Selasa, 12 Agustus 2014

CEO PowerLunch - PARANOIA DIPERLUKAN DALAM KETIDAKPASTIAN BISNIS?


Menyesuaikan diri dan bertahan terhadap segala perubahan, merupakan keharusan agar bisa bertahan hidup. Tak terkecuali dalam dunia bisnis. Pemilik bisnis dituntut untuk bisa menghadapi perubahan, jika tidak ingin bisnisnya ‘tergilas’. Lalu apa yang harus dilakukan agar bisnis tetap bertahan menghadapi perubahan yang terjadi?
Menjawab kebutuhan tersebut, BARACoaching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali) mengadakan forum para CEO yang terangkum dalam acara CEO PowerLunch. Acara bertajuk “Thriving in Uncertainty” itu bertempat di hotel Shangrila Surabaya, Rabu, 18 Juni 2014.
Coach Suwito Sumargo, selaku pembicara dalam acara ini mengungkap beberapa penelitian Jim Collins, penulis buku “Great by Choice” tentang persamaan yang dilakukan beberapa perusahaan untuk bisa bertahan lama melawan ketidakpastian.
“Ketidakpastian bisnis yang dimaksud bersifat tidak terduga dan secara tiba-tiba. Beberapa penyebab seperti business circle, government policy, dan masih banyak lagi,” tutur coach Suwito.
Sebelum memasuki materi inti, pelatih bisnis yang juga pemilik salah satu franchise otomotif terbesar di Surabaya ini, memutarkan video petualangan Robert Falcon Scott (Inggris) dan Roald Amundsen (Norwegia) yang mengarungi kutub utara.
Apa yang menjadi pembeda dalam perjalanan keduanya, sehingga hanya Amundsen yang berhasil menaklukan kesulitan yang dihadapi dalam perjalanannya. Sedangkan Scott, meskipun telah melakukan persiapan dan usaha keras sebelumnya, namun gagal dan akhirnya meninggal. Apa yang telah dilakukan Amundsen, yang bisa dijadikan pelajaran untuk para pebisnis dewasa ini, dalam menghadapi masa-masa sulit?
Bercermin pada petualangan Amundsen, menurut coach Suwito, ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh pemain bisnis, agar perusahaan bukan hanya mencapai puncak sukses, namun yang terpenting terus bertahan sampai jangka waktu yang tidak ditentukan.
Pertama, menciptakan ‘masalah’ untuk menguji perusahaan, mampu atau tidak dalam melewatinya.
Seorang pemimpin perusahaan besar, bertanya pada tim salesnya: “Apa yang Anda lakukan bila bulan ini tidak ada penjualan sama sekali yang masuk?”. Tim salesnya mencoba menjawab dengan memberikan teknik-teknik menjual untuk mendatangkan konsumen. Sang pemimpin pun memberikan kesempatan pada mereka untuk mencoba cara-cara yang diberikan.
Jadi, pada poin ini, diharapkan perusahaan menjadi lebih peka, melakukan persiapan dan bisa menyikapi saat situasi tidak terduga. Tepatnya, bisa menyelesaikan masalah, ketika berada di luar zona nyaman.
“Seperti ungkapan sedia payung sebelum hujan. Ungkapan ini menjadi tidak berarti ketika kita tidak pernah mencoba atau menguji payungnya, tahan atau tidak,” jelas coach Suwito
Kedua, bergaul dengan orang-orang yang punya passion sama.
Amundsen do this. Selain melatih fisik, Amundsen belajar dari orang-orang Eskimo. Dia bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan Eskimo, sehingga mampu bertahan dan berhasil mengarungi kutub utara.”
20 Miles March
Terakhir, ada sesuatu yang merangsang untuk menuju southpole. Menetapkan apa yang menjadi target kita, baru berlatih ke arah sana. Hal pertama untuk mencapai southpole, melakukan disiplin yang tinggi (Fanatic Discipline). Jadi benar-benar fanatik dalam disiplin, terarah, dan tetap konsisten dalam keadaan apapun.
Dari sekian banyak perusahaan yang diteliti oleh Jim Collins, yang sukses menaikkan nilainya, mempunyai ciri melakukan disiplin ’20 miles march’ seperti yang dilakukan Amundsen.
Diceritakan, Amundsen meletakkan tenda perbekalan setiap 20 mil. Kenapa 20 mil? Ini didasarkan pada penelitian dan survey yang dilakukannya sebelumnya. Untuk mencapai southpole atau tempat yang dituju, dia konsisten melakukan perjalanan setiap 20 mil sebelum kemudian beristirahat di tenda. Meski cuaca sedang bagus pun, dia tidak akan menambah panjang perjalanannya, tapi tetap 20 mil.
