai target jangka panjang.
“Lalu mengapa coaching? Karena pada prakteknya coaching bukan memerintah, namun lebih bersifat memberdayakan anak buah, sehingga mereka bisa mengoptimalkan kemampuannya. Seorang CEO yang baik akan membantu mengeluarkan belief bahwa anak buahnya punya kemampuan, sehingga mereka akan termotivasi dan melakukan yang terbaik,” papar coach Humphrey
Selanjutnya international business coach ini menyebut, survey membuktikan bahwa efektivitas kerja mengalami kenaikan sebesar 22% setelah dilakukan training karyawan pada beberapa perusahaan. Namun, efektivitasnya akan naik sebesar 88%, jika dicombine dengan coaching. Sayangnya, selama ini sebagian besar CEO mengalami kesulitan untuk menjadi seorang ‘coach’ yang hebat. Selain tidak memiliki kesamaan visi dengan tim, kendala tersebut berasal dari kebiasaan CEO yang suka memerintah, bukan memberi pertanyaan dan memotivasi anak buahnya.
“Sering CEO merasa lebih tahu dan senior dari timnya, sehingga yang ada budaya memakai parameter ‘saya’, bukan parameter dari anak buah. Para CEO terbiasa untuk lebih mendengar pendapat diri sendiri,” tambah coach Humphrey.
Dalam kesehariannya, top #1 International Business Coach Juli 2013 ini telah melatih dan menjadi pendamping ratusan owner bisnis untuk mencapai sukses. Jadi materi yang diberikan juga bukan hanya teori semata, namun lebih pada pengalaman dan praktek yang dihadapi di lapangan. Beberapa hal yang didiskusikan dalam forum ini, mulai dari teknik mencoaching, seni bertanya, memotivasi tanpa memerintah, proses mengoptimalkan SDM, sampai bagaimana mempersiapkan CEO ke level berikutnya untuk menjadi better CEO.
“Intinya, hal yang yang menjadikan anda sukses menjadi CEO sekaligus coach adalah bukan pada apa yang anda tahu, tapi apa yang anda lakukan dengan apa yang anda tahu,” tegas coach Humphrey di akhir acara.

Pendapat para CEO :
1.       Hermanto – CENTRAL TECHNIC
Materi yang diberikan cukup bermanfaat. Saya sependapat dengan coach Humphrey bahwa konsep coaching dalam satu perusahaan itu tidak harus dengan memberi perintah, namun lebih pada memancing anak buah kita untuk termotivasi mencoba sendiri dan mengoptimalkan kemampuan mereka.
Sejauh ini saya sudah menerapkannya, meskipun terbentur pada beberapa kendala, seperti budaya yang belum terbentuk dan ketidaksiapan anak buah. Sehingga kadang saya juga masih harus mengerjakan hal-hal yang bersifat operasional.

1.       Kris Dwiantoro – PT. NISRINA INDONESIA
     Menurut saya, perusahaan bisa menerapkan budaya coaching, apabila timnya sudah mahir, baik dalam skill maupun knowledge. Kalau belum, maka harus melalui proses training terlebih dahulu. Kebetulan, di perusahaan saya ada semacam training centre untuk para kader baru. Hal ini agar mereka paham bagaimana bermain dalam bisnis yang kita jalankan, sekaligus memaksimalkan kekuatan mereka.
Inti dari CEO as a great coach adalah bagaimana kita sebagai pemimpin sekaligus menjadi pelatih, dimana yang bermain dalam bisnis adalah tim. CEO bertindak sebagai pengendali, meluruskan tim ketika ‘jalan’nya mulai kurang terarah.



