business-forum

coaches

Senin, 29 Juni 2015

MIKIRIN PRODUK ANDALAN - By: Coach Suwito Sumargo**

Ketika Handphone (HP) baru mulai diperkenalkan, konsumen tidak berkomentar tentang bentuk dan beratnya. Keunggulan HP saat itu ialah sebagai alat komunikasi yang lebih fleksibel dibanding telepon mobil (yang 'terikat' pada mobilnya).
HP juga dianggap lebih unggul dari pager dan telpon umum, yang merupakan alat komunikasi dengan biaya yang lebih terjangkau. Dengan HP, kita 'nyaris' bisa berkomunikasi dimana saja dan kapan saja.
Saat HP mulai menggejala, saya sama sekali tidak tertarik untuk memilikinya. Pertama, karena mobilitas saya memang rendah (saya lebih sering di bengkel, ketimbang keluyuran di luar). Kedua, saya jarang menelpon (lagi-lagi karena saya lebih sering di bengkel dan hanya menerima telpon).
Lama kelamaan, ukuran HP mengecil dan ringkas. Kemampuan yang dijejalkan ke dalam alat komunikasi ini semakin banyak, HP pun menjadi multifungsi. Selain punya banyak pilihan nada dering, HP juga bisa menjadi weker karena ada fungsi alarm nya. Jam yang ada di HP pun bisa disesuaikan dengan wilayah keberadaan kita, di belahan Asia, Eropa atau Amerika.
Sekarang, HP bisa berfungsi sebagai kamera, penyimpan data, pemutar lagu, bahkan bisa difungsikan seperti laptop. Entah apa istilah tepatnya: HP yang setara laptop atau laptop yang bisa dipakai menelpon. Entah HP yang bisa berfungsi sebagai kamera atau kamera yang bisa langsung meng-upload ke internet. HP yang sedemikian canggihnya pun menjadi semakin murah dan ringkas.
HP merupakan produk teknologi yang sangat berpengaruh terhadap perilaku konsumen atau pemakainya. Kemudahan dan kelengkapan dari berbagai fitur nya membuat si pemakai menjadi lebih mudah kecanduan. Dan karena perubahan/perkembangannya yang sangat cepat, life cycle dari produk HP juga menjadi sangat pendek.
Orang mudah berubah kegemarannya, berpindah dari merk gadget satu ke yang lainnya. Begitu ada fitur baru, konsumen pun berbondong-bondong membelinya. Bagaimana dengan produk yang kita miliki? Apakah kita 'mikiri' sedemikian rupa? Maksudnya, apakah kita selalu berusaha mencari terobosan-terobosan baru, yang membuat produk kita senantiasa disukai konsumen?
Apakah kita 'mengenali', kapan life cycle produk kita mulai menurun? Apakah kita menjaga agar produk kita selalu di posisi teratas (di benak konsumen)? Apakah kita pernah punya produk yang begitu hebatnya, sehingga ditiru oleh kompetitor? Apa saja keunggulan produk kita selama ini?
Sebagai business owner, kita tidak bisa diam saja atau berpangku tangan. Bahkan ketika kita sedang di posisi tertinggi, sebagai market leader sekalipun, kita harus selalu menyiapkan produk-produk andalan.
Apakah Anda sudah punya produk andalan?

** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)


Kamis, 25 Juni 2015

DAPAT MARKET SHARE ATAU INFORMASI, MANA YANG DULUAN? - By : Coach Humphrey Rusli ***

