Senin, 16 Mei 2016

MAMPU DAN MAU - By: Coach Suwito Sumargo*

Coach, gimana ya caranya menentukan karyawan yang tepat untuk menduduki posisi sebagai wakil saya? Sebetulnya saya punya beberapa pilihan.
Yang pertama,  Adi. Orang ini kompetensinya lumayan, tapi tidak mau menerima tanggung jawab yang lebih besar. Yang kedua, Budi. Yang satu ini belum punya cukup keahlian, karena masih baru kerja beberapa bulan. Budi ini direkrut karena orangnya antusias belajar, bahkan cenderung ambisius.
Hal itu ditanyakan seorang teman, yang juga pengusaha, satu siang ketika kami makan bersama. Permasalahan ini bukan pertama kali saya temui. Setidaknya, ada 4 kategori umum yang bisa diamati.
 Kategori pertama ialah orang-orang yang tidak punya cukup kemampuan (kecakapan) dan juga tidak punya kemauan. Ini kategori amit-amit deh, kata teman saya itu sambil menggelengkan kepala. Orang-orang yang termasuk kategori ini amat sulit dikembangkan. Kategori ini tidak perlu kita bahas terlalu jauh. Kecuali Anda mau mengerahkan segala kesabaran dan upaya, karena mereka yang termasuk kategori ini tidak punya kemampuan sekaligus tidak ada motivasi dalam diri.
Kategori kedua, kebalikan dari pertama, yaitu mereka yang mampu dan mau, orang-orang yang mau maju dan berkecakapan. Ini kelompok yang paling disukai, produktif dan bekerja atas kemauan sendiri. Orang-orang yang termasuk kelompok ini tidak banyak, dan kalaupun ada umumnya sudah atau sedang bekerja di perusahaan ternama.
Berikutnya adalah orang-orang yang punya kemampuan tapi tidak punya kemauan. Masih lumayan, mereka ini sebenarnya punya kecakapan tertentu. Tapi enggan menggunakannya.
Dan golongan keempat adalah orang-orang yang mau tapi tak mampu. Yang termasuk di kelompok ini relatif gampang ditolong. Mereka punya kemauan untuk maju dan mereka hanya butuh pelatihan yang tepat agar kemampuannya meningkat.
Dua kategori terakhir inilah yang ‘dibingungkan’ oleh teman saya. Mana yang lebih penting, kemampuan (skill) atau kemauan (willingness)? Dua-duanya penting, tergantung bagaimana cara kita mengetahui titik permasalahan dan pemecahannya.
Jangan sampai, perusahaan sudah menghabiskan biaya banyak untuk memberikan pelatihan, meningkatkan skill karyawannya, ternyata problem sebenarnya adalah motivasi kerja. Demikian juga sebaliknya.
Untuk mereka yang tidak punya kemauan, bila kita berniat memanfaatkan kemampuan mereka, maka harus menemukan cara yang tepat untuk memotivasi. Membantu mereka menemukan cita-citanya bisa merangsang mereka untuk lebih produktif.
Berikan bimbingan atau konseling secara teratur, agar mereka mengenali kemampuan diri sendiri, menumbuhkan kepercayaan diri, sampai akhirnya menemukan alasan kuat mengapa mereka mesti bekerja sebaik-baiknya.
Nah, buat mereka yang sudah punya kemauan diri untuk terus memperbaiki kemampuannya, tipe ini lebih gampang mengatasinya. Tidak ada hal yang tidak mungkin buat mereka yang gigih belajar. Tinggal Anda yang memfasiitasi kemauan mereka dengan memberikan pelatihan/ training skill tertentu yang dibutuhkan perusahaan.
Lebih lanjut, Anda bisa memberikan reward bagi mereka yang berprestasi. Hal ini sebagai pancingan buat kedua kategori ini, agar terus memacu kepercayaan maupun kemampuan diri.
Amati berapa orang karyawan Anda, yang termasuk kategori pertama, kedua, ketiga atau keempat. Dan kini Anda tahu (sebagian) solusinya. Atau, Anda mungkin perlu bantuan kami? 
Salam The NEXT Level!

* Coach Suwito Sumargo:
- Memiliki pengalaman membangun Bisnis Keluarga dan franchise otomotif yang sukses selama lebih dari 30 tahun.
- The Winner Supportive Coach of The Year 2014.
- The Winner System Award 2014.

- Telah banyak membantu kliennya mendesain bisnis yang lebih efektif, lean dan lincah serta lebih menguntungkan dengan mengurangi bahkan meniadakan kebocoran-kebocoran dalam bisnisnya.

0 komentar:

Posting Komentar