Kamis, 12 Maret 2015

JANGAN JUAL SAMBALNYA, TAPI JUAL LAUKNYA! - By: Coach Humphrey Rusli

Di budaya kita Indonesia, terutama di tanah Jawa, makan nasi dengan condiment atau pelengkap semacam sambal sangatlah umum. Bahkan buat sebagian orang, makan belum terasa nikmat jika belum ada sambal.
Sambal sebenarnya bukan merupakan lauk utama, namun mengapa sering dicari? Bagi penggemarnya, sambal ini adalah penambah selera, mungkin bila tanpa sambal makanan lezat hanya akan disantap sebanyak 1 porsi saja. Namun bila dibumbui sambal (yang pedasnya menggigit) mungkin bisa 1,5 bahkan 2x porsi biasa. Jadi kesimpulannya sebenarnya mana yang lebih penting, lauknya atau sambalnya?
Tentu jawaban (pada umumnya) adalah: Yang penting adalah lauknya. Namun benarkah demikian?
Jika kita beruntung bisa menikmati sajian/lauk yang nikmat, mungkin kita tidak terlalu butuh sambal untuk membantu menyantap habis nasi beserta lauk tersebut. Namun bagaimana bila lauknya tidak sedap atau kurang sesuai selera kita? Sudah barang tentu kita ‘terpaksa’ harus menambahkan sambal sebanyak-banyaknya agar bisa mengkamuflase rasa lauk yang kurang sedap dengan pedasnya sambal tersebut. Bukankah demikian?
Atau sebaliknya, bagi yang mengaku doyan berat sambal, mungkinkah mereka membeli makanan yang isinya hanya nasi putih dan sambal saja, tanpa lauk apapun? Tentu tidak bukan? Susah saya membayangkan hal itu terjadi, betapapun gemar mereka akan sambal, mereka tetap membutuhkan lauk yang juga sama nikmatnya bukan?

Lalu apa Hubungannya Sambal-Lauk ini dengan Bisnis?
Dalam bisnis, hukum sambal-lauk ini juga sangat berlaku. Sambal di dalam bisnis adalah ‘discount’ yang diberikan oleh penjual ke konsumennya. Sambal (discount) ini sangat menggiurkan dan bahkan sering dijadikan satu-satunya cara untuk menarik perhatian dan merangsang konsumen membeli lebih atau membeli sekarang juga.
Ini sebenarnya sah-sah saja dalam bisnis. Namun harap diingat, bahwa konsumen anda sebenarnya membutuhkan lauknya terlebih dahulu sebelum sambal (discount)nya. Lauk di dunia bisnis adalah keunikan dan perbedaan kualitas, layanan dan sebagainya dibandingkan kompetitor sejenis.

Ingat rumus dari Hukum Sambal-Lauk ini:
1. Tidak ada orang yang hanya membutuhkan sambal (discount) nya semata. Mereka membutuhkan lauknya terlebih dahulu, yaitu keunikan dan perbedaan yang seharusnya menjadi sasaran utama yang dijual oleh produsen/penjual kepada pembeli.
2. Semakin buruk kualitas lauknya (buruk di kualitas atau tidak adanya pembeda yang jelas dibanding kompetitor) semakin pembeli membutuhkan sambal yang extra pedas (discount yang extra besar) untuk menutupi ‘rasa’ yang kurang sedap tersebut.
Ada 10 lauk yang digemari oleh konsumen pada umumnya:
1. Lauk "Quality" atau bahan baku/SDM yang berkualitas dari sebuah produk/ jasa.
2. Lauk "Speed of Service" atau kecepatan pelayanan yang signifikan dibandingkan kompetitor.
3. Lauk "Customer Service" atau pelayanan prima ke pelanggan.
4. Lauk "Reliability" atau bisa diandalkan.
5. Lauk "Consistency" atau kemampuan supplier untuk menjamin kesamaan service atau quality secara kontinue dan terus-menerus.
6. Lauk "Safety" atau keamanan.
7. Lauk "Back Up Service" atau pelayanan yang terpadu dan mudah diakses oleh pelanggan.
8. Lauk "Convenience" atau nyaman dan dilayani dengan sangat baik, cepat, serta tepat sasaran.
9. Lauk "Image" atau kebanggaan yang timbul pada konsumen ketika membeli produk/jasa itu.
10. Lauk "Guarantee" atau ketenangan pembeli karena sebagian besar resiko ditanggung oleh produsen/penjual.
Nah, kesimpulannya: juallah ‘lauk’nya dahulu sebelum memberikan ‘sambal’nya, niscaya konsumen anda akan semakin bergairah dan setia kapada anda.

Salam The Next Level

Humphrey Rusli

0 komentar:

Posting Komentar