business-forum

coaches

Senin, 21 Agustus 2017

SESUAI JOB DESC DAN CUEK? - By: Coach Suwito Sumargo*

Ini jam 8.10, saya sudah berada di pool sebuah travel. Saya diberitahu agar stand by antara jam 8.15 - 8.30. Lho, bukannya ini travel yang jam 9.00.
“Ya pak, untuk keberangkatan jam sembilan akan diberangkatkan lebih awal karena harus mampir di pool lain. Dan ini pool pertama”. Demikian penjelasan via sms, saat memesan kemarin. 
Sambil menunggu, saya mengamati tingkah laku dua orang staf di depan saya. Wanita yang satu, sibuk melayani antrian. Begitu ada seorang pelanggan ingin mengubah jadwal, maka antrian langsung mengekor. Tampaknya, prosedur perubahan jadwal tidak mudah dilaksanakan oleh si staf wanita tadi. Sehingga dia harus berkomunikasi via HP, minta arahan dari kantor pusat. Itu butuh lebih dari 5 menit. 
Staf wanita yang lainnya tampak sibuk mengerjakan sesuatu. Dia sedang menulis di sebuah buku besar dan menghitung uang. Cuek dengan kejadian di sebelahnya. Tak lama kemudian, masuk seorang staf wanita lain, langsung duduk di balik meja paling ujung. Dia pun hanya memandangi 2 rekannya tadi. 
Tak lama kemudian, staf yang sibuk menulis itu tampaknya sudah selesai dengan pekerjaannya, dan langsung membantu menangani antrian. Ternyata orang-orang yang antri itu ingin membeli tiket atau memesan tempat. Sejak saya masuk sampai saat ini, waktunya sekitar 10 menit. Dan selama itu, telpon berdering tanpa ada yang mengangkat. Bahkan ketika seorang pria masuk dan mengumumkan saatnya berangkat, tak seorangpun mengangkat telpon! Oo..pantesan sejak kemarin saya nggak bisa menelpon dan terpaksa berkomunikasi dengan kantor pusat. 
Ini mungkin terjadi di perusahaan kita. Terutama saat kita punya cabang atau outlet kecil dengan jumlah staf terbatas. Saya yakin, setiap orang di depan saya tadi, adalah orang-orang yang mampu mengerjakan sesuatu (termasuk seorang staf wanita, yang sampai saat saya berangkat, hanya melayani 1 kiriman paket saja), sesuai dengan job desc-nya.
Tapi ini konyol. Telepon berdering terus menerus itu mungkin dari orang-orang yang akan membeli tiket. Dan kita mungkin kehilangan peluang.
Dalam bisnis, melayani pelanggan memang tugas paling utama. Tapi, mengabaikan peluang adalah pantangan. Mengapa si staf wanita penerima paket itu tak dilatih untuk mengangkat telepon? Mengapa kedua staf wanita yang sibuk itu tidak memanggil si pria yang mengumumkan keberangkatan tadi untuk mengangkat telepon?
Apakah di perusahaan kita terjadi hal serupa?  
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Senin, 07 Agustus 2017

KESALAHAN KARYAWAN? - By: Coach Suwito Sumargo*

“Coach, gimana ya cara mendisiplinkan karyawan?” 
“Apa dulu kasusnya?” 
“Gini...ini biasanya terjadi setelah meeting bulanan. Manager saya, yang mestinya setelah melakukan follow up, dia wajib melaporkan proses dan hasilnya. Tapi dia tidak melaporkan, sampai saya tanyai dia. Saya pinginnya sih, karyawan-lah yang otomatis melaporkan perkembangannya. Gimana, Coach kalau seperti ini?” 
Kejadian seperti ini, sudah sering saya dengar. Mari kita cari solusinya. 
Karyawan tidak otomatis melaporkan, karena dia tidak/belum merasa punya kepentingan dengan 'urusan' itu. ‘Sebodoh’ amat...mereka cuek saja, karena beranggapan si Boss-lah yang butuh. 
Kalau seperti ini, maka kita harus berusaha mengubah pola meeting-nya. Jangan hanya one-way, tapi lebih interaktif dan karyawan diberi kesempatan menyampaikan pendapat. Lalu, mereka diminta komitmennya untuk menjalankan. 
Bila mereka bisa menjalankan dengan baik, maka kita hargai upayanya. Ini akan merangsang mereka untuk menjalankannya terus-menerus sehingga akhirnya menjadi kebiasaan. Kita tak perlu lagi menagih laporan. 
Memupuk kebiasaan ini tentu tidak mudah. Itu sebabnya, kita seringkali mencari karakter orang yang disiplin. Yang sudah punya kebiasaan, atau yang mungkin sudah terbiasa/ dibiasakan disiplin di tempat kerja sebelumnya.
Disiplin itu umumnya hasil dari bentukan, entah karena tradisi keluarga, atau lingkungan. 
Bila kita ingin karyawan kita disiplin, sebaiknya dimulai dari diri kita. Dan kita harus berusaha menularkannya hingga lingkungan di sekitar kita punya kebiasaan disiplin. 
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                           
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.