Kamis, 24 Desember 2015

5 HAL YANG MEMBUNUH KARIR PEMIMPIN BISNIS

By: Coach Humphrey Rusli *

Berprofesi  menjadi seorang Business Coach sungguh merupakan hal yang menakjubkan. Bukan saja saya menjadi pribadi yang lebih baik karena proses menjadi seorang coach yang panjang dan tempaan yang berat, namun saya juga ternyata bisa tetap belajar dari proses coaching yang saya deliver kepada ratusan pemilik bisnis dan CEO yang mengikuti program coaching dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini.

Nah, ternyata dari hasil saya berinteraksi dengan segitu banyak pengusaha, ada hasil pengamatan yang saya rasa cukup penting untuk dibagikan kepada anda. Ada 5 kesamaan antara klien-klien kami yang cenderung lamban berkembangnya, dan anehnya tidak ditemui di klien-klien kami yang lebih cepat berkembang dan sukses dalam bisnisnya.

Jika anda memiliki 5 hal yang saya jabarkan di bawah ini, HATI-HATI!
Apa saja 5 hal tersebut yang bisa menghambat, dan dalam beberapa kasus yang saya temui, malah bisa berakibat fatal bagi karir atau usaha seseorang?

1. Arogansi
Ini bukan kesombongan standard yang bisa dilihat kasat mata, namun arogansi yang halus.
Contoh: seorang pengusaha ketika saya bantu untuk menemukan sumber masalah yang sedang dihadapinya selalu berkeluh kesah dan merasa anak buah atau timnya yang perlu berubah, bukan dirinya dulu.
Jika anda sering merasakan bahwa anak buah saya yang salah, kurang disiplin, kurang cekatan, kurang loyal (dan sebagainya), serta jarang atau tidak pernah berpikir: "Mungkin saya sebagai pemimpin yang kurang baik”. Hati hati!, anda sedang terkena point no.1 ini.
Saya sering menemui seorang pebisnis yang ketika hendak memakai jasa kami, me-wanti - wanti saya agar anak buahnya bisa lebih baik dan naik kelas. Namun ketika saya tanya: Bagaimana dengan bapak sendiri? apakah perlu dicoaching?, kebanyakan menjawab: "Ah.... saya ndak perlu, anak buah saya yang butuh!"

2. Fear atau Takut
Takut apa? ada 2 takut yang berbahaya untuk bisnis:
a. Takut mengambil keputusan yang keliru. Ketakutan ini membuat pemimpin bisnis lebih sering menganalisa dan berargumen di balik meja dibandingkan memutuskan dengan cepat dan menganalisa hasilnya di lapangan. Istilah kerennya adalah Analysis Paralysis, atau lumpuh tidak mengambil tindakan apa-apa karena terlalu banyak analisa.
b. Takut kelihatan kalau salah, sehingga selalu menghindar untuk dievaluasi dan enggan untuk diberi feedback terhadap tindakan yang telah dilakukan. Ketakutan ini membuat para pengusaha dan pemimpin bisnis sulit meningkatkan kualitas pengambilan keputusannya, yang sering kali menjadi bencana di kemudian hari.

3. Terlalu kompeten secara teknis
Sebagai pemilik bisnis sebenarnya sah-sah saja untuk terampil di bidang yang anda geluti. Contoh kalau anda buka toko roti, sebaiknya anda paham seluk beluk roti, mesin-mesin pembuatan roti, berikut merek dan kualitasnya, sampai bahan-bahan pembuat roti yang anda gunakan. Namun jikalau anda menjadi "terlalu" kompeten, ini menjadi berbahaya. Kenapa demikian?
Bisnis membutuhkan keahlian yang sangat beragam, dari mulai sales, team building, system building, branding strategy, dan sebagainya. Jika seseorang menjadi sangat kompeten di satu sisi, biasanya sulit untuk diajak belajar hal-hal di luar bidang yang dikuasainya.
Mari kita gunakan contoh yang sama: Toko Roti. Jika anda pemilik toko roti tersebut dan lebih sering berkutat di dapur dibandingkan briefing dan membangun tim anda, atau lebih sering otak atik resep roti dibandingkan menciptakan sistem untuk meningkatkan pelayanan konsumen, kemungkinan besar anda terkena point ke-3 ini.

4. Control Freak
Ini kendala paling umum yang bisa dijumpai pada hampir semua pengusaha. Definisi Control Freak dalam bahasa Indonesia adalah: kecanduan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai dengan yang diinginkan, dan tidak boleh meleset sedikit pun.
Penekanannya terletak pada kata "kecanduan". Memastikan semua berjalan dengan benar adalah sifat yang baik di bisnis. Namun bila sudah kecanduan, maka seorang pemimpin akan sulit untuk percaya kepada anak buahnya sediri, bahkan sering tidak percaya sama sitem yang dibuatnya sendiri.
Seorang Control Freak hanya percaya pada satu orang, DIRI SENDIRI. Lambat laun pemimpin yang seperti ini akan ditinggal oleh best talents-nya dan akan berakhir mengerjakan semuanya sendiri. Alhasil, bisnis menjadi bantat dan tidak bisa berkembang. Bagaimana anda tahu jika anda seorang control freak? Ada indikator sederhana yang saya pakai selama ini: Jika bisnis anda ikut menurun performanya seiring dengan bertambahnya usia atau semakin turunnya daya juang/tenaga anda, maka kemungkinan besar anda seorang Control Freak.

5. Lack of Exposure
Yang terakhir adalah sikap atau sifat untuk bertahan terhadap sesuatu yang dulu benar namun sebenarnya di jaman sekarang sudah tidak relevan lagi. Ini biasanya terjadi pada bisnis-bisnis yang sudah berumur 30 tahun ke atas. Pemahaman-pemahaman itu seperti:
- Konsumen maunya yang murah saja, kalau mahal tidak mau beli.
- Anak buah itu pasti bekerja karena gaji, kalau gaji tempat lain lebih tinggi pasti resign.
- Hanya saudara yang bisa dipercaya, jadi walaupun saudara saya kurang kompeten tetap saya terima, yang penting bisa dipercaya. Daripada rekruit orang luar, pandai, tapi nanti malah 'maling'.
dan masih banyak lagi.

Pemahaman-pemahaman di atas sebenarnya tidak 100% salah. Ada benarnya juga dan di beberapa kasus malah bisa dibuktikan kebenarannya. Namun jaman sudah berubah, ada begitu banyak contoh bisnis di luar sana yang tidak lagi menggunakan prinsip-prinsip di atas, namun toh bisa sangat sukses. Nah, bagaimana supaya kita tidak terjebak di point no 5 ini? Sering-seringlah travelling dan expose diri anda terhadap kemajuan jaman, baik di industri anda maupun anda sendiri sebagai konsumen pada bisnis orang lain (industri lain).

Salam The NEXT Level!

* Coach Humphrey Rusli:
-    Pelatih bisnis dengan pengalaman International Marketing selama lebih dari 15 tahun.
-    Pemenang International Coach of The Year 2012 (Australia), 2013 (Beijing) dan 2014 (Jakarta).
-    Telah membantu kliennya meraih peningkatan profit dari 20% hingga 2000% melalui sesi-sesi coachingnya.

0 komentar:

Posting Komentar