Kamis, 04 Desember 2014

JOSHUA BELL STORY - By: Coach Ruaniwati

Seorang pemain biola terkenal, Joshua Bell bersama dengan surat kabar Washington Post melakukan eksperimen untuk mengetahui persepsi orang dengan cara tampil di stasiun kereta bawah tanah di Washington. Waktu itu, dia memainkan 6 lagu gubahan karya Bach selama 45 menit pada jam tersibuk stasiun.
Hanya 6 orang saja yang berhenti dan mendengar permainannya sejenak dan total hari itu ada 20 orang yang memberi tips yang berjumlah 32 dolar. Padahal sehari sebelumnya, dia tampil di Boston dengan tiket ludes terjual dengan rata-rata tiket seharga 100 dolar.
Yang mengejutkan, tidak ada orang yang mengenali Joshua Bell di stasiun pagi itu. Joshua adalah salah satu pemusik terbaik di dunia dan pemenang Grammy Award, memainkan gubahan lagu Bach dengan biola senilai 3,5 juta dolar waktu itu.
Apa pelajaran yang bisa kita dapatkan dari cerita ini?
Andai saja, kejadian di pagi itu diberitakan atau dipromosikan, kejadiannya akan jauh berbeda, saya membayangkan para fans Joshua Bell bakal datang nonton. 
Apa yang salah disini?
Tidak ada orang yang tahu bahwa Joshua akan manggung pagi itu. Tidak ada orang lewat di situ yang mengenali siapa dia. Tidak ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa yang manggung itu pemusik biola paling top di dunia.
Relevan dengan cerita di atas, ternyata jika salah tempat,  seciamik apapun perusahaan/ produk/ layanan kita, tidak ada yang tertarik.
Kualitas ternyata jika ditaruh tidak pada tempatnya tidak akan menimbulkan dampak apa-apa. Jika salah tempat sekalipun kalau tidak di woro-woro juga tidak berdampak banyak.
Dari beberapa diskusi dengan pebisnis, saya jadi sadar bahwa terkadang kita tidak menentukan dulu dimana, kapan dan dengan cara apa kita mau bermain.
Masih mau main dengan cara ini? 

0 komentar:

Poskan Komentar