Ketika saya membantu para pengusaha muda merumuskan konsep bisnis yang pas dan sesuai dengan market, banyak yang kesulitan merumuskan: siapakah sebenarnya target market mereka, di mana mereka berada, masuk ke segmen mana mereka, apa yang mereka suka atau tidak suka, dan lain sebagainya.
Salah satu faktor utama kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas adalah: tidak tersedianya informasi yang komprehensif dan tidak terbiasanya kita melakukan riset mandiri sebelum kita berbisnis. Mungkin karena semakin banyaknya guru-guru bisnis yang menjamin "sukses" bila kita "nekad" dan langsung terjun di market. Tidak perlu bertele-tele mencari dan menganalisa pasar sebelumnya.
Langsung praktek dan belajar dari kesalahan di lapangan, kita jadinya semakin "terangsang" untuk menggunakan konsep tabrak dulu baru mikir belakangan. Nah, "konsep tabrak dulu" ini yang ingin saya bahas sedikit lebih dalam.
Sebenarnya ketika kita tes market atau menjual produk/jasa kita pertama kali, apa yang kita harapkan? Dapat market share atau Informasi? Artinya, apakah jualan pertama kita dimaksudkan untuk membuka pasar dengan harga miring (biasanya demikian), sehingga diterima dulu oleh pasar dan dengan harapan kita akan eksis nantinya. ATAU untuk memperoleh feedback dari konsumen perdana dengan harapan anda bisa memperbaiki produk dan servis anda ke depannya?
Fokus ke penetrasi pasar sebenarnya tidak salah. Namun sebaiknya ini dilakukan dengan data yang baik, artinya fokus pertama kita harusnya adalah mendapatkan feedback yang bisa kita pakai sebagai bahan pelajaran untuk memperbaiki proses penjualan kita. Baru setelah itu kita fokus ke penetrasi pasar.
Mengapa demikian urutannya? Karena penetrasi membutuhkan biaya yang cukup signifikan. Semakin kita tidak paham sikap respon pasar terhadap produk atau jasa kita, semakin sulit dan mahal biaya penetrasi produk atau jasa kita.
Perusahaan Zappos (yang diakui sebagai perusahaan sepatu online tersukses di dunia, dengan omzet tahunan mencapai 1 milliar dollar) pun melakukan "konsep tabrak dulu" sebelum melakukan penetrasi pasar besar-besaran.
Di awal berdirinya, Zappos pun kesulitan menebak apa maunya pasar. Mereka mencoba menerka-nerka, namun tidak terlalu berhasil. Hingga akhirnya sang pendiri melakukan tindakan berikut:
A. Mencari toko sepatu retail offline yang cukup banyak koleksinya.
B. Minta ijin pemiliknya untuk mem-foto stok sepatunya dan memasarkan secara online.
C. Membuat perjanjian dengan si pemilik toko tersebut: bila ada yang laku, Zappos akan membeli secara tunai dan dengan harga retail penuh tanpa diskon dari toko tersebut.
Benar, anda tidak salah baca. Zappos membeli secara tunai dan dengan harga retail untuk kemudian dijual dengan harga yang sama atau lebih mahal sedikit. Hal ini menyebabkan di awal bisnis onlinenya, Zappos tidak untung, bahkan sedikit merugi.
Kenapa Zappos mau? Karena dari eksperimen ini, muncul ilmu-ilmu baru yang mereka bisa ambil. Diantaranya:
- Bagaimana proses menjual yang disukai pelanggan.
- Bagaimana sistem yang mensupport jenis bisnis ini (online).
- Apa yang harus disiapkan bila ada yang minta retur.
- Mengapa ada model-model tertentu yang disukai dan ada yang tidak disukai.
- Seberapa rewel konsumen mereka akan model dan cara pembayaran, dan apa yang Zappos bisa lakukan,
- Dan masih banyak lagi.

Kesimpulan:
Sebenarnya pilihannya ada di tangan anda:
1. Anda melakukan riset pasar sebelumnya.
Mengumpulkan data segmen mana yang kita sasar, apa yang kita mereka sukai, dan sebagainya, sehingga anda lebih mudah membidik dengan tepat. Namun, ini butuh mental, energi, dan waktu yang tidak sedikit.
Atau
2. Jika anda kesulitan (tidak ada waktu) mengumpulkan data, sebaiknya anda melakukan tes market. Namun BUKAN untuk tujuan penetrasi pasar dahulu, melainkan untuk mendapatkan FEEDBACK yang jelas dari REAL market anda.
Sukses Untuk Anda!

*** Coach Humphrey Rusli:
- Coach of the Year 2014 (BEF Award Indonesia 2014) ;
- Sales Coach of the Year 2012 se-Asia dan Australia;
- Associate Coach of the Year 2013 tingkat Internasional (44 negara).

