business-forum

coaches

Kamis, 19 Juni 2014

Seminar: 7 Hidden Assets

"Menggali asset bisnis tersembunyi yang sering diabaikan atau dibiarkan begitu saja, padahal jika dioptimalkan bisa mendatangkan profit dalam bisnis anda."

Apa Saja Itu?

Ikuti Seminar dengan topik "7 Hidden Assets"
  • Hari : Sabtu
  • Tanggal : 28 Juni 2014
  • Pukul : 09.00 -12.00 WIB
  • Tempat : Office BARACoaching (ActionCOACH), Pakuwon Trade Center, The Teracce 03 - 05, Jl. Puncak Indah Lontar 2, Surabaya
Pendaftaran dan reservasi :
Phone : 031-7390666 (Ms. Erfina / Ms. Yulia)
Email : erfina@baracoaching.com
PIN : 2756CDEE

Rabu, 11 Juni 2014

Motivational Session - BERSIKAP POSITIF SEBAGAI ‘MAGNET’ LOYALITAS CUSTOMER


Bagi tim sales dan marketing, menjual merupakan hal yang wajib dan biasa dilakukan dalam pekerjaan sehari-hari. Lalu bagaimana dengan tim non sales? Apakah mereka juga bisa melakukan pendekatan, bahkan mendapatkan loyalitas customer, meskipun tanpa ‘menjual’?
Hal ini yang dikupas ActionCOACH dalam Motivational Session bertajuk “Bekerja tanpa Menjual”, Senin (02/06) lalu.
“Inti dari bekerja tanpa menjual bukan kita menarik customer dengan apa yang kita tawarkan, namun lebih pada sikap positif sehingga mereka menjadi respek dan kembali pada kita,” tegas Erfina Hakim selaku pembicara forum.
Forum berdurasi kurang lebih 2 jam ini, merupakan bentuk kerjasama BARACoaching (ActionCOACH East Java-Bali) dengan GBT Laras-Imbang. Bertempat di Office GBT Jemursari, forum ini dihadiri oleh tim manajemen (front liner) , kasir dari 7 cabang GBT seluruh Surabaya.
Ada beberapa syarat, agar kita menjadi pribadi handal yang bisa mendukung kita dalam bekerja tanpa harus ‘menjual’. Pertama adalah rasa percaya diri (confident).
“Rasa PD diperlukan saat kita berhadapan dengan customer. Bagaimana bisa menghadapi customer jika tidak ada rasa percaya diri yang mendukung komunikasi kita di depan mereka.”
Menurut Erfina, percaya diri yang bagus itu, percaya diri tanpa maksud tertentu. Dalam artian, bukan ingin mendapatkan apa yang dimau, tapi sebaliknya, bisa memberikan sesuatu dengan sikap yang kita tunjukkan. Bisa itu senyuman, kegembiraan, kesantunan, positif thinking dan masih banyak lagi.
“Jadi PD benar-benar alami terpancar dari diri kita, bukan dibuat-buat. Nah, dari situ customer akan melihat aura yang menjadi ‘magnet’ buat mereka,” lanjut Business Development Manager BARACoaching Surabaya ini.
Selain percaya diri, juga diperlukan mampu bekerja dalam sebuah teamwork.
“Ketika kita mampu bekerja dalam tim, berarti kita mampu bekerjasama dengan orang-orang dengan pola pikir dan pendapat yang berbeda. Hal ini tentu saja sedikit banyak sulit dilakukan. Itulah kenapa kecerdasan seseorang itu teruji ketika bisa bekerja dalam tim,” papar wanita yang sudah berpengalaman di bidang marketing selama 16 tahun ini.
“Dengan teamwork, kita jadi lebih bisa mengekspresikan diri. Marah atau emosi dalam bekerja  bukan larangan, namun setidaknya tidak akan menimbulkan kendala atau pengaruh negatif dalam bekerja. Tim akan memaklumi, mensupport dan segera mengembalikan energi positif kita ketika menghadapi customer,” tambah Erfina lagi.
Di samping percaya diri dan teamwork, poin lain adalah mengenali minat dan berpikir terbuka. Selama ini, orang akan melakukan action pada sesuatu yang dia minati saja. Padahal, faktanya banyak pembelajaran dan pengalaman bisa didapatkan di luar hal yang selama ini kita kerjakan.
Itu kenapa, mengenali minat juga harus dibarengi dengan sikap terbuka. Mau mencoba sesuatu yang baru, disertai dengan menambah wawasan kita, bisa dengan ‘surfing’ internet, banyak bergaul dan membaca, selalu update berita terbaru, dan masih banyak lagi.
“Dasar dari bekerja tanpa menjual, kita harus dapat feel dari pekerjaan kita terlebih dulu. Dengan begitu kita akan melakukan pekerjaan dengan senang, bahkan seperti tidak sedang bekerja. Pada akhirnya, akan menuntun kita untuk terus berkarya dan menghadapi konsumen,” kata wanita yang biasa disapa bu Fina ini.
“Tapi jangan salah lho, bekerja itu tidak selalu kita harus mencari zona nyaman dan tidak mau keluar dari situ. Dalam kaitannya dengan bekerja tanpa menjual, ada beberapa cara yang bisa membuat kita berkembang,”tambahnya.
Pertama adalah kontrol proses. Salah satu yang bisa dilakukan di sini, selalu melakukan pencatatan tentang apapun yang kita kerjakan. Baik itu hal apa saja yang akan dilakukan (agenda kerja), maupun segala sesuatu yang kita tahu dan sudah dikerjakan.
Dengan begitu, diharapkan kita bisa mudah melakukan langkah evaluate and adjust. Mengevaluasi dan membandingkan dengan apa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.
Terakhir, melakukan action. Dari apa yang sudah dicatat dan evaluasi, kita bisa melakukan action yang tepat.
“Saya punya tagline menarik tentang bekerja tanpa menjual. Berangkat tanpa beban, masalah tak jadi soal, pulang menyenangkan, karena target tetap menyenangkan,” tutup bu Fina di akhir acara.
Sementara itu, Maria Theresia Setiadi, selaku Corporate Secretary GBT Laras-Imbang mengaku puas dengan sesi motivasi yang diberikan.
“Kami cukup puas dengan training yang diberikan. Saya ingin, setelah acara ini para peserta bisa mengaplikasikan di lapangan, jadi tidak hanya sekedar dipahami secara teori saja. Ke depan, saya berharap ada program berkelanjutan, dan langsung diawasi oleh Bu Fina,” ungkap wanita yang akrab dipanggil Bu Theres ini.

