Kamis, 22 Januari 2015

BEKERJA DENGAN ‘HATI’ - By : Coach Suwito

Begitu keluar dari bandara, saya langsung menuju taxi favorit saya. Setelah duduk, saya sebutkan nama sebuah hotel yang menjadi tujuan. Sembari menyodorkan selembar lima puluh ribuan, saya berkata: “Bapak tahu tempatnya kan?”
Si driver menjawab: “Ya pak, saya tahu tempatnya. Bapak ingin lewat tol saja, bukan?”
“Ya,” saya menjawab pendek dan langsung sibuk dengan gadget saya.
Beberapa menit kemudian, saya menegur si driver: “ Bapak bisa lebih cepat?”
Jawab si driver, “Bisa Pak, tapi kecepatan kita sekarang sudah sesuai dengan batas kecepatan maksimal di tol.”
Saya baru menyadari, ternyata kita sudah cukup cepat. Dan ada satu fakta menarik, ternyata driver ini patuh pada aturan (lalu lintas) di jalan tol. Saya pun akhirnya berbincang-bincang dengan si driver.
“Tuh, mobil-mobil lain pada ngebut,” kata saya.
“Maaf Pak, saya hanya diijinkan mengendarai sebatas (kecepatan) ini saja” jawabnya dengan sopan.
“Kan ndak ada yang tahu, bila bapak ngebut?” kata saya lagi.
Sambil ketawa ringan dia menjawab: “hehehee…Tuhan tahu lho, Pak.
Perbincangan kami akhirnya lebih mengarah ke pengalaman pribadinya sebagai seorang driver. Sehingga saya pun akhirnya tahu, si driver ini benar-benar seorang yang patuh pada aturan dan bukan seperti pengemudi pada umumnya yang hanya (pura-pura) patuh bila ada polisi saja.
Driver tadi bercerita, dia punya keyakinan, bila dia tidak memulai sebuah pelanggaran, maka dia akan terhindar dari kesulitan. Dan dengan mengemudi sesuai aturan, si driver merasa lebih tenang dan nyaman. Dengan demikian, dia bisa memberikan yang terbaik ke penumpang. Luar biasa.
Saya membayangkan, bagaimana seorang driver bisa mempunyai sikap seperti itu? Sebuah sikap yang membuat dia bisa bekerja dengan baik, tanpa perlu diawasi.
Saya jadi teringat pada cerita klien-klien saya, yang karyawannya cenderung hanya patuh ketika sedang ditunggui oleh sang bos. Fenomena ini menggejala dimana-mana, bukan hanya di Indonesia,  lho. Kebanyakan karyawan memang hanya bisa (atau terampil) bekerja saja. Dan mereka hanya bekerja sesuai perintah. Kebiasaan bekerja sesuai perintah ini, tidak akan bertahan lama. Selain bosan atau jenuh, karyawan akan cenderung kembali pada kebiasaan lama yang dia sukai.
Selama ini kita sering lebih fokus kepada result jangka pendek dan lupa menanamkan keyakinan (believe) dan nilai-nilai (values) yang lebih bertahan dalam jangka panjang. Keyakinan ini biasanya dimulai dengan rasa senang akan pekerjaan.
Sebagai bos (atasan), terlebih dulu kita perlu menumbuhkan rasa senang mereka dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Rasa senang akan pekerjaan, tentu tidak muncul secara otomatis.
Salah satu cara untuk merangsang adalah dengan menginduksi atau mempengaruhi mereka bahwa apa yang mereka kerjakan adalah sesuatu yang menyenangkan bahkan bermanfaat buat orang lain. Kita bisa memberikan cerita atau study kasus yang berhubungan, yang secara tidak langsung bisa membuat mereka ikut merasakan dan berpikir, daripada hanya sekedar teori.
Selanjutnya adalah memberi kesempatan kepada mereka untuk mengekspresikan nilai-nilai apa yang mereka dapat dari pekerjaan mereka. Semakin sering kita melakukannya, semakin mengingatkan dan menyadarkan, bahwa apa yang mereka lakukan tidak seberat dan membosankan seperti yang terlihat atau mereka alami.
Poin paling penting adalah melakukan kedua poin di atas secara berulang-ulang. Pengulangan secara terus-menerus akan mengubah sebuah keterpaksaan menjadi sebuah kebiasaan (yang menyenangkan).
Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda punya problem yang sama? Apa saja yang Anda lakukan untuk mengatasinya?
Share pengalaman Anda by email ke: suwito@baracoaching.com

0 komentar:

Poskan Komentar