Senin, 23 Maret 2015

BAGAIMANA MENJEMBATANI KELUARGA VS BISNIS?

Meskipun tidak sedikit bisnis keluarga yang berkembang besar dan lintas generasi, namun bukan fakta baru, jika bisnis keluarga punya masalah cukup kompleks. Itu kenapa hanya 1% yang bisa bertahan hingga generasi ke-4. Sebenarnya apa bisnis keluarga itu? Dan mengapa begitu rumit permasalahannya?
Hal ini dikupas dalam seminar bertajuk “Membangun Bisnis Keluarga yang Sukses dan Bahagia”, Kamis (12/03/15) lalu. Bertempat di Office BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali), acara ini menghadirkan Coach Suwito Sumargo selaku pembicara.
Dalam seminar yang khusus ditujukan untuk pemilik bisnis itu, Coach Suwito memaparkan, topik tentang keluarga dan bisnis sering tidak sejalan, karena tujuan dasar keduanya memang berbeda.
Family is about unconditional love. Sedangkan di sisi lain business is about profit. Kedua hal ini yang sering tidak sejalan dan menimbulkan konflik,” tutur the Winner Supportive Coach dalam BEF Award Indonesia 2014 ini.
Para peserta juga memberikan alasan mengapa pengelolaan bisnis keluarga begitu rumit. Ada yang mengemukakan, perbedaan generasi dan pemikiran yang menyebabkan hal itu terjadi. Ditambah dengan sistem pembagian ‘keuntungan’ yang sulit, sehingga generasi kedua dan seterusnya harus terus mengembangkan usaha, bila ingin mendapat hasil yang lebih besar.
Lalu bagaimana mengatasi perbedaan dan masalah dalam bisnis keluarga? Yang pertama adalah dengan komunikasi. Komunikasi yang baik merupakan kunci untuk membentuk sebuah bisnis keluarga yang sehat. Salah satu caranya bisa dengan mengadakan pertemuan keluarga (anggota yang terlibat dalam bisnis) secara reguler.
Selanjutnya dengan membangun sisi financial yang kokoh. Penting untuk mengetahui sumber keuangan dan merencanakannya dengan baik (budget and planning). Jika satu waktu kita harus berhutang, maka pertimbangkan dulu: untuk apa uangnya, dan berapa penghasilan yang diperoleh agar bisa membayar kembali hutang tersebut.
Ketiga, menemukan sekaligus mempersiapkan generasi penerus dalam bisnis keluarga. Ini merupakan salah satu tahapan yang krusial. Tentu saja krusial, karena tumbuh kembang, bahkan ‘mati-hidup’nya perusahaan keluarga bergantung kepada siapa yang menjadi pemimpin.
“Banyak hal dipertimbangkan dalam memilih future leader. Namun yang sering terjadi, generasi penerus dalam bisnis keluarga ‘dipaksa’ menjadi pemimpin, tanpa melihat dia sudah siap atau belum. Hal ini yang disebut nepotisme dan menyebabkan masalah dalam perusahaan,” papar pelatih bisnis sekaligus pemilik GBT Laras-Imbang ini.
Selain masalah kesiapan, seorang penerus (owner) juga dituntut bisa jadi good leader sekaligus good manajer.
Selain ketiga hal di atas, juga disebutkan poin governance. Poin ini bukan hanya bagaimana membuat aturan main, tapi juga memahami dan mendokumentasikan peraturan perusahaan.
“Dan lagi, butuh disiplin, komitmen dan ketahanan dalam menjalankannya,” tegas Coach Suwito.

0 komentar:

Posting Komentar