Kamis, 05 Juni 2014

Training “BODY LANGUAGE” - UNGKAP SENI BAHASA TUBUH UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN


Selama ini, banyak orang belum sadar, bahwa bahasa tubuh (body language) merupakan bagian penting dalam komunikasi, yang bisa diaplikasikan dalam bisnis. Berdasar hal itu, BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan pelatihan bertajuk “Body Language”, Selasa (13/05/14).
Bertempat di kantor pusat BARACoaching, PTC Surabaya, pelatihan ini merupakan forum kerjasama BARACoaching dengan Toeng Market Surabaya.
“Kita sengaja memberikan tema body language, selain menyesuaikan dengan kebutuhan Toeng Market, alasan utama adalah kita ingin menghadirkan secara teknikal, sisi lain untuk memaksimalkan sales dan marketing,” tutur Erfina Hakim, selaku pembicara dalam pelatihan ini.
Ada beberapa fakta penting bahasa tubuh yang dipaparkan. Diantaranya, berdasarkan riset, dalam kaitannya dengan penyampaian komunikasi, bahasa tubuh memegang 55% kunci keberhasilan kita untuk mendapatkan respon dari lawan bicara.
Kedua, bahasa tubuh menggambarkan respon seseorang terhadap apa yang kita bicarakan.
“Kita bisa menyadari respon orang lain minimal 90 detik – 4 menit pertama, dengan melihat bahasa tubuhnya. Nah, dari situ para tenaga sales atau marketing bisa memilih dengan tepat, action yang akan dilakukan selanjutnya untuk menutup penjualan,” tegas wanita yang saat ini sebagai Head of Training Divison BARACoaching Surabaya.
Fakta ketiga, bahasa tubuh merupakan ekspresi yang tidak hanya berasal dari alam bawah sadar, tapi juga hasil latihan dari kepribadian atau karakter (baik ucapan dan tindakan).
Selain penjelasan secara teori, pelatihan ini tidak membosankan karena disertai dengan teknik-teknik bahasa tubuh dan juga sharing dari para peserta, yang terdiri dari jajaran managemen dan juga karyawan Toeng Market.
Erfina berharap, dengan pelatihan ini mereka bisa memahami pentingnya bahasa tubuh untuk lebih meyakinkan dalam transfer informasi kepada pelanggan.
“Selain itu, ke depan saya ingin tim Toeng Market bisa peka terhadap bahasa tubuh yang diberikan prospek/ pelanggan, sehingga lebih efektif memberikan layanan dan meningkatkan target penjualan,” kata wanita berlesung pipit ini di akhir acara.

