Kamis, 12 November 2015

PROFESSIONALISME DALAM BISNIS - By: Coach Humphrey Rusli *

Apa bedanya antara merekrut seorang professional dan anggota tim biasa? Mengapa gaji professional lebih mahal? Apa kriteria anak buah yang sudah boleh dimasukkan ke kategori professional?
Ini pertanyaan-pertanyaan yang beberapa minggu lalu ditanyakan oleh salah satu klien kami di ActionCOACH BaraCoaching. Sebuah pertanyaan menarik yang sebetulnya cukup sederhana namun bisa menjadi barometer seberapa dalam pemahaman seseorang akan bisnis yang digelutinya.
Berikut jawaban saya:
1.    Seseorang yang disebut professional memiliki keahlian khusus dan bekerja atau mendedikasikan hidupnya untuk berkarya di bidang tertentu itu. Sedangkan anak buah yang belum professional cenderung memiliki keahlian standard namun mencakup lebih dari satu bidang.
Contoh: Professional Marketer berarti seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk belajar dan berkarya melalui keahlian memasarkan produk atau jasa. Keahlian inilah yang dijual kepada perusahaan yang merekrutnya. Tidak semua marketer adalah seorang professional, karena bisa saja orang yang ada di divisi marketing Anda tidak spesifik ahli di marketing namun diperbantukan karena dianggap "lumayan" dalam menjual.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Sudahkah Anda merekrut tim berdasarkan skill yang telah terukur atau masih cenderung yang penting "jujur" dan "rajin" semata?
2.    Seseorang yang professional memiliki track record positif yang konsisten di bidang sama dalam kurun waktu yang cukup signifikan. Sedangkan yang non professional tidak atau belum memiliki rekam jejak yang konsisten.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Sudahkah Anda melakukan background check yang cukup detail dengan 'Previous Employer' sebelum Anda merekrut pelamar kerja?
3.    Professional direkrut karena memiliki skill atau kemampuan yang secara specific dibutuhkan perusahaan. Oleh karenanya yang merekrut logikanya harus "kalah pandai" dalam bidang tersebut dibandingkan yang direkrut. Jadi kalau yang merekrut masih lebih pandai dari yang direkrut dalam bidang tertentu, hampir pasti bukan professional yang direkrut.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Sudahkah Anda lebih banyak bertanya dan minta solusi ke anak buah Anda, dan legawa mengakui Anda kalah pandai dalam bidang tersebut? Ataukah Anda masih ketagihan memberikan pengarahan dan "ngajarin" anak buah Anda?
4.    Professional diberi wewenang penuh dalam memutuskan hal-hal yang sesuai bidang yang dikuasainya. Namun professional juga diberi resiko cukup tinggi jika gagal mengeksekusi dengan baik. Dalam kata lain, jika anak buah yang direkrut masih sedikit-sedikit tanya atau minta ijin atau minta approval ke Anda sebagai pemilik bisnis, ini belum masuk kategori professional.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Sudahkah Anda membiarkan tim Anda berkreasi dalam batasan kemampuan mereka, ataukah Anda masih sedikit-sedikit intervensi dengan dalih kuatir mereka buat salah dan merugikan Anda?
5. Seorang professional secara rutin dan berkala meng-up-grade skill atau ketrampilannya dengan usaha dan biaya sendiri. Namun jika anak buah Anda tidak melakukan pengkinian ilmu secara rutin, atau bahkan menunggu di"sponsori" dulu oleh Anda sebagai pemilik bisnis, orang tersebut belum masuk ke kategori professional.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Sudahkah Anda memberikan waktu buat tim Anda untuk mengasah ilmu mereka dari waktu ke waktu? Ataukah Anda masih berprinsip waktu mereka sebaiknya 100% digunakan hanya untuk mencari uang buat perusahaan Anda?
6. Seorang professional tahu kapan harus mengundurkan diri dari sebuah perusahaan ketika dirinya merasa keahliannya tidak lagi dibutuhkan oleh perusahaan tersebut. Sedangkan non professional akan berusaha mempertahankan posisinya walaupun keahlian dirinya sudah tidak dibutuhkan perusahaan tersebut.
Pertanyaan untuk pemilik bisnis: Apakah Anda mempertahankan tim berdasarkan performa mereka  ataukah Anda mempertahankan berdasarkan pemikiran "sayang kalau lepas, anaknya baik dan mau berusaha, apalagi cari orang baik jaman sekarang susah!"

Nah, masih banyak perbedaan lainnya. Namun 6 poin di atas adalah yang paling dominan, yang seyogyanya dipahami oleh pemilik bisnis.
Pertanyaan bagi professional yang membaca artikel ini: Sudahkah Anda bersikap professional terhadap perusahaan yang merekrut Anda? Silahkan gunakan 6 paramater diatas untuk self-introspection!
Semoga bermanfaat. Salam The NEXT Level!

* Coach Humphrey Rusli:
- Coach of the Year 2014 (BEF Award Indonesia 2014);                                          
- Sales Coach of the Year 2012 se-Asia dan Australia;

- Associate Coach of the Year 2013 tingkat Internasional (44 negara).

0 komentar:

Poskan Komentar