Sabtu, 20 Juni 2015

LEADERSHIP, BISA DIBENTUK ATAU BAKAT DARI LAHIR? - Moderator : Coach Ruaniwati

Dalam penelitian ini, 52% responden bergerak dibidang jasa dan 48% bergerak di bidang manufacture. 93% dari mereka  memiliki pendapat bahwa jiwa kepemimpinan mereka tumbuh dari proses pembelajaran, sedangkan sebanyak 7% responden berpendapat bahwa jiwa kepemimpinannya tumbuh sejak kecil atau bakat lahir.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang leadership, beberapa peserta Forum Diskusi Grup (FDG) berpendapat bahwa pengertian dari leadership sendiri adalah jiwa kepemimpinan seseorang dimana orang tersebut berada digaris depan yang memiliki pengaruh dan pengikut dalam mencapai suatu visi misi serta memiliki kualitas seperti: bertanggung jawab, konsisten, memiliki integritas, memiliki kecepatan dalam mengambil keputusan dan memiliki banyak strategi.
Jika leadership itu lahir dari bakat, apakah langsung dapat dipakai/ diterapkan di dalam  perusahaan? Mengapa? 80% berpendapat  leadership yang lahir dari bakat tidak bisa langsung dipakai/ diterapkan perusahaan  karena leadership  perlu pengetahuan dan melalui proses/ tahap pengalaman, 20% berpendapat leadership bisa langsung dipakai/ diterapkan diperusahaan.
Jika leadership bisa dibentuk, yang perlu ditanamkan atau diajarkan terlebih dahulu yaitu kedisiplinan,  kekuatan mental, tanggung jawab, dan kemauan belajar tinggi.

Beda Leadership yang Sengaja Dibentuk dengan yang Benar-Benar  Bakat dari Lahir
Leadership yang sengaja dibentuk :
Ø Terkadang ada kendala dalam proses pembentukannya
Ø Leadership yang dibentuk berdasarkan situasi dan kondisi pada saat tertentu
Ø Bukan dari jiwa/ mentalnya sehingga membutuhkan waktu lebih lama dalam membentuk leadership.
        Leadership yang dari bakat:
Ø  Terkadang mengandalkan insting
Ø  Cenderung ditaktor
Ø  Lahir dari bakat sehingga cenderung
     memiliki mental kuat
Menurut coach Ruani jika kita mengingat apa yang dulu pernah kita dengar, seperti ungkapan dari Ki Hajar Dewantara tentang pemimpin, banyak hal yang dapat kita ambil dan implementasikan sebagai seorang leadership. Berikut Pendapat Ki Hajar Dewantara:
1.                       Ing Ngarso Sung Tulodo
2.                       Ing Madyo Mangun Karso
3.                       Tut Wuri Handayani
Ing Ngarso Sung Tulodo’ jika dikaitkan dengan leadership memberikan pengertian sebagai seorang pemimpin kita harus mampu memberikan teladan. ‘Ing Madyo Mangun Karso’, kita juga harus dapat meningkatkan semangat, ‘Tut Wuri Handayani’ yaitu memberikan dorongan atau meluruskan tujuan kembali sesuai dengan arah yang ingin diraih.
Sebagai seorang pemimpin kita juga harus menyiapkan second layer, atau pengganti diri kita jika suatu saat kita berhenti memimpin, apakah itu nantinya anak kita ataukah orang lain.
Beberapa peserta berpendapat bahwa hal yang harus dipersiapkan untuk second layer adalah sharing visi dan misi perusahaan/ dream, succession plan dan dedikasi.
Ada banyak hal yang menjadi alasan mengapa mereka memilih poin tersebut.
·      Sharing visi-misi/ dream, calon seorang leader pertama harus mengetahui visi dan misi perusahaan  dengan jelas, sebelum melangkah untuk menjadi seorang leader.  Sebagai penerjemahannya perlu dibuat langkah-langkah strategis yang berorientasi pada jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Jadi, setiap individu mempunyai acuan untuk bergerak dan mengembangkan kreativitas yang menunjang kemajuan perusahaan.
·      Succession Plan, hal ini sangat berpengaruh pada setiap individu di perusahaan yang memang diproyeksikan/ diharapkan menduduki posisi strategis/ jabatan yang lebih tinggi. Pada saat karyawan itu masuk ke perusahaan, seharusnya sudah ada tes yang jelas (seperti psikotest, tes bakat minat dan lain-lain) supaya kita bisa membangun carreer path yang jelas. Lebih tepatnya  yaitu “put the right man on the right place".
·      Dedikasi, dedikasi dapat dijabarkan sebagai pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha. Di sana mengandung unsur loyalitas, kejujuran, kemampuan personal, memahami job description, visi-misi/ orientasi perusahaan, team work, tanggung jawab dan pencapaian hasil usaha. Hal itulah yang merupakan salah satu dasar yang diperlukan bagi seorang pemimpin.
Selain poin-poin yang diajarkan untuk mempersiapkan second layer, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengukur keberhasilan dari apa yang sudah kita ajarkan dan bagaimana caranya mengukurnya?
Kemudian tanda-tanda seperti apakah seorang leader yang baik itu? hasil survey dan hasil dari forum diskusi kami   menyebutkan beberapa tandanya adalah :
Ø     Memiliki banyak pengikut
Ø     Memiliki kharismatik
Ø     Memiliki integritas
Ø     Berani mengambil tantangan/ resiko
Ø     Memiliki skill dan insting bisnis
Ø     Visioner
Ø     Mampu menciptakan leader baru.
Leadership yang memang sengaja dibentuk dan leadership yang merupakan bakat dari lahir bisa memiliki tingkat kemampuan berbeda tetapi akan tergantung juga dengan orangnya, dimana jika tidak diasah meskipun leadership itu merupakan bakatnya maka tidak akan dapat berkembang berbeda dengan leadership yang dibentuk, meskipun dibentuk tetapi jika terus diasah maka kemampuannya akan lebih berkembang.

