Kamis, 14 April 2016

SUDAHKAH ANDA (PARA CEO’s) MENGUASAI TEKNIK COACHING? - By: Coach Humphrey Rusli*

Hidup di ERA hyper-modern dengan persaingan bebas, membuat kita sadar akan keterbatasan manusia di dalam menjawab berbagai tantangan hidup. Kreativitas dan daya pikir canggih semata, tidak lagi berhasil membawa kita memenangkan persaingan. Bahkan, sering kali tidak (atau terkesan tidak) ada pengaruhnya sama sekali terhadap peningkatan kualitas performa/kinerja perusahaan. Tentunya saya tidak berpendapat bahwa kreatifitas dan kepandaian kognitif tidak berguna lagi. Justru ini sangat berguna sekali untuk kemajuan suatu organisasi.
Namun, harus diakui bahwa kualitas manusia (baca: intelektualitas SDM) yang baik tidak menjamin peningkatan kemajuan suatu organisasi, dan tidak lagi berbanding lurus dengan progress yang kita inginkan. Banyak direktur, bahkan C-level profesional yang sangat pandai dan berpengalaman belum dapat mengeksplorasi segenap kemampuannya untuk aktualisasi dan eksistensi perusahaan dimana mereka berkarya.
Sering saya menemui, banyak organisasi dan entitas bisnis mengambil jalan pintas dengan menginvestasikan dana yang cukup signifikan untuk remunerasi top managers mereka. Toh, ini pun dirasa kurang menjawab tantangan SDM kita. Lalu apa yang “missing”?
Dari literatur yang saya baca ( Instant Team Building by Bradley J. Sugars – Founder and Chairman of ActionCOACH), dan dari pengalaman saya pribadi, manusia dikategorikan menjadi 4 bagian yang saling terkait dalam menunjang performa seseorang. Empat hal itu adalah: Body, Mind, Heart, and Spirit.
Body adalah kekuatan dan kesehatan fisik seseorang. Mind adalah inteligensia kognitif, kesadaran atau “awareness” dalam bekerja. Nah itu dua bagian pertama yang paling bisa diukur dengan metode konvensional (biasanya melalui sistem absensi) dan KPI (Key Performance Index).  Dua bagian yang pertama ini biasanya lazim diaplikasikan pada pasukan ujung tombak, pekerja (staff), supervisor dan pelaksana lapangan.
Lalu ada 2 bagian yang terakhir yaitu Heart and Spirit, yang kalau diterjemahkan secara bebas berarti kemampuan seseorang untuk berpikir dengan segenap hati dan jiwa. Dua bagian terakhir inilah yang wajib dikembangkan dan dimiliki oleh semua lapisan, terutama untuk level paling tinggi (top-tiers management people).
Nah, kalau diibaratkan mobil, memiliki tim dengan 2 bagian pertama saja yaitu body and mind itu seperti menjalankan mesin dengan sepertiga power saja, sedangkan apabila menggunakan keempat bagian di atas, maka kita laiknya menaiki mobil dengan power 100%. Bayangkan betapa dahsyatnya performa organisasi tersebut apabila top tiers kita menginisiasi keempat bagian tersebut. Lalu bagaimana agar organisasi kita bisa menciptakan tim yang bekerja secara 100%?
Di dalam perusahaan, pada umumnya “tanggung jawab” ini dilimpahkan ke divisi HR (Human Resource) untuk melakukan “Touch Up” kepada aset SDM yang bersangkutan. Disini peran HR sangat penting sekali di dalam memfasilitasi perkembangan SDM secara holistik
Namun, karena banyaknya permasalahan SDM yang dihadapi, dan terutama di level pekerja atau staff, maka fungsi untuk mengoptimalkan SDM di level tinggipun terkesan ala kadarnya dan bahkan diabaikan. HR team lebih intens melakukan Internal Training, Skill Improvement, Out Bound, Recruitment, Induction Program, sampai menyesuaikan regulasi internal dengan kebijakan pemerintah mengenai perupahan dan buruh. 
Permasalahan umum yang kedua, biasanya HR people akan “sungkan” dan merasa tidak nyaman untuk menelurkan program pemberdayaan Top Tiers Management, yang notabene adalah atasannya sendiri.  Walaupun semua pihak paham pentingnya “constant people development”, toh pada umumnya top level management, dan C-Level (CEO, COO, CMO, CFO) jarang tersentuh secara sinifikan.
Padahal di level inilah kebijaksanaan executive dihasilkan dan akan menentukan arah masa depan perusahaan. Nah, kalau begitu siapakah yang paling berkompeten untuk meng-upgrade top level management?
Dalam satu dekade terakhir ini, HRD sudah mengembangkan dan menambah fungsinya dari sekedar mengurusi SDM menjadi mengembangkan SDM. Makna dan singkatannya pun sudah disesuaikan dari versi lama HRD (Human Resource Department) menjadi versi baru HRD (Human Resource Development).
Lalu apa perbedaan antara versi lama dan versi baru? Perbedaan pertamanya terletak di FOKUS utama untuk mengoptimalkan segenap aset SDM yang ada dari Top to Bottom, dari CEO ke Front Liners.
Perbedaan yang kedua terletak pada proses melibatkan top tiers, director, dan managers untuk menjadi katalis pengembangan ke anak buahnya masing – masing, yang apabila dilakukan secara sistemik bukan saja organisasi secara keseluruhan akan maju, tapi juga kemampuan leadership dan peningkatan performa di setiap individu di top level management juga akan meningkat. Lalu skill apakah yang harus dipelajari dan diaplikasikan oleh para C-Level people?
Ketrampilan ini adalah “COACHING SKILL”, skill atau ketrampilan yang diperkenalkan pertama kali di Dunia Barat (di Amerika, kemudian menyebar di dataran Eropa) dan telah banyak dipelajari oleh Executives perusahaan-perusahaan besar di dunia. 
Sama dengan skill atau ketrampilan lainnya, Coaching Skill bisa dipelajari dan terbukti membawa perubahan positif  di organisasi yang mengapliaksikannya. Coaching Skill bermuara pada sebuah disiplin ilmu yang disebut sebagai Positive Psychology.
Prinsip dasar dan inti dari Coaching adalah “Self-Directed Learning”, atau pembelajaran/ pengembangan diri yang mengacu kepada kesadaran yang bersumber dari dalam diri pribadi itu sendiri. Coaching akan membawa segala sesuatu yang sudah kita pelajari, dari pengalaman,  dari bangku sekolah, dan dari manapun yang tersimpan di benak kita, untuk kemudian me-rekonstruksikan pengalaman dan informasi-informasi tersebut dalam menjawab tantangan-tantangan sulit yang kita hadapi pada saat ini.
Skill ini akan membawa setiap individu ke Top Performance mereka dan mereka akan benar-benar menjadi aset perusahaan yang paling berharga. Sudah siapkah anda membawa perusahaan dan diri anda sendiri “to be the best you can be”?
Salam The NEXT Level!

* Coach Humphrey Rusli:
-     Pelatih bisnis dengan pengalaman International Marketing selama lebih dari 15 tahun.
-     Pemenang International Coach of The Year 2012 (Australia), 2013 (Beijing) dan 2014 (Jakarta).
- Telah membantu kliennya meraih peningkatan profit dari 20% hingga 2000% melalui sesi-sesi coachingnya.


0 komentar:

Poskan Komentar