Kamis, 15 Januari 2015

RESOLUSI TAHUN BARU: MIMPI ATAU RENCANA - Coach Humphrey Rusli

Kita baru saja memasuki tahun baru 2015. Seperti layaknya di tahun-tahun sebelumnya, kita mengharapkan yang terbaik di setiap pergantian tahun. Harapan dibumbungkan di tahun yang baru.
Seiring dengan harapan itu dibentuklah sebuah rencana atau yang lebih sering disebut resolusi. Namun benarkah ini rencana yang bisa dilaksanakan atau jangan-jangan hanya sekedar mimpi yang tidak akan pernah terwujud?
Mari kita simak perbedaan-perbedaan mendasar antara mimpi dan rencana.
1. Mimpi jarang diumumkan, sedang rencana wajib diumumkan.
Letak pembeda mendasar pertama ini menyatakan bahwa setiap rencana wajib diceritakan kepada pihak-pihak yang berwenang dan berkepentingan untuk kita mewujudkan rencana tersebut. Sedangkan mimpi jarang melibatkan kepentingan orang lain, dan lebih sering hanya untuk konsumsi pribadi kita. Ini penyebab utama kita tidak memiliki rasa tanggung jawab dalam mencapai rencana tersebut.
2. Mimpi tidak mempunyai ‘harga’ sedangkan setiap rencana pasti ada ‘harga’ yang wajib kita ‘bayar’. Sebuah rencana yang solid wajib menjelaskan ketidaknyamanan atau konsekuensi yang harus kita penuhi/jalani demi hasil yang kita dambakan.
Contoh: bila kita ingin menaikkan omzet 20%, maka kita wajib mentraining team sales kita, kita juga wajib menekankan target kepada mereka dan terutama meluangkan waktu untuk membimbing team ini mencapai target. Ini adalah sedikit dari ‘harga’ yang anda wajib bayar demi sebuah peningkatan omzet 20%.
3. Mimpi tidak memiliki reward and punishment.
Sebuah rencana wajib memiliki reward bila mencapai dan resiko (punishment) bila tidak tercapai. Reward dari mimpi biasanya adalah tercapainya mimpi itu sendiri. Sedangkan reward sebuah rencana tidak sama dengan terlaksananya sebuah rencana  itu sendiri. Demikian juga dengan resiko (punishment) dari rencana tidak sama dengan tidak tercapainya sebuah rencana. Buatlah sebuah reward dan punishment yang objektif dari sebuah rencana.

Nah, apakah resolusi anda masih bernuansa ‘mimpi’ atau sudah sampai level ‘bisa dilaksanakan’?

Salam the NEXT Level.

0 komentar:

Posting Komentar