Salam The Next Level!
Research & Development Team


Jumat, 19 Juni 2015

6 LANGKAH PRAKTIS AGAR USAHA LANGGENG - By: Coach Ruaniwati**

Usaha langgeng sampai puluhan tahun bahkan dari generasi ke generasi, apakah mungkin?
Boro-boro ke generasi berikutnya, sekarang saja saya masih ngos-ngosan menjaga supaya perusahaan tetap hidup! Mungkin ada sebagian pebisnis yang berpikir demikian.
Bagaimana sih caranya supaya bisnis saya bisa stabil, kuat dan langgeng? Darimana saya harus mulai? Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan demi kelangsungan perusahaan:
1. Nilailah perusahaan Anda se-obyektif mungkin, coba pilahlah!
Sisi sales/marketing? Operasional? Sumber daya manusia-nya? Keuangannya? Jika Anda tidak dapat menilai sendiri, carilah tenaga ahli yang mampu membuat penilaian ini. Biasanya orang luar mampu menilai dengan lebih obyektif.
2. Jika sudah mendapatkan penilaian, tentukan prioritas bagian yang perlu diatasi lebih dulu.
3. Dengan tim Anda, buatlah rencana tindakan yang bisa segera ditentukan.
4. Tentukan target, pastikan siapa yang melakukan apa dan kapan.
5. Evaluasi setiap tindakan, bandingkan dengan rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya.
6. Lakukan perbaikan terus menerus sehingga hasilnya semakin baik.
Jika kita sedang membangun usaha, cobalah mengevaluasi kondisi perusahaan Anda paling tidak 6 bulan sekali, sehingga pencapaian atau targetnya bisa dievaluasi secara menyeluruh.
Berpikir dengan cara berbeda juga adalah kemampuan penting bagi para pebisnis. Jika kita melakukan hal sama dengan cara berbeda maka dapat dipastikan kita akan mendapatkan hasil berbeda.
Siap berubah? Siap action? Siapa takut!
Semoga Bermanfaat!

