Kamis, 04 Desember 2014

PENYEBAB ‘GEGER’ DALAM BISNIS KELUARGA

Berbisnis dengan keluarga sendiri, rentan menimbulkan perpecahan. Kenapa bisa begitu? Apa saja yang harus dilakukan untuk mengatasinya? BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengupas hal ini dalam bincang bisnis bertajuk “Suksesi dan Regenerasi dalam Bisnis Keluarga”, Sabtu (22/11/14) lalu.
Dalam acara khusus untuk pemilik bisnis ini, Coach Suwito Sumargo sebagai pembicara menjelaskan, bisnis keluarga sebenarnya sudah ada sejak jaman Yunani. Ada juga pendapat yang mengatakan sudah ada sebelum revolusi industri. Seiring perkembangan jaman, bisnis keluarga merupakan bentuk bisnis yang paling banyak ada di Indonesia.
Permasalahan yang jamak terjadi dalam bisnis keluarga adalah rentan terjadi perselisihan antar anggota keluarga. Sehingga tidak heran, hanya sedikit yang bisa survive sampai generasi ke empat. Lainnya, gagal di 3 generasi sebelumnya.
“Kenapa sulit mengelola bisnis keluarga? Alasan pertama, banyak terjadi ‘geger’an, karena makin banyaknya yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Kedua, adanya nepotisme yang ngawur. Misal dalam hal penerimaan karyawan. Asal saudara atau kerabat, boleh masuk saja dan langsung menduduki jabatan atas,”papar coach Suwito.
Selain dua hal itu, pelatih bisnis yang sudah 30 tahun lebih berkecimpung dalam bisnis keluarga ini menambahkan, budaya bisnis keluarga biasanya berasal dari budaya atau tradisi yang ada dalam keluarga itu sendiri, itulah sebabnya sering terjadi kesenjangan antara generasi tua dan generasi muda. Generasi tua punya pendapat, para muda (atau calon penerus) belum punya cukup pengalaman, kurang disiplin, tidak punya passion dan kurang memahami budaya kerja keluarga.
“Sebaliknya, generasi muda berpikiran, generasi tua adalah orang-orang yang konservatif dan memaksakan kehendak. Beberapa pemimpin (generasi tua) dianggap enggan melepas kekuasaan dan memberi kesempatan pada yang muda untuk maju,” lanjutnya.
Untuk mengatasi perselisihan dalam bisnis keluarga, ada beberapa hal disimpulkan dari forum ini. Pertama, menyiapkan calon pemimpin (suksesor) dari awal. Seringkali keluarga kesulitan mencari pengganti yang benar-benar pas untuk melanjutkan. Selain pendidikan yang tinggi, bekali dia dengan bekal pengalaman kerja nyata. Contohnya dengan mengambil waktu untuk magang atau kerja di bisnis lain.
Kedua, bekerja bersama-sama. Selain membedakan hak dan kewajiban masing-masing, poin yang penting dilakukan adalah intens komunikasi.
“Meeting keluarga secara rutin penting dilakukan, komunikasi merupakan kunci dalam keharmonisan bisnis keluarga,’ tegas the Winner Supportive Coach and System Award 2014 ini.
Selain memberikan contoh dan pengalaman nyata problem bisnis keluarga sekaligus solusinya, dalam bincang bisnis ini coach Suwito juga berdiskusi aktif dengan para peserta terkait problem dalam bisnis keluarga mereka. 

0 komentar:

Posting Komentar