business-forum

coaches

Senin, 22 Februari 2016

FENOMENA GENERATION GAP - By: Coach Suwito Sumargo*

Suatu hari saya mampir ke sebuah toko alat-alat teknik. Sambil menunggu barang yang saya butuhkan, pandangan mata saya tertumbuk pada sesosok pria tua yang energetik. Seperti biasa, setiap kali melihat sosok orang tua yang energetik, saya pun langsung terpesona.
Lalu saya pun menyapa beliau: 'Hallo Om'. Beliau pun membalas sapaan saya: 'Hallo...Om baik-baik saja'. Dari nada suaranya saya tahu, beliau sehat dan bersemangat.
Kamipun terlibat perbincangan singkat. Usianya sudah lebih dari 70 tahun. Di bibir nya selalu terselip rokok dan di mejanya ada asbak pualam besar, hampir penuh dengan putung.
Dengan bersemangat beliau bercerita, bahwa sejak muda beliau selalu 'jaga toko'. Sepanjang tahun tak pernah absen. Sakit? Seingat beliau, tak pernah sakit berat. Paling-paling cuma pusing, batuk, mencret...yang ringan-ringan saja.
Yang mengagumkan, beliau nyaris hafal barang-barang di toko nya. Harga jual, beliau yang menentukannya. Agar mudah mengetahui harga beli, beliau 'menciptakan' semacam sandi. Setiap kali pembelian, beliau memberi sederetan kode angka dan huruf. Yang selanjutnya harus diduplikasi oleh pegawainya.
Anggap saja, beliau mulai jaga toko sejak umur 30 tahun. Maka itu berarti beliau sudah bekerja selama lebih dari 40 tahun. Ehm...sebuah prestasi yang mengagumkan, bukan.
'Om, putranya mana? Kog ndak bantu-bantu di toko?'
Mendengar pertanyaan saya, wajah si Om langsung berubah. Oops...saya langsung menyadari bahwa saya menyampaikan pertanyaan yang kurang pantas. Suara si Om langsung berubah, tidak bersemangat seperti tadi. Singkat kata, si Om curcol ke saya.
Anda pasti tahu, kira-kira apa yang terjadi, bukan? Yaa, putra nya yang dulu sempat membantu beliau, menyatakan 'resign'. Konon, putra nya ini tak sepaham dengan gaya kerja Papanya. Dan putra nya memilih bekerja sebagai eksekutif di Bank.
Setengah mencemooh, si Om bilang : 'Dia lebih suka makan gaji'.
Sambil menghela nafas dalam-dalam, saya pun menunjukkan wajah menyesal. Kejadian seperti ini bukan kali ini terjadi. Ada sangat banyak cerita yang saya dengar, tentang orang tua yang tak punya penerus untuk mengendalikan usahanya. Saya termasuk orang tua yang beruntung, karena punya penerus usaha.
Apa yang menyebabkan fenomena ini?
Anak-anak muda yang enggan meneruskan usaha yang dirintis orang tuanya. Anak-anak muda yang memilih untuk menapaki hidup baru, meskipun harus merangkak dari bawah. Anak-anak muda yang merasa lebih punya masa depan, bila bekerja di luar perusahaan orang tuanya.
Inilah fenomena Generation Gap.
Jaman sudah berubah dan bakal semakin cepat berubah. Jangankan selisih 40 tahun, yang selisihnya 30 tahun saja sudah berbeda pola pikir dan gaya hidupnya. Meski anak-anak kita masih di kisaran 25-30 tahun, mereka sudah cukup percaya diri untuk hidup bebas dari kungkungan keluarga.
Anak-anak muda masa kini, punya keyakinan untuk menapaki kehidupannya sendiri, bahkan sedini mungkin. Padahal, 10-15 tahun sebelum ini, banyak sekali orang muda yang masih takut-takut dengan masa depannya. Orang-orang muda ini sibuk bekerja demi karir. Tapi, anak-anak muda masa kini, rasanya lebih berani mengawali usahanya sendiri. Menjadi entrepreneur.
Di masa sekarang ini, yang jadi kebanggaan bagi sang orang tua, belum tentu menjadi sesuatu yang menarik bagi si orang muda. Kalau tertarik saja tidak, apalagi menghargainya. Tidak mungkin. Tak heranlah bila kebanyakan orang muda memilih pisah dari orang tuanya dan menempuh karirnya sendiri. Gejala ini semakin lama bakal jadi semakin marak. Mencari penerus perusahaan keluarga jadi semakin sulit.
Persoalan lain yang menggejala ialah : meskipun bergelimang duit, kerja di perusahaan orang tua sendiri dianggap kurang keren. Kurang bergengsi. Orang muda beranggapan, bila bekerja di perusahaan milik orang tuanya sendiri, terkesan bahwa seolah dirinya tidak bisa menembus perusahaan bergengsi.
Mendapat kedudukan di perusahaan milik keluarga, bukan merupakan simbol perjuangan dirinya. Padahal, orang muda suka menunjukkan kemampuan dia dalam menembus jenjang tertinggi di perusahaan multi nasional.
Yang tak kalah peliknya adalah, bila perusahaan keluarga tidak punya performance yang menggiurkan. Penghasilannya pas-pasan saja, sementara kerjanya berat. Bahkan anak sendiri tidak mampu memperoleh penghasilan yang layak. Dan pekerjaan yang dirintis sang orang tua menjadi terkesan berat setengah mati. Mana ada orang muda yang mau kerja berat? Mereka (orang muda ini) ingin kerja smart.
Trus, apa solusinya? Seperti kata bijak : lebih baik mencegah daripada memperbaiki. Jadi, lebih baik kita melakukan sesuatu sebagai pencegahan sejak dini. Seperti apa pencegahan dininya?
Yang pertama ialah sebagai orang tua, maka wajib mengenali dan membentuk karakter anak. Karena ini akan butuh waktu lama, maka harus dilakukan sejak masa anak-anak. Misalnya, membentuk karakter gigih dan pantang menyerah. Atau kebiasaan berpikir dan bertindak positif. Atau sikap hemat dan rasional. Dan banyak sikap atau keutamaan yang bisa diajarkan.
Yang kedua ialah memperkenalkan ke anak-anak kita, bahwa bekerja di perusahaan sendiri itu menyenangkan. Kesan menyenangkan harus disematkan sejak awal. Ini yang seringkali terlupa.
Anak-anak hanya mendengar keluh kesah orang tua ketika ditipu pembeli atau kesulitan saat mengatur anak buah. Bila yang terekam adalah kejadian-kejadian negatif, maka siapapun akan enggan mewarisi hal-hal itu. Itu dua hal penting yang harus dikerjakan, agar anak-anak muda ini mau meneruskan usaha keluarga ini dengan legowo.
Masih ada banyak hal yang harus dilakukan oleh orang tua, selain memberikan pendidikan formal. Dan jangan lupa, hanya perusahaan yang sehat dan punya masa depan cerah saja yang layak diwariskan.
Punya lebih banyak lagi cerita tentang betapa sulitnya mempertahankan kelangsungan perusahaan keluarga? Share dan diskusikan di sini atau by email ke: suwito@baracoaching.com.
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

