Senin, 15 September 2014

BISAKAH KITA MENGUBAH PERILAKU SESEORANG


Hampir mustahil, demikian selalu jawaban orang yang kita tanyai seperti diatas. Sebenarnya, mengubah perilaku seseorang itu bukan hal mustahil. Hanya saja, mengubah perilaku seseorang itu memang tidak mudah.
Tanpa bantuan weker atau alarm, saya selalu terbangun pada jam 5.30 pagi. Ini terjadi setiap hari, Senin hingga Minggu. Entah itu hari kerja maupun hari libur. Ini adalah kebiasaan saya. Apakah kebiasaan bangun pagi saya ini bisa dirubah?
Tentu saja bisa. Bagaimana caranya?
Agar saya bisa bangun lebih pagi atau lebih siang, saya butuh ‘sesuatu’ sebagai target atau pengingat. Misalnya, ketika saya tinggal di Jakarta untuk sementara waktu, maka saya tidak perlu bangun jam 5.30. Setelah memikirkan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk bangun jam 7.00, karena toh saya baru berangkat kerja jam 8.00.
Untuk mengubah kebiasaan bangun jam 5.30 menjadi jam 7.00, saya menggunakan weker atau alarm yang berbunyi pada jam 6.00 dan sebelum tidur saya menggumamkan kata-kata:”Besok bangun jam 6.00”, berulang kali. Ini saya lakukan selama 1 minggu atau hingga saya terbangun dengan sendirinya meskipun pada hari ke delapan weker sudah tidak saya fungsikan.
Kemudian saya mengubah setelan weker menjadi jam 6.30 dan sebelum tidur saya menggumamkan kata-kata: ”Besok bangun jam 6.30”, berulang kali. Setelah 1 minggu, saya pun berhasil mengubah kebiasaan saya, menjadi terbangun secara otomatis pada jam 6.30. Demikian saya lakukan (secara bertahap) hingga saya bisa terbangun dengan sendirinya pada jam 7.00.
Apa yang bisa kita pelajari dari cerita diatas?
Kebiasaan seseorang bisa dirubah, tapi perlu alat bantu (dalam cerita diatas: weker) dan perubahan ini sebaiknya dilakukan secara bertahap. Perubahan perilaku juga tidak bisa dilakukan secara mendadak atau besar-besaran. Orang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan. Dan, semakin besar atau mencolok perubahan yang dialami, maka penolakan pun akan semakin kuat. Perubahan secara gradual akan lebih bisa diterima.
Hal penting lainnya adalah: Komitmen dan Disiplin. Komitmen dimulai dengan kesungguhan kita untuk mau berubah. Dan disiplin akan terbentuk kemudian, bila kita memang sungguh ingin memiliki kebiasaan baru.
Perilaku seseorang hanya bisa berubah bila yang bersangkutan memang sungguh-sungguh mau berubah. Jadi harus punya komitmen atau niat yang kuat. Disinilah masalahnya! Orang enggan mengubah perilaku, terutama karena dia atau mereka sudah atau sedang berada di zona nyaman. Mereka hanya akan berubah, bila mereka menemukan (jaminan) adanya zona nyaman yang baru. Dengan kata lain, mereka menginginkan reward, sebagai iming-iming agar mereka mau berubah .
Perilaku yang buruk seringkali terjadi sebagai akibat perlakuan-perlakuan yang dialami sebelumnya. Sering terlambat masuk kerja, mungkin hanya akibat dari rangkaian kejadian sepanjang pagi hari.
Seorang perempuan mengaku sulit hadir tepat waktu di tempat kerja, karena ternyata dia tidak bisa mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan ke-rumahtangga-an yang harus dilakukannya sendiri, setiap pagi. Setelah digali lebih dalam, perempuan yang cenderung perfeksionis ini, selalu tidak puas bila pekerjaan-pekerjaan di rumah dilakukan oleh orang lain.
Agar dia bisa berubah, maka dilakukan pemilahan: pekerjaan mana saja yang dianggap paling kurang penting. Kemudian, dia memilih siapa-siapa yang dipercaya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Ada yang dikerjakan ibunya, ada yang dikerjakan anaknya dan ada pula yang dikerjakan suaminya. Semua berusaha ‘belajar’ sesuai dengan arahan si perempuan ini. Selang sebulan, si perempuan sudah bisa hadir selalu tepat waktu.
Perempuan ini mau berubah, setelah dia meyakini bahwa bila semua orang di rumah bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan ke-rumahtangga-an dengan baik, maka dia akan menjadi perempuan yang terpuji dan bijak.
Dalam dunia bisnis, Anda pun juga bisa melakukannya: mengubah perilaku buruk diri sendiri dan orang lain (misal: karyawan Anda). Lalu mana yang lebih penting menurut Anda, mengubah perilaku diri sendiri atau orang lain? 

0 komentar:

Posting Komentar