business-forum

coaches

Senin, 30 Oktober 2017

PERILAKU “NYAMPAH” - By: Coach Suwito Sumargo*

“Coach, dimana tempat sampahnya?”
“Di situ, di balik pintu. Tinggalkan saja di meja, biar saya yang bersihkan nanti.”
“Ah jangan, Coach. Saya sudah terbiasa untuk tidak meninggalkan sampah.”
Itu percakapan singkat saya di akhir sesi coaching. Dia seorang staf dari client, yang diminta mengikuti sesi coaching khusus. Ehm, yang seperti ini jarang saya temui diantara sekian banyak orang, termasuk client dan tamu.
Sebaliknya, perilaku “nyampah” (meninggalkan sampah begitu saja) sepertinya sudah jadi hal yang biasa dilakukan dimana-mana.  Di pesawat, kereta api, minibus travel, di taxi atau di bandara dan stasiun.
Saya pun menyampaikan pujian pada staf tersebut, ”Anda hebat, bisa mempertahankan kebiasaan itu.”
Tidak “nyampah” menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Dan itu tidak mudah dibentuk dalam waktu singkat, lho. Sebagai pemilik bisnis, kebiasaan-kebiasaan ‘kecil’ positif  seperti ini perlu kita ketahui, perhatikan, bahkan mengapresiasi. Karena semestinya ada di diri karyawan kita.
Tapi sebenarnya bukan itu yang kita cari. Yang kita butuhkan adalah keteguhan untuk bertahan dan tetap melakukan kebiasaan baik. Ini menunjukkan disiplin dan kemampuan mengendalikan sikap.
Apakah kita sudah memperhatikan kebiasaan-kebiasaan ‘kecil’ karyawan kita?  Berapa banyak karyawan kita yang berperilaku baik?
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.
- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 16 Oktober 2017

KADERISASI - By: Coach Suwito Sumargo*

Karena pak M (manager) akan pensiun, maka atas permintaan Owner, staf S sebagai yang paling senior di divisi tersebut, dipersiapkan sebagai kader pengganti pak M.
Suatu hari, pak Owner menyampaikan kepada saya :
"Mengkader itu ternyata sulit ya, Coach?
"Oh ya?" tanya saya dengan nada heran.
"Ini buktinya, manager saya tidak bisa mengkader anak buahnya."
Setelah omong-omong, saya akhirnya tahu, apa yang dilakukan si manager. Ternyata si manager hanya mengajarkan tugas-tugasnya saja. Hanya 'mengalihkan' job desc manager ke stafnya.
Si manager tidak meng-identifikasi skill gap yang muncul bila nantinya si staf berperan sebagai manager. Selain itu, si manager juga tidak mengenali dulu, bagaimana leadership si staf. Apakah lemah, ataukah mampu bila harus memimpin teman-teman sejawatnya.
Di akhir sesi coaching, sang Owner akhirnya menyadari, kaderisasi sebenarnya tidak sulit. Memang masuk akal, bila staf yang paling mumpuni dan senior dipersiapkan untuk menjadi pengganti. Tapi, jangan lupa membekali dengan latihan untuk pembentukan leadership. Karena seorang manager tidak hanya me-manage, tapi sekali waktu juga harus berperan sebagai leader.
Leader bukan cuma sekedar membagi-bagi tugas. Leader juga perlu mengenali karakter anak buah. Leader butuh kharisma. Leader harus mampu menginspirasi, menggerakkan atau memotivasi.
Apakah Anda mengenali karyawan-karyawan yang berpotensi jadi leader
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 02 Oktober 2017

PROPERTY AND EKSPANSI - By: Coach Suwito Sumargo*

Yang dimaksud property umumnya adalah tanah, ruko, gudang, apartment atau rumah tinggal.
Satu hari ada seorang client bertanya tentang beli property pada saya.
“Coach, apakah (saat ini) saya boleh beli property. Apakah sekarang saat yang tepat untuk beli property?”
Saya hanya mengumbar senyum dan menjanjikan akan membahas topik tersebut di sesi berikutnya.
Ada macam-macam alasan saat kita membeli property. Yang paling popular, sebagai tabungan atau simpanan. Dan alasan lain yang menarik adalah kepemilikan property itu bisa dicicil.
Nah, alasan yang satu ini bisa membuat orang ngotot menyisihkan uang (buat membayar cicilan).
Mengacu pada A-S-P-C (Asset, Sales, Profit, Cash), maka setiap orang yang ingin mencicil property, harus melihat nett cash nya. Bila tiap akhir bulan tersedia nett cash yang setara dengan laba bersih, maka bolehlah dia mencicil sebesar nett cash nya tadi. Itupun dengan catatan, masih ada harta bersih (harta bersih adalah keseluruhan harta, termasuk modal lancar ditambah piutang dan dikurangi hutang).
Maksud saya, perputaran dana atau modal untuk usaha harus diutamakan. Sisanya (nett cash) baru boleh dipakai untuk belanja/ mencicil property.
Bila property itu untuk kepentingan perluasan usaha, maka seluruh beban keuangan yang timbul haruslah diperhitungkan sebagai biaya. Pembelian property untuk pengembangan usaha berarti menambah modal usaha.
Jadi, utamakanlah kebutuhan dana untuk kelancaran usaha kita. Jangan memaksakan diri untuk membeli property, selama bisnis kita belum mantap dan sehat.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.