Kamis, 18 Februari 2016

TIM BEDA GEN - By: Coach Ruaniwati*

"Memang beliau berpengalaman, tapi nggak fleksibel," demikian komentar seorang anak muda tentang seorang koleganya.
Atau pernah dengar komentar seperti ini:
"Saya nggak habis pikir anak muda jaman sekarang, kerja nggak pakai kantor, jam sekenanya dan kerja di rumah. Siapa yang mau bayar orang kerja begitu?" Ini komentar seorang berusia 50 tahun tentang keponakannya.
Inilah yang sedang terjadi di seputar dunia kerja kita, dan akan semakin kelihatan perbedaan yang tajam dalam tahun- tahun yang akan datang.
Apa sebabnya? Tentu saja karena setiap orang dalam tim kita berbeda. Coba kita soroti lebih dalam. Dalam perkembangan bisnis akhir-akhir kita, setidaknya ada 3 generasi yang bersama-sama bekerja.
Generasi "baby boomer" (48-65 tahun), gen "X" (35-47 tahun), gen "Y" (17-34 tahun) dan yang paling bontot, gen "Z" (yang kira-kira lahir di atas tahun 2000- belum bekerja).
Saya pribadi mendapati bahwa cara setiap generasi bekerja berbeda. Dan karena disebabkan oleh perkembangan teknologi yang luar biasa cepat, maka perbedaan ini jadi semakin tajam.
Baby boomer misalnya, berpendapat bahwa yang disebut bekerja itu ada waktunya, misalnya jam 8 sampai 5 dan di tempat tertentu (kantor, pabrik dan lain-lain).
Sedang gen Y berpendapat, karena kecanggihan teknologi, mereka bisa berkantor di mana saja, atau sambil ngopi di cafe. Baju casual, yang penting gadget harus dibawa dan harus on. Mereka bisa bekerja di segala waktu. Anywhere, anytime, casual outfit.
Sebaiknya boomer: one place, working hour, professional outfit atau seragam kantor.
Jadi dengan perbedaan tersebut, bagaimana jika mereka ada dalam 1 tim? Bagaimana kita sebagai pebisnis memimpin atau me-manage mereka untuk dapat mengerjakan proyek bersama? Apakah kelebihan masing-masing generasi bisa didayagunakan untuk kepentingan usaha? Mari kita telaah plus dan minus-nya secara singkat:
Baby boomer: Berpengalaman, matang dalam pengambilan keputusan, biasanya lebih bijak memahami tantangan di depan. Rata-rata anak mereka sudah besar atau dewasa sehingga mereka lebih fokus bekerja. 
Gen X. Pendidikan formal baik, cukup punya pengalaman bekerja, melek teknologi (mereka ada di masa transisi dari teknologi analog ke digital), kandidat terbaik memegang kepemimpinan.
Gen Y. Melek teknologi, biasanya tidak hanya mendapat pendidikan formal, tapi mampu self-learning dari berbagai sumber di seluruh dunia menggunakan Internet. Sosialiasi menurut mereka tidak harus selalu dengan tatap muka. Bekerja kadang-kadang tidak dengan aturan tertentu.
Tantangan perbedaan generasi inilah yang dihadapi pebisnis sekarang. Ada 3 kiat yang menolong para pemimpin tim (biasanya gen X) untuk memadukan dan me-manage tim-nya sehingga mempunyai kekuatan yang luar biasa.
1. Fokus
Temukan tujuan bersama yang ingin dicapai oleh semua orang dalam tim. Fokus pada kekuatan dan talenta anggota tim yang saling memberi dampak baik pada tim.
2. Komunikasi
Buatlah sistem komunikasi yang mudah untuk semua orang sehingga informasi yang sama untuk setiap orang, just in time, all the time.
3. Customize
Pastikan Anda menjaga semangat tim untuk melakukan pekerjaan mereka lebih baik, lebih cepat, dan lebih hemat dengan memberikan insentif yang berhubungan dengan prestasi mereka. Pemberian insentif yang aturannya seragam tidak lagi cocok untuk tim berbeda generasi.


