Sabtu, 21 Februari 2015

INI DIA SALAH KAPRAH YANG BISA HANCURKAN BISNIS KELUARGA

Sebuah penelitian mengungkap, dari keseluruhan perusahaan yang dimiliki keluarga, sebesar 95% gagal melewati tiga generasi. Itu kenapa sampai muncul idiom: “generasi pertama yang mendirikan, generasi kedua yang membangun, dan generasi ketiga yang merusak”.
Pernyataan ini seolah bilang, generasi penerus dalam bisnis keluarga sangat sulit untuk mengulang kejayaan atau kesuksesan generasi sebelumnya. Benarkah seperti itu? Lalu apa saja suka duka meneruskan bisnis keluarga? Kesalahan apa yang sering dibuat, sehingga bisnis keluarga sulit bertahan sampai beberapa generasi?
BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengulas semua problem ini dalam seminar bertajuk “Salah Kaprah dalam Pengelolaan Bisnis Keluarga”, Sabtu (07/02/15) dan “Suka Duka Meneruskan Bisnis Keluarga”, Kamis (12/02/15) lalu.
Seminar yang ditujukan khusus para pemilik bisnis ini salah satunya membicarakan tentang problem utama yang sering terjadi dalam menjalankan bisnis keluarga. Tidak jarang kemudian bisnis keluarga sulit berkembang, bahkan menjadi pemicu keretakan dalam rumah tangga.
Coach Humphrey Rusli, selaku pembicara seminar bertutur, selama ini banyak pengusaha dalam bisnis keluarga yang banyak melakukan kesalahan, yang mereka anggap benar atau memang sudah seharusnya begitu. Istilahnya salah kaprah. Salah kaprah yang umumnya terjadi, pertama berhubungan dengan status.
“Semua anggota keluarga apakah paham bahwa mereka dilibatkan bukan untuk membangun karir, tapi untuk membangun aset, sesuatu yang bisa diwariskan,” tutur Coach Humphrey.
Banyak pebisnis keluarga beranggapan, terlepas dari mumpuni atau tidak, anak atau anggota keluarga memang harus diberi jabatan tinggi, harus diberi kekuasaan lebih. Padahal, yang seharusnya diwariskan bukan jabatannya, namun aset perusahaan. Jadi tidak masalah meskipun mereka memulai dari jabatan rendah sekalipun.
Salah kaprah kedua adalah berhubungan dengan fungsi. Sebagian besar perusahaan keluarga masih belum bisa membedakan fungsi antara seorang manager dan leader.
“Selama ini, kebanyakan perusahaan keluarga masih mencampur adukkan fungsi manager dan leader. Padahal, tugas keduanya benar-benar berbeda. Seorang leader diantaranya bertugas menetapkan visi-misi perusahaan, memotivasi dan menginspirasi bawahannya. Sedangkan manager bertugas untuk memimpin organisasi, serta mengontrol dan memecahkan masalah yang terjadi pada perusahaan,” papar COO BARACoaching Surabaya ini.
 Lebih lanjut, pelatih bisnis dunia yang berkali-kali memenangkan ajang ‘coach’ bergengsi ini menambahkan, calon penerus sebaiknya dipersiapkan dengan jadi seorang manager terlebih dulu sebelum diarahkan jadi leader.
Salah kaprah lain yang ditengarai sebagai penghambat bisnis keluarga adalah poin competency or descendant. Reward seharusnya diberikan berdasarkan kompetensi dalam menjalankan pekerjaan. Namun, yang terjadi sebaliknya. Kompetensi tidak lagi dianggap sebagai parameter. Pemberian reward dalam family business seringkali diberikan karena pertimbangan ‘dia’ sebagai keturunan kita.
Seminar yang diadakan di Office BARACoaching ini, selain teori, juga lebih banyak diisi dengan diskusi aktif coach Humphrey dan peserta.
“Kami berharap, setelah pulang dari acara ini, para peserta mengerti bahasan mana yang krusial untuk dibicarakan dengan anggota keluarga terkait permasalahan bisnis keluarga. Selain itu juga paham perbedaan dari masing-masing pokok pikiran, mana yang benar membangun aset, atau hanya membangun karir,” jelas coach Humphrey di akhir acara.


1 komentar:

  1. bener juga, meskipun keluarga, profesionalisme adalah nomor satu. berikan posisi terhadap oang yang tepat

    BalasHapus