Kamis, 12 Desember 2013

CEO PowerLunch - KUPAS STRATEGI JITU ‘BERTARUNG’ MELAWAN RAKSASA

Dalam dunia bisnis, seorang owner dituntut untuk terus belajar dan menemukan strategi agar bisa eksis dan memenangkan persaingan bisnis. Salah satu lawan bisnis yang sulit ditaklukkan adalah perusahaan-perusahaan raksasa yang sudah kuat posisinya dalam dunia bisnis. Meskipun begitu, mereka masih punya kekurangan, dan bukan mustahil, kita bisa masuk melewati ‘celah’ yang lemah itu lalu muncul sebagai pemenang.
Itulah inti dari acara CEO Power Lunch yang diadakan oleh SEA Corp. (ActionCOACH East Java&Bali) di Kahuripan Room, hotel Sheraton Surabaya (20/11/13). Dalam acara yang diikuti oleh para owner bisnis ini, Humphrey Rusli (COO SEA Corp.), selaku pembicara memberikan edukasi bisnis bertema “Killing the Giant”. Hal-hal apa saja yang menjadi kelemahan perusahaan besar (giant) dan bagaimana strategi yang bisa diambil agar bisa sejajar, bahkan memenangkan persaingan dalam menarik arus pasar.
“Dibanding dengan perusahaan yang lebih kecil, perusahaan raksasa atau giant terlalu bersifat birokrasi, sehingga prosedurnya lebih lambat, karena mereka punya step-step yang baku. Selain itu kelemahan mereka adalah pada informasi market. Bila perusahaan kecil tahu kein ginan pasar melalui suara konsumen secara langsung, maka untuk si giant yang skala marketnya luas, mereka tidak mungkin lagi mendengarkan satu persatu keinginan konsumennya. Yang mereka dengar adalah informasi berdasar opini atau asumsi, yang dibentuk dengan melihat hasil polling atau survey market,” papar Humphrey terkait beberapa kelemahan yang dimiliki perusahaan raksasa.
Lebih lanjut, business coach yang akrab disapa coach Humphrey ini menyampaikan beberapa strategi yang dilakukan agar kita bisa memenangkan persaingan dengan mereka. Yang pertama, mempunyai keunikan yang kuat pada produk dan jasa yang kita hasilkan (creating strong niche). Poin ini memang sulit, mengingat kita harus tahu apa yang membuat konsumen tertarik untuk datang dan memakai produk kita.
“Saat ini sangat sulit menemukan niche, karena kebanyakan para owner hanya fokus pada pendapatan atau uang semata. Jadi, ketika bisnis ramai, mereka sudah tidak terlalu memusingkan keunikan apa yang menjadi daya tarik bisnis mereka,” tutur coach Humphrey.
Strategi selanjutnya, yaitu be the expert. Ada beberapa media yang bisa digunakan, untuk menunjukkan seberapa professional anda. Selain media online dan offline, event semacam pameran dan seminar, juga bisa menjadi ajang menunjukkan seberapa jauh kompetensi bisnis anda.
Selain itu ada juga poin winning on speed, seek and destroy, last minute winning, polarize (on purpose), seize the microphone, dan strategi being ugly-beautifully.
“Yang dimaksud dengan being ugly-beautifully disini memiliki kemampuan untuk berseberangan dengan mainstream. Make it irrelevant for the giant to fight you. Tapi dari buruk atau berseberangan inilah, justru yang menjadi kekuatan kita untuk menjadi beda dan nomor satu. Ada poin penting yang harus diingat bila anda menjalankan strategi ini. Pertama, perusahaan anda harus di posisi atau level yang kuat juga untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang terjadi, seperti ketika konsumen tidak ada yang tertarik dengan produk anda. Kedua, anda dituntut untuk terus mencoba dan mencari peluang yang bisa mendaya ungkitkan produk anda menjadi sesuatu yang beda,” tegas pria friendly ini.
Di sesi terakhir, coach Humphrey berharap, para owner bisnis yang mengikuti acara ini bukan sekedar bisa menyerap pembelajaran yang diberikan untuk kemajuan bisnis mereka. Namun ke depan, bisa mensharingkan apa yang mereka dapat kepada tim bisnis, dan orang-orang di sekitar mereka.

Pendapat para CEO :
1. Feny Liana – ATHALIA
Selain gaya penyampaian yang mudah diterima, forum ini hidup karena pesertanya juga aktif bertanya. Sehingga komunikasi lebih pada dua arah.
Menurut saya, tidak perlu menjadi giant untuk mencapai kesuksesan bisnis. Karena perusahaan raksasa juga punya celah dan kelemahan dalam bisnisnya. Poin pentingnya adalah bagaimana kita menciptakan sesuatu yang unik, sehingga bisa terlihat berbeda dan merebut keinginan pasar.

2. Roy Adiputra - CV. Daya Prima Sinergi
Menjadi giant belum tentu dia expert di segala hal. Seperti ungkapan ‘kecil-kecil cabe rawit’, pada kenyataannya perusahaan kecil pun bisa mengalahkan perusahaan raksasa, asal tahu strateginya, berpikir, dan terus mencoba hal baru dan berbeda yang menjadi nilai tambah.
Selain penjelasannya yang mudah dimengerti, forum CEO PowerLunch juga memberi banyak manfaat dan pengetahuan buat saya.

Sabtu, 09 November 2013

CEO PowerLunch - WILLINGNESS TO HAPPINESS

Para CEO tampak serius mengikuti edukasi bisnis dengan tema "Happiness and Productivity at Work".

