business-forum

coaches

Senin, 09 Juli 2018

INDIKATOR KEUANGAN - By: Coach Suwito Sumargo*


“Seingat saya, menjelang libur Lebaran setahun lalu, saya lihat rekening tabungan masih tersisa puluhan juta”. Kemudian dia melanjutkan lagi: “Tapi sekarang sisa uang di tabungan kok menyusut?”
Ini adalah penggalan cerita teman saya, seorang pengusaha percetakan. Menurut dia, 3 tahun terakhir ini sisa uang di tabungan (saat jelang libur Lebaran), terus menerus menyusut. Kami berdua lalu berusaha melacaknya.
Yang pertama kami cek adalah berapa besar kisaran pengeluaran bulanan. Karena teman saya ini belum menerapkan pembukuan yang tertib dan rapi, maka pengecekan ini cukup sulit.
Kami juga memeriksa pendapatan bulanan, lalu menghitung laba bulanan. Kemudian nilai hutang dan piutang. Juga stok bahan tinta, kertas, dan lain-lain.
Setelah beberapa saat, akhirnya didapat gambaran tentang aliran keuangan, nilai kekayaan bersih dan beberapa temuan menarik lainnya.
Selain itu, kami mendapat data, pengeluaran biaya operasional cenderung meningkat dari tahun ke tahun, sementara rupiah laba bersih cenderung tetap. Juga ada temuan: umur piutang yang cenderung bertambah lama dan nilai piutang yang membesar. Pelanggan cenderung tetap dan pertambahan pelanggan baru sedikit sekali. 
Sambil menghela nafas, teman saya bertanya: “Mestinya saya melakukan ini setidaknya 3 atau 6 bulan sekali ya? Sekarang saya punya banyak indikator yang harus saya cek secara teratur.”
So, Pebisnis, bagaimana dengan Anda? Bagaimana cara Anda memeriksa indikator keuangan dalam bisnis?
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 28 Mei 2018

COMPLAIN - By: Coach Suwito Sumargo*


Saya sedang menunggu keberangkatan pesawat jam 7.35.
Saat itu, jam sudah menunjukkan jam 7.15 dan tidak ada tanda-tanda bahwa petugas akan mengumumkan boarding. Dua orang petugas yang berjaga disitu tetap bercanda dengan santai.
Saya pun maklum, dan berkata dalam hati: “Pasti terlambat lagi, seperti biasanya.”
Saya memang tidak terkejut karena penerbangan ini hampir selalu terlambat. Tapi satu dua penumpang tampak bergegas dan bertanya ke petugas di counter. Petugas pun menjawab: “Ditunggu saja. Sebentar lagi dipanggil.”
Saat menyampaikan kalimat itu, wajahnya biasa saja. Tidak ada kesan ramah atau penyesalan.
Keesokan harinya, saya duduk menunggu keberangkatan travel/ shuttle langganan saya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 19.20. Biasanya petugas sudah mengumumkan agar penumpang bersiap-siap menuju kendaraan dengan nomor polisi tertentu.
Saya pun menanyakan: “Terlambat ya, Mbak?”
Si mbak kaget dan baru sadar bahwa dia terlambat mengumumkan. Wajahnya tegang dan setelah mengumumkan dia mendekati saya: terima kasih sudah diingatkan. Sebuah kesan yang berbeda dengan cerita pertama tadi, bukan?
Anda pernah mengalami hal serupa? Bagaimana sikap karyawan kita saat menghadapi complain? Atau bagaimana seharusnya sikap mereka?
Pelanggan itu butuh perhatian, lho. Dan jangan lupa, pelanggan juga mengamati tingkah laku karyawan kita. Bagaimana rasanya kalau sebagai konsumen atau pelanggan, Anda dicuekin?
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 14 Mei 2018

