Kamis, 05 Maret 2015

Membangun Karir atau Membangun Aset? - Coach Humphrey Rusli

Membangun karir atau aset? Pertanyaan ini terkesan sangat simple dan bisa dijawab langsung oleh pemilik bisnis keluarga. Namun sebenarnya justru ini adalah pertanyaan kunci yang bisa membantu pemilik bisnis keluarga melanggengkan usaha mereka sampai lintas generasi. Sayangnya, pertanyaan ini jarang ditanyakan sehingga menimbulkan keruwetan yang sejatinya tidak perlu diributkan. Kok bisa? Mari kita telaah.
Bisnis keluarga pada umumnya beranggotakan para keluarga dekat, yang sama-sama menggeluti satu bidang usaha. Umumnya generasi yang lebih tua bermaksud meneruskan aset ini ke garis semendanya, yaitu garis keturunan langsung dari kakek ke anak, lalu ke cucu, dan seterusnya.
Biasanya juga yang generasi lebih muda mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi, baik di dalam atau luar negeri. Sepulangnya dari atau setamatnya masa sekolah anak, pilihan yang jelas pada umumnya adalah langsung ditarik untuk membantu bisnis keluarga.
Nah, di sini mulai muncul kerancuan yang kalau dibiarkan akan menjadi sumber pertengkaran tiada berkesudahan dan tidak jarang berakhir ke perpecahan keluarga itu dalam menjalankan usaha. Pertanyaan yang sering muncul di benak generasi yang lebih muda adalah: Saya direkrut untuk membangun karir saya di bisnis keluarga ini atau untuk membantu generasi sebelumnya membangun aset? Apa perbedaannya?
Membangun Karir: Ini adalah bentuk pengembangan diri atau self actualization dari seorang eksekutif. Untuk membangun karir ada syarat-syarat yang wajib ada, job desc yang jelas, penghasilan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan prestasi kerja, kejelasan wewenang, dan adanya reward and punishment yang jelas.
Jadi kalau si anak memiliki pendidikan S2 di bidang bisnis dan kemudian diposisikan sebagai sopir atau yang mengurus para sopir angkutan, sudah barang tentu ini merupakan career suicide bagi si anak itu. Tujuan utama dari membangun karir adalah penciptaan rekam jejak prestasi yang baik (sesuai minat dan bakat) dan mengumpulkan pendapatan sebesar-besarnya. Gengsi juga berperan besar dalam membangun karir.
Membangun Aset: Pemahaman membangun aset 180 derajat berseberangan dari membangun karir. Membangun bisnis (baca: aset) tidak membutuhkan kejelasan job desc yang absolut di awalnya bagi para anggota keluarga yang terlibat. Nantinya pasti harus ada kejelasan job desc, tapi ketika seorang anggota keluarga baru bergabung, tidak diperlukan kejelasan ini.
Mengapa? Karena membangun aset bertujuan untuk menciptakan passive income dengan seefektif dan seefisien mungkin. Jadi kalau lulusan S2 tersebut diatas ternyata cakap mengurus sopir-sopir dan sopir-sopir pun segan dan patuh terhadap anak tersebut, maka posisi dia boleh dikatakan lebih leverage (berdaya ungkit) dalam asset building sebagai pengurus sopir, walaupun latar belakangnya adalah Master di Bisnis.
Membangun aset juga tidak terlalu memperhatikan peningkatan pendapatan ataupun peningkatan jabatan bagi anggota keluarganya, karena yang menjadi nomor satu bukan pendapatan per bulannya, namun apakah mesin penghasil uang mereka bisa terus-menerus menghasilkan uang dalam jangka panjang atau tidak. Sifat paling dasar dari aset adalah bisa diwariskan, sedangkan karir tidak bisa diteruskan ke generasi penerusnya.
Nah, sayangnya jarang sekali topik diatas ini dibahas oleh generasi yang senior bersama-sama dengan generasi muda. Kesalahpahaman akan hal ini sungguh sering terjadi di bisnis-bisnis keluarga yang kami bantu.
Si anak merasa gaji kurang dan tidak bisa kelihatan bergengsi, sedangkan si ayah merasa si anak kurang ulet dan suka pilih-pilih dalam menjalankan suatu pekerjaan. Si anak merasa tidak jelas (dan tidak berani bertanya) tentang apakah dia akan diwarisi aset usaha ini atau hanya sekedar ‘membantu’ dan mendapatkan gaji.
Sedang si ayah merasa sudah pasti akan mewariskan usaha ini ke anak, dan tidak perlu dibahas terlalu detail di awal. Masalah ini bisa lebih rumit lagi kalau sudah ada beberapa anak, sepupu, menantu yang bergabung di satu usaha yang sama.
Bagaimana solusinya? Bicarakan dan putuskan dengan jelas antara generasi senior dan generasi junior, apakah para junior direkrut untuk membantu membangun aset (yang nantinya akan diwariskan ke mereka) atau mereka direkrut untuk membangun karir di usaha orang tuanya (yang nantinya bisa dipakai untuk membangun karir di perusahaan orang lain yang lebih tinggi kelasnya)?
Semoga Berguna!
Humphrey

0 komentar:

Poskan Komentar