Rabu, 04 Juni 2014

CEO POWERLUNCH - KHARISMA ITU SKILL, BUKAN BAWAAN LAHIR


Banyak orang berpendapat bahwa kharisma itu bawaan dari lahir, entah itu karena kelebihan dari segi fisik, maupun gelar kebangsawanan. Padahal, kharisma merupakan skill yang bisa dilatih. Ketidaktahuan ini yang menyebabkan para pemimpin bisnis enggan mempelajari kharisma, yang notabene berperan penting dalam dunia bisnis.
Hal itu yang disampaikan Humphrey Rusli, selaku pembicara dalam CEO PowerLunch bertajuk “Building Your Leadership Charisma”, Rabu (07 Mei ’14). Bertempat di Hotel Sheraton Surabaya, acara ini diselenggarakan oleh BARACOAching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali).
“Kami sengaja menghadirkan forum tentang kharisma, karena banyaknya mitos yang mengatakan bahwa kharisma itu bawaan lahir, entah itu disebabkan karena gelar kebangsawanan, kekayaan, maupun kecantikan dan kemolekan tubuh. Ditambah dengan sedikitnya forum yang membahas secara teknik, membuat para CEO semakin tidak paham, bahwa kharisma itu bisa dilatih. Itu sebabnya kenapa BARACoaching Surabaya mencoba mengambil benang merah, bagaimana agar pemimpin bisa meningkatkan kharisma, bahkan ketika awalnya tidak punya,” papar coach Humphrey, yang juga selaku COO BARACoaching Surabaya.
Lalu seberapa penting kharisma dalam kepemimpinan?
Disinggung tentang hal itu, coach Humphrey menjelaskan, selain untuk memiliki anak buah yang bertalenta sekaligus loyal dan berkaliber bagus, lebih lanjut kharisma yang dimiliki pemimpin, bisa meningkatkan profit dalam bisnis.
“Hal ini karena tim mau bekerja mensupport perusahaan dengan sedikit, atau bahkan tanpa pamrih,” tutur coach Humphrey.
Ada 3 aspek krusial dalam membentuk kharisma. Pertama adalah ketulusan (warmth). Bersikap terbuka dan menerima orang lain apa adanya, tanpa disertai buruk sangka atau negative thinking terhadap orang lain.
Kedua, adalah power atau kekuatan. Seseorang pada poin ini, selain memiliki kekuatan dalam hal intelektual, juga punya koneksi (networking) yang luas. Hal ini untuk memudahkan dalam hal problem solving atau ketika membantu orang lain menyelesaikan masalahnya.
Terakhir, presence (kehadiran). Poin ini memiliki pengertian, hadir sepenuhnya untuk orang lain, mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Jadi bersifat totally, tidak disela dengan pekerjaan lain.
“Jika ketiga hal tersebut bisa kita lakukan, maka bukan tidak mungkin kita akan menjadi pribadi yang kharismatik. Karena pada prinsipnya, yang bisa menilai kita kharismatik atau tidak adalah orang yang bicara dengan kita,” tegas pria yang meraih penghargaan sebagai Coach of The Year 2014 (Business Excellence Forum Award Indonesia 2014) ini.
Selain hal di atas, ada beberapa pokok materi yang disampaikan dalam forum rutin para CEO dan pemilik bisnis ini. Diantaranya, apa itu kharisma, perbedaan kharisma dengan wibawa, serta 6 taktik praktis yang bisa diterapkan langsung oleh peserta dan 10 sifat manusia yang menunjang kharisma itu.
Lebih lanjut, coach Humphrey berharap setelah mengikuti forum ini, para peserta (CEO) akan mampu berevolusi menjadi pemimpin yang efektif, lebih disegani dan profit lebih tinggi dengan loyalitas dan dukungan tim.