** Coach Ruaniwati: womanpreneur dengan pengalaman lebih dari 16 tahun di bidang marketing, branding, dan advertising.

Rabu, 17 Juni 2015

Sampoerna The Apprentice 2015 - PELATIHAN BISNIS UNTUK WHOLESALLER SAMPOERNA TERBAIK SE-INDONESIA

Sebagai salah satu lembaga pendampingan bisnis internasional, ActionCOACH BARACoaching Surabaya juga mensupport beberapa perusahaan dalam event mereka. Salah satunya dalam Sampoerna the Apprentice 2015 di Hotel Trans Bandung, 10-13 Juni 2015 kemarin. Acara yang diadakan oleh PT. HM. Sampoerna ini diikuti oleh 29 peserta dari Aceh sampai Merauke.
Wayan Mertasana Tantra, selaku Sales Director PT. HM. Sampoerna bertutur, event yang sudah ada sejak tahun 2011 ini, sebagai bentuk apresiasi terhadap wholesaller terbaik se-Indonesia.
Menghadirkan nara sumber utama, Coach Humphrey Rusli yang memberikan training bisnis terhadap generasi ke-2 (penerus) wholesaller Sampoerna yang terpilih.
“Selama beberapa hari ke depan, Anda akan diajak untuk berpikir secara lateral dan out of the box,” tegas coach Humphrey.
Lebih lanjut, beliau juga berkali-kali menegaskan pentingnya teamwork selama acara ini.
“Anda akan dibantu oleh teman-teman Anda dan ada saatnya Anda juga membantu teman-teman pengusaha yang ada di ruangan ini untuk mencapai hasil yang lebih baik bagi bisnis Anda.”
Di hari pertama, pelatih bisnis terbaik Indonesia 2014 ini memaparkan tentang fakta unik bisnis keluarga sekaligus apa suka dukanya. Hari berikutnya bagaimana membuat perencanaan (develop a plan) sampai hari terakhir, peserta diajak untuk menuliskan perencanaan bisnis mereka.
Silvy Chandra, salah satu peserta berujar, lewat acara ini dia bukan hanya bisa networking, tapi sekaligus brainstorming dengan teman-teman pebisnis dari seluruh Indonesia.
“Saya jadi tahu, pada umumnya teman-teman sudah sampai mana perkembangan bisnisnya, selain itu bagaimana keadaan bisnis di wilayah masing-masing.”
Peserta asal Denpasar, Bali ini juga mengaku mendapatkan inspirasi sekaligus refresh materi yang sudah pernah didapat sebelumnya.

“Kebetulan teori-teori yang diberikan, sebagian sudah saya dapatkan waktu kuliah. Dan sekarang, lewat pelatihan yang diberikan coach Humphrey, saya jadi benar-benar terinspirasi, seperti bisa membandingkan o.. ternyata ini bisa diaplikasikan, yang ini tidak.”