CUSTOMER ABCD - By: Coach Suwito Sumargo*


Masih ingat customer ABCD (Asyiik - Biasa - Capek deh - Duri dalam daging)? 
Di sesi awal coaching, saya sering meminta client untuk mulai mengelompokkan customer-customer-nya dalam 4 kategori ABCD tadi.
Client pun mulai mengingat customer-customer-nya. Mereka mulai memasukkan nama-nama customer.
Setelah ada cukup banyak nama customer, saya meminta agar dicantumkan: nilai pembelian dalam setahun termasuk berapa profit yang dihasilkan, per customer.
Terakhir, saya minta para client untuk mencantumkan: berapa besar effort yang kita keluarkan bagi masing-masing customer itu.
Dan 'drama' pun mulai terjadi. Client langsung menyadari, bahwa effort yang diberikan ke customer 'C' dan 'D' lebih banyak ketimbang yang diberikan ke customer 'B'. Apalagi bila dibandingkan dengan effort yang dikeluarkan untuk customer 'A'.
Ternyata selama ini kita sudah salah kaprah. Bukankah seharusnya customer 'A' dan 'B' lebih berhak atas layanan yang lebih istimewa?
Tentu ada banyak alasan dari para client. Misalnya: customer 'C' dan 'D' nya masih mendominasi. Mereka merupakan mayoritas di daftar customer. Tak jarang, customer 'C' dan 'D' nya sebesar 70% dari total customer.
Dalam posisi ini, client merasa terjepit, bagai makan buah simalakama. Bila pendekatan dan layanan diubah, jangan-jangan mereka akan kabur meninggalkan kita. Ketakutan inilah yang menjadi musuh utama kita. Selama kita masih takut-takut, maka kita tidak bakal menemukan jalan keluar. Dan perusahaan kita tidak bakal membaik. Anda pasti tak mau seperti itu, bukan?
Mulailah lakukan perubahan. Langkah pertama: call your Coach to find solutions.
 Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 30 April 2018

MENTAL KARYAWAN - By: Coach Suwito Sumargo*


Sambil menunggu dipanggil boarding, saya pun duduk di dekat sebuah kedai.
Seorang ibu tampak kerepotan saat berusaha membawa masuk barang-barang bawaannya. Pelayan kedai hanya duduk diam memandang dari jarak sekitar 8 langkah di depan ibu tersebut. Dia tidak beranjak dari tempat duduknya.
Tak lama kemudian, seorang bapak masuk dan bertanya: “Dik, AC nya kok nggak dingin?”
Si Pelayan hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Melihat reaksi seperti itu, si penanya batal masuk dan pindah ke kedai sebelah.
Anda pernah mengalaminya? Atau bahkan, Anda punya pegawai seperti itu? Sayang sekali, bila kita masih mempertahankan pegawai bermental seperti itu.
Karena pasti berpengaruh pada pelanggan Anda. Bukan hanya banyak complaint yang datang, lebih jauh akan menurunkan omzet perusahaan. Pelanggan semakin berkurang karena tidak mau datang lagi. 
Lakukan tindakan segera. Seperti memindahkan pegawai seperti itu ke bagian yang tidak bertemu/ berhubungan langsung dengan konsumen. Atau jika tidak sanggup mengubah perilakunya, ambil tindakan tegas yang Anda anggap terbaik untuk perusahaan.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 16 April 2018

PREMIUM SERVICE, PERLUKAH? - By: Coach Suwito Sumargo*


Suatu hari seorang teman mengajak saya ke toko handphone. Dengan langkah pasti, dia menuju sebuah toko yang terletak di deretan dalam. Ini bagian yang jarang saya kunjungi.
Oops...ternyata toko yang dituju ramai sekali. Kami harus menunggu hampir 10 menit, sebelum seorang pramuniaga menghampiri. Dengan cekatan dia melayani teman saya itu.
Iseng-iseng saya nanya ke teman: “Ini toko langgananmu kah?”
“Iya. Saya selalu beli disini.”
“Kenapa?”
“Murah. Paling murah.”
“Oo...,” saya pun menganggukan kepala tanda paham. Positioning toko ini adalah menjadi yang termurah.
Mungkin ini sebabnya, toko ini tak perlu lokasi yang strategis, di deretan depan. Dan mungkin ini pula sebabnya kami harus rela menunggu.
Di toko ini, tak ada kursi untuk menunggu dengan nyaman. Tak ada minuman segelas pun yang disuguhkan. Etalase-nya jadul dan terlihat tidak terawat.
Toko ini tidak mengandalkan premium service. Tapi dia harus pintar menekan biaya, karena tak ada budget promosi.
Apakah bisnis Anda termasuk kategori seperti ini?
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 02 April 2018

