Senin, 13 Oktober 2014

ANAK SEBAGAI KARYAWAN? MENGAPA TIDAK? (Coach Suwito Sumargo**)

Suatu saat saya bertanya kepada pak Robert, seorang pengusaha: "Pak Robert, bolehkah saya tahu, mengapa Anda melibatkan istri dalam bisnis?" Dia menjawab: "Ini sudah komitmen kami. Sejak pacaran kami sudah sepakat untuk nantinya bersama-sama berkecimpung dalam bisnis. Saya tahu, istri saya, Listya, punya keunggulan dalam hal finance dan saya lebih mahir di bidang sales. Lagipula, usaha ini toh akan menjadi milik kami berdua."
Saya melanjutkan, "Oo...kalau begitu, apakah suatu saat nanti Anda berdua juga sepakat untuk melibatkan anak-anak dalam bisnis ini?" Saya pikir, pak Robert akan menjawab: "Ya."
Ternyata pak Robert menjawab dengan tegas, "Tidak. Anak-anak belum tentu kami libatkan dalam bisnis ini."
Saya pun mengangguk, tanda paham akan maksudnya.
Tiba-tiba, bu Listya yang duduk disampingnya berkata, "Nah, untuk urusan ini, sebetulnya kami belum sepakat. Saya lebih suka bila anak-anak dilibatkan sejak dini, supaya mereka ikut merasakan dan mulai belajar bisnis. Tapi suami saya lebih suka bila anak-anak sekolah dulu setinggi-tingginya."
Sore itu, kami bertiga terlibat dalam perbincangan hangat: Bisakah anak menjadi karyawan kita?
Bila ditanya seperti itu, kita (orang tua) mungkin akan menjawab dengan tegas: "Tidak!" Jawaban seperti ini mungkin didasari oleh pengalaman para orang tua yang merasakan pahit getirnya merintis usaha. Mereka tidak kepingin anak-anaknya terjerumus dalam kesulitan yang serupa. Maka orang tua pun mulai merevisi angan-angannya dan menanamkan paham yang baru: Jadi pegawai saja, karena lebih enak dan tidak pusing.
Sebaliknya, cukup banyak orang tua yang justru menjawab dengan antusias: "Ya, tentu saja mereka harus terlibat dalam bisnis." Inilah tipe orang tua yang berharap usahanya dilanjutkan oleh anak-anaknya. Orang tua seperti ini mungkin akan tetap memberi kesempatan anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Tapi, cepat atau lambat anak-anak ini akan dilibatkan dalam bisnis.
Pertanyaan selanjutnya: Apakah dalam merekrut anak-anak (atau anggota keluarga lain), mereka tetap harus mengikuti alur proses seleksi seperti karyawan lain pada umumnya?
Dan apakah anak-anak (atau anggota keluarga lain) yang bekerja di perusahaan milik keluarga, berhak mendapat privilege (perlakuan istimewa), karena statusnya itu?

Dari berbagai percakapan dengan teman-teman sesama pengusaha, saya menangkap beberapa jawaban:
·      Anak-anak tidak usah mengikuti proses seleksi, karena orang tua sudah tahu karakter dan keunggulan setiap anaknya. Mereka boleh melenggang, langsung masuk ke posisi atau jabatan tertentu.
·      Anak-anak harus mengikuti proses seleksi, sama seperti karyawan yang lain. Anak-anak ini harus tunduk dan patuh pada peraturan perusahaan. Tidak ada perlakuan istimewa, sebelum anak-anak ini menunjukkan kinerja terbaiknya, bahkan harus lebih baik dibandingkan dengan karyawan yang lebih senior sekalipun.
·      Anak-anak dipastikan mendapatkan privilege, karena perusahaan ini memang didirikan untuk mereka. Ngapain anak-anak harus mengalami yang sulit-sulit? Itu hanya akan menghambat perkembangan anak-anak ini. Padahal, merekalah penerus usaha kita.
·      Anak-anak harus ikut proses seleksi yang dilakukan oleh pihak luar (yang kompeten dan netral). Dan tidak perlu mendapatkan privilege, karena dalam perusahaan hanya ada satu sikap: be profesional.
·      Dan masih banyak jawaban lain.
Setiap jawaban, tentu punya konsekuensi sendiri. Perusahaan keluarga memang unik, terutama bila keterlibatan keluarga di perusahaan itu tinggi sekali.
Nah, yang manakah jawaban Anda dan mengapa? Jika Anda di dalam bisnis keluarga sekarang, apakah arah perusahaan menuju yang diangankan atau berubah?
Share your problem or (success) story with coach Suwito!

(**Coach Suwito Sumargo adalah seorang pelatih bisnis Internasional yang sudah 30 tahun lebih membangun bisnis keluarga menjadi franchise yang sukses. Prestasi beliau diantaranya sebagai finalis Rookie Coach of the Year 2013, dan The Winner Supportive Coach & System Award Indonesia 2014)

0 komentar:

Poskan Komentar