Senin, 15 Juni 2015

APA SAJA CIRI PEMIMPIN YANG BAIK ITU? - By: Coach Suwito Sumargo**

Konon, pemimpin yang baik dituntut harus mampu memberi contoh atau jadi teladan.
Wah...saya malah kalah trampil dengan anak buah dan itu berarti saya tidak bisa memberi contoh?
Gimana dong?
Ada lagi, pemimpin yang jempolan itu harus bisa memberi solusi, bila anak buah mengalami kesulitan. Ehm...inipun saya juga belum tentu bisa. Lha wong anak buah saya lebih senior dan berpengalaman.
Gimana nih, apakah berarti saya tidak bisa jadi pemimpin yang baik dan jempolan? Apa sih ciri-ciri pemimpin itu? Mengapa banyak pemimpin gagal, apa saja yang hambatannya?
Seorang pemimpin bisnis, selain memahami kompetensi bisnis yang dijalankan, juga harus menerapkan nilai-nilai moral dalam kesehariannya. Dalam artian, bagaimana dia berhubungan dengan orang lain, termasuk dengan bawahan atau timnya.
Semua orang bisa menjadi pemimpin, tapi belum tentu menjadi pemimpin yang baik. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, sebagai dasar atau pondasi membentuk kepemimpinan yang kuat.
Pertama adalah sikap terbuka terhadap masukan bawahannya. Jika diibaratkan dengan organ tubuh manusia, bawahan atau tim, merupakan alat gerak kita. Untuk membuatnya ‘berjalan’ bahkan ‘berlari’ kita harus tahu cara menggerakkan mereka. Caranya? Dengan melakukan komunikasi intens dan mengerti karakter setiap anak buah, sehingga memudahkan untuk mengarahkan mereka seperti kemauan kita.
Contoh aktivitas untuk membangun hubungan dengan tim bisa dengan melakukan evaluasi berkala. Di sini kita bisa mendengarkan penjelasan, keluhan, pendapat dan respon tentang kebijakan atau hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan. Dan tugas kita adalah mendengarkan dan menjawab, serta memberi masukan dan ‘mendorong’ mereka.
Kedua berhubungan dengan tujuan (visi dan misi) perusahaan dan gairah untuk mewujudkannya. Tujuan perusahaan bukan hanya dibuat ‘sebagus’ mungkin. Sesempurna mungkin. Tujuan itu harus disampaikan dengan tim kita. Sampaikan dengan cara sederhana dan mudah dimengerti.
Gairah dalam mewujudkan visi misi perusahaan bisa membangkitkan semangat tim untuk mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari, sampai akhirnya menjadi budaya dalam perusahaan.
Ketiga adalah menetapkan rencana tindakan dan aturan main. Rencana tindakan harus sesuai dengan aturan main yang ada. Sesuai dengan standar dan norma yang sudah ditetapkan atau jadi budaya perusahaan.
Namun, janganlah standar tersebut jadi membatasi ‘gerak’ kerja tim Anda. Doronglah mereka untuk selalu bereksperimen dan berpikir ‘out of the box’. Jangan lupa untuk memberikan mereka reward agar mereka semakin tertantang untuk berinovasi dan memberikan yang terbaik untuk perusahaan.
Poin ini juga harus didukung dengan sikap tanggung jawab. Mau bertanggung jawab atas semua konsekuensi terhadap keputusan yang dibuat atau diambil anak buah.
Terakhir, pastikan agar semua orang yang ada dalam tim terlibat. Memberikan perhatian, upaya dan komitmennya kepada bisnis Anda. Kenapa? Agar kerja ‘alat gerak’ Anda tidaklah timpang.
Nah, lalu bagaimana dengan Anda? Sebagai pemimpin, sudahkah Anda melakukan poin-poin dalam bisnis Anda?

** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)


Jumat, 12 Juni 2015

REWARD ATAU PUNISHMENT ?

Dalam sebuah bincang bisnis, seorang pengusaha dengan gembira menyampaikan: “Wah...staf saya jadi semakin antusias, setelah saya umumkan ada ekstra bonus bila mereka mencapai target yang telah disepakati bersama. Target itu antara lain: pertama, sales person yang memecahkan rekor rupiah penjualan. Kedua, sales person yang memecahkan rekor closing penjualan tercepat, dan lain-lain.”

Pengusaha yang lain menimpali: “Di perusahaan saya terjadi hal yang sebaliknya. Induk perusahaan mengumumkan rincian punishment bila kami tidak melakukan hal-hal yang sudah disepakati. Misalnya seragam tidak rapi, grooming tidak sesuai standar, tidak mengucapkan greeting dengan benar, dan lain-lain.”

Dilihat dari pengertiannya, reward lebih bersifat positif dibandingkan punishment. Lewat pemberian reward, orang akan merasa lebih dihargai dan akan timbul motivasi dalam diri untuk bekerja atau melakukan sesuatu lebih baik lagi. Bisa dibilang, reward diberikan sebagai alat untuk meningkatkan antusiasme dan merangsang produktivitas.

Lalu, mana yang lebih efektif diterapkan untuk meningkatkan produktivitas kerja? Sebenarnya, baik reward atau punishment, seperti dua sisi mata uang yang berbeda, namun saling melengkapi. Ada saatnya kita memberikan reward untuk menghargai kerja keras para karyawan, tapi tak jarang, hukuman merupakan cara tepat sebagai ‘stopper’ untuk melatih disiplin diri dan mengingatkan kesalahan untuk kembali pada ‘alur’ sebenarnya.