MENJAGA ATAU MENGOBATI - By: Coach Suwito Sumargo*


Aduh...keluh seseorang sambil memegang pipi kanannya. Jelas dia sedang kesakitan. Dan saat diperiksa, memang giginya sedang bermasalah dan gusinya sudah meradang. 
Saya teringat dengan salah seorang pengusaha wanita yang hari itu hadir sebagai peserta seminar. Singkat cerita, Ibu ini akhirnya mendaftarkan diri untuk Business Evaluation. Ini sebuah sesi yang bertujuan mengenali kondisi perusahaan dan berusaha menemukan langkah-langkah terbaik atau paling masuk akal untuk pengembangan. 
Tapi, seringnya kita malah menemui bisnis yang masalahnya sudah sangat parah dan membutuhkan solusi mendesak. 
Mirip dengan kondisi seseorang yang datang ke dokter saat sakit dan terpaksa harus menelan pil pahit atau bahkan terpaksa diamputasi demi memperoleh kesembuhan. Maka untuk memperbaiki kondisi sebuah perusahaan yang sudah dalam keadaan sangat parah, kita terpaksa harus kehilangan asset, omzet, pelanggan, atau pangsa pasar, dan lain-lain. 
Mengapa kita tidak berusaha agar bisnis tetap sehat? Kenapa kita baru berpikir keras untuk ‘berobat’ saat bisnis sudah terseok-seok? Bukankah lebih mudah menjaga atau mempertahankan bisnis yang sedang sehat agar tetap sehat?
So, cek kesehatan bisnis Anda mulai sekarang, sebelum terlambat!
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 19 Maret 2018

MENGUKUR KOMPETENSI - By: Coach Suwito Sumargo*


Saya sering mengajarkan: upah itu setara dengan kompetensinya. Kesulitannya ialah bagaimana mengukur kompetensi seseorang. Kompetensi pasti sejalan dengan skill atau keterampilan. Mari kita pahami dulu, bagaimana mengukur keterampilan.
Seseorang diminta mengisi data customer ke sebuah form. Tentunya, ia menggunakan keyboard untuk mengetik. Ada rentetan pertanyaan yang harus diisi oleh customer. Misal ada 24 pertanyaan. Dalam waktu 1 jam, orang ini berhasil mengisikan data 20 orang customer.
Diantara 5 orang yang diminta mengisikan data, ada 2 orang yang bisa mengisikan lebih dari 20 customer dan ada 1 orang yang hanya mampu mengisikan data 12 customer. Orang yang mampu mengisikan data 12 customer terpaksa digugurkan, karena terlalu lamban. Sedangkan yang berhasil mengisikan lebih dari 20 data menerima ekstra bonus.
Itu adalah salah satu cara mengukur keterampilan. Bila seseorang menguasai banyak keterampilan dan ia secara konsisten senantiasa bisa memenuhi syarat mininal, maka orang ini saya anggap kompeten.
Kompetensi berkaitan dengan penguasaan beberapa keterampilan, yang selalu bisa didemonstrasikan secara terus menerus (konsisten). Kompetensi harus diberi nilai rupiah, sebagai penghargaan atas kontribusinya terhadap omzet dan (terutama) profit.
Salam The NEXT Level!


* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 05 Maret 2018

BISNIS ‘PANJANG UMUR’ - By: Coach Suwito Sumargo*


Apa saja yang dibutuhkan agar bisnis bisa berumur panjang? Itu pertanyaan saya di sebuah acara business gathering
Bisnis itu harus 'sehat'. Demikian jawaban seorang pria di depan saya. Dari wajahnya, terlihat beliau sudah senior, sudah banyak makan “asam garam”.
Yang dimaksud sehat itu seperti apa? Tanya saya lagi, sambil memberi kesempatan pada hadirin yang lain untuk menjawab.
“Sehat keuangannya”, sergah seorang ibu yang duduk di barisan tengah.
“Bisnisnya bertumbuh”, jawab yang lainnya.
“Selalu berpromosi”, kata anak muda yang duduk di belakang.
“Brand atau merk nya terkenal...”
“Pemiliknya karismatik”...”Karyawan nya bekerja dengan antusias”...dan banyak jawaban lainnya.
Saya pun lalu berusaha memberi kesempatan kepada masing-masing yang hadir, untuk menyampaikan argumen tentang bisnis yang sehat itu seperti apa.
Keuangan? Ya tentu saja keuangannya harus baik. Seperti apa? Misalnya, meski memiliki hutang, tapi perusahaan itu bisa memenuhi kewajiban (membayar) sesuai kesepakatan awal.
Ada lagi, yaitu selalu tersedia uang cash dalam jumlah yang cukup. Atau perusahaan itu tidak membiarkan uang kas mengendap dan tidak produktif. Dan ada banyak lagi argumen.
Bagi saya, sebuah perusahaan dibilang sehat bila selalu punya produk yang diminati konsumen. Dengan demikian, arus penjualan yang menghasilkan cash dan profit akan selalu terjaga. 
Bagaimana kita bisa selalu memiliki produk yang diminati konsumen? Ya kita harus melakukan riset dan pengembangan terus menerus. Cari tahu, apa yang diminati konsumen atau ciptakan tren kebutuhan konsumen.
Berikutnya, perusahaan harus bisa menjaga agar konsumennya selalu puas. Sebuah perusahaan yang mampu menjaga kepuasan konsumen, akan mudah meng-konversi konsumen (yang membeli untuk pertama kali) menjadi pelanggan (yang membeli untuk kedua, ketiga hingga kesekian kali).
Selalu menyediakan produk yang diminati dan memiliki pelanggan yang setia akan menjamin pasokan cash dan profit.
Inilah hal-hal yang harus dimiliki sebuah perusahaan yang sehat dan tentu saja berpeluang untuk berumur panjang.
Salam The NEXT Level!


* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 19 Februari 2018

BAHASA REKRUTMEN - By: Coach Suwito Sumargo*

“Dalam 9 bulan terakhir, sudah 5 gelombang proses rekrutmen, sudah ratusan surat lamaran yang masuk, sudah puluhan orang yang diwawancarai dan diberi kesempatan masa percobaan, tapi tidak ada satupun yang betul-betul memenuhi harapan manajemen”. Demikian keluhan seorang pengusaha.
Apa yang terjadi? Rasanya nggak masuk akal, begitu sulitnyakah untuk mendapatkan karyawan jempolan? Apalagi ini hanya untuk posisi admin, yang peminatnya berlimpah.
Selidik punya selidik, ternyata kriteria atau persyaratan yang diminta adalah sebagai berikut:
* Wanita, usia 18-25, single
* Cermat, cepat tanggap, konsisten dan sanggup bekerja di bawah tekanan 
Wanita, usia 18-25 dan single...ini pasti mudah terpenuhi. Apalagi tidak ada syarat pendidikan minimal atau keahlian tertentu.
Persyaratan cepat tanggap, sebetulnya tidak terlalu sulit dipenuhi. Atau minimal proses seleksinya cukup gampang, karena mudah dikenali.
Ternyata kesulitannya di persyaratan berikutnya: cermat, konsisten. Tidak mudah menemukan orang muda yang mau (dan mampu) bekerja dengan kecermatan tinggi. Apalagi dengan konsisten. Belum lagi persyaratan: sanggup bekerja di bawah tekanan. Kombinasi cermat, konsisten dan sanggup bekerja dibawah tekanan, merupakan persyaratan tersulit.
Dalam rekrutmen, apakah pernah terpikir, kesulitan yang kita hadapi, bukan hanya karena SDM yang susah dicari, tapi juga karena ‘kesalahan’ yang kita lakukan. Salah satu contoh yang sering tidak disadari adalah penggunaan bahasa dalam memasang lowongan kerja.
Sebagian besar perusahaan mungkin banyak memakai kata-kata yang sedikit ilmiah untuk menarik perhatian si pelamar. Selain terkesan ‘keren’, juga bisa menunjukkan kualitas perusahaan. Hal ini tidak salah. Untuk beberapa kasus, penggunaan bahasa ilmiah memang diperlukan. Misal ketika kita akan merekrut atau me’nyasar’ orang-orang di level manajerial atau mereka yang berstrata pendidikan tinggi.
Tapi pada kasus seperti pengusaha di atas, yang tidak ada syarat pendidikan minimal, coba kalimat cermat dan konsisten diganti menjadi: teliti, tekun, dan tidak mudah bosan. Saya yakin kalimat yang lebih sederhana itu lebih mengena dan mudah dimengerti oleh si pelamar. Dengan begitu, mereka juga dengan mudah punya gambaran, apakah pekerjaan yang akan dilamar, sesuai atau tidak dengan karakter mereka. Semoga bermanfaat!
Salam The NEXT Level!



* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 05 Februari 2018

KEPO AH… - By: Coach Suwito Sumargo*

“Masukkan 2 ekor ayam dewasa, ke dalam sepanci besar air bersih. Panaskan panci itu dengan api kecil selama 4 jam. Lalu dinginkan.”
Ini adalah resep andalan nenek, saat membantu kakek berjualan. Konon, kuah buatan nenek sangat terasa kaldunya. Angka-angka dan urutan di atas hanya karangan saya. Karena yang sebenarnya jauh lebih rumit.
Pokok permasalahannya adalah si Kakek (dan juga anaknya) hanya bisa berjualan mulai siang sampai sore. Menjelang magrib, kuah sudah habis. Lalu, bagaimana caranya menambah omzet (dan laba tentunya)?
Cucu tertua, enggan melanjutkan usaha si Kakek. Penghasilannya tidak sepadan dengan kerjanya. “Nggak worth it”.
Cucu kedua, mau melanjutkan dengan syarat: diperbolehkan melakukan perubahan. Setelah mendapat ijin, si cucu melakukan serangkaian eksperimen.
Pertama, bagaimana memperbanyak jumlah kaldu? Gampang, kerja paralel 5 resep sekaligus. 10 ayam, 5 panci dan 5 kompor. Semua dibuat sama persis dengan takaran asli si nenek. Hasilnya diuji. Ternyata hasilnya sama baiknya dengan buatan si nenek.
Kedua, bagaimana kalau ayamnya diganti dengan ayam horn (bukan ayam kampung)? Atau, bagaimana kalau seharian kita terus berproduksi dan kaldunya disimpan dalam freezer? Si cucu terus bereksperimen.
Dalam bisnis, melakukan ekperimen (penelitian dan percobaan) penting dilakukan. Sebagian besar pebisnis sukses, memulai usaha kecilnya dengan terus bereksperimen, terus mencoba dan mencoba lagi (trial and error). Dari situ, mereka bisa menyesuaikan kondisi bisnis dengan perkembangan jaman, apa yang dibutuhkan konsumen saat itu, selalu berinovasi dan bahkan tidak jarang menemukan gagasan kreatif yang membuat produknya lebih ‘dilirik’ konsumen daripada kompetitor.
Kita sebagai pebisnis pun juga bisa melakukan pengembangan seperti itu. Kunci utamanya ada dalam benak dan hati kita. Curiosity atau rasa ingin tahu. Bahasa kerennya: KEPO. Ya, mulai sekarang ubah mindset dan tumbuhkan rasa ingin tahu yang kuat, gigih, pantang menyerah dan selalu mencoba hal baru.
Kenapa sih mesti begitu? Memangnya apa yang akan terjadi, jika hanya mengikuti alur bisnis yang ada, tanpa perlu repot ‘ngepoin’ banyak hal? Yang pasti, Anda akan menjadi pribadi monoton tanpa semangat bertumbuh. Bayangkan, jika kompetitor akhirnya berhasil mengalahkan Anda, tapi Anda hanya diam dan tidak tertantang mengejarnya. Mau menjadi pebisnis seperti itu?
So, mulai sekarang perbaiki diri, selalu ingin tahu, terus mencoba, dan jawab tantangan bisnis Anda!  
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.