Jumat, 12 Desember 2014

BRANDING, ANTARA JANJI DAN ‘OBAT’ BUAT KONSUMEN

Banyak pemilik bisnis yang selama ini hanya mengartikan branding sebagai promise. Janji kepada para konsumen untuk memberikan sesuatu yang indah atau menyenangkan. Itulah sebabnya, mereka jadi terlalu memusingkan ‘how good we are’ tanpa menemukan atau mengobati apa sebenarnya ‘sakit’ konsumen.
Hal ini disampaikan coach Humphrey Rusli, selaku pembicara dalam forum bisnis bertajuk “Cara Cerdas Branding”, Sabtu (06/12/14) lalu. Acara yang diadakan BARACoaching (actionCOACH East Java-Bali) ini bertempat di Ballroom Las Vegas, Office BARACoaching, PTC Surabaya.
Dalam forum reguler yang ditujukan khusus bagi para pemilik bisnis ini, coach Humphrey memaparkan apa tujuan utama branding serta apa saja alasan yang menyebabkan mengapa proses branding dianggap sulit.
Tujuan utama branding sebenarnya adalah untuk pencitraan. Bagaimana membentuk persepsi positif atau bagus pada konsumen, tanpa harus mengatakan “percayalah” atau “kita ini lho bagus”.
“Selama ini branding dianggap sulit. Selain karena tidak paham pasarnya, banyak pemilik bisnis sudah terbiasa mengartikan branding denganpromise’ untuk menciptakan sesuatu yang indah atau menyenangkan. Kebanyakan pengusaha hanya pusing menunjukkan ‘how good we are’, tanpa menemukan atau mengobati apa sakitnya konsumen. Padahal, branding jadi powerful ketika kita mengedepankan ‘sakit’nya di awal, sekaligus kita yang berikan solusinya,” tutur pelatih bisnis asli Surabaya ini.
Dalam sebuah sesi coaching, seorang pengusaha mobil second menanyakan, bagaimana cara menjual mobil second yang ada ‘cacat’nya kepada customer. Apa ditutupi atau justru diinfokan kepada pembeli?
“Jika ditutupi, takutnya konsumen jadi gak percaya lagi sama kita. Tapi apa gak tambah merugikan kalau diberitahukan jeleknya?” tanya pengusaha itu serba salah.
 Menanggapi masalah tersebut, the best coach Indonesia 2014 ini menimpali, bahwa menginformasikan kejelekan produk kita, bukan berarti itu akan membuat persepsi konsumen ikut jelek.
“Semua itu tergantung bagaimana kita menyampaikannya. Misal kita tunjukkan dulu 10 kejelekannya. Nah, sebagai kelanjutannya kita teruskan dengan 100 kelebihan produk itu misalnya, agar produk yang kita tawarkan punya nilai plus yang bisa juga dihandalkan selain sisi buruknya. Dengan begini, selain konsumen akan lebih percaya pada kita, mereka juga akan mempertimbangkan membeli atau memakainya setelah mengetahui sejumlah kelebihan yang anda berikan sebelumnya,” papar pelatih bisnis senior ini panjang lebar.
Selain itu, berikan emotional guarantee atau garansi emosional pada konsumen anda. Dalam artian, apa yang akan anda ceritakan atau sharekan sekarang, yang nantinya membuat konsumen tahu jika produk atau jasa anda bagus, bahkan sebelum mereka membeli atau menggunakannya.
Seperti yang sudah dilakukan oleh salah satu perusahaan air minum kemasan yang cukup terkenal di Indonesia. Perusahaan ini mempromosikan atau meng’gembor-gembor’kan produknya telah disaring sebanyak beberapa kali, sehingga persepsi yang muncul di pikiran konsumen adalah air minum merk perusahaan ini adalah air minum yang jernih dan bersih.
Nah, apa yang sudah anda lakukan pada bisnis anda, untuk menciptakan persepsi positif konsumen terhadap produk atau jasa yang anda keluarkan?


0 komentar:

Posting Komentar