Rabu, 24 September 2014

BAGAIMANA BILA PARTNER BISNIS ANDA MENYEBALKAN? (Memilih Partner Bisnis yang Cocok)

Coach Suwito Sumargo - The Most Supportive & System Coach Award 2014 (BEF Indonesia 2014)
Tono mengajak Danny untuk menjadi partner di bisnis yang sedang dirintisnya. Danny sudah berteman dengan Tono selama lebih dari dua dekade. Suatu ketika mereka bertemu dan inilah (sekilas) percakapan mereka.
Danny   : “Gimana nanti pembagian sahamnya?”
Tono     : “Gampanglah bisa diatur, yang penting kita jalan dulu.”
Danny   : “Terus kapan kita mulai?”
Tono     : “Gampang kalau uang investornya udah cair.”
Bila Anda adalah Danny, apakah akan melanjutkan kerjasama ini?
Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam memilih partner bisnis.

Karakter
Beberapa orang/ pengusaha memang punya gaya seperti Tono, yang mudah mengatakan: “gampang”. Bagi Tono, tidak ada persoalan yang terlalu sulit untuk dipecahkan. Ada dua kemungkinan melihat seseorang dengan ciri seperti itu. Dia terbiasa menggampangkan atau menyepelekan masalah. Atau mungkin dia adalah seorang jenius dan selalu optimis bisa menyelesaikan masalah (apapun).
Dalam cerita di atas, Danny yang sudah lama mengenal Tono, mungkin sudah paham karakter atau ciri-cirinya. Namun, bagi Anda yang tidak memahami, Anda bisa terkaget-kaget.
Perubahan Tono bisa terjadi dengan cepat, sementara Anda masih mikir-mikir. Bila Anda tidak betul-betul memahami karakter orang seperti Tono, sebaiknya Anda tidak bekerjasama dengan orang seperti ini.

Komunikasi
Komunikasi adalah kunci keberhasilan berhubungan dengan orang lain. Itu kenapa, komunikasikan segala sesuatu dengan jernih dan mudah dipahami. Sediakan waktu setiap hari dengan partner Anda, untuk mengevaluasi pekerjaan atau sekedar sharing.

Keputusan yang Berbeda
Suatu saat, seorang karyawan membuat kesalahan fatal. Partner bisnis Anda menginginkan agar si karyawan di-PHK seketika. Sebaliknya, Anda cenderung memberi kesempatan si karyawan untuk memperbaiki kesalahannya dan tidak serta merta memecatnya.
Perbedaan seperti ini bisa menimbulkan rasa tidak enak. Apalagi bila Anda tidak bisa memutuskan sendiri dan harus senantiasa mempertimbangkan pendapat partner bisnis Anda. Perbedaan pendapat seperti ini tidak pernah Anda alami sebelumnya. Celakanya, bila hal seperti ini terjadi saat kerjasama sudah berjalan, maka akan sulit bagi Anda untuk melangkah mundur.
Cara seseorang bertindak atau memutuskan sesuatu, dipengaruhi oleh pandangan hidup dan keyakinannya. Sebelum Anda memilih seseorang sebagai partner bisnis, ada baiknya Anda kenali secara mendalam pandangan hidup dan keyakinannya, yang tercermin dari tindakan dan cara pengambilan keputusannya.

Kompetensi atau Keahlian
Bekerjasama dengan partner yang punya kompetensi/ keahlian. Selain kompetensi atau skill sesuai dengan bisnis yang dikelola, pilihlah partner yang punya skill yang bisa menutupi kelemahan atau kekurangan Anda. Misal Anda ingin membuka toko aksesoris, namun tidak tahu seperti apa barang yang mesti didisplay, atau dimana mendapatkan aksesorisnya, maka Anda bisa memilih partner bisnis yang menguasai hal itu.
Selain punya relasi dan klien usaha banyak, partner bisnis yang berkompeten memungkinkan Anda bisa berkreativitas secara maksimal untuk memajukan bisnis agar bisa diterima pasar.

Pembagian Tugas, Tanggung Jawab, Kewajiban dan Hak
Bisnis itu ibarat kapal. Bagaimana jika dalam 1 kapal ada 2 nahkoda? Untuk menghindari perpecahan, ketika Anda mulai membangun bisnis dengan partner, tuliskan rules of the game yang jelas. Seperti apa pembagian tugas, tanggung jawab, hak dan kewajiban masing-masing dalam kerja.

Pisahkan Harta Pribadi dari Harta Perusahaan

  • ·  Pisahkan rekening pribadi dan rekening bisnis. Jadi usahakan minimal punya 2 rekening yang berbeda. Pun dengan partner bisnis Anda.
  • ·         Pastikan Anda dan juga partner menerima gaji, layaknya karyawan. Pergunakan gaji tersebut untuk keperluan pribadi. Jangan sampai mencampur adukkan uang perusahaan untuk keperluan pribadi.
  • ·         Hindari sebisa mungkin penggunaan aset pribadi. Contohnya, perusahaan menggunakan kendaraan pribadi Anda atau partner untuk urusan perusahaan. Maka harus ada penghitungan secara profesional, misal dihitung sebagai sewa yang dibayar dengan uang perusahaan.

Jika Partner Bisnis Adalah Pasangan Hidup

  • ·        Sebisa mungkin, bersikaplah obyektif terhadap pasangan Anda. Jika terdapat perbedaan pendapat dalam urusan bisnis, jangan sampai mengganggu hubungan personal dalam keluarga. Begitupun sebaliknya. Jadi, ketika Anda memutuskan untuk menjadikan pasangan hidup sebagai partner bisnis, maka Anda juga harus siap untuk bersikap profesional, dengan memisahkan antara urusan bisnis dan keluarga (pribadi).
  • ·        Pemisahan aset bisnis dengan aset pribadi atau aset keluarga sejak awal. Usahakan memisahkan rekening pribadi dan bisnis. Selain itu, jangan pernah mencampur-adukkan keuangan perusahaan dengan urusan pribadi.

Apakah partner Anda adalah pasangan bisnis yang terbaik?
Lalu bagaimana jika masalah bisnis sudah sering (terlanjur) berujung pada masalah keluarga?

Share your problem or (success) story with our coach!
Facebook : fb.me/actioncoachsby

Dapatkan solusinya, langsung dari para pelatih bisnis Internasional!

0 komentar:

Posting Komentar