Reward dan punishment juga bisa digunakan sebagai alat utuk membentuk habit atau kebiasaan. Meski dianggap sama-sama efektif, tapi hasil akhirnya berbeda. Habit yang dibentuk reward menghasilkan sukacita dan sukarela. Sebaliknya, habit yang dibentuk punishment menghasilkan ketakutan dan keterpaksaan.

Yang jadi permasalahan adalah, apa saja hal yang mesti diperhatikan dalam memberikan reward dan punishment? Kapan dan untuk apa reward dan punishment diberikan?
Karena bersifat memaksa, maka punishment lebih cocok digunakan untuk habit yang mutlak, wajib, dan harus dilakukan. Sedangkan reward lebih sesuai untuk habit dengan target yang berubah-ubah atau berkembang.

Hal selanjutnya yang mesti diperhatikan, manajemen harus berusaha mengukur punishment dan reward secara konkrit, antara lain dalam rupiah. Kenapa? Karena nantinya hasil, manfaat atau dampaknya harus terukur, ada angkanya, dan salah satu ukurannya adalah rupiah.

Nah, bagaimana dengan Anda? Cara yang mana yang lebih efektif untuk karyawan Anda: memberi reward atau punishment? Silahkan share komentar Anda.

By: Coach Suwito Sumargo
(The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014))

Kamis, 04 Juni 2015

UKURAN S, M, L, Atau XL? - By: Coach Suwito Sumargo**

Bagi pria, mestinya cukup gampang dalam hal memilih baju, terutama dalam hal ukuran. Paling-paling hanya milih ukuran S-M-L-XL atau XXL. Kenyataannya tidak demikian.
Misalnya saya sendiri. Setiap kali saya membeli baju baru, yang pertama saya lakukan adalah memilih warna dan coraknya. Selain itu, saya juga sering membandingkan bahan kainnya, apakah enak dipakai dan tidak terasa panas di badan. Ketika bertanya ke beberapa teman pria, ternyata saya mendapatkan macam-macam jawaban. Beberapa teman menjawab dengan gampang: serahkan saja ke isteri masing-masing, mereka pasti lebih tahu apa yang cocok bagi suaminya.
Sebaliknya, satu-dua teman menjawab dengan lebih detail. Para pria ini mengeluhkan banyak hal, misalnya: ukuran S-M-L-XL satu perusahaan baju dengan yang lainnya ternyata tidak sama, tidak ada standarnya. Karena itu, mereka harus mencoba beberapa kali sebelum menemukan ukuran yang pas. Ini tentu menjengkelkan.
Saya pun teringat dengan pengalaman beberapa waktu yang lalu, ketika memilih baju di salah satu Departemen Store ternama. Saya sengaja hanya mendatangi sebuah merk yang sudah familiar, karena beberapa kali saya membeli baju dengan merk tersebut, ternyata ukurannya pas banget. Nah, kali ini saya terpaksa kecewa. Setelah memilih warna, corak dan bahan, saya pun meminta ukuran L ke SPG yang bertugas. Eeh...ternyata ukuran L terlalu kecil. Dan yang pas adalah XL, dengan konsekwensi panjang lengan tak sesuai.
Kali ini saya tidak ingin membahas ukuran baju yang pas buat saya. Tapi, bukankah seharusnya setiap pabrik pakaian memiliki standar ukuran S-M-L-XL yang sama? Bukankah itu standar yang berlaku secara internasional?
Anda mungkin tidak setuju dengan pendapat saya. Karena pengalaman menunjukkan kepada kita, bahwa ukuran standar pun tidak (pernah) sama antara satu pabrik dengan lainnya. Seolah-olah setiap pabrik berhak menentukan ukuran standar nya masing-masing. Benarkah demikian?
Andaikata pendapat diatas dianggap benar, yaitu setiap pabrik pakaian bisa menetapkan standar ukuran S-M-L-XL nya sendiri, bagaimana dengan kita sebagai konsumen? Bukankah itu bakal merepotkan kita?
Sebaliknya, mungkin ini justru merupakan peluang bagi pabrik atau produsen. Yaitu, apabila si produsen bisa konsisten mempertahankan standar ukurannya, bukankah mereka berpeluang mempertahankan konsumen nya, agar loyal kepada produknya? 
Jadi, andaikata ceritanya agak sedikit berbeda, yaitu: setelah memilih warna, corak dan jenis bahan, lalu saya langsung cocok dengan ukuran L (sesuai dengan ukuran yang biasa saya pakai sebelumnya), maka sangat mungkin saya akan menjadi pelanggan loyal merk kesukaan saya.
Proses merekrut pembeli saja sudah cukup memusingkan. Nah, kini saatnya kita memikirkan: bagaimana mempertahankan agar sang pembeli menjadi pelanggan dan loyal. Bila tidak dipikirkan secara matang, mungkin masalah standar ukuran pun bisa membuat pembeli menjadi tidak loyal.
Banyak produsen yang belum apa-apa sudah putus asa: toh konsumen tidak akan loyal-loyal banget. Mereka selalu punya pilihan: warna, corak dan bahan. Memang, masih sedikit produsen yang memikirkan segala pernik-pernik keinginan pelanggannya. Kebanyakan produsen hanya membuat produk ala kadarnya, yang penting laku terjual.
Mereka enggan bersusah payah hingga bisa mempertahankan pembeli menjadi pelanggan (loyal). Anda termasuk dalam kategori mana, produsen yang benar-benar serius mikiri keinginan dan harapan pelanggankah?


** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)

Senin, 01 Juni 2015

PUJIAN - By: Coach Suwito Sumargo**

Seorang teman kagum atas kebersihan mobil saya. Ia bertanya, apakah mobil saya secara teratur dibawa ketempat cuci mobil? Dengan tersenyum saya menggeleng dan sambil menunjuk ke sopir, saya berkata mobil ini bersih karena dia rajin membersihkannya. Coba tebak, apa yang terjadi selanjutnya? Menurut Anda, bijakkah cara saya ini?
Faktanya adalah saya memuji seseorang secara terang-terangan. Anda juga bisa mempraktekkannya pada karyawan Anda. Konon, ada mitos bahwa bila kita memuji secara terang-terangan, maka orang yang dipuji tersebut akan besar kepala dan efeknya tidak baik.
Tapi, bila kita menggunakan cara yang benar, maka pujian kita itu justru berdampak positif. Dampak positif itu seperti: mereka akan menikmati pekerjaan, bekerja lebih keras, bahkan membagi kebahagiaan itu dengan rekan-rekannya, sehingga karyawan lain bisa meniru bahkan berlomba-lomba menciptakan prestasi.
Lalu bagaimana cara memuji yang benar itu?
1.     Tulus
Pujilah karyawan Anda setulus dan sepositif mungkin.
2.     Waktu
Yang dimaksud di sini adalah tepat pada waktunya. Jangan terlambat dalam memberikan pujian. Semakin cepat Anda mengapresiasi hasil kerja positifnya, akan semakin ‘mengena’ pujian Anda. Dan lebih baik jangan terlalu berlebihan, sesuaikan dengan hasil pekerjaannya saja.
3.     Gesture
Gesture berhubungan dengan bagaimana cara kita menyampaikan pujian itu. Bisa dari bahasa tubuh maupun mimik muka. Terkadang, karyawan bisa melihat tulus tidaknya kita memberikan pujian dari poin ini.
4.     Sesuai karakter orang yang dipuji
Dalam memberikan pujian, kita juga harus tahu karakter karyawan yang kita puji. Karena tidak semua karakter bisa menerima ‘perlakuan’ yang sama. Ada yang lebih senang dipuji di depan umum, namun ada juga yang lebih suka bila kita menyampaikannya secara privat.
Lalu ada yang lebih suka dipuji dengan gaya biasa saja, tapi banyak juga karyawan yang dipuji dengan gaya berlebihan (hiperbola).
Nah, bagaimana menurut Anda. Share ke saya, bila Anda punya cara memuji yang lebih bijak.
Salam The NEXT Level!


** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)