business-forum

coaches

Senin, 19 Februari 2018

BAHASA REKRUTMEN - By: Coach Suwito Sumargo*

“Dalam 9 bulan terakhir, sudah 5 gelombang proses rekrutmen, sudah ratusan surat lamaran yang masuk, sudah puluhan orang yang diwawancarai dan diberi kesempatan masa percobaan, tapi tidak ada satupun yang betul-betul memenuhi harapan manajemen”. Demikian keluhan seorang pengusaha.
Apa yang terjadi? Rasanya nggak masuk akal, begitu sulitnyakah untuk mendapatkan karyawan jempolan? Apalagi ini hanya untuk posisi admin, yang peminatnya berlimpah.
Selidik punya selidik, ternyata kriteria atau persyaratan yang diminta adalah sebagai berikut:
* Wanita, usia 18-25, single
* Cermat, cepat tanggap, konsisten dan sanggup bekerja di bawah tekanan 
Wanita, usia 18-25 dan single...ini pasti mudah terpenuhi. Apalagi tidak ada syarat pendidikan minimal atau keahlian tertentu.
Persyaratan cepat tanggap, sebetulnya tidak terlalu sulit dipenuhi. Atau minimal proses seleksinya cukup gampang, karena mudah dikenali.
Ternyata kesulitannya di persyaratan berikutnya: cermat, konsisten. Tidak mudah menemukan orang muda yang mau (dan mampu) bekerja dengan kecermatan tinggi. Apalagi dengan konsisten. Belum lagi persyaratan: sanggup bekerja di bawah tekanan. Kombinasi cermat, konsisten dan sanggup bekerja dibawah tekanan, merupakan persyaratan tersulit.
Dalam rekrutmen, apakah pernah terpikir, kesulitan yang kita hadapi, bukan hanya karena SDM yang susah dicari, tapi juga karena ‘kesalahan’ yang kita lakukan. Salah satu contoh yang sering tidak disadari adalah penggunaan bahasa dalam memasang lowongan kerja.
Sebagian besar perusahaan mungkin banyak memakai kata-kata yang sedikit ilmiah untuk menarik perhatian si pelamar. Selain terkesan ‘keren’, juga bisa menunjukkan kualitas perusahaan. Hal ini tidak salah. Untuk beberapa kasus, penggunaan bahasa ilmiah memang diperlukan. Misal ketika kita akan merekrut atau me’nyasar’ orang-orang di level manajerial atau mereka yang berstrata pendidikan tinggi.
Tapi pada kasus seperti pengusaha di atas, yang tidak ada syarat pendidikan minimal, coba kalimat cermat dan konsisten diganti menjadi: teliti, tekun, dan tidak mudah bosan. Saya yakin kalimat yang lebih sederhana itu lebih mengena dan mudah dimengerti oleh si pelamar. Dengan begitu, mereka juga dengan mudah punya gambaran, apakah pekerjaan yang akan dilamar, sesuai atau tidak dengan karakter mereka. Semoga bermanfaat!
Salam The NEXT Level!



* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 05 Februari 2018

KEPO AH… - By: Coach Suwito Sumargo*

“Masukkan 2 ekor ayam dewasa, ke dalam sepanci besar air bersih. Panaskan panci itu dengan api kecil selama 4 jam. Lalu dinginkan.”
Ini adalah resep andalan nenek, saat membantu kakek berjualan. Konon, kuah buatan nenek sangat terasa kaldunya. Angka-angka dan urutan di atas hanya karangan saya. Karena yang sebenarnya jauh lebih rumit.
Pokok permasalahannya adalah si Kakek (dan juga anaknya) hanya bisa berjualan mulai siang sampai sore. Menjelang magrib, kuah sudah habis. Lalu, bagaimana caranya menambah omzet (dan laba tentunya)?
Cucu tertua, enggan melanjutkan usaha si Kakek. Penghasilannya tidak sepadan dengan kerjanya. “Nggak worth it”.
Cucu kedua, mau melanjutkan dengan syarat: diperbolehkan melakukan perubahan. Setelah mendapat ijin, si cucu melakukan serangkaian eksperimen.
Pertama, bagaimana memperbanyak jumlah kaldu? Gampang, kerja paralel 5 resep sekaligus. 10 ayam, 5 panci dan 5 kompor. Semua dibuat sama persis dengan takaran asli si nenek. Hasilnya diuji. Ternyata hasilnya sama baiknya dengan buatan si nenek.
Kedua, bagaimana kalau ayamnya diganti dengan ayam horn (bukan ayam kampung)? Atau, bagaimana kalau seharian kita terus berproduksi dan kaldunya disimpan dalam freezer? Si cucu terus bereksperimen.
Dalam bisnis, melakukan ekperimen (penelitian dan percobaan) penting dilakukan. Sebagian besar pebisnis sukses, memulai usaha kecilnya dengan terus bereksperimen, terus mencoba dan mencoba lagi (trial and error). Dari situ, mereka bisa menyesuaikan kondisi bisnis dengan perkembangan jaman, apa yang dibutuhkan konsumen saat itu, selalu berinovasi dan bahkan tidak jarang menemukan gagasan kreatif yang membuat produknya lebih ‘dilirik’ konsumen daripada kompetitor.
Kita sebagai pebisnis pun juga bisa melakukan pengembangan seperti itu. Kunci utamanya ada dalam benak dan hati kita. Curiosity atau rasa ingin tahu. Bahasa kerennya: KEPO. Ya, mulai sekarang ubah mindset dan tumbuhkan rasa ingin tahu yang kuat, gigih, pantang menyerah dan selalu mencoba hal baru.
Kenapa sih mesti begitu? Memangnya apa yang akan terjadi, jika hanya mengikuti alur bisnis yang ada, tanpa perlu repot ‘ngepoin’ banyak hal? Yang pasti, Anda akan menjadi pribadi monoton tanpa semangat bertumbuh. Bayangkan, jika kompetitor akhirnya berhasil mengalahkan Anda, tapi Anda hanya diam dan tidak tertantang mengejarnya. Mau menjadi pebisnis seperti itu?
So, mulai sekarang perbaiki diri, selalu ingin tahu, terus mencoba, dan jawab tantangan bisnis Anda!  
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.