Senin, 19 Januari 2015

Bincang Bisnis - BANYAK STRATEGI MARKETING HANYA BUANG UANG

Dalam hubungannya dengan marketing, kata ‘low budget’ sering diartikan oleh pebisnis dengan biaya murah semata. Padahal, esensi dari ‘low budget high impact marketing’ adalah bagaimana taktik yang dilakukan agar hasil marketing lebih tinggi dari biaya yang Anda keluarkan.
Hal ini disampaikan oleh Coach Humphrey Rusli, selaku pembicara dalam Bincang Bisnis bertajuk “Low  Budget High Impact Marketing”, Sabtu (10/01/15) kemarin. Acara yang diadakan oleh BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) ini merupakan forum rutin yang diadakan khusus untuk para pemilik bisnis.
Di awal acara, coach Humphrey berdiskusi dengan para peserta mengapa banyak strategi marketing yang hanya berujung pada buang uang. Beberapa jawaban, diantaranya karena segmen pasar yang tidak jelas.
 “Selama ini para pemilik bisnis terlalu sibuk mendapatkan pangsa pasar yang seluas-luasnya, tanpa memperhatikan seberapa kemampuan mereka,” jelas coach Humphrey.
Lalu bagaimana caranya agar strategi marketing yang kita lakukan tidak sia-sia? Bagaimana agar kita bisa menekan biaya yang terbuang dan memperoleh hasil yang maksimal? Setidaknya, ada 5 hal yang mesti kita pahami dalam low budget high impact marketing.
Pertama adalah apapun yang akan kita jual, pahami dulu siapa pembeli kita. Tempatkan diri kita pada posisi mereka. Kenapa mereka mau membeli atau memakai produk dan jasa kita.
Seorang pengusaha kripik buah naga mengeluh, kenapa kripiknya tidak laku. Padahal diantara jajaran kripik yang lain, kripik ini tergolong lain daripada yang lain dan tentu saja menyehatkan.
“Namun, ketika didisplay di samping  buah naga (kebetulan waktu itu dia menitipkan kripiknya di salah satu swalayan besar), kripiknya jadi laku keras. Dari cerita ini, selain paham siapa target market, kita juga harus memperhatikan hal-hal termasuk tempat display,” lanjut senior coach BARACoaching Surabaya ini.
Poin ini didapat dengan membiasakan diri untuk terus disiplin berpikir dan mencari ide untuk tercapainya low budget high impact marketing. Lewat trial and error, lama kelamaan pemilik bisnis akan menemukan taktik atau strategi yang tepat dalam bisnisnya. Bukan hanya menemukan target pasar, namun juga bagaimana cara memasarkan produk atau jasanya dengan tepat.
Kedua, ‘memutar’ corong promosi ke dalam. Jika sebelumnya promosi lebih ditujukan untuk mendapat konsumen baru, maka sekarang terbalik, fokuslah pada pelanggan lama anda.
“Selama ini, pemilik bisnis tidak menyadari, merekrut konsumen baru, 6 sampai 10 kali lipat lebih sulit daripada mempertahankan konsumen lama. Biayanya juga lebih mahal dari maintenance pelanggan lama, atau bahkan yang sudah loyal.”
Jadi, ketika ada promosi atau informasi produk baru, maka usahakan untuk memberitahukan kepada pelanggan yang ada dalam lingkaran bisnis kita terlebih dulu.
Selanjutnya adalah be creative. Hampir sama dengan poin satu, berpikir kreatif bisa tercapai bila kita membiasakan diri untuk disiplin berpikir dan terus mencari cara atau strategi kreatif untuk mencapai tujuannya.
Keempat, networking. Memperkaya pengetahuan dan wawasan dengan bergaul dengan pemilik bisnis yang lain. Networking bisa memungkinkan kita untuk melihat sebuah masalah atau hal dari banyak sudut pandang. Jadi, sering-seringlah bergaul dan berdiskusi dengan pemilik bisnis yang lain, misal dalam sebuah komunitas atau forum bisnis.
Terakhir, memaksimalkan fungsi media promosi. Salah satunya brosur. Fungsi brosur sebenarnya adalah membuat ‘si pembaca’ atau konsumen jadi penasaran tentang apa yang kita informasikan.
“Sering saya lihat fungsi itu jadi hilang karena design tidak eye catching dan lay out atau tata letak yang ‘salah’. Kesalahan utama yang biasa dijumpai seperti penulisan nama usaha gede di atas, testimoni yang terlalu banyak, dan headline yang tidak menarik,” papar pelatih bisnis terbaik Indonesia ini.
Salah satu kunci dalam promosi adalah menciptakan motif agar bisa melakukan pendekatan dengan customer sehingga mereka percaya dengan kita. Contoh yang selama ini telah dilakukan oleh beberapa perusahaan besar, misal dengan melakukan pendekatan edukasi dan problem solving. 

0 komentar:

Poskan Komentar