Senin, 25 Agustus 2014

FILOSOFI KEPEMIMPINAN MASA KINI DALAM BUDAYA KUNO WAYANG JAWA (Part I)


Maraknya film Mahabaratha yang sekarang tayang di salah satu TV swasta mengingatkan saya tentang keberadaan wayang Jawa. Meskipun berasal dari negeri sendiri, cerita pewayangan Jawa sedikit banyak juga diadopsi dari kisah dewa-dewa dalam agama Hindu, yang berasal dari India. Seperti Mahabaratha yang bercerita tentang perselisihan Pandawa-Kurawa, serta Ramayana yang bercerita tentang kisah cinta Rama (perwujudan Dewa Wisnu) dan Shinta (Dewi Laksmi).
Wayang sebagai salah satu warisan budaya, dikenal sebagai bentuk budaya adiluhung. Artinya, budaya yang mempunyai nilai-nilai luhur. Cerita-cerita yang disampaikan selalu mengajarkan pesan moral, seperti empati, kejujuran, bijaksana, tanggung jawab, keadilan, dan budi pekerti yang baik.
Meskipun seiring perkembangan zaman, budaya wayang Jawa sudah semakin tergeser, namun tak dapat dipungkiri, banyak nilai-nilai filosofi yang bisa diambil dan diimplementasikan dalam kehidupan sekarang. Salah satunya dalam dunia bisnis.
Seorang pemimpin bisnis, hendaknya bukan hanya memahami kompetensi bisnis yang dijalankan. Lebih jauh, juga menerapkan nilai-nilai moral, karena bisnis bukan hanya tentang bagaimana dia menjalankan bisnisnya, tapi juga bagaimana dia berhubungan dengan orang lain untuk kesuksesannya.
Banyak sekali teladan kepemimpinan yang bisa dilihat dalam budaya kuno wayang Jawa. Pembelajaran tentang bagaimana seorang pemimpin harus bersikap dan bertindak. Baik dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, serta terhadap penciptanya.
Diantaranya cerita tentang lakon Yudistira (Puntadewa), si sulung Pandawa yang terkenal akan kebijaksanaan dan budi pekertinya yang luhur. Pada suatu hari Puntadewa memerintahkan Sadewa untuk mengambil air di sungai. Setelah menunggu lama, Sadewa tidak kunjung datang, lalu diutuslah Nakula, hal yang sama kembali terjadi, Nakula pun tak kembali. Lalu Arjuna dan akhirnya Bima. Semuanya tak ada yang kembali.
Akhirnya menyusullah Puntadewa. Sesampainya di telaga ia melihat ada raksasa besar dan juga adik-adiknya yang mati di tepi telaga. Sang Raksasa kemudian berkata pada Puntadewa bahwa barang siapa mau meminum air dari telaga tersebut harus sanggup menjawab teka-tekinya.
Pertanyaannya adalah apakah yang saat kecil berkaki empat dewasa berkaki dua dan setelah tua berkaki tiga? Puntadewa menjawab, itu adalah manusia, saat kecil manusia belum sanggup berjalan, maka merangkaklah manusia (bayi), setelah dewasa manusia sanggup berjalan dengan kedua kakinya dan setelah tua manusia yang mulai bungkuk membutuhkan tongkat untuk penyangga tubuhnya.
Sang raksasa lalu menanyakan pada Puntadewa, jika ia dapat menghidupkan satu dari keempat saudaranya yang manakah yang akan diminta untuk dihidupkan? Puntadewa menjawab, Nakulalah yang ia minta untuk dihidupkan karena jika keempatnya meninggal maka yang tersisa adalah seorang putra dari Dewi Kunti, maka sebagai putra sulung dari Dewi Kunti ia meminta Nakula, putra sulung dari Dewi Madrim. Dengan demikian keturunan Pandu dari Dewi Madrim dan Dewi Kunti tetap ada. Sang Raksasa sangat puas dengan jawaban tersebut lalu menghidupkan keempat pandawa dan lalu berubah menjadi Batara Darma.
Dari cerita tersebut, suatu ajaran yang baik diterapkan dalam kehidupan yaitu keadilan dan tidak pilih kasih.
Sampai sekarang, keadilan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia. Dalam dunia usaha atau bisnis, membentuk lingkungan kerja yang teratur dan produktif bukanlah hal  yang mudah. Semua orang bisa menjadi pemimpin, tapi belum tentu menjadi pemimpin yang adil. Tak jarang karyawan melakukan protes atas kebijaksanaan pemimpin yang dinilai tidak adil. Hal ini karena setiap manusia memiliki hak untuk diperlakukan sama.
Seorang pemimpin bisnis dituntut untuk berlaku adil dan seimbang, pertama dalam hal yang berhubungan dengan peraturan ataupun kebijaksanaan perusahaan. Jangan pernah membandingkan atau bersikap tidak adil antara karyawan yang satu dengan yang lainnya. Jika harus mengambil keputusan, keputusan itu bersifat netral, bisa menguntungkan perusahaan dan karyawan Anda.
Selain itu, jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Berusahalah menempatkan diri pada posisi yang lain, jangan selalu melihat dari ‘kacamata’ diri kita. Dengan sikap empati, diharapkan kita bisa memandang dari perspektif orang lain, dan berlaku seimbang.  
Dalam kisah Puntadewa, bisa saja dia meminta Arjuna atau Bima untuk dihidupkan sebagai saudara kandung, namun secara bijaksana ia memilih Nakula, agar keturunan Pandu dari Dewi Madrim dan Dewi Kunti tetap ada.
Jika dihubungkan dengan kepemimpinan sekarang, seorang pemimpin, dalam menjalankan roda perusahaan, wajib menyingkirkan ego dalam dirinya. Dia harus bisa menempatkan antara kepentingan atau masalah perusahaan dengan kepentingan keluarga atau pribadi. Perlu adanya ketegasan untuk membedakan keduanya. Jangan sampai nantinya kebijakan perusahaan akan lebih meng’gemuk’kan salah satu pihak.
Lalu bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda bersikap adil dalam bisnis Anda? Teladan apalagi yang bisa kita ambil dari lakon pewayangan Jawa? Baca kelanjutannya dalam “FILOSOFI KEPEMIMPINAN MASA KINI DALAM BUDAYA KUNO WAYANG JAWA (Part II)”.

0 komentar:

Posting Komentar