Siap meng-optimal-kan tim Anda? Salam The NEXT Level!

Kamis, 04 Februari 2016

CAN WE PLAY? - By: Coach Ruaniwati*

Can we play?
Jika pertanyaan di atas ditanyakan kepada orang dewasa, apa jawaban yang sering muncul? Saya membayangkan jawaban yang paling mungkin adalah: ngapain? Atau banyak orang yang akan menjawab: ah, kayak anak kecil, sudah besar masih suka main. Jika pertanyaan yang sama ditanyakan kepada anak-anak, dengan antusias mereka akan menjawab: ayo!
Apa yang membedakan antara orang dewasa dan anak-anak? Saya kira dengan jujur saya harus mengakui jika orang dewasa kekurangan kemauan untuk bermain, seakan-akan bermain hanya untuk anak-anak. Wajarlah demikian, karena orang dewasa terlalu "serius" untuk bermain. Banyak hal-hal "serius" yang dilakukan. 
Jika hal ini dibawa ke ranah bisnis, keseriusan ini akan lebih menjadi-jadi, karena berhubungan dengan pendapatan, uang, pengaruh terhadap orang lain, pelanggan, dan seterusnya-dan seterusnya.
Apakah dalam bisnis benar-benar tidak ada ruang untuk bermain? Bukankah pada saat kita sedang melakukan uji coba terhadap produk baru misalnya, sebenarnya kita juga sedang bermain. Jika ada tempat untuk bermain di bisnis Anda, dimanakah itu?
Mengatur papan permainan di bisnis akan menjadikan bisnis Anda jauh lebih menarik untuk diikuti. Mari kita temukan manfaat bermain:
1. Bermain memicu kreatifitas, terutama jika bertemu hambatan/ tantangan.
2. Bermain membuat kita lebih mengenal diri sendiri dan lawan main kita lebih baik.
3. Bermain bisa mendorong kita melihat papan permainan dari sisi yang berbeda-beda.
4. Bermain mengasah dan menguji strategi yang kita ambil.
5. Bermain menguji kecepatan kita beradaptasi dan ber-improvisasi. 
6. Bermain adalah proses belajar yang paling menyenangkan, pereda stress.
7. Bermain mengajarkan kita tentang angka, karena permainan yang sehat ada papan skor-nya, untuk menentukan pemenang.
8. Silakan diisi sendiri manfaat lainnya.
Jadi sekarang, ayo main... Mainkan petualangan di bisnis Anda dan dapatkan manfaatnya.!

Salam The NEXT Level!

* Coach Ruaniwati:
-     Pelatih bisnis yang telah makan banyak asam-garam di dunia Marketing, Branding dan Advertising selama lebih dari 15 tahun.

-          Aktif membantu para womanpreneur dan start-up entrepreneur melalui siaran radio di She 99.6 FM, Mercury 96.0 FM dan aktifitas belajar-mengajar di berbagai kampus terkemuka Surabaya.