Dalam proses bisnisnya, seorang leader ternyata perlu unsur happiness, yang nantinya berujung pada hasil produktivitas yang tinggi.
Hal itu yang didiskusikan dalam Forum CEO PowerLunch, Rabu (23/10) kemarin. Forum berjudul “Happiness and Productivity at Work” ini diadakan oleh PT. Surabaya Excellence Action (ActionCOACH East Java-Bali) di Pelangi Room, Hotel Shangrila Surabaya.
Suwito Sumargo, selaku pembicara dalam acara ini menegaskan, bahwa happiness lebih menunjuk pada prosesnya, dan tidak tergantung dengan apa yang akan diperoleh.
“Sebenarnya happiness ini sudah ada dalam setiap diri kita, tinggal bagaimana cara kita mengeluarkannya. Inti happiness tergantung pada tindakan atau action kita, dimana hal itu akan lebih terasa jika kita punya ambisi lebih,”  tutur pria yang biasa dipanggil coach Suwito ini terkait prinsip happiness.
“Ada perbedaan antara personal ambition dan great ambition. Ambisi yang besar berhubungan dengan personal lain, bukan hanya pribadi saja. Misalnya, kita punya ambisi pribadi ingin menjadi seorang CEO. I want to be CEO. Maka jika diterjemahkan dalam sebuah great ambition menjadi, saya ingin menjadi CEO sehingga orang-orang bisa bekerja dan saya bisa mengurangi pengangguran. Dalam menjalankan kepemimpinannya pun dia akan lebih memperhatikan kepentingan orang banyak, sehingga lebih dihargai dan dipercaya karyawannya,” papar coach Suwito lagi.
Lebih lanjut, coach Suwito menjelaskan, setidaknya ada 6 poin yang bisa dilihat dari seorang trustworthy leader. Pertama adalah komunikasi yang transparan, jujur, dan terbuka terhadap bawahannya. Proses menciptakan komunikasi transparan ini memang panjang, karena terkait dengan gaya komunikasi dari setiap orang yang berbeda, dan bagaimana komitmen mereka untuk menjadikannya sebuah budaya.
Kedua, leader yang menghargai feedback dari para karyawannya. Di sini, leader akan menerima saran, pendapat, sampai kritik apapun dari mereka, tanpa ada judgement.
Selanjutnya, pemimpin yang mencerminkan pribadi empowers people. Dalam artian, bisa membuat orang lain maju,yang notabene bukan hanya untuk kepentingan perusahaan saja. Keempat, fokus pada penciptaan leader yang baru. Jadi bagaimana seorang leader menciptakan leader lain yang lebih baik (leader create leader).
Poin berikutnya, U+ME=US, yang artinya membaur atau akrab dengan para staff atau karyawan. Terakhir, consistent behaviour. Konsisten terhadap visi yang dia perjuangkan. Karena visi ini merupakan pengejawantahan dari ambisi yang lebih besar (greater ambition).
“Seperti apa yang Dalai Lama bilang, happiness is not something ready made. It comes from your own actions. Kebahagiaan menjadi seorang CEO bukan dilihat pada hasil gemilang, tapi lebih penting bagaimana dalam actionnya, dia menjadi seorang pemimpin yang bisa dihargai, dipercaya, dan dengan penuh kesadaran membuat orang lain lebih baik. Prinsipnya willingness to happiness,” ungkap coach Suwito.

Being Greater Productivity
Jika happiness lebih mengarah pada proses, maka pada teknikalnya ada beberapa aspek yang diperlukan untuk mencapai produktivitas yang maksimal. Beberapa diantaranya seperti personalize agenda, delineate and group task, dan monitor agenda.
“Pada monitor agenda, lebih pada orang yang process oriented. Jadi selalu melihat prosesnya, bukan hasilnya,” kata pria yang sudah 30 tahun lebih berkecimpung di dunia bisnis ini.
Selain itu ada aspek hand over assignments, email and social media trap, clean desk, juga limited meeting dan discipline in giving out helps, baik pekerjaan yang bersifat teknikal, maupun bersifat pemikiran.
“Riset membuktikan bahwa meeting yang dilakukan lebih dari 2 jam, ujungnya akan tidak efektif dan menjadi tidak fokus pada topik meeting. Karena itu usahakan tetap fokus pada topik meeting dan hindari terlalu banyak melakukan meeting, apalagi sampai 2 jam ke atas.”
Di akhir acara, Coach Suwito berharap, dengan mengikuti forum ini, para peserta bisa menjadi true leader, yang bisa menjalankan bisnis dengan hati, dan bisa mengkolaburasikan antara mindshare dan heartshare (hati nurani).

Pendapat Para CEO :
1.       Achmad Suratin Kurniawan (Nafisa Production)
Selain penjelasan yang bersifat komunikatif, tema yang diberikan dalam forum CEO PowerLunch kali ini sangat inspiratif.
Selama ini, untuk menjadi pemimpin yang trustworthy, kami selalu berusaha konsisten dengan apa yang kami sampaikan kepada para karyawan. Mulai dari hal kebijakan, sampai konsisten dalam menjalankan visi dan apa yang menjadi tujuan kami ke depan.
Kami juga sering melakukan pendekatan secara personal kepada mereka. Di samping membuat suasana kerja jadi lebih nyaman, diharapkan bisa terjalin semacam ikatan batin atau ‘chemistry’ antara mereka dan perusahaan, sehingga produktivitas kerja pun bisa meningkat.
2.       Widarta Chandra (Sarana Sukses)
Menurut saya, dibutuhkan wise yang begitu besar untuk menjadi pemimpin yang trustworthy. Selain kemauan menjadi great leader, butuh waktu dan banyak pengalaman, untuk menempa diri jadi bijaksana.
Forum ini bermanfaat buat saya, karena Coach Suwito selaku pembicara sudah lama terjun di dunia bisnis, sehingga materi yang disampaikan juga lebih bersifat praktis dan teknis.