Kamis, 04 Juni 2015

UKURAN S, M, L, Atau XL? - By: Coach Suwito Sumargo**

Bagi pria, mestinya cukup gampang dalam hal memilih baju, terutama dalam hal ukuran. Paling-paling hanya milih ukuran S-M-L-XL atau XXL. Kenyataannya tidak demikian.
Misalnya saya sendiri. Setiap kali saya membeli baju baru, yang pertama saya lakukan adalah memilih warna dan coraknya. Selain itu, saya juga sering membandingkan bahan kainnya, apakah enak dipakai dan tidak terasa panas di badan. Ketika bertanya ke beberapa teman pria, ternyata saya mendapatkan macam-macam jawaban. Beberapa teman menjawab dengan gampang: serahkan saja ke isteri masing-masing, mereka pasti lebih tahu apa yang cocok bagi suaminya.
Sebaliknya, satu-dua teman menjawab dengan lebih detail. Para pria ini mengeluhkan banyak hal, misalnya: ukuran S-M-L-XL satu perusahaan baju dengan yang lainnya ternyata tidak sama, tidak ada standarnya. Karena itu, mereka harus mencoba beberapa kali sebelum menemukan ukuran yang pas. Ini tentu menjengkelkan.
Saya pun teringat dengan pengalaman beberapa waktu yang lalu, ketika memilih baju di salah satu Departemen Store ternama. Saya sengaja hanya mendatangi sebuah merk yang sudah familiar, karena beberapa kali saya membeli baju dengan merk tersebut, ternyata ukurannya pas banget. Nah, kali ini saya terpaksa kecewa. Setelah memilih warna, corak dan bahan, saya pun meminta ukuran L ke SPG yang bertugas. Eeh...ternyata ukuran L terlalu kecil. Dan yang pas adalah XL, dengan konsekwensi panjang lengan tak sesuai.
Kali ini saya tidak ingin membahas ukuran baju yang pas buat saya. Tapi, bukankah seharusnya setiap pabrik pakaian memiliki standar ukuran S-M-L-XL yang sama? Bukankah itu standar yang berlaku secara internasional?
Anda mungkin tidak setuju dengan pendapat saya. Karena pengalaman menunjukkan kepada kita, bahwa ukuran standar pun tidak (pernah) sama antara satu pabrik dengan lainnya. Seolah-olah setiap pabrik berhak menentukan ukuran standar nya masing-masing. Benarkah demikian?
Andaikata pendapat diatas dianggap benar, yaitu setiap pabrik pakaian bisa menetapkan standar ukuran S-M-L-XL nya sendiri, bagaimana dengan kita sebagai konsumen? Bukankah itu bakal merepotkan kita?
Sebaliknya, mungkin ini justru merupakan peluang bagi pabrik atau produsen. Yaitu, apabila si produsen bisa konsisten mempertahankan standar ukurannya, bukankah mereka berpeluang mempertahankan konsumen nya, agar loyal kepada produknya? 
Jadi, andaikata ceritanya agak sedikit berbeda, yaitu: setelah memilih warna, corak dan jenis bahan, lalu saya langsung cocok dengan ukuran L (sesuai dengan ukuran yang biasa saya pakai sebelumnya), maka sangat mungkin saya akan menjadi pelanggan loyal merk kesukaan saya.
Proses merekrut pembeli saja sudah cukup memusingkan. Nah, kini saatnya kita memikirkan: bagaimana mempertahankan agar sang pembeli menjadi pelanggan dan loyal. Bila tidak dipikirkan secara matang, mungkin masalah standar ukuran pun bisa membuat pembeli menjadi tidak loyal.
Banyak produsen yang belum apa-apa sudah putus asa: toh konsumen tidak akan loyal-loyal banget. Mereka selalu punya pilihan: warna, corak dan bahan. Memang, masih sedikit produsen yang memikirkan segala pernik-pernik keinginan pelanggannya. Kebanyakan produsen hanya membuat produk ala kadarnya, yang penting laku terjual.
Mereka enggan bersusah payah hingga bisa mempertahankan pembeli menjadi pelanggan (loyal). Anda termasuk dalam kategori mana, produsen yang benar-benar serius mikiri keinginan dan harapan pelanggankah?


** Coach Suwito Sumargo: The Winner Supportive Coach Award & System Award 2014 (Business Excellence Forum Award 2014)

0 komentar:

Poskan Komentar