“Konsistensi atau keteraturan itu sangat penting. Tidak mudah dilakukan jika tidak dibiasakan. Namun perlu diperhatikan, untuk menjadi habit, harus punya pengamatan terlebih dulu. Inti dari 20 miles march itu adalah bersifat teratur dan tetap dengan melakukan test and measure sebelumnya,” papar coach Suwito.
Lalu tantangan apa saja yang biasanya dihadapi? Disinggung tentang hal ini, pria murah senyum ini menjawab, ada dua hal yang menjadi tantangan dalam 20 miles march.
“Pertama yaitu komitmen dalam menjalankan 20 miles march, seberat apapun keadaannya. Kedua, bagaimana ketika dalam kondisi bagus harus tetap berhenti di setiap ’20 mil’.”
Poin kedua yang harus dilakukan untuk mencapai southpole adalah Empirical Creativity. Kreatif yang dimaksud bukan hanya sekedar bersifat kreatif, atau lain daripada yang lain. Melainkan, harus dibarengi dengan melakukan penelitian data-data secara kontinyu.
Kebiasaan yang dilakukan antara lain dengan mengumpulkan data (pencatatan) sedari perusahaan masih kecil untuk menyusun statistik. Selain sebagai komparasi, hal ini memudahkan Anda menentukan bullet atau peluru yang akan dijadikan cannon ball.
Bullet merupakan wujud dari test and measure dalam skala kecil, yang ditembakkan sampai tepat sasaran. Misal, ada satu perusahaan konsultan bisnis yang ingin mengetahui, media apa yang paling efektif dan tepat untuk promosinya. Maka mulailah ia memasang iklan di berbagai media, sampai menemukan media apa yang diinginkan.
Setelah itu, barulah akan diberdayakan seluruh daya upaya ke satu tujuan tersebut. Itulah yang disebut cannon ball. Bullet sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan 3 pertimbangan, yaitu biaya yang rendah (low cost), resiko yang kecil (low risk), serta gangguan yang kecil (low distraction).
Terakhir, Productive Paranoia. Paranoia merupakan satu keadaan dimana seseorang menaruh curiga berlebihan terhadap sesuatu. Hal ini menjadikan seorang pelaku bisnis sulit mencapai mimpinya, karena tidak pernah punya keputusan final. Selalu berubah, karena kecurigaan atau ketakutannya.
Untuk menghadapi ketidakpastian dalam bisnis, paranoia memang diperlukan, bukan ketakutan yang menjadikan stagnan, namun paranoia yang masih produktif. Jadi bagaimana seorang CEO kemudian menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi ‘badai’ yang akan dihadapi.
Beberapa langkah yang bisa diterapkan dalam productive paranoia diantaranya menyediakan uang cash yang cukup dan cadangannya (build cash reserves and buffers). Berapa banyak? Tentunya harus ditakar dulu agar sesuai dengan kebutuhan.
Setelah itu Zoom Out To Zoom In. Artinya, melihat sesuatu secara keseluruhan atau lebih luas, sebelum akhirnya lebih detail dan spesifik dari jarak dekat. Contohnya, melihat kompetitor kita mana saja, baru kemudian kompetitor utama yang mana.
Di akhir acara, para peserta diminta untuk memberikan apa yang mereka dapat dalam CEO PowerLunch Club kali ini. Satu diantaranya, Erick Robertan dari CV. Era Prima Jaya.
“Saya senang mengikuti acara ini. Temanya mengingatkan saya dengan apa yang pernah dikatakan oleh salah seorang pengusaha top: kepastian adalah ketidakpastian. Selain itu, saya tertarik dengan 20 miles march. Membuat saya jadi berpikir lebih spesifik, dan menggali apa yang akan kita lakukan, salah satunya dengan membuat list,” papar pria berkacamata ini panjang lebar.
Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk Amundsen atau Scott? Apakah Anda lebih memilih menyelesaikan masalah ketika masalah itu terjadi? Atau meng’create’ masalah kecil untuk ‘latihan’ sebelum Anda melewatinya?

0 komentar:

Posting Komentar