Rabu, 04 Juni 2014

CEO POWERLUNCH - KHARISMA ITU SKILL, BUKAN BAWAAN LAHIR


Banyak orang berpendapat bahwa kharisma itu bawaan dari lahir, entah itu karena kelebihan dari segi fisik, maupun gelar kebangsawanan. Padahal, kharisma merupakan skill yang bisa dilatih. Ketidaktahuan ini yang menyebabkan para pemimpin bisnis enggan mempelajari kharisma, yang notabene berperan penting dalam dunia bisnis.
Hal itu yang disampaikan Humphrey Rusli, selaku pembicara dalam CEO PowerLunch bertajuk “Building Your Leadership Charisma”, Rabu (07 Mei ’14). Bertempat di Hotel Sheraton Surabaya, acara ini diselenggarakan oleh BARACOAching Surabaya (ActionCOACH East Java-Bali).
“Kami sengaja menghadirkan forum tentang kharisma, karena banyaknya mitos yang mengatakan bahwa kharisma itu bawaan lahir, entah itu disebabkan karena gelar kebangsawanan, kekayaan, maupun kecantikan dan kemolekan tubuh. Ditambah dengan sedikitnya forum yang membahas secara teknik, membuat para CEO semakin tidak paham, bahwa kharisma itu bisa dilatih. Itu sebabnya kenapa BARACoaching Surabaya mencoba mengambil benang merah, bagaimana agar pemimpin bisa meningkatkan kharisma, bahkan ketika awalnya tidak punya,” papar coach Humphrey, yang juga selaku COO BARACoaching Surabaya.
Lalu seberapa penting kharisma dalam kepemimpinan?
Disinggung tentang hal itu, coach Humphrey menjelaskan, selain untuk memiliki anak buah yang bertalenta sekaligus loyal dan berkaliber bagus, lebih lanjut kharisma yang dimiliki pemimpin, bisa meningkatkan profit dalam bisnis.
“Hal ini karena tim mau bekerja mensupport perusahaan dengan sedikit, atau bahkan tanpa pamrih,” tutur coach Humphrey.
Ada 3 aspek krusial dalam membentuk kharisma. Pertama adalah ketulusan (warmth). Bersikap terbuka dan menerima orang lain apa adanya, tanpa disertai buruk sangka atau negative thinking terhadap orang lain.
Kedua, adalah power atau kekuatan. Seseorang pada poin ini, selain memiliki kekuatan dalam hal intelektual, juga punya koneksi (networking) yang luas. Hal ini untuk memudahkan dalam hal problem solving atau ketika membantu orang lain menyelesaikan masalahnya.
Terakhir, presence (kehadiran). Poin ini memiliki pengertian, hadir sepenuhnya untuk orang lain, mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Jadi bersifat totally, tidak disela dengan pekerjaan lain.
“Jika ketiga hal tersebut bisa kita lakukan, maka bukan tidak mungkin kita akan menjadi pribadi yang kharismatik. Karena pada prinsipnya, yang bisa menilai kita kharismatik atau tidak adalah orang yang bicara dengan kita,” tegas pria yang meraih penghargaan sebagai Coach of The Year 2014 (Business Excellence Forum Award Indonesia 2014) ini.
Selain hal di atas, ada beberapa pokok materi yang disampaikan dalam forum rutin para CEO dan pemilik bisnis ini. Diantaranya, apa itu kharisma, perbedaan kharisma dengan wibawa, serta 6 taktik praktis yang bisa diterapkan langsung oleh peserta dan 10 sifat manusia yang menunjang kharisma itu.
Lebih lanjut, coach Humphrey berharap setelah mengikuti forum ini, para peserta (CEO) akan mampu berevolusi menjadi pemimpin yang efektif, lebih disegani dan profit lebih tinggi dengan loyalitas dan dukungan tim.

0 komentar:

Poskan Komentar