Senin, 06 Februari 2017

CEK TOKO SEBELAH - By: Coach Suwito Sumargo*

Beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri menonton film “Cek Toko Sebelah”. Ini gara-gara seorang client bilang film tersebut bagus. Lho...kok saya percaya begitu saja ya?
Film ber-genre komedi itu bikin perut mulas, karena adegan dan dialognya yang sangat kocak. Meskipun begitu, beberapa adegan lebih serius terselip diantara gelak tawa. Bagi saya, film ini menampilkan nilai-nilai kehidupan dalam keluarga dan bisnis.
Erwin, si bungsu, punya kemampuan mengelola bisnis. Dan itu dibuktikan saat Erwin mengelola toko ayahnya selama 1 bulan. Meski begitu, dia tak mau menduduki posisi owner selamanya. Dia memilih bekerja sebagai eksekutif untuk wilayah Asia-Pasifik. Bekerja dan mengejar karir di perusahaan lain.
Yohan, si sulung yang lebih perasa (melankolis), justru tidak dipercaya oleh Koh A Fuk (ayah). Karena dianggap tidak punya kemampuan seperti adiknya. Padahal Yohan sangat ingin meraih posisi sebagai pengelola toko, menggantikan ayahnya.
Dalam bisnis, kita sering menghadapi dilema: kemampuan atau kemauan? Saat me-rekrut karyawan pun kita menghadapi dilema ini. Sebagai senior di perusahaan sendiri pun, saya juga mengalami dilema serupa.
Kemampuan, bisa dipelajari di bangku kuliah. Atau juga bisa diajarkan saat kandidat dalam masa percobaan. Kemampuan bisa dikenali sejak awal, saat interview. Tanyakan langsung prestasi kerjanya atau baca di Curriculum Vitae (CV) nya.
Kemauan kerja seseorang lebih susah dikenali. Saya pun kadang-kadang terkecoh dengan omongan dan latar belakang kandidat. Tapi, kemauan yang kuat saja tidaklah cukup. Harus dibarengi dengan kegigihan untuk mencapai target dalam waktu singkat. Kemauan yang kuat (plus kegigihan) inilah yang harus kita buktikan saat masa percobaan. Oleh karena itu, di masa percobaan seorang kandidat harus diberi target yang tinggi, untuk membuktikan kemauan, kegigihan dan sekaligus kemampuannya.
Meski ber-genre komedi, saya menangkap pesan positif dari film Cek Toko Sebelah. Misalnya tentang bagaimana komunikasi yang terbuka bisa menyelesaikan masalah (keluarga). Atau tentang kerendahan hati seorang A Fuk yang akhirnya mau mengalah dan mengubur ego nya dalam memilih penerus.
Bagi saya, film ini mengingatkan: jangan hanya kemampuan saja yang diutamakan. Tapi juga kemauan dan kegigihan. Dan yang terakhir ini harus diuji saat masa percobaan. 
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:                                       
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

0 komentar:

Posting Komentar