Kamis, 21 April 2016

VISI, MISI, DAN GOAL PERUSAHAAN - By: Coach Humphrey Rusli*

Sering saya dimintai pendapat oleh para pelaku dan pemilik bisnis, tentang pentingnya memiliki sebuah Visi, Misi dan Goal yang jelas. Sering pula saya jawab dengan panjang lebar untuk mendeskripsikan seberapa krusial memiliki ketiga hal itu.
Saya berpikir, kemungkinan besar perusahaan-perusahaan tersebut sedang memulai langkah awal sebagai perusahaan yang lebih terstruktur dengan rapi dan atau sedang mempersiapkan diri masuk ke segmen pasar yang lebih luas. Namun anehnya,  banyak juga perusahaan yang meminta pendapat saya, tentang hal yang sama, ternyata sudah lama memiliki Visi, Misi dan Goal yang sudah cukup jelas dan gamblang.
Mengapa mereka tetap menanyakan pentingnya memilki ketiga hal tersebut, sedangkan mereka sudah memilikinya? Bahkan sebagian diantara mereka sudah sempat menyewa jasa konsultan berkelas untuk membantu memformulasikan arah perusahaan yang dituangkan ke Visi, Misi dan Goal. 
Setelah saya pertajam pertanyaan mereka, ternyata, pertanyaan mereka bukan dilandasi oleh ketidak tahuan akan pentingnya memiliki hal-hal tersebut, namun lebih ke seberapa efektifkah Visi, Misi, dan Goal perusahaan bisa “merangsang” seluruh jajaran organisasi dan terutama di level tinggi (Top Tiers Management Level) untuk mendorong laju perusahaan  ke arah yang telah ditetapkan tersebut.
 Mengapa pertanyaan ini muncul? Hal ini tidak lain disebabkan oleh seringnya Visi, Misi, Goal perusahaan hanya sebatas kata-kata indah dan canggih. Saya tidak anti terhadap Visi, Misi, dan Goal yang menggunakan kata-kata yang indah, justru ini akan membantu menginspirasi para pelaksana di lapangan. Namun sungguh disayangkan bahwa Visi, Misi, Goal perusahaan jarang  ber-sinergi atau kurang sinkron dengan values (nilai-nilai dasar) dan beliefs system (apa yang dianggap mungkin) dari para executives perusahaan.
Atau kalaupun terjadi kesepahaman antara pembuat Visi perusahaan dan pelaksana (executor), biasanya akan sepakat secara “logika” semata. Di sinilah terletak tantangan terbesarnya. Mampukah C-Level people (pembuat kebijaksanaan) mengajak dan menginspirasi secara sistemik tim inti mereka untuk menyokong arah tujuan perusahaan? Dan kalaupun bisa, bagaimana caranya dan skill apa yang harus dimiliki oleh para petinggi perusahaan?
Saya percaya bahwa pendekatan yang paling efektif adalah dengan mempertajam kedua sisi secara kongruen. Sisi pertama adalah membuat Visi, Misi dan Goal yang berkualitas. Artinya Visi dan Misi harus mampu untuk mengajak, menginspirasi dan menantang (Engaging, Inspiring and Challenging) tim di organisasi tersebut kedalam sebuah perjalanan panjang (a Journey). Sedangkan Goal haruslah memiliki tingkat detail tinggi, terukur secara baik, dan tentu saja memiliki deadline atau tenggat waktu.
Sisi pertama ini, walaupun sangat penting, namun sudah banyak artikel, buku, dan nara sumber lain yang secara mendalam membahas cara dan teknik pembuatannya. Saya tidak akan terlalu memperdalam lagi di sini.
Sisi kedua adalah melibatkan secara holistik, nilai-nilai penting dan budaya personal dari eksekutornya. Untuk mengoptimalkan sisi kedua ini, para pemangku kepentingan di C-level management membutuhkan penguasaan sebuah skill yang berlandaskan  kedewasaan, keterbukaan, dan kepercayaan dari anak buahnya.
Skill ini laiknya disebut dengan coaching skill. Dengan pendekatan coaching, para eksekutor akan memiliki akses untuk mengoptimalkan potensi mereka, menginternalisaikan, dan menyelaraskan objektivitas pribadi dan perusahaan. Hal ini  sangatlah penting untuk memampukan para eksekutor dalam mendorong perusahaan kearah yang telah ditentukan.
Menurut The Chartered Institute of Personal and Development (CIPD: sebuah lembaga profesional terbesar di Eropa yang memfasilitasi networking dan pengembangan human resource skill), teknik coaching telah menjadi media yang sangat digemari untuk mensupport pengembangan pribadi executive.
 Salah seorang ahli juga mendefinisikan coaching sebagai teknik untuk mengembangkan ilmu dan ketrampilan seseorang (executives) sehingga performa pekerjaan mereka meningkat dan memperbesar kemungkinan pencapaian sasaran organisasi.
Terminologi coaching pertama kali dipakai di dunia olah raga, seperti tinju, golf, renang, bulu tangkis, dan sebagainya. Objektivitas utamanya adalah untuk membantu atlet-atlet berprestasi terbaik untuk mampu mengaktualisasikan seluruh kemampuan mereka secara optimal.
Di dalam dunia organisasi dan bisnis, konsep yang sama juga digunakan, coaching dipakai untuk membantu individual yang sudah berprestasi untuk dapat lebih meningkatkan efektifitas bekerja dengan cara mengeksplorasi dan mengaktualisasikan potensi tertinggi setiap individu.
Survey membuktikan bahwa peningkatan efektifitas  bekerja dalam suatu organsiasi akan meningkat sebanyak 22% setelah sebuah organisasi men-training-kan executives-nya. Namun apabila training tersebut ditambahkan dengan individual coaching pada setiap individunya, efektifitas bekerjanya meningkat menjadi 88% dibandingkan sebelumnya.
Nah, sudah siapkah anda membawa perusahaan dan diri anda sendiri “to be the best you can be”?

* Coach Humphrey Rusli:
-     Pelatih bisnis dengan pengalaman International Marketing selama lebih dari 15 tahun.
-     Pemenang International Coach of The Year 2012 (Australia), 2013 (Beijing) dan 2014 (Jakarta).

- Telah membantu kliennya meraih peningkatan profit dari 20% hingga 2000% melalui sesi-sesi coachingnya.

0 komentar:

Poskan Komentar